Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Krisis IHSG: Dana Asing Keluar Rp88,19 Triliun, Bluechip Ditinggalkan Ramai-Ramai

A
ANJLOK: Pengunjung mengamati layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Jumat (16/10). IHSG ditutup pada level 5.185,10 atau anjlok 11,57%, di tengah pengumuman MSCI mengenai konsultasi kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. (INDRIANTO EKO/ANTARA)
ANJLOK: Pengunjung mengamati layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Jumat (16/10). IHSG ditutup pada level 5.185,10 atau anjlok 11,57%, di tengah pengumuman MSCI mengenai konsultasi kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. (INDRIANTO EKO/ANTARA)

Advertisement

 

PONTIANAK POST – Pasar modal Indonesia menghadapi ujian kepercayaan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat (16/10). Kejatuhan tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market.

Tekanan jual datang ketika investor asing telah mencatatkan jual bersih saham sebesar Rp88,19 triliun sepanjang 2026. Dalam satu hari perdagangan, Jumat (16/10), nilai jual bersih asing mencapai Rp3,34 triliun. Sementara itu, pelemahan IHSG sejak menyentuh rekor tertinggi 9.134,70 pada 20 Januari 2026 telah mencapai sekitar 43,24 persen.

Advertisement

Penurunan tajam tersebut bukan hanya mengurangi nilai investasi masyarakat dan institusi. Kejatuhan IHSG juga memperbesar kekhawatiran terhadap prospek pasar modal nasional, terutama ketika transparansi kepemilikan saham, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan menjadi sorotan lembaga indeks global.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah, regulator, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi dua pekerjaan besar. Pertama, menjaga stabilitas pasar agar gejolak tidak semakin dalam. Kedua, membuktikan bahwa reformasi tata kelola dan transparansi pasar modal berjalan secara nyata sehingga kepercayaan investor dapat dipulihkan.

Kapitalisasi Pasar Susut Rp1.544 Triliun

Advertisement

Tekanan pasar terlihat sepanjang pekan perdagangan 12–16 Oktober. Berdasarkan data BEI, IHSG terkoreksi 14,91 persen ke level 5.185,105 dari 6.093,759 pada pekan sebelumnya.

Penurunan itu memangkas kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp1.544 triliun menjadi Rp9.157 triliun. Pada pekan sebelumnya, kapitalisasi pasar masih mencapai Rp10.701 triliun.

Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan BEI Valentina Simon menyampaikan, rata-rata volume transaksi harian selama periode tersebut turun 5,22 persen menjadi 44,102 miliar lembar saham. Pada pekan sebelumnya, rata-rata volume transaksi mencapai 46,533 miliar lembar saham.

Rata-rata nilai transaksi harian juga turun tipis 0,07 persen menjadi Rp16,21 triliun dari Rp16,23 triliun. Sebaliknya, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 2,46 persen menjadi 1,72 juta kali, dari sebelumnya 1,67 juta kali.

Kombinasi penurunan indeks dan kapitalisasi pasar dengan meningkatnya frekuensi transaksi memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan tetap tinggi ketika harga saham mengalami tekanan. Namun, tingginya frekuensi transaksi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa pasar telah pulih.

Advertisement

Artikel Terkait

IHSG Terperosok di Bawah 5.000, Otoritas Kejar Segala Aturan untuk Transparansi Pasar Modal

IHSG Terperosok di Bawah 5.000, Otoritas Kejar Segala Aturan untuk Transparansi Pasar Modal

BEI siapkan dua skema baru setelah MSCI membuka konsultasi perubahan status Indonesia. Sebanyak 80 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi a

Pelemahan IHSG Lebih Parah dari Pandemi Covid, Purbaya Sebut Pasar Salah Paham Memaknai APBN Indonesia

Pelemahan IHSG Lebih Parah dari Pandemi Covid, Purbaya Sebut Pasar Salah Paham Memaknai APBN Indonesia

IHSG anjlok 39 persen dan rupiah tembus Rp18.049 per dolar AS, Menkeu Purbaya menyebut gejolak pasar dipicu miskonsepsi fiskal.

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Kembali ke Level Sembilan Tahun Lalu

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Kembali ke Level Sembilan Tahun Lalu

Pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG memicu kekhawatiran dunia usaha serta ancaman terhadap daya beli masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer