alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Bangunan Tahun 1823 Akhirnya Kokoh Lagi

SINTANG-Pendopo Bupati Sintang merupakan bangunan cagar budaya yang tercatat di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1823 ini, dibangun pada masa Sultan Ade Muhammad Yasin Kesultanan Sintang, yang bergelar Pangeran Ratu Adi Pati Muhammad Jamaluddin atau satu tahun setelah Belanda datang ke Kabupaten Sintang.

“Tepat 195 tahun berdirinya pendopo ini, atau pada Kamis 26 Juli 2018 lalu pendopo ini mengalami musibah/ kebakaran hebat yang menghaguskan seluruh bangunan atau konstruksi yang ada. Lalu kemudian kami mendapat perintah dari pak bupati untuk segera menyiapkan atau membangun kembali pendopo ini,” ujar Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Sintang Ir. Zulkarnaen saat menghadiri tasyukuran sebagai tanda telah selesainya pembangunan Pendopo Bupati Sintang, kemarin.

Dikatakan Zulkarnaen bahwa, Pendopo Bupati Sintang ini mulai di bangun kembali pada 18 Februari 2019, dimana pihaknya bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya di Kalimantan Timur, yang memberikan tiga supervisi untuk pembangunan kembali pendopo. Yang pertama supervisi terkait model, dimana model di kembalikan kepada bentuk aslinya. Sementara arsitekturnya di dapat dari Belanda melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang berupa foto, sehingga kata Zulkarnaen di kompilasikan menjadi seperti aslinya atau tata letaknya di kembalikan ke model aslinya pada tahun 1823.

Baca Juga :  Empat OTG Dipindahkan ke Rumah Sakit Ade M Djoen Sintang

“Kemudian kami mendapatkan arahan dari BPCB itu yakni material yang di gunakan harus di kembalikan pada meterial aslinya yaitu kayu ulin atau kayu belian,” terangnya.

Tepat pada 22 Desember 2019, Pendopo Bupati Sintang ini telah selesai pembangunan bangunan induknya 100%, yang mana luas bangunannya 628 meter persegi dengan menghabiskan angaran yang bersumber dari APBD Kabupaten Sintang sebesar 4 miliyar rupiah lebih yang di kerjakan oleh CV. Merakai Jaya sebagai pelaksana.

“Dan pada tahun 2020 ini kami akan  membangun rumah jaga atau pos jaga yang akan di sesuaikan dengan kondisi pendopo, kemudian selasar belakang untuk menghubungi antara bangunan pendopo ini dengan aula belakang. Serta selasar depan juga akan kita bangun,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan bahwa dengan telah selesainya pembanguan pendopo ini, rasa bersalah dirinya yang diberi tanggung jawab/amanah mendiami atau menjaga pendopo sudah berkurang, karena pada 26 Juli 2018 lalu mengalami musibah kebakaran dan pada saat itu dirinya tidak berada di tempat karena mengikuti kegiatan di Jakarta.

Baca Juga :  Mobil Oksigen Layani Masyarakat Yang Sesak Napas

“Paling tidak telah selesainya pendopo ini, rasa bersalah saya sudah berkurang, karena saya di beri amanah untuk tinggal di pendopo, namun pada saat itu terjadi musibah, dan memang musibah itu pun tidak bisa kita elakkan karena kita manusia biasa,” kata Jarot.

Jarot menyampaikan bahwa yang paling penting adalah tekat untuk membangun kembali karena bangunan pendopo ini merupakan bangunan cagar budaya dan dirinya pun mengucap syukur pembangunan Pendopo sudah selesai.

“Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pada akhirnya pendopo ini bisa kita selesaikan, dan hari ini kita tasyukuran mendoakannya, membaca doa selamat bersama-sama. terima kasih kepada bapak/ibu yang telah hadir, kemudian tentu saja pada saatnya nanti upacara naik rumah pendopo ini, berbagai komponen bangsa akan kita undang, ini adalah rumah rakyat, rumah besar masyarakat Kabupaten Sintang,” ucap Jarot. (fds)

 

SINTANG-Pendopo Bupati Sintang merupakan bangunan cagar budaya yang tercatat di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1823 ini, dibangun pada masa Sultan Ade Muhammad Yasin Kesultanan Sintang, yang bergelar Pangeran Ratu Adi Pati Muhammad Jamaluddin atau satu tahun setelah Belanda datang ke Kabupaten Sintang.

“Tepat 195 tahun berdirinya pendopo ini, atau pada Kamis 26 Juli 2018 lalu pendopo ini mengalami musibah/ kebakaran hebat yang menghaguskan seluruh bangunan atau konstruksi yang ada. Lalu kemudian kami mendapat perintah dari pak bupati untuk segera menyiapkan atau membangun kembali pendopo ini,” ujar Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Sintang Ir. Zulkarnaen saat menghadiri tasyukuran sebagai tanda telah selesainya pembangunan Pendopo Bupati Sintang, kemarin.

Dikatakan Zulkarnaen bahwa, Pendopo Bupati Sintang ini mulai di bangun kembali pada 18 Februari 2019, dimana pihaknya bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya di Kalimantan Timur, yang memberikan tiga supervisi untuk pembangunan kembali pendopo. Yang pertama supervisi terkait model, dimana model di kembalikan kepada bentuk aslinya. Sementara arsitekturnya di dapat dari Belanda melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang berupa foto, sehingga kata Zulkarnaen di kompilasikan menjadi seperti aslinya atau tata letaknya di kembalikan ke model aslinya pada tahun 1823.

Baca Juga :  Lahan Bekas PETI yang Terabaikan

“Kemudian kami mendapatkan arahan dari BPCB itu yakni material yang di gunakan harus di kembalikan pada meterial aslinya yaitu kayu ulin atau kayu belian,” terangnya.

Tepat pada 22 Desember 2019, Pendopo Bupati Sintang ini telah selesai pembangunan bangunan induknya 100%, yang mana luas bangunannya 628 meter persegi dengan menghabiskan angaran yang bersumber dari APBD Kabupaten Sintang sebesar 4 miliyar rupiah lebih yang di kerjakan oleh CV. Merakai Jaya sebagai pelaksana.

“Dan pada tahun 2020 ini kami akan  membangun rumah jaga atau pos jaga yang akan di sesuaikan dengan kondisi pendopo, kemudian selasar belakang untuk menghubungi antara bangunan pendopo ini dengan aula belakang. Serta selasar depan juga akan kita bangun,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan bahwa dengan telah selesainya pembanguan pendopo ini, rasa bersalah dirinya yang diberi tanggung jawab/amanah mendiami atau menjaga pendopo sudah berkurang, karena pada 26 Juli 2018 lalu mengalami musibah kebakaran dan pada saat itu dirinya tidak berada di tempat karena mengikuti kegiatan di Jakarta.

Baca Juga :  Tes Rapid Sebelum Pengamanan Pencoblosan

“Paling tidak telah selesainya pendopo ini, rasa bersalah saya sudah berkurang, karena saya di beri amanah untuk tinggal di pendopo, namun pada saat itu terjadi musibah, dan memang musibah itu pun tidak bisa kita elakkan karena kita manusia biasa,” kata Jarot.

Jarot menyampaikan bahwa yang paling penting adalah tekat untuk membangun kembali karena bangunan pendopo ini merupakan bangunan cagar budaya dan dirinya pun mengucap syukur pembangunan Pendopo sudah selesai.

“Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pada akhirnya pendopo ini bisa kita selesaikan, dan hari ini kita tasyukuran mendoakannya, membaca doa selamat bersama-sama. terima kasih kepada bapak/ibu yang telah hadir, kemudian tentu saja pada saatnya nanti upacara naik rumah pendopo ini, berbagai komponen bangsa akan kita undang, ini adalah rumah rakyat, rumah besar masyarakat Kabupaten Sintang,” ucap Jarot. (fds)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/