alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Hutan Lindung Tinggal 970 Ha

SINTANG-Kabupaten Sintang memiliki kawasan hutan lindung seluas 1,2 juta hectare (ha), sesuai SK Menhut No. 733 Tahun 2014. Namun, saat ini kondisi hutan lindung di Kabupaten Sintang hanya tersisa kurang lebih 970 hektare. Itu diungkapkan Bupati Sintang, Jarot Winarno.

Menurutnya, Kabupaten Sintang yang luasnya 2,1 juta hektare ini, kawasan hutannya adalah 1,2 juta hektare. Kemudian dihitung juga nilai koservasi tinggi (NKT) 1 sampai NKT 6. “Adanya ilegal logging, belum adanya konformitas antara adat lokal dengan konsep kita soal hutan, dengan adanya 41 desa yang masih di dalam kawasan hutan, Alhamdulillah itu kita masih bisa mempertahankan 900 lebih kawasan hutan forest cover yang masih berhutan, ini terbagi dua, 870an itu di dalam kawasan hutan kemudian sisanya kurang lebih 61 ribu di luar kawasan hutan tetapi masih berhutan,” ucap Jarot saat memberikan materi dan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Kehutanan tahun 2020 di Aula Pendopo Bupati Sintang, kemarin.

Baca Juga :  Truk Pengangkut Sampah Terbalik

Orang nomor satu di Senentang ini juga menjelaskan,  bahwa kemudian di bagi mana NKT kelola dan mana NKT non kelola yakni taman nasional, hutan lindung dan sebagainya yang area konervasi tinggi tapi tidak bisa di kelola. “Kira-kira potret hutan di sintang akan seperti itu, jadi ini masih mengembirakan buat kita,” ungkap Jarot.

Kemudian kata Jarot yang paling mengembirakan adalah melalui Kalfor Project, ada semangat yang ingin menjaga kawasan hutan di luar kawasan hutan jadi hutan di APL dibantu untuk pemberdayaannya dan sebagainya.

“Kemarin di Ensaid Panjang dimana di situ ada tiga cluster atau kelompok hutan di luar kawasan hutan yang sudah di jaga oleh masyarakat sudah kita SK kan sebagai akwasan ekobudaya, tetapi masyarakat masih meminta dua lagi kawasan hutan, ini kan luar biasa,” tambah Jarot.

Baca Juga :  Sejak Dini Mulai Diajarkan Toleransi

Bupati mencontohkan, di Desa Sepulut meminta ada 14 hektare hutan di APL supaya tetap jadi hutan, langsung diberi SK jadi hutan desa dan juga di Desa Merpak Tawang Selubang itu 14 hektare juga sudah diberi SK sebagai hutah desa. Kemudian teman-teman dari aliansi masyarakat adat menyampaikan ada 5 untuk menjadi kawasan hutan adat yang sedang kita proses.

“Semua itu upaya di tingkat tapak untuk menjaga sisa hutan di luar kawasan hutan semuanya kita suport sepenuhnya,” katanya. “Gak bakalan mampu kita menjaga hutan kalau kita tidak bisa memberikan solusi kepada masyarakat tentang non timber produk,” tutup Jarot. (fds)

 

SINTANG-Kabupaten Sintang memiliki kawasan hutan lindung seluas 1,2 juta hectare (ha), sesuai SK Menhut No. 733 Tahun 2014. Namun, saat ini kondisi hutan lindung di Kabupaten Sintang hanya tersisa kurang lebih 970 hektare. Itu diungkapkan Bupati Sintang, Jarot Winarno.

Menurutnya, Kabupaten Sintang yang luasnya 2,1 juta hektare ini, kawasan hutannya adalah 1,2 juta hektare. Kemudian dihitung juga nilai koservasi tinggi (NKT) 1 sampai NKT 6. “Adanya ilegal logging, belum adanya konformitas antara adat lokal dengan konsep kita soal hutan, dengan adanya 41 desa yang masih di dalam kawasan hutan, Alhamdulillah itu kita masih bisa mempertahankan 900 lebih kawasan hutan forest cover yang masih berhutan, ini terbagi dua, 870an itu di dalam kawasan hutan kemudian sisanya kurang lebih 61 ribu di luar kawasan hutan tetapi masih berhutan,” ucap Jarot saat memberikan materi dan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Kehutanan tahun 2020 di Aula Pendopo Bupati Sintang, kemarin.

Baca Juga :  Bupati Tinjau Pengerjaan Jembatan Nyange

Orang nomor satu di Senentang ini juga menjelaskan,  bahwa kemudian di bagi mana NKT kelola dan mana NKT non kelola yakni taman nasional, hutan lindung dan sebagainya yang area konervasi tinggi tapi tidak bisa di kelola. “Kira-kira potret hutan di sintang akan seperti itu, jadi ini masih mengembirakan buat kita,” ungkap Jarot.

Kemudian kata Jarot yang paling mengembirakan adalah melalui Kalfor Project, ada semangat yang ingin menjaga kawasan hutan di luar kawasan hutan jadi hutan di APL dibantu untuk pemberdayaannya dan sebagainya.

“Kemarin di Ensaid Panjang dimana di situ ada tiga cluster atau kelompok hutan di luar kawasan hutan yang sudah di jaga oleh masyarakat sudah kita SK kan sebagai akwasan ekobudaya, tetapi masyarakat masih meminta dua lagi kawasan hutan, ini kan luar biasa,” tambah Jarot.

Baca Juga :  TKI 68 Tahun Positif Covid-19 Dinyatakan Sembuh

Bupati mencontohkan, di Desa Sepulut meminta ada 14 hektare hutan di APL supaya tetap jadi hutan, langsung diberi SK jadi hutan desa dan juga di Desa Merpak Tawang Selubang itu 14 hektare juga sudah diberi SK sebagai hutah desa. Kemudian teman-teman dari aliansi masyarakat adat menyampaikan ada 5 untuk menjadi kawasan hutan adat yang sedang kita proses.

“Semua itu upaya di tingkat tapak untuk menjaga sisa hutan di luar kawasan hutan semuanya kita suport sepenuhnya,” katanya. “Gak bakalan mampu kita menjaga hutan kalau kita tidak bisa memberikan solusi kepada masyarakat tentang non timber produk,” tutup Jarot. (fds)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/