alexametrics
27.8 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Eco Bhineka Muhammadiyah Pontianak Gelar Workshop Lingkungan dan Keberagaman

Siap Aksi Nyata

PONTIANAK – Eco Bhineka Muhammadiyah Pontianak menggelar workshop tentang keberagaman dan kepedulian lingkungan hidup di Hotel Maestro, Jumat dan Sabtu (22-23/7). Diskusi ini menghadirkan berbagai narasumber yang berasal dari tokoh lintas-agama dan para pakar. Hadir pula 20-an perwakilan organisasi keagamaan, kepemudaan, seni-budaya, mahasiswa, dan lainnya.

“Ini adalah workshop ketiga yang kami adakan. Di sini semua tokoh agama menjabarkan konsep tentang lingkungan hidup dari prespektif masing-masing agama. Ternyata semua ajaran agama mengajarkan untuk menjaga bumi ini,” ujar Manajer Regional Eco Bhineka Muhammadiyah Octavia Shinta Aryani kepada Pontianak Post.

Dijelaskan dia, kegiatan ini masuk ke dalam program JISRA (Join Intiative for Strategic Religious Action) Muhammadyah. JISRA sendiri merupakan program konsossium antar umat beragama. Bentuk programnya adalah pemberdayaan masyarakat lintas agama untuk isu lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan lainnya.

Dalam menjalankan program ini para tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Khonghucu saling berkolaborasi. Tergabung pula para pemuda dari berbagai organisasi dengan macam-macam latar belakang etnis dan agama.

Baca Juga :  Etika dalam Bersosialisasi Media, Kenali dengan Literasi Digital

 

“Pendekatan kita adalah eko bhineka. Kita berharap dengan kegiatan ini, bisa bersama-sama menjaga persatuan dan toleransi. Titik fokus lainnya adalah menjaga kestabilan ekosistem di Kalimantan Barat,” sebut dia.

Hadir langsung keynote speaker pada workshop tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni. Orang yang pernah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban ini menyebut perlunya kekompakkan antar-umat beragama untuk menjaga lingkungan. Terlebih di tengah ancaman perubahan iklim dan pemanasan global dewasa ini.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang apatis dalam isu lingkungan. Mereka masih sering merusak lingkungan. Oleh sebab itu Syafiq meminta semua lini masyarakat dari elit sampai akar rumput ikut andil dalam menyadarkan mereka. Tak terkecuali oleh tokoh agama yang dihormati, berpengaruh, dan memiliki pengetahuan yang bisa menyadarkan umatnya.

Baca Juga :  Etika dalam Bersosial Media, Kenali dengan Literasi Digital

Pada hari pertama, selain Syafiq, pembicara-pembicara yang hadir adalah; Ketua Talif wan Nasry Nahdlatul Ulama, perwakilan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kalbar, perwakilan Keuskupan Agung Pontianak, Ketua Pengurus Gereja-gereja di Indonesia Kalbar, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Kalbar, Ketua Perwakilan Umat Budha Indonesia Kalbar, dan Majelis Lingkungan Hidup PW Muhammadiyah Kalbar.

Sementara pada hari kedua, workhsop akan lebih menitikberatkan pada diskusi dan perumusan aksi selanjutnya. Shinta menjelaskan, program ini tidak melulu soal diskusi, melainkan mereka akan melakukan aksi nyata. Dari diskusi-diskusi yang sudah berlangsung, kami menyaring berbagai ide aksi yang akan kita rumuskan dan eksekusi bersama. Banyak sekali usulan-usulan yang masuk untuk program nyata yang akan kita gelar. Kemungkinan tahun ini akan kita laksanakan,” pungkas dia. (ars/ser)

Siap Aksi Nyata

PONTIANAK – Eco Bhineka Muhammadiyah Pontianak menggelar workshop tentang keberagaman dan kepedulian lingkungan hidup di Hotel Maestro, Jumat dan Sabtu (22-23/7). Diskusi ini menghadirkan berbagai narasumber yang berasal dari tokoh lintas-agama dan para pakar. Hadir pula 20-an perwakilan organisasi keagamaan, kepemudaan, seni-budaya, mahasiswa, dan lainnya.

“Ini adalah workshop ketiga yang kami adakan. Di sini semua tokoh agama menjabarkan konsep tentang lingkungan hidup dari prespektif masing-masing agama. Ternyata semua ajaran agama mengajarkan untuk menjaga bumi ini,” ujar Manajer Regional Eco Bhineka Muhammadiyah Octavia Shinta Aryani kepada Pontianak Post.

Dijelaskan dia, kegiatan ini masuk ke dalam program JISRA (Join Intiative for Strategic Religious Action) Muhammadyah. JISRA sendiri merupakan program konsossium antar umat beragama. Bentuk programnya adalah pemberdayaan masyarakat lintas agama untuk isu lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan lainnya.

Dalam menjalankan program ini para tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Khonghucu saling berkolaborasi. Tergabung pula para pemuda dari berbagai organisasi dengan macam-macam latar belakang etnis dan agama.

Baca Juga :  Waspada Ancaman di Dunia Digital

 

“Pendekatan kita adalah eko bhineka. Kita berharap dengan kegiatan ini, bisa bersama-sama menjaga persatuan dan toleransi. Titik fokus lainnya adalah menjaga kestabilan ekosistem di Kalimantan Barat,” sebut dia.

Hadir langsung keynote speaker pada workshop tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni. Orang yang pernah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban ini menyebut perlunya kekompakkan antar-umat beragama untuk menjaga lingkungan. Terlebih di tengah ancaman perubahan iklim dan pemanasan global dewasa ini.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang apatis dalam isu lingkungan. Mereka masih sering merusak lingkungan. Oleh sebab itu Syafiq meminta semua lini masyarakat dari elit sampai akar rumput ikut andil dalam menyadarkan mereka. Tak terkecuali oleh tokoh agama yang dihormati, berpengaruh, dan memiliki pengetahuan yang bisa menyadarkan umatnya.

Baca Juga :  Menjadi Masyarakat Melek Digital dengan Literasi  

Pada hari pertama, selain Syafiq, pembicara-pembicara yang hadir adalah; Ketua Talif wan Nasry Nahdlatul Ulama, perwakilan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kalbar, perwakilan Keuskupan Agung Pontianak, Ketua Pengurus Gereja-gereja di Indonesia Kalbar, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Kalbar, Ketua Perwakilan Umat Budha Indonesia Kalbar, dan Majelis Lingkungan Hidup PW Muhammadiyah Kalbar.

Sementara pada hari kedua, workhsop akan lebih menitikberatkan pada diskusi dan perumusan aksi selanjutnya. Shinta menjelaskan, program ini tidak melulu soal diskusi, melainkan mereka akan melakukan aksi nyata. Dari diskusi-diskusi yang sudah berlangsung, kami menyaring berbagai ide aksi yang akan kita rumuskan dan eksekusi bersama. Banyak sekali usulan-usulan yang masuk untuk program nyata yang akan kita gelar. Kemungkinan tahun ini akan kita laksanakan,” pungkas dia. (ars/ser)

Most Read

Artikel Terbaru

/