alexametrics
24 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Sintang Hadapi Puncak Gelombang Ketiga Covid-19

SINTANG – Tingkat fatality rate atau angka kematian akibat Covid-19 masih terbilang tinggi di Sintang. Begitu pun potensi penularannya. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh mengungkapkan pada Jumat (16/4) kemarin di Kabupaten Sintang ada tiga orang meninggal dunia akibat Covid-19.

“Satu dari Kayan Hulu, dua dari Kecamatan Sintang,” ucapnya. Rata-rata yang meninggal dunia berusia 50-an tahun ke atas. Harysinto mengatakan angka kematian karena Covid-19 di Kabupaten Sintang hampir mencapai 4 persen dari seluruh kasus.

“Dari Januari sampai sekarang, ada 29 kasus meninggal dunia di Kabupaten Sintang,” ucapnya. Angka kematian akibat Covid-19 yang terus bertambah hendaknya menjadikan masyarakat sadar bahwa virus ini perlu untuk ditakuti dan diwaspadai.

Fatality rate yang tinggi menimbulkan kecurigaan bahwa virus Covid-19 yang ada di Sintang belakangan ini merupakan varian baru yang telah bermutasi. Namun Harysinto enggan memberikan kepastian terkait itu. “Saya tidak bisa menjelaskan ini varian baru atau bukan,” katanya.

Namun ia meminta masyarakat untuk jujur jika mengalami gejala-gejala terjangkit Covid-19. Seperti kehilangan penciuman, demam, hilang rasa saat makan, dan badan pegal-pegal. “Saya rasa sudah cukup sosialisasi tentang Covid itu. Gejala-gejalanya sudah kita kasih tahu. Jadi jangan takut melaporkan kalau ada gejala-gejala itu. Dari pada sudah parah baru diberi tahu, nanti bisa tidak tertolong,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Sintang sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang, Jarot Winarno mengatakan, puncak gelombang pertama Covid-19 Kabupaten Sintang adalah akhir bulan Oktober dan awal bulan Desember (2020). Saat itu dalam satu minggu dijumpai 83 kasus. Sedangkan puncak gelombang kedua terjadi pada awal bulan Januari, usai libur Natal dan Tahun Baru. Dengan catatan 63 kasus dalam satu minggu.

Puncak gelombang ketiga terjadi pada April ini. Dengan catatan 260 kasus. Diawali oleh 110 kasus perjalanan pulang dari Pontianak dan Singkawang kemudian menularkan kepada keluarga. Jadi total kasus dari klaster perjalanan dan klaster keluarga adalah 236 kasus. Sedangkan 24 kasus lainnya berasal dari penularan transmisi lokal di Sintang.

Baca Juga :  Gubernur Perintahkan Kadis Kesehatan Provinsi Turun Langsung ke Sintang

“90,8 persen adalah kasus perjalanan. Artinya kasus yang paling rawan adalah imported cases, kasus yang dikirim. Karena peelajanan ke luar kota, baik itu Pontianak, Singkawang, dan Jakarta. Tapi paling banyak dari Pontianak,” ucapnya.

Jarot juga mengatakan, selama April ini angka kematian akibat Covid-19 adalah sebanyak 11 orang.  “Jadi case fatality rate kita 4 persen. Ini sangat tinggi. Kita harus pahami ini adalah (puncak) gelombang ketiga Covid-19 di Kabupaten Sintang,” ujarnya.

Melihat tingginya kasus yang diakibatkan oleh perjalanan, Jarot pun mengatakan bahwa harus dilakukan pengetatan untuk masuk ke Sintang. “Pakai moda pesawat, kita kenakan rapid antigen. Tetapi untuk moda transportasi umum belum. Coba kita pikirkan bagaimana, apakah kita buka kembali pos-pos penjagaan. Ini untuk pengetatan orang masuk Sintang agar kasus dari luar bisa kita tahan untuk masuk,” ucapnya.

Terkait ucapan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang melarang kunjungan ke Sintang, Jarot pun merespon dengan mengatakan hal itu perlu dipertimbangkan kembali dari sisi dampak ekonominya.

“Konektivitas Pontianak dan Sintang ini sangat erat sekali. Jadi kadang-kadang takut dengan corona dan masalah perut, mereka lebih memilih masalah perut. Imbauan itu bagus-bagus saja, ndak ada masalah. Namun yang paling penting, kita minta support provinsi untuk menambah sarana dan prasarana, peningkatan kesejahteraan,” ucapnya.

Gencar Razia dan Tracing Covid-19

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kabupaten Sintang sedang gencar menggelar razia gabungan yang menyasar pusat kegiatan berkumpul masyarakat. Razia ini dimaksudkan untuk melakukan tracing terhadap orang-orang yang terjangkit Covid-19 sekaligus menegakkan protokol kesehatan.

Razia ini diikuti oleh anggota Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang, yaitu jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Sintang, Kodim 1205/Sintang, Satpol PP Kabupaten Sintang, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang.

Hari kedua razia Covid-19 di Sintang menyasar dua lokasi yaitu Ruang Kopi 77 di Jalan Lintas Melawi, Kelurahan Ladang dan Cafe D’Lounge di Jalan Taruna, Kelurahan Tanjung Puri. Dari dua tempat itu, sebanyak 63 pengunjung dan pengelola dites usap antigen. Ditemukan 1 pengunjung dengan antigen positif.

Baca Juga :  Banjir Bandang Landa Tiang Tanjung Mempawah Hulu Landak, Rumah Hingga Lahan Pertanian Terendam

“Yang antigennya positif langsung kita isolasi di rusunawa milik Pemda Kabupaten Sintang. Sebelumnya yang positif antigennya ini tidak tahu karena merasa tidak ada gejala,” ucap Kadinkes Sintang, Harysinto Linoh. Ia mengatakan, temuan ini membuktikan bahwa aktivitas masyarakat berkumpul di warung kopi memiliki potensi yang tinggi untuk menularkan virus Covid-19. Temuan ini ia harapkan jadi pelajaran bagi masyarakat Sintang agar menghindari mobilitas dan aktivitas berkumpul.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Sintang, Martin Nandung mengatakan Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang sudah berusaha membangun kesadaran masyarakat dengan pendekatan persuasif. Selain itu upaya penindakan bagi masyarakat yang tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan juga sudah dilaksanakan. “Namun membangun kesadaran masyarakat kita memang tidak mudah. Perlu waktu dan perlu semangat serta dukungan seluruh masyarakat,” ucapnya.

Covid-19 ini, kata Martin, bukan hanya persoalan pemerintah dan aparat penegak hukum tetapi juga menjadi persoalan dan tanggung jawab seluruh masyarakat. Oleh karenanya, seluruh pihak punya tanggung jawab untuk bersama-sama membantu menangani Covid-19.

“Sintang memang sedang menghadapi masalah besar berkaitan dengan peningkatan jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19,” ucapnya. Namun ia mengakui, peningkatan ini lantaran Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang lebih proaktif dalam melakukan tracing.

Menyikapi kenaikan ini, Martin mengatakan Pemkab Sintang juga sedang gencar meningkatkan upaya-upaya pencegahan. Seperti melakukan razia yang sudah berlangsung selama dua malam ini.

“Kemarin (15/4) di Kedai Kopi Tarik, kita dapatkan hasil satu orang positif (antigen). Kita beri peringatan pertama untuk melakukan sterilisasi selama tiga hari. Mereka diminta tidak buka dan melakukan disinfeksi di tempat tersebut,” ucapnya. Hasil razia pada Jumat (16/4) juga ditemukan satu pengunjung di Cafe D’Lounge dengan hasil tes antigen positif. Pengelola kafe diberi sanksi untuk menghentikan operasional usahanya selama tiga hari untuk melakukan sterilisasi dan disinfeksi.

