alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Sultan Sintang Mangkat di Usia 78 Tahun

Sosok Sederhana itu Kini Tiada

SINTANG – Sultan Sintang, HRM Ikhsan Perdana Ismail Tsafioeddin yang bergelar Pengeran Ratu Sri Kusuma Negara V meninggal dunia, Kamis (16/7) sekitar pukul 01.50. Almarhum yang dikenal dengan sosok sederhana ini mangkat pada usia 78 tahun. Sebelum meninggal, ia memang sempat dibawa ke Rumah Sakit Ade M Djoen Sintang. Hingga akhirnya Sang Sultan pun menutup mata.

Pada pagi harinya, rumah duka dikunjungi kerabat dan masyarakat. Duka pun menyelimuti Istana Al Mukarimah Sintang. Sepanjang prosesi pemakaman, kerabat dan keluarga tak henti-hentinya berada di dekat jenazah, pelayat yang datang hampir penuhi lingkungan istana.

Termasuk juga prosesi penghormatan terakhir para prajurit keraton kepada Sultan. Kemudian prosesi berlanjur dengan menyalatkan jenazah di dua Masjid, yakni Masjid Jami’ Sultan Nata dan Masjid Al Hikmah, sampai pengantaran jenazah menuju ke pemakaman raja-raja Sintang yang terletak di Jalan Cik Ditiro, Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Kecamatan Sintang.

Baca Juga :  Kenang Jasa Pahlawan melalui Apel Kehormatan dan Renungan Suci
PROSESI ADAT: Sultan Sintang, HRM Ikhsan Perdana Ismail Tsafioeddin Pengeran Ratu Kusuma Negara V dimakamkan, kemarin.
(HERU RACHMADIN FOR PONTIANAK POST)

Saat jenazah disemayamkan di komplek pemakaman raja, Istana Al Mukarramah Sintang, sejumlah tokoh melayat ke Keraton, termasuk Bupati Sintang, Jarot Winarno, bersama Kapolres Sintang AKBP John Halilintar Gintinh, Dandim 1205 Sintang Letkol Inf Eko Bintara Saktiawan, dan Kajari Sintang, Imran.

Bupati Jarot menyampaikan, dirinya sempat menjenguk beliau di ruang ICU RSUD Ade M Djoen Sintang. “Saya tadi malam sempat jenguk beliau di ruang ICU RSUD Ade M Djoen Sintang, pulang pun saya monitor terus kabar beliau. Sampai tengah malam, dengar kabar beliau sudah tidak ada. Kita semua sedih kehilangan beliau,” ungkap Jarot dengan lirih.

Orang nomor satu di Bumi Senentang ini menyatakan, Sultan Sintang dikenal sebagai sosok sederhana. Jarot juga menyinggung ihwal penataan kawasan Istana Al Mukarramah yang digagas oleh almarhum.

“Beliau kan lebih sepuh dari kita. Banyak wasiat dan cita-cita yang belum terealisasi. Khususnya dalam penatanan kawasan Istana Al Mukarramah ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Indonesia Terima Bantuan Vaksin Johnson & Johnson dari Belanda

Untuk penataan Istana Mukarramah, lanjut Jarot, sebetulnya sudah dialokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp45 miliar, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

“Kesultanan Sintang ini kepemimpinanya lintas budaya. Jadi, beliau sangat aktif untuk menghadiri kegiatan lintas etnis. Kegiatan orang Tionghoa, beliau hadir. Gawai Dayak, beliau hadir. Kegiatan masyarakat Melayu, juga hadir. Termasuk kegiatan etnis Jawa maupun Padang,” katanya.

Dengan berpulangnya Sultan Sintang, mantan dokter di Rumah Sakit Soedarso Pontianak ini meminta masyarakat untuk berdoa dan melaksanakan wasiat dari almarhum.

