alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Demam Babi Afrika Serang Sintang

SINTANG-Beberapa waktu belakangan, Demam Babi Afrika atau yang lebih dikenal dengan African Swine Fever (ASF) menyerang berbagai negara yang menyebabkan banyaknya babi yang mati. Bahkan menurut Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, virus itu sudah ditemukan menyerang peternakan babi milik masyarakat di Bumi Senentang.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Sintang, Elisa Gultom mengatakan bahwa temuan itu berdasarkan hasil penelusuran dan laboratorium pada babi-babi yang mati. Hal itu menunjukan bahwa sudah ada serangan virus ASF terhadap ternak babi di Kabupaten Sintang.

“Kejadian di Sintang mulai terdeteksi pada 9 September 2021. Pada 15 September 2021, kami sudah ambil tindakan berupa investigasi dan pengambilan sampel. Pada 1 Oktober 2021, hasil laboratorium keluar dan dinyatakan positif tertular virus ASF,” terangnya.

Meskipun tidak menular ke manusia maupun hewan lain, penyakit ini dapat menyebabkan kerugian besar. Karena menurut Elisa Gultom, tingkat kematian babi jika terserang penyakit ini adalah 90 persen.

Baca Juga :  Makan Pekasam dari Penuba Ikan, Sebelas Warga Keracunan

“Virus African Swine Fever ini hanya menyerang ternak babi. Tidak berpindah ke ternak lain dan juga manusia. Virus ini dapat menyebabkan kematian babi hingga 90 persen. Artinya virus ASF ini sangat berbahaya bagi ternak babi,” katanya.

Elisa mengatakan bahwa populasi babi di seluruh kecamatan di Kabupaten Sintang adalah sebanyak 67. 505 ekor. Di Kecamatan Sintang saja sudah ada 5 desa dan kelurahan yang terdeteksi menjadi lokasi penularan virus ASF. Dengan jumlah 151 babi yang tertular.

“Jumlahnya cukup besar. Untuk Kecamatan Sintang yang menjadi wilayah pandemic virus ASF, total sudah 151 ekor yang sudah tertular virus ASF yang ada di 5 desa dan kelurahan,” jelasnya.

Elisa mengatakan karena penyakit ini terbilang baru, jadi obat maupun vaksin untuk penyakit tersebut belum ditemukan. Namun dia menjelaskan bahwa gejala jika ternak babi terjangkit penyakit ini adalah babgi menjadi lesu, tidak mau makan, demam, diare, muntah, bintik-bintik merah di kulit. Dia mengkhawatirkan bahwa penyakit ini akan berdampak besar pada para peternak dan konsumen daging babi.

Baca Juga :  Pembalakan Liar Masih Terjadi

Dia mengatakan sudah memberikan himbauan kepada masyarakat akan bahaya penyakit tersebut pada ternak. Pihaknya juga sudah melakukan usaha-usaha pencegahan seperti penyuntikan serum konvalesen. Adapun serum tersebut adalah bantuan dari pemerintah pusat sebanyak 276 botol.

“Kami sudah melakukan langkah untuk mengendalikan virus ASF adalah memberikan himbauan melalui surat kewaspadaan kepada masyarakat di desa dan kelurahan yang ada ternak babinya. Kami juga melakukan sosialisasi dan penyuntikan serum konvalesen,” katanya.  Kami sudah mendapatkan bantuan serum dari pemerintah pusat sebanyak 276 botol,” pungkasnya. (ris)

SINTANG-Beberapa waktu belakangan, Demam Babi Afrika atau yang lebih dikenal dengan African Swine Fever (ASF) menyerang berbagai negara yang menyebabkan banyaknya babi yang mati. Bahkan menurut Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, virus itu sudah ditemukan menyerang peternakan babi milik masyarakat di Bumi Senentang.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Sintang, Elisa Gultom mengatakan bahwa temuan itu berdasarkan hasil penelusuran dan laboratorium pada babi-babi yang mati. Hal itu menunjukan bahwa sudah ada serangan virus ASF terhadap ternak babi di Kabupaten Sintang.

“Kejadian di Sintang mulai terdeteksi pada 9 September 2021. Pada 15 September 2021, kami sudah ambil tindakan berupa investigasi dan pengambilan sampel. Pada 1 Oktober 2021, hasil laboratorium keluar dan dinyatakan positif tertular virus ASF,” terangnya.

Meskipun tidak menular ke manusia maupun hewan lain, penyakit ini dapat menyebabkan kerugian besar. Karena menurut Elisa Gultom, tingkat kematian babi jika terserang penyakit ini adalah 90 persen.

Baca Juga :  Peran Penting Media Dalam Pertahanan Negara

“Virus African Swine Fever ini hanya menyerang ternak babi. Tidak berpindah ke ternak lain dan juga manusia. Virus ini dapat menyebabkan kematian babi hingga 90 persen. Artinya virus ASF ini sangat berbahaya bagi ternak babi,” katanya.

Elisa mengatakan bahwa populasi babi di seluruh kecamatan di Kabupaten Sintang adalah sebanyak 67. 505 ekor. Di Kecamatan Sintang saja sudah ada 5 desa dan kelurahan yang terdeteksi menjadi lokasi penularan virus ASF. Dengan jumlah 151 babi yang tertular.

“Jumlahnya cukup besar. Untuk Kecamatan Sintang yang menjadi wilayah pandemic virus ASF, total sudah 151 ekor yang sudah tertular virus ASF yang ada di 5 desa dan kelurahan,” jelasnya.

Elisa mengatakan karena penyakit ini terbilang baru, jadi obat maupun vaksin untuk penyakit tersebut belum ditemukan. Namun dia menjelaskan bahwa gejala jika ternak babi terjangkit penyakit ini adalah babgi menjadi lesu, tidak mau makan, demam, diare, muntah, bintik-bintik merah di kulit. Dia mengkhawatirkan bahwa penyakit ini akan berdampak besar pada para peternak dan konsumen daging babi.

Baca Juga :  Permintaan Daging Babi Meningkat, Dinas PPKH Tingkatkan Kewaspadaan Virus ASF

Dia mengatakan sudah memberikan himbauan kepada masyarakat akan bahaya penyakit tersebut pada ternak. Pihaknya juga sudah melakukan usaha-usaha pencegahan seperti penyuntikan serum konvalesen. Adapun serum tersebut adalah bantuan dari pemerintah pusat sebanyak 276 botol.

“Kami sudah melakukan langkah untuk mengendalikan virus ASF adalah memberikan himbauan melalui surat kewaspadaan kepada masyarakat di desa dan kelurahan yang ada ternak babinya. Kami juga melakukan sosialisasi dan penyuntikan serum konvalesen,” katanya.  Kami sudah mendapatkan bantuan serum dari pemerintah pusat sebanyak 276 botol,” pungkasnya. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/