“Mudah-mudahan dengan shock therapy dua malam berturut-turut ini akan memberikan dampak yang positif. Artinya tingkat kerumunan di warung-warung kopi, tempat-tempat hiburan bisa menurun,” pungkasnya. (ris)

SINTANG – Tingkat fatality rate atau angka kematian akibat Covid-19 masih terbilang tinggi di Sintang. Begitu pun potensi penularannya. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh mengungkapkan pada Jumat (16/4) kemarin di Kabupaten Sintang ada tiga orang meninggal dunia akibat Covid-19.

“Satu dari Kayan Hulu, dua dari Kecamatan Sintang,” ucapnya. Rata-rata yang meninggal dunia berusia 50-an tahun ke atas. Harysinto mengatakan angka kematian karena Covid-19 di Kabupaten Sintang hampir mencapai 4 persen dari seluruh kasus.

“Dari Januari sampai sekarang, ada 29 kasus meninggal dunia di Kabupaten Sintang,” ucapnya. Angka kematian akibat Covid-19 yang terus bertambah hendaknya menjadikan masyarakat sadar bahwa virus ini perlu untuk ditakuti dan diwaspadai.

Fatality rate yang tinggi menimbulkan kecurigaan bahwa virus Covid-19 yang ada di Sintang belakangan ini merupakan varian baru yang telah bermutasi. Namun Harysinto enggan memberikan kepastian terkait itu. “Saya tidak bisa menjelaskan ini varian baru atau bukan,” katanya.

Namun ia meminta masyarakat untuk jujur jika mengalami gejala-gejala terjangkit Covid-19. Seperti kehilangan penciuman, demam, hilang rasa saat makan, dan badan pegal-pegal. “Saya rasa sudah cukup sosialisasi tentang Covid itu. Gejala-gejalanya sudah kita kasih tahu. Jadi jangan takut melaporkan kalau ada gejala-gejala itu. Dari pada sudah parah baru diberi tahu, nanti bisa tidak tertolong,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Sintang sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang, Jarot Winarno mengatakan, puncak gelombang pertama Covid-19 Kabupaten Sintang adalah akhir bulan Oktober dan awal bulan Desember (2020). Saat itu dalam satu minggu dijumpai 83 kasus. Sedangkan puncak gelombang kedua terjadi pada awal bulan Januari, usai libur Natal dan Tahun Baru. Dengan catatan 63 kasus dalam satu minggu.

Puncak gelombang ketiga terjadi pada April ini. Dengan catatan 260 kasus. Diawali oleh 110 kasus perjalanan pulang dari Pontianak dan Singkawang kemudian menularkan kepada keluarga. Jadi total kasus dari klaster perjalanan dan klaster keluarga adalah 236 kasus. Sedangkan 24 kasus lainnya berasal dari penularan transmisi lokal di Sintang.

Baca Juga :  Kluster Pernikahan di Sekadau, Tiga Warga Meninggal

“90,8 persen adalah kasus perjalanan. Artinya kasus yang paling rawan adalah imported cases, kasus yang dikirim. Karena peelajanan ke luar kota, baik itu Pontianak, Singkawang, dan Jakarta. Tapi paling banyak dari Pontianak,” ucapnya.

Jarot juga mengatakan, selama April ini angka kematian akibat Covid-19 adalah sebanyak 11 orang.  “Jadi case fatality rate kita 4 persen. Ini sangat tinggi. Kita harus pahami ini adalah (puncak) gelombang ketiga Covid-19 di Kabupaten Sintang,” ujarnya.

Melihat tingginya kasus yang diakibatkan oleh perjalanan, Jarot pun mengatakan bahwa harus dilakukan pengetatan untuk masuk ke Sintang. “Pakai moda pesawat, kita kenakan rapid antigen. Tetapi untuk moda transportasi umum belum. Coba kita pikirkan bagaimana, apakah kita buka kembali pos-pos penjagaan. Ini untuk pengetatan orang masuk Sintang agar kasus dari luar bisa kita tahan untuk masuk,” ucapnya.

Terkait ucapan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang melarang kunjungan ke Sintang, Jarot pun merespon dengan mengatakan hal itu perlu dipertimbangkan kembali dari sisi dampak ekonominya.