“Kita doakan almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Insya Allah husnul khatimah. Yang paling penting bagi kita sekarang adalah melanjutkan wasiat beliau yang belum terwujud. Ini tugas bersama antara penerus kekeratonan dan pemerintah kabupaten,” pungkasnya. (fds)

 

Sosok Sederhana itu Kini Tiada

SINTANG – Sultan Sintang, HRM Ikhsan Perdana Ismail Tsafioeddin yang bergelar Pengeran Ratu Sri Kusuma Negara V meninggal dunia, Kamis (16/7) sekitar pukul 01.50. Almarhum yang dikenal dengan sosok sederhana ini mangkat pada usia 78 tahun. Sebelum meninggal, ia memang sempat dibawa ke Rumah Sakit Ade M Djoen Sintang. Hingga akhirnya Sang Sultan pun menutup mata.

Pada pagi harinya, rumah duka dikunjungi kerabat dan masyarakat. Duka pun menyelimuti Istana Al Mukarimah Sintang. Sepanjang prosesi pemakaman, kerabat dan keluarga tak henti-hentinya berada di dekat jenazah, pelayat yang datang hampir penuhi lingkungan istana.

Termasuk juga prosesi penghormatan terakhir para prajurit keraton kepada Sultan. Kemudian prosesi berlanjur dengan menyalatkan jenazah di dua Masjid, yakni Masjid Jami’ Sultan Nata dan Masjid Al Hikmah, sampai pengantaran jenazah menuju ke pemakaman raja-raja Sintang yang terletak di Jalan Cik Ditiro, Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Kecamatan Sintang.

Baca Juga :  Jasa Kurir Sepeda Hadir di Masa Pandemi
PROSESI ADAT: Sultan Sintang, HRM Ikhsan Perdana Ismail Tsafioeddin Pengeran Ratu Kusuma Negara V dimakamkan, kemarin.
(HERU RACHMADIN FOR PONTIANAK POST)

Saat jenazah disemayamkan di komplek pemakaman raja, Istana Al Mukarramah Sintang, sejumlah tokoh melayat ke Keraton, termasuk Bupati Sintang, Jarot Winarno, bersama Kapolres Sintang AKBP John Halilintar Gintinh, Dandim 1205 Sintang Letkol Inf Eko Bintara Saktiawan, dan Kajari Sintang, Imran.

Bupati Jarot menyampaikan, dirinya sempat menjenguk beliau di ruang ICU RSUD Ade M Djoen Sintang. “Saya tadi malam sempat jenguk beliau di ruang ICU RSUD Ade M Djoen Sintang, pulang pun saya monitor terus kabar beliau. Sampai tengah malam, dengar kabar beliau sudah tidak ada. Kita semua sedih kehilangan beliau,” ungkap Jarot dengan lirih.

Orang nomor satu di Bumi Senentang ini menyatakan, Sultan Sintang dikenal sebagai sosok sederhana. Jarot juga menyinggung ihwal penataan kawasan Istana Al Mukarramah yang digagas oleh almarhum.

“Beliau kan lebih sepuh dari kita. Banyak wasiat dan cita-cita yang belum terealisasi. Khususnya dalam penatanan kawasan Istana Al Mukarramah ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Banjir di Sintang Telan Korban Jiwa

Untuk penataan Istana Mukarramah, lanjut Jarot, sebetulnya sudah dialokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp45 miliar, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

“Kesultanan Sintang ini kepemimpinanya lintas budaya. Jadi, beliau sangat aktif untuk menghadiri kegiatan lintas etnis. Kegiatan orang Tionghoa, beliau hadir. Gawai Dayak, beliau hadir. Kegiatan masyarakat Melayu, juga hadir. Termasuk kegiatan etnis Jawa maupun Padang,” katanya.

Dengan berpulangnya Sultan Sintang, mantan dokter di Rumah Sakit Soedarso Pontianak ini meminta masyarakat untuk berdoa dan melaksanakan wasiat dari almarhum.

“Kita doakan almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Insya Allah husnul khatimah. Yang paling penting bagi kita sekarang adalah melanjutkan wasiat beliau yang belum terwujud. Ini tugas bersama antara penerus kekeratonan dan pemerintah kabupaten,” pungkasnya. (fds)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/