alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Kisah Pelarian TKI Asal Sulawesi Tengah, Di Demo Warga dan Berlabuh ke Posko Covid-19

“Lari dari Malaysia karena tak lagi mendapat gaji. Aso, pemuda asal Sulawesi Tengah kabur dan masuk ke wilayah perbatasan. Sesampainya di Desa Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu. Aso mendapat respon negatif dari masyarakat dan berakhir di Posko Covid-19 Dinas Kesehatan Sintang. Simak kisahnya”

FIRDAUS DARKATNI-SINTANG

Aso pemuda berusia 25 tahun sedang asik mendengarkan lagu dari handphone. Cuaca pada kemarin siang tengah panas dan terik. Ketika dikunjungi di Posko Covid-19 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, di lengan kanannya, ditempel hansaplas.

“BARU saja di rapid test, hasilnya negatif,” ujar salah satu petugas Dinas Kesehatan Sintang.

Tak lama itu, petugas dari Dinkes pun meninggalkan Aso. Ia pun mulai bercerita mengenai pelariannya dari Kota Serian yang jaraknya kurang lebih 65 Kilometer dari Kuching, Malaysia.

“Awalnya di sana (Kota Serian, Kuching) saya bekerja sebagai tukang panen kelapa sawit. Dan terakhir saya bekerja sebagai sopir truk bawa batu. Selama enam bulan terakhir saya tak mendapat gaji. Jadi saya kabur karena untuk apa juga saya bertahan di sana, tidak kerja dan tidak di gaji” cerita Aso.

Dia mulai meninggalkan Malaysia pada tanggal 9 April 2020 kemarin. Ia berangkat bersama empat kawan lainnya. Namun sayangnya, di tengah jalan, mereka berpisah. “Kami berpisah ketika ada tentara Malaysia menggunakan helikopter, kemudian kami panik dan teman saya kabur entah kemana. Saya bersembungi di balik pohon besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Seluruh Paslon yang Diusung PDI-P di Kalbar Daftar Pilkada secara Serentak

Pemuda asal Kabupaten Donggala, Sulteng ini pun melanjutkan perjalanan dan menerobos hutan, hingga ia melihat ada Pos Satuan Tugas Pengaman Perbatasan (Pamtas) yang ada di Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu, Sintang. Dia pun langsung menuju pos tersebut dan melapor.

Oleh personil Pamtas, ia dibawa ke Desa Sebuluh. Setelah istirahat di salah satu rumah warga. Ia kemudian di tempatkan ke salah satu puskesmas yang ada di Desa Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu. Celakanya, paspornya ditahan oleh pihak perusahaan karena urusan kontrak kerja. KTP serta bukti identitas lainnya pun raib beserta dompet. Namun oleh petugas tentara, ia hanya dipinta mengisi lembar administrasi serta menuliskan daerah asalnya.

Kendati sudah keluar dari Malaysia, nasib Aso masih belum mujur meski sudah berada di Senaning. Baru saja ia melewati perjalanan panjang untuk bisa masuk ke Indonesia, Aso mendapat respon negatif dari masyarakat lokal. “Karena isu corona ini, masyarakat takut kalau saya terus berada di sana (Senaning). Sebab banyak masyarakat mendengar bahwa di Malaysia kasus corona sudah banyak,” keluhnya.

Tak hanya respon negatif, masyarakat juga demo ke lapangan yang ada di Kantor Kecamatan Hulu. Aso pun oleh pihak kecamatan, Polsek Ketungau Hulu dan beberapa tentara perbatasan dipindahkan, dari puskesmas, ke Kantor Kecamatan Ketungau Hulu, kemudian disembunyikan ke rumah warga yang berada depan kantor kecamatan. Aso pun mendekap di kamar. “Masyarakat tidak senang saya terus ada di sana,” imbuhnya.

Baca Juga :  TGC Puskesmas Pahauman Tracing Kontak di Sengah Temila

Di Senaning, Aso tak sendiri. Ada dua kawan lainnya yang juga mendekap di sana. Namun dua kawannya tersebut sudah diantar ke daerah asalnya di Kabupaten Sambas. Sedangkan Aso oleh petugas dari kecamatan, kepolisian dan TNI diantar ke Posko Covid-19 Dinkes Sintang dan baru tiba pada Jumat (17/3) yang kemudian dirawat lebih itensif.

Tiba di Posko Covid-19, Aso pun langsung di rapid test. Dan hasilnya non reaktif atau negatif. Namun Aso masih belum lega. Saban hari ia menghubungi keluarnya yang ada di Kabupaten Donggala, Sulteng. Ia pun mengucapkan keinginannya untuk segera pulang. “Saya hanya ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga,” ucapnya lirih.

Menanggapi kisah tersebut, Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan, pihaknya akan menanggung konsumsinya selama di Sintang. Kendati hasil rapid test sudah negatif, Jarot berujar, Aso tetap berstatus orang dalam pengawasan (ODP) dan akan menjalani karantina selama beberapa hari ke depan di rumah singgah DInas Sosial Kabupaten Sintang. “Termasuk juga biaya pemulangannya nanti ke Kabupaten Donggala, Sulteng, yang jelas kita laksanakan dulu protokoler kesehatannya selama di Sintang termasuk juga konsumsinya,” tegas Jarot.(**)

 

“Lari dari Malaysia karena tak lagi mendapat gaji. Aso, pemuda asal Sulawesi Tengah kabur dan masuk ke wilayah perbatasan. Sesampainya di Desa Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu. Aso mendapat respon negatif dari masyarakat dan berakhir di Posko Covid-19 Dinas Kesehatan Sintang. Simak kisahnya”

FIRDAUS DARKATNI-SINTANG

Aso pemuda berusia 25 tahun sedang asik mendengarkan lagu dari handphone. Cuaca pada kemarin siang tengah panas dan terik. Ketika dikunjungi di Posko Covid-19 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, di lengan kanannya, ditempel hansaplas.

“BARU saja di rapid test, hasilnya negatif,” ujar salah satu petugas Dinas Kesehatan Sintang.

Tak lama itu, petugas dari Dinkes pun meninggalkan Aso. Ia pun mulai bercerita mengenai pelariannya dari Kota Serian yang jaraknya kurang lebih 65 Kilometer dari Kuching, Malaysia.

“Awalnya di sana (Kota Serian, Kuching) saya bekerja sebagai tukang panen kelapa sawit. Dan terakhir saya bekerja sebagai sopir truk bawa batu. Selama enam bulan terakhir saya tak mendapat gaji. Jadi saya kabur karena untuk apa juga saya bertahan di sana, tidak kerja dan tidak di gaji” cerita Aso.

Dia mulai meninggalkan Malaysia pada tanggal 9 April 2020 kemarin. Ia berangkat bersama empat kawan lainnya. Namun sayangnya, di tengah jalan, mereka berpisah. “Kami berpisah ketika ada tentara Malaysia menggunakan helikopter, kemudian kami panik dan teman saya kabur entah kemana. Saya bersembungi di balik pohon besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Belasan ASN DPRD Terpapar Covid

Pemuda asal Kabupaten Donggala, Sulteng ini pun melanjutkan perjalanan dan menerobos hutan, hingga ia melihat ada Pos Satuan Tugas Pengaman Perbatasan (Pamtas) yang ada di Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu, Sintang. Dia pun langsung menuju pos tersebut dan melapor.

Oleh personil Pamtas, ia dibawa ke Desa Sebuluh. Setelah istirahat di salah satu rumah warga. Ia kemudian di tempatkan ke salah satu puskesmas yang ada di Desa Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu. Celakanya, paspornya ditahan oleh pihak perusahaan karena urusan kontrak kerja. KTP serta bukti identitas lainnya pun raib beserta dompet. Namun oleh petugas tentara, ia hanya dipinta mengisi lembar administrasi serta menuliskan daerah asalnya.

Kendati sudah keluar dari Malaysia, nasib Aso masih belum mujur meski sudah berada di Senaning. Baru saja ia melewati perjalanan panjang untuk bisa masuk ke Indonesia, Aso mendapat respon negatif dari masyarakat lokal. “Karena isu corona ini, masyarakat takut kalau saya terus berada di sana (Senaning). Sebab banyak masyarakat mendengar bahwa di Malaysia kasus corona sudah banyak,” keluhnya.

Tak hanya respon negatif, masyarakat juga demo ke lapangan yang ada di Kantor Kecamatan Hulu. Aso pun oleh pihak kecamatan, Polsek Ketungau Hulu dan beberapa tentara perbatasan dipindahkan, dari puskesmas, ke Kantor Kecamatan Ketungau Hulu, kemudian disembunyikan ke rumah warga yang berada depan kantor kecamatan. Aso pun mendekap di kamar. “Masyarakat tidak senang saya terus ada di sana,” imbuhnya.

Baca Juga :  Hasil Rapid Test Negatif

Di Senaning, Aso tak sendiri. Ada dua kawan lainnya yang juga mendekap di sana. Namun dua kawannya tersebut sudah diantar ke daerah asalnya di Kabupaten Sambas. Sedangkan Aso oleh petugas dari kecamatan, kepolisian dan TNI diantar ke Posko Covid-19 Dinkes Sintang dan baru tiba pada Jumat (17/3) yang kemudian dirawat lebih itensif.

Tiba di Posko Covid-19, Aso pun langsung di rapid test. Dan hasilnya non reaktif atau negatif. Namun Aso masih belum lega. Saban hari ia menghubungi keluarnya yang ada di Kabupaten Donggala, Sulteng. Ia pun mengucapkan keinginannya untuk segera pulang. “Saya hanya ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga,” ucapnya lirih.

Menanggapi kisah tersebut, Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan, pihaknya akan menanggung konsumsinya selama di Sintang. Kendati hasil rapid test sudah negatif, Jarot berujar, Aso tetap berstatus orang dalam pengawasan (ODP) dan akan menjalani karantina selama beberapa hari ke depan di rumah singgah DInas Sosial Kabupaten Sintang. “Termasuk juga biaya pemulangannya nanti ke Kabupaten Donggala, Sulteng, yang jelas kita laksanakan dulu protokoler kesehatannya selama di Sintang termasuk juga konsumsinya,” tegas Jarot.(**)

 

Most Read

Hadirkan D3 Keperawatan di Sintang  

Ajukan Bantuan Obat Covid-19

In Memoriam A Halim R  

Marquez Dalam Kepungan Rider Yamaha

2.316 Peserta Ikut Test SKD

Artikel Terbaru

/