alexametrics
26 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Konsumsi Air yang Baik Cegah AKI-AKB dan Stunting

SINTANG-Selain menghadapi pandemi Covid-19, Indonesia juga menghadapi ancaman tingginya kematian ibu, bayi, dan stunting. Oleh karenanya, perhatian juga harus ditujukan kepada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Bayi (AKB) dan kasus stunting, Kamis (22).

Hal itu diucapkan oleh Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus J saat membacakan pidato Bupati Sintang. Katanya, masalah tersebut bukan hanya soal pemberian asupan gizi yang memenuhi standar untuk ibu hamil dan menyusui, tapi minimnya penyediaan air minum dan sanitasi layak. Ketiadaan sanitasi dan air bersih merupakan awal dari munculnya persoalan kesehatan dalam masyarakat seperti stunting, kematian bayi serta ibu dan penyakit lainnya.

“Saat ini angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia masih sebesar 27,67 persen. AKI melahirkan di Indonesia masih berkisar 305/100.000 kelahiran hidup, jauh tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lain yang berkisar antara 40 sampai 60 per 100.000 kelahiran hidup,” katanya.

Yustinus mengatakan, beberapa perilaku seperti tidak mencuci tangan karena tidak tersedianya air bersih saat penanganan persalinan dan setelah melahirkan, sampai saat ini masih menjadi penyebab tingginya AKI di Indonesia.

Sementara itu, angka kematian bayi (AKB) kurang dari 1 tahun di Indonesia adalah 24/1.000 kelahiran. Jauh di atas angka di Malaysia sebesar 6,7/1.000 kelahiran, dan di Thailand 7,8 per 1.000 kelahiran. Perilaku sederhana seperti mencuci tangan dengan air bersih saat akan memberikan makan kepada anak atau saat setelah buang air besar menurutnya adalah beberapa perilaku yang harus didorong untuk mengurangi AKB.

Baca Juga :  Kayong Utara Komitmen Turunkan Angka Stunting

“Intervensi penyediaan air minum dan sanitasi yang layak, serta perubahan perilaku berkontribusi banyak dalam pencegahan stunting, penurunan angka kematian ibu dan angka kematian anak,” katanya.

Selain itu, ketersediaan air bersih juga sangat erat kaitannya dengan isu pembangunan manusia, terutama kesehatan. Selain stunting, sanitasi buruk dan kurangnya ketersediaan air bersih juga menyebabkan penyakit lain seperti diare. Yustinus mengatakan, Pemkab Sintang menaruh perhatian besar terhadap upaya pencegahan masalah kesehatan seperti stunting, AKI, dan AKB. Namun agar program tersebut berjalan efektif, dibutuhkan kerjasama semua pihak sesuai peran dan fungsinya.

Senada, Manager Program Area Melawi-Sintang WVI, Margaretta Siregar pun mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan WVI, di Kabupaten Sintang masih ditemukan tingginya kasus kematian bayi. Sehingga ia menilai perlu dilakukan pencegahan untuk anak-anak agar tidak terkena diare atau penyakit lain yang disebabkan oleh air yang tidak layak.

“Untuk anak pada seribu hari pertama kehidupan mereka, penyakit diare ini sangat berbahaya karena akan mengurangi berat badan mereka sehingga bisa menyebabkan kekurangan gizi dan stunting,” ucapnya. Pihaknya pun berkomitmen membantu menurunkan stunting di Kabupaten Sintang.

Baca Juga :  Pelajaran Berharga Generasi Penerus Bangsa

Untuk mendukung upaya penyediaan air bersih dan penurunan AKI, AKB, dan stunting melalui penyediaan air minum bersih, Wahana Visi Indonesia (WVI) pun membagikan 2,2 juta purifier kepada 6. 687 keluarga di seluruh Indonesia. Termasuk di Sintang.

Pihaknya juga melakukan workshop workshop Percepatan Penurunan AKI, AKB, dan Stunting, serta Percepatan Universal Akses Air dan Sanitasi yang diikuti oleh perwakilan masyarakat dan kader Posyandu di 24 desa yang menjadi lokasi kegiatan WVI. Margaretta mengatakan, program bertujuan untuj mengedukasi masyarakat untuk bisa mengolah air biasa menjadi air minum pada masyarakat yang biasa menggunakan air sungai dan air hujan untuk diminum sehari-hari.

“Dengan program ini, masyarakat di 24 desa diharapkan memahami mengapa kita harus mengolah air minum. Sehingga perilaku masyarakat menjadi berubah dalam hal pengolahan air minum,” pungkasnya.

