alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Lestarikan Budaya Melalui Sekolah Adat

TEMPUNAK – Sekolah adat ke-2 di Kabupaten Sintang bernama Engkabang Rinda dihadirkan masyarakat Dayak Seberuang di Kampung Remiang, Desa Merti Jaya, Kecamatan Tempunak. Berharap dapat menjadi sarana mewariskan adat dan kebudayaan pada generasi muda agar tidak punah, Sabtu (27/3).

Sekolah adat ini juga menjadi yang ke-26 di Kalimantan Barat. Ketua BPH PD Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sintang, Antonius Antong mengatakan, Sekolah Adat Engkabang Rinda merupakan langkah awal yang menjadi percontohan untuk diikuti oleh kampung-kampung lain di sekitarnya.

“Mengapa sekolah adat ini menjadi penting? Kita mau memastikan keberlanjutan adat dan budaya yang sudah (mulai) ditinggalkan oleh masyarakat dan anak muda sekarang. Kita mau memastikan kedaulatan masyarakat adat,” ujarnya.

Apa yang akan diajarkan di Sekolah Adat Engkabang Rinda pun akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Antong mengatakan, pihaknya sudah mengidentifikasi ada empat hal yang akan menjadi bahan ajar di sekolah adat. Yaitu bahasa ibu, seni, budaya, dan pertanian. “Di sekolah ini kita menganut prinsip, alam raya sekolahku, semua orang adalah guru,” ujarnya.

Baca Juga :  Oksigen Mulai Menipis

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Maria Magdalena mengatakan sangat bangga dengan adanya sekolah adat di Tempunak Hulu, Kecamatan Tempunak yang hadir di tengah-tengah masyarakat Dayak Seberuang. Sekolah adat merupakan pendidikan nonformal yang membuatnya tidak perlu ada pengangkatan guru dan murid. Namun ini sangat penting bagi kelestarian adat dan budaya masyarakat Dayak Seberuang.

“Ini berperan penting untuk menggali kembali sejarah komunitas Suku Dayak, khususnya Dayak Seberuang,” ujar legislator dengan Kecamatan Tempunak sebagai salah satu daerah pemilihannya ini. Hadirnya sekolah adat ini juga dapat memperkuat identitas, eksistensi, dan jati diri masyarakat Dayak Seberuang di Tempunak Hulu.

Sekolah adat ini juga dapat menjadi penjaga kearifan lokal di tengah gencarnya modernisasi dan perkembangan teknologi saat ini. Karena menurut Maria, tanpa adanya pewarisan kebudayaan pada anak muda, budaya akan mudah bergeser, bahkan punah dan hilang. “Sekolah adat ini juga bisa mengantisipasi pengaruh (buruk) dari luar. Juga mengantisipasi bergesernya nilai dan norma masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Jelang Putusan Sidang Peladang, Massa Mulai Menuju PN Sintang

Ia juga berharap dengan adanya sekolah adat ini bisa melahirkan generasi muda yang beradat, kreatif, dan berbudaya. “Anak-anak muda di sini harus bisa merangkul anak muda dari kampung sekitarnya untuk bersama bergabung di sekolah adat ini dan bersama melestarikan budaya,” katanya.

Meskipun sekolah adat sudah berlangsung, namun belum ada bangunan khusus di Desa Tempunak Hulu yang digunakan sebagai pusat aktivitasnya. Jadi saat ini, sekolah adat melakukan aktivitasnya dari rumah ke rumah.

Sekolah Adat Engkabang Rinda pun diresmikan oleh Bupati Sintang, Jarot Winarno di Desa Tempunak Hulu, Kecamatan Tempunak, Sabtu (27/3). Ditandai dengan pengguntingan tali pengikat anyaman bertuliskan SEKABANA, singkatan dari Sekolah Adat Engkabang Rinda, disertai dengan tabuhan gong. (ris)

TEMPUNAK – Sekolah adat ke-2 di Kabupaten Sintang bernama Engkabang Rinda dihadirkan masyarakat Dayak Seberuang di Kampung Remiang, Desa Merti Jaya, Kecamatan Tempunak. Berharap dapat menjadi sarana mewariskan adat dan kebudayaan pada generasi muda agar tidak punah, Sabtu (27/3).

Sekolah adat ini juga menjadi yang ke-26 di Kalimantan Barat. Ketua BPH PD Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sintang, Antonius Antong mengatakan, Sekolah Adat Engkabang Rinda merupakan langkah awal yang menjadi percontohan untuk diikuti oleh kampung-kampung lain di sekitarnya.

“Mengapa sekolah adat ini menjadi penting? Kita mau memastikan keberlanjutan adat dan budaya yang sudah (mulai) ditinggalkan oleh masyarakat dan anak muda sekarang. Kita mau memastikan kedaulatan masyarakat adat,” ujarnya.

Apa yang akan diajarkan di Sekolah Adat Engkabang Rinda pun akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Antong mengatakan, pihaknya sudah mengidentifikasi ada empat hal yang akan menjadi bahan ajar di sekolah adat. Yaitu bahasa ibu, seni, budaya, dan pertanian. “Di sekolah ini kita menganut prinsip, alam raya sekolahku, semua orang adalah guru,” ujarnya.

Baca Juga :  Kodim Bersihkan Sejumlah Lokasi

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Maria Magdalena mengatakan sangat bangga dengan adanya sekolah adat di Tempunak Hulu, Kecamatan Tempunak yang hadir di tengah-tengah masyarakat Dayak Seberuang. Sekolah adat merupakan pendidikan nonformal yang membuatnya tidak perlu ada pengangkatan guru dan murid. Namun ini sangat penting bagi kelestarian adat dan budaya masyarakat Dayak Seberuang.

“Ini berperan penting untuk menggali kembali sejarah komunitas Suku Dayak, khususnya Dayak Seberuang,” ujar legislator dengan Kecamatan Tempunak sebagai salah satu daerah pemilihannya ini. Hadirnya sekolah adat ini juga dapat memperkuat identitas, eksistensi, dan jati diri masyarakat Dayak Seberuang di Tempunak Hulu.

Sekolah adat ini juga dapat menjadi penjaga kearifan lokal di tengah gencarnya modernisasi dan perkembangan teknologi saat ini. Karena menurut Maria, tanpa adanya pewarisan kebudayaan pada anak muda, budaya akan mudah bergeser, bahkan punah dan hilang. “Sekolah adat ini juga bisa mengantisipasi pengaruh (buruk) dari luar. Juga mengantisipasi bergesernya nilai dan norma masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Harap Akhiri Keterisolasian Desa Ampar Bedang

Ia juga berharap dengan adanya sekolah adat ini bisa melahirkan generasi muda yang beradat, kreatif, dan berbudaya. “Anak-anak muda di sini harus bisa merangkul anak muda dari kampung sekitarnya untuk bersama bergabung di sekolah adat ini dan bersama melestarikan budaya,” katanya.

Meskipun sekolah adat sudah berlangsung, namun belum ada bangunan khusus di Desa Tempunak Hulu yang digunakan sebagai pusat aktivitasnya. Jadi saat ini, sekolah adat melakukan aktivitasnya dari rumah ke rumah.

Sekolah Adat Engkabang Rinda pun diresmikan oleh Bupati Sintang, Jarot Winarno di Desa Tempunak Hulu, Kecamatan Tempunak, Sabtu (27/3). Ditandai dengan pengguntingan tali pengikat anyaman bertuliskan SEKABANA, singkatan dari Sekolah Adat Engkabang Rinda, disertai dengan tabuhan gong. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/