
PONTIANAK POST — Konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun mendorong pemerintah menyiapkan program E50 Indonesia. Bahan bakar tersebut menggunakan campuran 50 persen etanol untuk mengurangi ketergantungan pada bensin berbasis fosil dan memperkuat pasokan energi domestik.
Program E50 masih berada pada tahap kajian. Pemerintah akan mempelajari penerapan B50 sebagai acuan sebelum menentukan teknologi, pasokan bahan baku, infrastruktur, dan waktu pelaksanaannya.
Konsumsi Bensin Tembus 40 Juta Kiloliter
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, Presiden meminta pemerintah mengkaji penerapan E50 dengan mempelajari program B50.
“Kami mendapat arahan langsung dari Bapak Presiden untuk mempelajari kesuksesan B50,” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (18/9).
Konsumsi bensin Indonesia saat ini berada di kisaran 40 juta kiloliter per tahun. Jumlah tersebut hampir setara dengan konsumsi solar yang mencapai sekitar 39 juta kiloliter.
Tingginya kebutuhan bahan bakar membuat Indonesia masih bergantung pada pasokan impor. Data Kementerian ESDM menunjukkan impor bensin pada 2025 mencapai 22,18 juta kiloliter atau sekitar 55 persen dari konsumsi nasional.
Impor Bensin Terus Meningkat
| Tahun | Impor bensin |
|---|---|
| 2021 | 18,09 juta kiloliter |
| 2022 | 21,61 juta kiloliter |
| 2023 | 21,05 juta kiloliter |
| 2024 | 21,83 juta kiloliter |
| 2025 | 22,18 juta kiloliter |
Sumber: Kementerian ESDM
Volume impor pada 2025 meningkat sekitar 4,09 juta kiloliter atau 22,6 persen dibandingkan 2021. Program E50 disiapkan sebagai salah satu jalan untuk menekan ketergantungan tersebut.
E50 Berbeda dengan B50
E50 merupakan campuran 50 persen etanol dan 50 persen bensin. Etanol dapat diproduksi dari bahan berpati atau bergula, seperti tebu, molase, singkong, dan jagung.



