alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Banjir Mulai Surut, Puluhan Ribu Warga Masih Mengungsi

SINTANG – Banjir yang merendam Kabupaten Sintang mulai berangsur surut. Beberapa ruas jalan seperti Jalan Lintas Melawi, Kota Sintang kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Pertokoan yang berada di kawasan itu juga mulai berkemas, membersihkan lumpur dan lumut akibat banjir yang merendam sejak 21 Oktober 2021 lalu.

Sebelumnya, jalan poros antarkabupaten itu lumpuh akibat terendam banjir, dengan tinggi muka air antara satu hingga 1,5 meter. Kendaraan roda dua maupun roda empat yang akan melintas harus menggunakan jasa ojek perahu atau mobil truk yang telah disediakan pemerintah.

Sejak beberapa hari terakhir, kondisi lapangan semakin membaik. Jalan Lintas Melawi sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Namun, tidak sedikit sepeda motor yang mogok karena terjebak di titik yang genangannya masih cukup dalam. Mobil roda empat yang biasanya was-was untuk melintasi jalur itu pun terlihat sudah lalu-lalang.

Tugu Simpang Lima atau Tugu Adipura yang sebelumnya menjadi pangkalan perahu terlihat sepi. Air yang sebelumnya menggenangi jalan sekitar lokasi tersebut hingga pos lalu lintas kini sudah kering.

Penurunan muka air juga terlihat di sekitar Pasar Cina, Sungai Durian. Kawasan ini sebelumnya menjadi salah satu yang terparah terendam banjir. Jalan utama di kawasan itu putus dan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan.

Kini, jalur pusat perekonomian masyarakat Sintang itu pun sudah bisa dilalui. Geliat masyarakat di pasar juga mulai terlihat. Beberapa warung kopi telah buka.  “Tadinya warung ini terendam. Kira-kira selutut orang dewasa,” kata seorang pemilik Warkop.

Kendati banjir telah berangsur surut, tidak sedikit warga yang masih mengungsi. Terutama yang rumahnya berada di bantaran sungai.

Berdasarkan data Komando Satgas Tanggap Darurat Kabupaten Sintang per 18 November 2021, setidaknya ada 21.684 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 74.679 jiwa yang masih terdampak. Sejumlah 5.581 KK atau sekitar 21.318 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan masih mengungsi.

Baca Juga :  Permabudhi Gelar Pengobatan Gratis Korban Banjir

Sementara untuk pasokan listrik, dari total 77 gardu PLN yang terdampak banjir, 44 di antaranya masih padam. Sedangkan 33 lainnya sudah bisa mendistribusikan listrik kepada masyarakat.

Terpisah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, banjir yang terjadi di Provinsi Kalimantan Barat sejak Oktober 2021 lalu masih berdampak hingga hari ini, Kamis (18/11). Kejadian yang melanda tiga kabupaten ini menimbulkan pengungsian namun sebagian warga memutuskan kembali setelah tinggi muka air genangan berangsur surut.

Di Kabupaten Sintang misanya, banjir yang melanda sejak Kamis (21/10) itu berdampak pada 12 kecamatan. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sintang pada Kamis (18/11), tinggi muka air berangsur surut 50 cm. Di kawasan bantaran Sungai Melawi juga mengalami penurunan yang sama sekitar 50 cm.

Terkait dengan kerugian material, pihak BPBD setempat masih terus melakukan pendataan di lapangan. Data sementara per hari ini menyebutkan rumah terdampak 35.807 unit, jembatan rusak berat lima unit, jembatan rusak sedang satu unit dan gardu 44 unit.

Dua belas kecamatan terdampak di Kabupaten Sintang yaitu Kecamatan Sintang, Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Tempunak, Kelam Permai, Sei Tebelian, Ketungau Hilir, Sepauk, Dedai, Serawai dan Ambalau. Menurut identifikasi BPBD kabupaten, masih ada desa yang terisolir akibat banjir meluas ini.

Banjir Melawi dan Sekadau juga Surut

Dikatakan Muhari, penurunan tinggi muka air juga terjadi di Kabupaten Melawi. Tinggi muka air mengalami penurunan 50 hingga 100 cm. Kondisi ini membuat warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Data terakhir warga yang mengungsi berjumlah 773 jiwa. Di samping itu, untuk memastikan kesehatan warga yang kembali, pemerintah daerah bersama dengan TNI dan Polri memberikan pengobatan gratis, seperti yang terjadi di Kecamatan Pinoh.