“Konektivitas Pontianak dan Sintang ini sangat erat sekali. Jadi kadang-kadang takut dengan corona dan masalah perut, mereka lebih memilih masalah perut. Imbauan itu bagus-bagus saja, ndak ada masalah. Namun yang paling penting, kita minta support provinsi untuk menambah sarana dan prasarana, peningkatan kesejahteraan,” ucapnya.

Gencar Razia dan Tracing Covid-19

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kabupaten Sintang sedang gencar menggelar razia gabungan yang menyasar pusat kegiatan berkumpul masyarakat. Razia ini dimaksudkan untuk melakukan tracing terhadap orang-orang yang terjangkit Covid-19 sekaligus menegakkan protokol kesehatan.

Razia ini diikuti oleh anggota Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang, yaitu jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Sintang, Kodim 1205/Sintang, Satpol PP Kabupaten Sintang, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang.

Hari kedua razia Covid-19 di Sintang menyasar dua lokasi yaitu Ruang Kopi 77 di Jalan Lintas Melawi, Kelurahan Ladang dan Cafe D’Lounge di Jalan Taruna, Kelurahan Tanjung Puri. Dari dua tempat itu, sebanyak 63 pengunjung dan pengelola dites usap antigen. Ditemukan 1 pengunjung dengan antigen positif.

Baca Juga :  Cegah Kenaikan Kasus Covid-19

“Yang antigennya positif langsung kita isolasi di rusunawa milik Pemda Kabupaten Sintang. Sebelumnya yang positif antigennya ini tidak tahu karena merasa tidak ada gejala,” ucap Kadinkes Sintang, Harysinto Linoh. Ia mengatakan, temuan ini membuktikan bahwa aktivitas masyarakat berkumpul di warung kopi memiliki potensi yang tinggi untuk menularkan virus Covid-19. Temuan ini ia harapkan jadi pelajaran bagi masyarakat Sintang agar menghindari mobilitas dan aktivitas berkumpul.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Sintang, Martin Nandung mengatakan Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang sudah berusaha membangun kesadaran masyarakat dengan pendekatan persuasif. Selain itu upaya penindakan bagi masyarakat yang tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan juga sudah dilaksanakan. “Namun membangun kesadaran masyarakat kita memang tidak mudah. Perlu waktu dan perlu semangat serta dukungan seluruh masyarakat,” ucapnya.

Covid-19 ini, kata Martin, bukan hanya persoalan pemerintah dan aparat penegak hukum tetapi juga menjadi persoalan dan tanggung jawab seluruh masyarakat. Oleh karenanya, seluruh pihak punya tanggung jawab untuk bersama-sama membantu menangani Covid-19.

“Sintang memang sedang menghadapi masalah besar berkaitan dengan peningkatan jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19,” ucapnya. Namun ia mengakui, peningkatan ini lantaran Satgas Covid-19 Kabupaten Sintang lebih proaktif dalam melakukan tracing.

Menyikapi kenaikan ini, Martin mengatakan Pemkab Sintang juga sedang gencar meningkatkan upaya-upaya pencegahan. Seperti melakukan razia yang sudah berlangsung selama dua malam ini.

“Kemarin (15/4) di Kedai Kopi Tarik, kita dapatkan hasil satu orang positif (antigen). Kita beri peringatan pertama untuk melakukan sterilisasi selama tiga hari. Mereka diminta tidak buka dan melakukan disinfeksi di tempat tersebut,” ucapnya. Hasil razia pada Jumat (16/4) juga ditemukan satu pengunjung di Cafe D’Lounge dengan hasil tes antigen positif. Pengelola kafe diberi sanksi untuk menghentikan operasional usahanya selama tiga hari untuk melakukan sterilisasi dan disinfeksi.

“Mudah-mudahan dengan shock therapy dua malam berturut-turut ini akan memberikan dampak yang positif. Artinya tingkat kerumunan di warung-warung kopi, tempat-tempat hiburan bisa menurun,” pungkasnya. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/