Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Harus Cari Mitra untuk Olah Logam Tanah Jarang

A
Ilustrasi Skandium. Logam langka ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)
Ilustrasi Skandium. Logam tanah jarang dari limbah bauksit ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)

Advertisement

 

PONTIANAK POST — Indonesia harus mencari mitra teknologi logam tanah jarang untuk mempercepat pembangunan industri mineral strategis. Kemitraan diperlukan karena Indonesia belum sepenuhnya menguasai teknologi pemisahan 17 unsur logam tanah jarang hingga menjadi unsur tunggal atau single element.

Badan Industri Mineral (BIM) menilai kerja sama dengan penyedia teknologi menjadi jalur cepat untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa teknologi pemisahan, potensi mineral Indonesia sulit diolah menjadi bahan bernilai tinggi bagi industri kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, dan pertahanan.

Advertisement

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi mengatakan pengembangan teknologi secara mandiri tetap dilakukan. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu panjang sehingga harus berjalan bersamaan dengan pencarian mitra.

Cari Jalur Cepat

“Yang harus kita lakukan adalah percepatan melalui jalur fast track dengan bermitra dengan sejumlah technology provider,” kata Yogi dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9).

Advertisement

Pada saat yang sama, BIM dan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) akan membangun industri logam tanah jarang di dalam negeri. Strategi ganda tersebut diharapkan mempercepat transfer teknologi tanpa menghentikan pengembangan kemampuan nasional.

Pemisahan 17 Unsur Rumit

Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur dengan sifat kimia yang hampir serupa. Kemiripan karakter tersebut membuat proses pemisahan dan pemurnian menjadi unsur tunggal sangat rumit.

Setiap unsur memiliki kegunaan berbeda. Beberapa di antaranya dibutuhkan untuk membuat magnet permanen berkekuatan tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik, dan peralatan pertahanan.

Karena itu, kepemilikan bahan baku saja tidak cukup. Negara yang menguasai ekstraksi, pemisahan, pemurnian, dan manufaktur produk akhir akan memperoleh nilai ekonomi serta posisi strategis lebih besar.

Indonesia Belum Masuk Peta Cadangan

Indonesia memiliki sejumlah sumber potensial logam tanah jarang, baik dari endapan primer, material sekunder, maupun limbah elektronik. Namun, potensi tersebut masih dalam tahap survei dan eksplorasi.

Advertisement

Artikel Terkait

BKPM Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Investasi Mineral Strategis Tembus Rp4,7 Triliun di Kwartal II

BKPM Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Investasi Mineral Strategis Tembus Rp4,7 Triliun di Kwartal II

BKPM mendorong logam tanah jarang diolah di dalam negeri. Investasi mineral strategis mencapai Rp4,7 triliun pada kuartal II 2026.

Dudung Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang, KSP Benahi Tata Kelola Ekspor Mineral Kritis

Dudung Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang, KSP Benahi Tata Kelola Ekspor Mineral Kritis

KSP mendorong percepatan hilirisasi logam tanah jarang agar memberi nilai tambah, memperkuat industri nasional, dan mengatasi hambatan ekspo

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer