Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Kurang Darah, Indeks Saham Makin Suram

A
Arsip foto. Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025).
Arsip foto. Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025).

Advertisement

 

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (11/5). Rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.414 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.

Advertisement

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong pelaku pasar memburu aset aman berbasis dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan komentar Presiden AS Donald Trump memperbesar kekhawatiran investor terhadap konflik di kawasan Teluk.

“Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan risiko geopolitik,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/5).

Advertisement

Pernyataan tersebut meredam harapan pasar terhadap meredanya konflik dalam waktu dekat. Situasi geopolitik tersebut terjadi menjelang kunjungan Donald Trump ke China akhir pekan ini. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing untuk membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.

Di sisi lain, IHSG setali tiga uang. Sebenarnya indeks saham sempat rebound terbatas setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda penerapan tarif royalti komoditas tambang seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan penundaan itu sempat memberi ruang penguatan bagi pasar.

“Setelah melanjutkan koreksi pada sesi pertama, IHSG sempat rebound terbatas setelah adanya penundaan penerapan tarif royalti tambang untuk menyusun formulasi yang lebih optimal dan adil,” ujarnya.

Advertisement
Editor : Aristono Edi Kiswantoro

Artikel Terkait

Purbaya Sebut Modal Asing Kembali Masuk, Investor Mulai Percaya pada Ekonomi Indonesia

Purbaya Sebut Modal Asing Kembali Masuk, Investor Mulai Percaya pada Ekonomi Indonesia

Di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, investor asing mulai kembali menanamkan modalnya di Indonesia, memberi sinyal positif bagi ek

Rupiah Tembus Penguatan 0,88 Persen ke Rp17.900, Efek Kenaikan BBM dan Suku Bunga BI Dorong Sentimen Pasar

Rupiah Tembus Penguatan 0,88 Persen ke Rp17.900, Efek Kenaikan BBM dan Suku Bunga BI Dorong Sentimen Pasar

Rupiah menguat terhadap dolar AS dipicu kebijakan BBM non-subsidi, kenaikan suku bunga BI, serta respons positif pasar.

Rupiah Melemah, Saatnya Keluarga Melakukan Financial Check-Up

Rupiah Melemah, Saatnya Keluarga Melakukan Financial Check-Up

Rupiah melemah membuat pengeluaran meningkat. Financial planner menyarankan keluarga segera melakukan financial check-up.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer