
PONTIANAK POST – Biaya tempat tinggal yang semakin membebani membuat banyak keluarga di berbagai negara harus mengorbankan kebutuhan pokok, kesehatan, hingga rencana membangun keluarga.
Survei global Habitat for Humanity International terhadap 30.758 responden di 22 negara menemukan, tiga dari empat responden atau 75 persen memangkas setidaknya satu jenis pengeluaran dalam setahun terakhir demi memenuhi biaya tempat tinggal.
Pengorbanan tersebut tidak hanya dialami penyewa rumah atau keluarga yang mencicil kredit pemilikan rumah (KPR). Sebanyak 33 persen responden mengurangi pengeluaran untuk makanan, 32 persen menggunakan tabungan atau dana darurat, dan 13 persen menunda atau tidak mencari perawatan medis demi menutup biaya tempat tinggal.
Laporan bertajuk Home at What Cost? itu menunjukkan bahwa persoalan keterjangkauan hunian telah meluas menjadi persoalan kesejahteraan keluarga.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru dapat menjadi sumber tekanan keuangan ketika biaya untuk mempertahankannya membuat kebutuhan lain tidak terpenuhi.
Tekanan paling besar dirasakan kelompok yang rentan secara ekonomi dan perumahan. Sebanyak 89 persen responden yang tinggal dalam pengaturan hunian informal mengaku mengurangi pengeluaran, disusul 85 persen kelompok berpenghasilan rendah dan 81 persen generasi Z serta milenial.
CEO Habitat for Humanity International Jonathan Reckford mengatakan, memiliki rumah semestinya tidak mengharuskan seseorang mengorbankan kesehatan atau masa depannya.
“Memiliki rumah seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan kesehatan atau masa depannya. Rumah semestinya menjadi landasan untuk hidup sehat, membuka peluang, dan mencapai keamanan finansial,” ujar Reckford.
Menurut dia, hasil survei tersebut memperlihatkan pentingnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bekerja sama membangun sistem perumahan yang memungkinkan masyarakat merencanakan masa depan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini.
