alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Mutiara Hikmah dari Perjuangan Nabi Ibrahim dan Ismail

Iduladha serta peristiwa di baliknya adalah momen untuk kembali mengarifi makna ikhlas.

ARIS MUNANDAR, Sintang

Kabut menyelimuti wilayah Sintang, Selasa (20/7) pagi. Semakin tampak jelas di aliran sungai dari atas Jembatan Kapuas, jarak pandang pun berkurang. Rombongan wanita bermukenah, serta para pria dengan kopiah di kepala dan sajadah terlipat di pundaknya jamak ditemui. Seperti membelah kabut yang lambat laun mulai menipis seiring dengan meningginya matahari.

Warna pakaian yang mereka gunakan memang berbeda. Namun arah tujuan mereka sama, menunaikan Salat Id di Masjid Jami’ Sultan Nata atau yang juga biasa disebut Masjid Jami’ Sintang, di Kompleks Keraton Al-Mukarrammah. Masjid yang menjadi saksi awal perkembangan Islam di Sintang dan sekitarnya.

Tahun depan, Masjid ini genap berusia 3,5 abad. Karena menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur dalam tulisannya di situs resmi milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Masjid ini berdiri pada 10 Mei 1672. Sampai sekarang masih digunakan, meski telah melewati beberapa kali renovasi.

Di depan pintu masuk masjid, persis di bawah tangga, perlengkapan penunjang protokol kesehatan disiapkan. Mulai dari sabun cuci tangan, ember berisi air yang di bawahnya sudah dipasangi kran, serta kotak-kotak masker. Tampak pengurus masjid berusaha mematuhi sebagian protokol kesehatan.

Ruangan masjid tak sanggup menampung jamaah. Tenda di halaman pun disiapkan. Digelari sajadah setelah sebelumnya di alas menggunakan terpal.

Takbir mengagungkan nama sesembahan syahdu terdengar dari pengeras suara di menara masjid. Bersahut-sahutan dengan masjid lainnya. Diikuti oleh sebagian jamaah yang terlihat hanyut tertunduk dalam takzim. Sedikit menenggelamkan riuh rendah obrolan di sekitarnya.

Baca Juga :  Takbir Berkumandang Tetapi Dengan Prokes Ketat.

Takbir diakhiri. Berganti suara seseorang di balik mikrofon memberi salam dan mengucapkan selamat Idul Adha 1442 Hijriah. Lantas memberi arahan agar jamaah sebaiknya memenuhi dulu shaf depan. Agar tidak ada ruang kosong dalam baris dan orang yang datang belakangan punya tempat. Dilanjutkan dengan menyampaikan informasi hewan kurban yang akan disembelih nantinya.

Sosok yang ditugasi dalam rangkaian Salat Id pun disampaikan. Mulai dari imam, katib, dan ma’asyir. Juga pengatur shaf wanita, pengatur shaf laki-laki, dan petugas tanggukkan. Hingga koordinator pemotong hewan kurban. Tata cara Salat Id juga disampaikan, lalu diakhiri dengan salam oleh pengantar salat.

Salat Id pun dimulai. Pungkas 2 rakaat melaksanakan ibadah sunnah muakkadah, lantas dilanjutkan dengan doa. Menyusul kemudian penyampaian khotbah oleh Ustad Ahmad Dison. Dari mimbar, kata demi kata terdengar penuh keyakinan. Dibuka dengan sembah kepada Allah, puji kepada rasul, beserta para sahabatnya. Lalu ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan pun terucap dari mulut katib. Seperti jamaknya khotbah dari mimbar masjid pada umumnya.

“Hadirin, kaum Muslimin jamaah Salat Idul Adha yang berbahagia, pada hari ini kita hadir di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa ada perbedaan di antara kita. Baik pangkat, warna kulit, suku bangsa. Semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ucap katib menjelaskan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan.

Selain itu, ada satu hal yang tak pernah luput dan selalu ada di materi khotbah Salat Idul Adha. Yaitu mengenang cerita ketaatan, keikhlasan, dan perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah Swt. Itu juga yang sedang dibawakan katib dari atas mimbar Masjid Jami’ Sultan Nata.

Baca Juga :  Dompet Ummat dan BNI Bagikan Daging Kurban

“Patut diketahui bahwa, hari raya qurban atau hari raya Idul Adha ini adalah sebuah mutiara hikmah. Ini mengingatkan kita pada pengalaman sejarah Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Tentang perjuangannya dan keluarganya yang begitu besar untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujar khatib yang hanya terdengar suaranya dari pengeras suara, namun tak nampak sosoknya oleh jamaah yang salat di luar masjid. Khotbah pun berlanjut pada perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Namun khotbah pun kadang memberikan tawaran solusi masalah terkini yang dihadapi oleh manusia, terkhusus dari kacamata agama. “Kita harus tetap tenang, dalam kondisi apapun, sesulit apapun, kita tetap tenang. Tidak cemas, tidak ketakutan, dan tidak was-was berlebihan,” ucap katib yang agaknya sesuai dengan kondisi saat ini. Itu diucapkannya ketika mengajak jamaah untuk mengamalkan membaca Al-Qur’an. Karena, seperti yang disampaikan khatib dari atas mimbar, membaca Al-Qur’an memberikan ketenangan bagi umat Muslim di tengah masalah dalam kehidupan.

Khotbah pun usai di menit ke 15. Usai doa, jamaah menghambur keluar Masjid. Menuju sandal masing-masing, untuk selanjutnya pulang. Ada pula sahabat, kolega, dan kenalan yang bertemu ketika hendak keluar, saling bersalaman. Serupa Idul Fitri, permohonan maaf pun terucap saat itu.

Juga terdengar pertanyaan, “Makan-makan di mana kita ini?” dari dalam kerumunan di tangga Masjid. Mengingatkan pada sebuah adagium, dimana ada yang berkumpul, di situ ada makan-makan. (*)

Iduladha serta peristiwa di baliknya adalah momen untuk kembali mengarifi makna ikhlas.

ARIS MUNANDAR, Sintang

Kabut menyelimuti wilayah Sintang, Selasa (20/7) pagi. Semakin tampak jelas di aliran sungai dari atas Jembatan Kapuas, jarak pandang pun berkurang. Rombongan wanita bermukenah, serta para pria dengan kopiah di kepala dan sajadah terlipat di pundaknya jamak ditemui. Seperti membelah kabut yang lambat laun mulai menipis seiring dengan meningginya matahari.

Warna pakaian yang mereka gunakan memang berbeda. Namun arah tujuan mereka sama, menunaikan Salat Id di Masjid Jami’ Sultan Nata atau yang juga biasa disebut Masjid Jami’ Sintang, di Kompleks Keraton Al-Mukarrammah. Masjid yang menjadi saksi awal perkembangan Islam di Sintang dan sekitarnya.

Tahun depan, Masjid ini genap berusia 3,5 abad. Karena menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur dalam tulisannya di situs resmi milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Masjid ini berdiri pada 10 Mei 1672. Sampai sekarang masih digunakan, meski telah melewati beberapa kali renovasi.

Di depan pintu masuk masjid, persis di bawah tangga, perlengkapan penunjang protokol kesehatan disiapkan. Mulai dari sabun cuci tangan, ember berisi air yang di bawahnya sudah dipasangi kran, serta kotak-kotak masker. Tampak pengurus masjid berusaha mematuhi sebagian protokol kesehatan.

Ruangan masjid tak sanggup menampung jamaah. Tenda di halaman pun disiapkan. Digelari sajadah setelah sebelumnya di alas menggunakan terpal.

Takbir mengagungkan nama sesembahan syahdu terdengar dari pengeras suara di menara masjid. Bersahut-sahutan dengan masjid lainnya. Diikuti oleh sebagian jamaah yang terlihat hanyut tertunduk dalam takzim. Sedikit menenggelamkan riuh rendah obrolan di sekitarnya.

