alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Tenun Ikat Dayak Mendunia

SINTANG-Kabupaten Sintang memiliki kerajinan khas yang telah mendunia, yakni tenun ikar dayak yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dan pernah meraih penghargaan Upakarti.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Siti Musrikah mengatakan, tenun ikat sudah dikenal dibeberapa negara besar seperti Amerika, Belanda, Jerman, Italia serta beberapa negara Eropa lainnya.

“Kalau di Pulau Kalimantan, semua sudah mengenalnya,” ujar Siti.

Bahkan, lanjut Siti, ketika melakukan pameran di Swedia pembeliannya juga luar biasa. Menurutnya para pembeli di Swedia melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang unik.

“Mereka melihat sesuatu yang unik, ketika banyak orang sudah meninggalkan itu,” ucapnya.

Ia mengatakan, ketika melakukan pameran di luar negeri, yang dilakukan tidak hanya promosi tenun ikat, tapi juga sekaligus mempromosikan Kabupaten Sintang ke dunia. “Kita juga sekaligus mengenalkan daerah Sintang ketika ditanya tempat asal kain tenun ini,” paparnya.

Baca Juga :  Wali Kota Singkawang Kunjungi Sintang

Siti menjelaskan, tenun ikat Sintang ada dua proses pewarnaan, yakni alami dan kima. Ia menambahkan pengrajin tenun yang ada di Kabupaten Sintang masih menggunakan alami dan kimia. Diantaranya dari akar pohon, daun-daunan, kulit kayu serta tumbuhan.

“Memang ada kendala bahan baku jika menggunakan pewarna alami. Karena prosesnya lama,” tambahnya.

Solusinya, pemerintah melalui SK Bupati SIntang sedang mengupayakan adanya kawasan ekobudaya agar bisa meremajakan kembali bahan yang digunakan untuk pewarna alami.

“Misalnya seperti pohon mengkudu, pohon ini boleh diambil untuk pewarna alami setelah lima tahun. Makanya harus ditanam kembali,” pungkasnya. (fds)

 

SINTANG-Kabupaten Sintang memiliki kerajinan khas yang telah mendunia, yakni tenun ikar dayak yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dan pernah meraih penghargaan Upakarti.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Siti Musrikah mengatakan, tenun ikat sudah dikenal dibeberapa negara besar seperti Amerika, Belanda, Jerman, Italia serta beberapa negara Eropa lainnya.

“Kalau di Pulau Kalimantan, semua sudah mengenalnya,” ujar Siti.

Bahkan, lanjut Siti, ketika melakukan pameran di Swedia pembeliannya juga luar biasa. Menurutnya para pembeli di Swedia melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang unik.

“Mereka melihat sesuatu yang unik, ketika banyak orang sudah meninggalkan itu,” ucapnya.

Ia mengatakan, ketika melakukan pameran di luar negeri, yang dilakukan tidak hanya promosi tenun ikat, tapi juga sekaligus mempromosikan Kabupaten Sintang ke dunia. “Kita juga sekaligus mengenalkan daerah Sintang ketika ditanya tempat asal kain tenun ini,” paparnya.

Baca Juga :  Perjuangkan Jaringan Listrik di Pedalaman

Siti menjelaskan, tenun ikat Sintang ada dua proses pewarnaan, yakni alami dan kima. Ia menambahkan pengrajin tenun yang ada di Kabupaten Sintang masih menggunakan alami dan kimia. Diantaranya dari akar pohon, daun-daunan, kulit kayu serta tumbuhan.

“Memang ada kendala bahan baku jika menggunakan pewarna alami. Karena prosesnya lama,” tambahnya.

Solusinya, pemerintah melalui SK Bupati SIntang sedang mengupayakan adanya kawasan ekobudaya agar bisa meremajakan kembali bahan yang digunakan untuk pewarna alami.

“Misalnya seperti pohon mengkudu, pohon ini boleh diambil untuk pewarna alami setelah lima tahun. Makanya harus ditanam kembali,” pungkasnya. (fds)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/