Baca Juga :  Lagi, Enam Pemuda Terima Beasiswa Peduli Orangutan

Warga terdampak di Kabupaten Melawi tercatat 28.278 KK atau 108.455 jiwa dan empat warga meninggal dunia. Sedangkan kerugian material mencakup rumah terdampak 27.621 unit dan fasilitas umum 104 unit.

Lokasi terdampak banjir di kabupaten ini yaitu Kecamatan Menukung, Tanah Pinoh, Tanah Pinoh Barat, Nanga Pinoh, Sayan, Pinoh Selatan, Pinoh Utara, Ella Hilir, Belimbing, Belimbing Hulu dan Sokan.

Selain Sintang dan Melawi, banjir di Kabupaten Sekadau juga berangsur surut di beberapa wilayah. Seiring dengan kondisi tersebut, sebagian warga yang sempat mengungsi kembali ke rumah masing-masing. Pengungsi tercatat sebanyak 915 KK atau 3.311 jiwa. Pusdalops BNPB masih terus melakukan pemutakhiran data pengungsi dan titik-titik wilayah yang genangan banjirnya mulai surut.

Banjir di wilayah ini berdampak pada 5.518 KK atau 19.601 jiwa dan satu warga meninggal dunia. Sedangkan kerugian material, BPBD masih terus mendata infrastruktur yang terdampak.
Pemerintah Kabupaten Sekadau masih menetapkan status tanggap darurat di wilayahnya hingga 30 November 2021.

Tenggat waktu ini dapat diperpanjang apabila situasi semakin memburuk. Selama masa tanggap darurat, pemerintah daerah melayani warga terdampak, khususnya mereka yang masih mengungsi. Adapun kecamatan yang terdampak antara lain Sekadau Hilir, Belitang, Belitang Hilir dan Sekadau Hulu.

Guna mendukung penanganan darurat di tiga kabupaten ini, BNPB membantu dengan menurunkan personel, logistik maupun dana siap pakai. Hingga kini, personel BNPB masih berada di wilayah terdampak bersama dengan BPBD tiga kabupaten.(arf)

SINTANG – Banjir yang merendam Kabupaten Sintang mulai berangsur surut. Beberapa ruas jalan seperti Jalan Lintas Melawi, Kota Sintang kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Pertokoan yang berada di kawasan itu juga mulai berkemas, membersihkan lumpur dan lumut akibat banjir yang merendam sejak 21 Oktober 2021 lalu.

Sebelumnya, jalan poros antarkabupaten itu lumpuh akibat terendam banjir, dengan tinggi muka air antara satu hingga 1,5 meter. Kendaraan roda dua maupun roda empat yang akan melintas harus menggunakan jasa ojek perahu atau mobil truk yang telah disediakan pemerintah.

Sejak beberapa hari terakhir, kondisi lapangan semakin membaik. Jalan Lintas Melawi sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Namun, tidak sedikit sepeda motor yang mogok karena terjebak di titik yang genangannya masih cukup dalam. Mobil roda empat yang biasanya was-was untuk melintasi jalur itu pun terlihat sudah lalu-lalang.

Tugu Simpang Lima atau Tugu Adipura yang sebelumnya menjadi pangkalan perahu terlihat sepi. Air yang sebelumnya menggenangi jalan sekitar lokasi tersebut hingga pos lalu lintas kini sudah kering.

Penurunan muka air juga terlihat di sekitar Pasar Cina, Sungai Durian. Kawasan ini sebelumnya menjadi salah satu yang terparah terendam banjir. Jalan utama di kawasan itu putus dan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan.

Kini, jalur pusat perekonomian masyarakat Sintang itu pun sudah bisa dilalui. Geliat masyarakat di pasar juga mulai terlihat. Beberapa warung kopi telah buka.  “Tadinya warung ini terendam. Kira-kira selutut orang dewasa,” kata seorang pemilik Warkop.

Kendati banjir telah berangsur surut, tidak sedikit warga yang masih mengungsi. Terutama yang rumahnya berada di bantaran sungai.

Berdasarkan data Komando Satgas Tanggap Darurat Kabupaten Sintang per 18 November 2021, setidaknya ada 21.684 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 74.679 jiwa yang masih terdampak. Sejumlah 5.581 KK atau sekitar 21.318 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan masih mengungsi.