Baca Juga :  PLBN Sungai Kelik Segera Land Clearing

Takbir diakhiri. Berganti suara seseorang di balik mikrofon memberi salam dan mengucapkan selamat Idul Adha 1442 Hijriah. Lantas memberi arahan agar jamaah sebaiknya memenuhi dulu shaf depan. Agar tidak ada ruang kosong dalam baris dan orang yang datang belakangan punya tempat. Dilanjutkan dengan menyampaikan informasi hewan kurban yang akan disembelih nantinya.

Sosok yang ditugasi dalam rangkaian Salat Id pun disampaikan. Mulai dari imam, katib, dan ma’asyir. Juga pengatur shaf wanita, pengatur shaf laki-laki, dan petugas tanggukkan. Hingga koordinator pemotong hewan kurban. Tata cara Salat Id juga disampaikan, lalu diakhiri dengan salam oleh pengantar salat.

Salat Id pun dimulai. Pungkas 2 rakaat melaksanakan ibadah sunnah muakkadah, lantas dilanjutkan dengan doa. Menyusul kemudian penyampaian khotbah oleh Ustad Ahmad Dison. Dari mimbar, kata demi kata terdengar penuh keyakinan. Dibuka dengan sembah kepada Allah, puji kepada rasul, beserta para sahabatnya. Lalu ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan pun terucap dari mulut katib. Seperti jamaknya khotbah dari mimbar masjid pada umumnya.

“Hadirin, kaum Muslimin jamaah Salat Idul Adha yang berbahagia, pada hari ini kita hadir di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa ada perbedaan di antara kita. Baik pangkat, warna kulit, suku bangsa. Semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ucap katib menjelaskan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan.

Selain itu, ada satu hal yang tak pernah luput dan selalu ada di materi khotbah Salat Idul Adha. Yaitu mengenang cerita ketaatan, keikhlasan, dan perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah Swt. Itu juga yang sedang dibawakan katib dari atas mimbar Masjid Jami’ Sultan Nata.

Baca Juga :  Amankan Aset Negara, Zidam XII/Tpr Tingkatkan Kerja Sama dengan Kantah Kabupaten Sintang

“Patut diketahui bahwa, hari raya qurban atau hari raya Idul Adha ini adalah sebuah mutiara hikmah. Ini mengingatkan kita pada pengalaman sejarah Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Tentang perjuangannya dan keluarganya yang begitu besar untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujar khatib yang hanya terdengar suaranya dari pengeras suara, namun tak nampak sosoknya oleh jamaah yang salat di luar masjid. Khotbah pun berlanjut pada perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Namun khotbah pun kadang memberikan tawaran solusi masalah terkini yang dihadapi oleh manusia, terkhusus dari kacamata agama. “Kita harus tetap tenang, dalam kondisi apapun, sesulit apapun, kita tetap tenang. Tidak cemas, tidak ketakutan, dan tidak was-was berlebihan,” ucap katib yang agaknya sesuai dengan kondisi saat ini. Itu diucapkannya ketika mengajak jamaah untuk mengamalkan membaca Al-Qur’an. Karena, seperti yang disampaikan khatib dari atas mimbar, membaca Al-Qur’an memberikan ketenangan bagi umat Muslim di tengah masalah dalam kehidupan.

Khotbah pun usai di menit ke 15. Usai doa, jamaah menghambur keluar Masjid. Menuju sandal masing-masing, untuk selanjutnya pulang. Ada pula sahabat, kolega, dan kenalan yang bertemu ketika hendak keluar, saling bersalaman. Serupa Idul Fitri, permohonan maaf pun terucap saat itu.

Juga terdengar pertanyaan, “Makan-makan di mana kita ini?” dari dalam kerumunan di tangga Masjid. Mengingatkan pada sebuah adagium, dimana ada yang berkumpul, di situ ada makan-makan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/