alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Bedah Buku Tentang Sawit, Kratom dan Balala

PONTIANAK – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kalimantan Barat membedah tiga buku hasil penelitian, di ruang Rapat Praja Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Kamis (18/8) pagi kemarin. Adapun tiga buku yang dibedah itu membahas tentang sawit, kratom dan balala.

Kepala Balitbang Kalimantan Barat Herkulana Mekarryani mengatakan bedah buku digelar agar para peneliti mendapat masukan dari berbagai kalangan terkait dengan topik yang diteliti.

“Kami undang masyarakat, perangkat daerah dan media untuk mendapatkan masuk guna kesempurnaan buku yang akan diterbitkan,” jelas Herkulana usai memberikan sambutan saat kegiatan bedah buku.

Herkulana mencontohkan pada buku yang membahas tentang kratom. Salah satu rekomendasinya adalah regulasi pemerintah pusat sebagai jaminan masyarakat untuk berusaha karena selama ini kratom masih masuk dalam kategori narkotika.

Baca Juga :  Sigap dan Tepat Hadapi Ruang Digital di Era Pandemi

“Dalam pertemuan dengan KSP dan kepala dinas terkait menyatakan bahwa kratom adalah investasi Kalbar, dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia,” jelas Herkulana.

Pihaknya kata Herkulana, ketika di lapangan mendapat informasi bahwa masyarakat masih khawatir menanam kratom karena takut ditangkap. Hal ini membuat masyarakat tidak bisa bekerja dengan baik.

“Kami mengusulkan regulasi dari pemerintah pusat untuk menjamin masyarakat berusaha,” kata Herkulana.

Lanjut Herkulana, rekomendasi lainnya ialah membentuk tata kelola perdagangan kratom. Misalnya membentuk BUMDes dan mendorong ekspor kratom namun harus melalui tata kelola yang baik. Salah satunya bahwa kratom sudah terjamin terkait dari unsur kesehatan yakni tidak terkait campuran ke dalam kategori Narkotika.

Kemudian penelitian yang membahas tentang perkebunan kelapa sawit. Menurutnya perlu adanya bentuk nyata dari CSR perkebunan kelapa sawit. Terutama pada desa-desa di lingkar perkebunan kelapa sawit.

Baca Juga :  Sekadau Perkuat Kemitraan PKS dan Kelembagaan Pekebun

“Rekomendasinya adalah peningkatan desa mandiri. Jadi melihat dari Indeks desa mandiri,” sambung Herkulana.

Terakhir penelitian tentang balala. Herkulana menyebutkan bahwa balala merupakan pengetahuan tradisional bisa diterapkan di dunia modern. Ketika diterapkan tidak diperbolehkan aktivitas masyarakat keluar maupun masuk ke kampung yang sedang melakukan balala.

“Kami melihat ketika dilakukan saat Covid-19 sangat efektif,” kata Herkulana.

Pihaknya mendorong bentuk kearifan lokal ini bisa ditularkan di masyarakat perkotaan. Tujuannya untuk menekan wabah penyakit.

“Artinya tidak hanya covid tapi penyakit menular lainnya, bisa saja dilakukan di perbatasan,” pungkasnya. (mse)

PONTIANAK – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kalimantan Barat membedah tiga buku hasil penelitian, di ruang Rapat Praja Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Kamis (18/8) pagi kemarin. Adapun tiga buku yang dibedah itu membahas tentang sawit, kratom dan balala.

Kepala Balitbang Kalimantan Barat Herkulana Mekarryani mengatakan bedah buku digelar agar para peneliti mendapat masukan dari berbagai kalangan terkait dengan topik yang diteliti.

“Kami undang masyarakat, perangkat daerah dan media untuk mendapatkan masuk guna kesempurnaan buku yang akan diterbitkan,” jelas Herkulana usai memberikan sambutan saat kegiatan bedah buku.

Herkulana mencontohkan pada buku yang membahas tentang kratom. Salah satu rekomendasinya adalah regulasi pemerintah pusat sebagai jaminan masyarakat untuk berusaha karena selama ini kratom masih masuk dalam kategori narkotika.

Baca Juga :  Bijak Berinternet di Era Pandemi

“Dalam pertemuan dengan KSP dan kepala dinas terkait menyatakan bahwa kratom adalah investasi Kalbar, dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia,” jelas Herkulana.

Pihaknya kata Herkulana, ketika di lapangan mendapat informasi bahwa masyarakat masih khawatir menanam kratom karena takut ditangkap. Hal ini membuat masyarakat tidak bisa bekerja dengan baik.

“Kami mengusulkan regulasi dari pemerintah pusat untuk menjamin masyarakat berusaha,” kata Herkulana.

Lanjut Herkulana, rekomendasi lainnya ialah membentuk tata kelola perdagangan kratom. Misalnya membentuk BUMDes dan mendorong ekspor kratom namun harus melalui tata kelola yang baik. Salah satunya bahwa kratom sudah terjamin terkait dari unsur kesehatan yakni tidak terkait campuran ke dalam kategori Narkotika.

Kemudian penelitian yang membahas tentang perkebunan kelapa sawit. Menurutnya perlu adanya bentuk nyata dari CSR perkebunan kelapa sawit. Terutama pada desa-desa di lingkar perkebunan kelapa sawit.

Baca Juga :  Plus Minus Dunia Digital dalam Era Pandemi  

“Rekomendasinya adalah peningkatan desa mandiri. Jadi melihat dari Indeks desa mandiri,” sambung Herkulana.

Terakhir penelitian tentang balala. Herkulana menyebutkan bahwa balala merupakan pengetahuan tradisional bisa diterapkan di dunia modern. Ketika diterapkan tidak diperbolehkan aktivitas masyarakat keluar maupun masuk ke kampung yang sedang melakukan balala.

“Kami melihat ketika dilakukan saat Covid-19 sangat efektif,” kata Herkulana.

Pihaknya mendorong bentuk kearifan lokal ini bisa ditularkan di masyarakat perkotaan. Tujuannya untuk menekan wabah penyakit.

“Artinya tidak hanya covid tapi penyakit menular lainnya, bisa saja dilakukan di perbatasan,” pungkasnya. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/