Baca Juga :  Hadirkan Bilik Strelisasi di Tempat Ibadah

Sementara untuk pasokan listrik, dari total 77 gardu PLN yang terdampak banjir, 44 di antaranya masih padam. Sedangkan 33 lainnya sudah bisa mendistribusikan listrik kepada masyarakat.

Terpisah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, banjir yang terjadi di Provinsi Kalimantan Barat sejak Oktober 2021 lalu masih berdampak hingga hari ini, Kamis (18/11). Kejadian yang melanda tiga kabupaten ini menimbulkan pengungsian namun sebagian warga memutuskan kembali setelah tinggi muka air genangan berangsur surut.

Di Kabupaten Sintang misanya, banjir yang melanda sejak Kamis (21/10) itu berdampak pada 12 kecamatan. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sintang pada Kamis (18/11), tinggi muka air berangsur surut 50 cm. Di kawasan bantaran Sungai Melawi juga mengalami penurunan yang sama sekitar 50 cm.

Terkait dengan kerugian material, pihak BPBD setempat masih terus melakukan pendataan di lapangan. Data sementara per hari ini menyebutkan rumah terdampak 35.807 unit, jembatan rusak berat lima unit, jembatan rusak sedang satu unit dan gardu 44 unit.

Dua belas kecamatan terdampak di Kabupaten Sintang yaitu Kecamatan Sintang, Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Tempunak, Kelam Permai, Sei Tebelian, Ketungau Hilir, Sepauk, Dedai, Serawai dan Ambalau. Menurut identifikasi BPBD kabupaten, masih ada desa yang terisolir akibat banjir meluas ini.

Banjir Melawi dan Sekadau juga Surut

Dikatakan Muhari, penurunan tinggi muka air juga terjadi di Kabupaten Melawi. Tinggi muka air mengalami penurunan 50 hingga 100 cm. Kondisi ini membuat warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Data terakhir warga yang mengungsi berjumlah 773 jiwa. Di samping itu, untuk memastikan kesehatan warga yang kembali, pemerintah daerah bersama dengan TNI dan Polri memberikan pengobatan gratis, seperti yang terjadi di Kecamatan Pinoh.

Baca Juga :  Simulasi Penanganan Karhutla

Warga terdampak di Kabupaten Melawi tercatat 28.278 KK atau 108.455 jiwa dan empat warga meninggal dunia. Sedangkan kerugian material mencakup rumah terdampak 27.621 unit dan fasilitas umum 104 unit.

Lokasi terdampak banjir di kabupaten ini yaitu Kecamatan Menukung, Tanah Pinoh, Tanah Pinoh Barat, Nanga Pinoh, Sayan, Pinoh Selatan, Pinoh Utara, Ella Hilir, Belimbing, Belimbing Hulu dan Sokan.

Selain Sintang dan Melawi, banjir di Kabupaten Sekadau juga berangsur surut di beberapa wilayah. Seiring dengan kondisi tersebut, sebagian warga yang sempat mengungsi kembali ke rumah masing-masing. Pengungsi tercatat sebanyak 915 KK atau 3.311 jiwa. Pusdalops BNPB masih terus melakukan pemutakhiran data pengungsi dan titik-titik wilayah yang genangan banjirnya mulai surut.

Banjir di wilayah ini berdampak pada 5.518 KK atau 19.601 jiwa dan satu warga meninggal dunia. Sedangkan kerugian material, BPBD masih terus mendata infrastruktur yang terdampak.
Pemerintah Kabupaten Sekadau masih menetapkan status tanggap darurat di wilayahnya hingga 30 November 2021.

Tenggat waktu ini dapat diperpanjang apabila situasi semakin memburuk. Selama masa tanggap darurat, pemerintah daerah melayani warga terdampak, khususnya mereka yang masih mengungsi. Adapun kecamatan yang terdampak antara lain Sekadau Hilir, Belitang, Belitang Hilir dan Sekadau Hulu.

Guna mendukung penanganan darurat di tiga kabupaten ini, BNPB membantu dengan menurunkan personel, logistik maupun dana siap pakai. Hingga kini, personel BNPB masih berada di wilayah terdampak bersama dengan BPBD tiga kabupaten.(arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/