Pada Workshop Percepatan Penurunan AKI, AKB, dan Stunting serta Percepatan Universal Akses Air dan Sanitasi, WVI menghadirkan dua orang narasumber. Yakni Florida Ida dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang dan Yuspiandi dari Bappeda Kabupaten Sintang. (ris)

SINTANG-Selain menghadapi pandemi Covid-19, Indonesia juga menghadapi ancaman tingginya kematian ibu, bayi, dan stunting. Oleh karenanya, perhatian juga harus ditujukan kepada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Bayi (AKB) dan kasus stunting, Kamis (22).

Hal itu diucapkan oleh Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus J saat membacakan pidato Bupati Sintang. Katanya, masalah tersebut bukan hanya soal pemberian asupan gizi yang memenuhi standar untuk ibu hamil dan menyusui, tapi minimnya penyediaan air minum dan sanitasi layak. Ketiadaan sanitasi dan air bersih merupakan awal dari munculnya persoalan kesehatan dalam masyarakat seperti stunting, kematian bayi serta ibu dan penyakit lainnya.

“Saat ini angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia masih sebesar 27,67 persen. AKI melahirkan di Indonesia masih berkisar 305/100.000 kelahiran hidup, jauh tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lain yang berkisar antara 40 sampai 60 per 100.000 kelahiran hidup,” katanya.

Yustinus mengatakan, beberapa perilaku seperti tidak mencuci tangan karena tidak tersedianya air bersih saat penanganan persalinan dan setelah melahirkan, sampai saat ini masih menjadi penyebab tingginya AKI di Indonesia.

Sementara itu, angka kematian bayi (AKB) kurang dari 1 tahun di Indonesia adalah 24/1.000 kelahiran. Jauh di atas angka di Malaysia sebesar 6,7/1.000 kelahiran, dan di Thailand 7,8 per 1.000 kelahiran. Perilaku sederhana seperti mencuci tangan dengan air bersih saat akan memberikan makan kepada anak atau saat setelah buang air besar menurutnya adalah beberapa perilaku yang harus didorong untuk mengurangi AKB.

Baca Juga :  Salurkan Bantuan Untuk Masyarakat  

“Intervensi penyediaan air minum dan sanitasi yang layak, serta perubahan perilaku berkontribusi banyak dalam pencegahan stunting, penurunan angka kematian ibu dan angka kematian anak,” katanya.

Selain itu, ketersediaan air bersih juga sangat erat kaitannya dengan isu pembangunan manusia, terutama kesehatan. Selain stunting, sanitasi buruk dan kurangnya ketersediaan air bersih juga menyebabkan penyakit lain seperti diare. Yustinus mengatakan, Pemkab Sintang menaruh perhatian besar terhadap upaya pencegahan masalah kesehatan seperti stunting, AKI, dan AKB. Namun agar program tersebut berjalan efektif, dibutuhkan kerjasama semua pihak sesuai peran dan fungsinya.

Senada, Manager Program Area Melawi-Sintang WVI, Margaretta Siregar pun mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan WVI, di Kabupaten Sintang masih ditemukan tingginya kasus kematian bayi. Sehingga ia menilai perlu dilakukan pencegahan untuk anak-anak agar tidak terkena diare atau penyakit lain yang disebabkan oleh air yang tidak layak.

“Untuk anak pada seribu hari pertama kehidupan mereka, penyakit diare ini sangat berbahaya karena akan mengurangi berat badan mereka sehingga bisa menyebabkan kekurangan gizi dan stunting,” ucapnya. Pihaknya pun berkomitmen membantu menurunkan stunting di Kabupaten Sintang.

Baca Juga :  DPRD Landak Perhatikan Stunting

Untuk mendukung upaya penyediaan air bersih dan penurunan AKI, AKB, dan stunting melalui penyediaan air minum bersih, Wahana Visi Indonesia (WVI) pun membagikan 2,2 juta purifier kepada 6. 687 keluarga di seluruh Indonesia. Termasuk di Sintang.

Pihaknya juga melakukan workshop workshop Percepatan Penurunan AKI, AKB, dan Stunting, serta Percepatan Universal Akses Air dan Sanitasi yang diikuti oleh perwakilan masyarakat dan kader Posyandu di 24 desa yang menjadi lokasi kegiatan WVI. Margaretta mengatakan, program bertujuan untuj mengedukasi masyarakat untuk bisa mengolah air biasa menjadi air minum pada masyarakat yang biasa menggunakan air sungai dan air hujan untuk diminum sehari-hari.

“Dengan program ini, masyarakat di 24 desa diharapkan memahami mengapa kita harus mengolah air minum. Sehingga perilaku masyarakat menjadi berubah dalam hal pengolahan air minum,” pungkasnya.

Pada Workshop Percepatan Penurunan AKI, AKB, dan Stunting serta Percepatan Universal Akses Air dan Sanitasi, WVI menghadirkan dua orang narasumber. Yakni Florida Ida dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang dan Yuspiandi dari Bappeda Kabupaten Sintang. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/