Krisis Kepercayaan Guncang Bursa, Danantara Siap Borong Saham

POTIANAK POST – Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia menghadapi ujian berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat (16/10). Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.052 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kejatuhan tersebut bukan sekadar koreksi tajam dalam satu hari. Dibandingkan rekor tertinggi sepanjang masa pada 20 Januari 2026 di level 9.134,70, IHSG telah terkoreksi sekitar 43,24 persen. Artinya, indeks kehilangan hampir separuh nilainya dari posisi puncak dalam waktu kurang dari setahun.
Gejolak terbaru dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai konsultasi kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti keluhan investor institusional terkait transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas dan penegakan hukum.
Persoalan tersebut menempatkan kepercayaan sebagai tantangan utama bagi pasar modal nasional. Sebab, selain dipengaruhi kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan, keputusan investor global juga bergantung pada kualitas tata kelola, keterbukaan informasi, likuiditas, serta kepastian aturan di pasar yang menjadi tujuan investasi mereka.
Tekanan jual sudah terlihat sejak awal perdagangan. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt pada pukul 08.58 WIB setelah IHSG turun hingga 8 persen. Namun, setelah perdagangan kembali dibuka, tekanan jual berlanjut hingga indeks ditutup anjlok 678,68 poin ke level 5.185,11.
Kejatuhan tersebut menambah rangkaian gejolak ekstrem yang memaksa bursa menghentikan sementara perdagangan selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan kronologi yang dihimpun dalam bahan, trading halt terjadi pada Maret dan April 2025, kemudian Januari dan Oktober 2026. Frekuensi itu menunjukkan tekanan berulang di pasar, meski setiap kejadian memiliki pemicu dan kondisi yang berbeda.
Di tengah gejolak, pemerintah, regulator, dan aparat penegak hukum bergerak merespons. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, serta sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendatangi BEI pada Jumat (16/10).
Danantara menyatakan siap memanfaatkan koreksi harga saham sebagai peluang investasi. Sementara itu, DPR mendorong perbaikan tata kelola dan transparansi, sedangkan Polri menyatakan siap menindaklanjuti dugaan pelanggaran pidana di pasar modal.
Namun, optimisme dan kesiapan investor domestik untuk menyerap saham belum dengan sendirinya menjawab persoalan mendasar yang disoroti MSCI. Pembenahan transparansi, integritas perdagangan, dan kepastian hukum menjadi pekerjaan penting untuk memulihkan kepercayaan investor.



