alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Novian Chaniago, Pengamen yang Akan Dipertemukan dengan Band Scorpions

Kalau Bisa Duet, Itu Kayak Kesamber Petir, Bisa Pingsan Saya

Dari Blok M lewat Gorky Park sampai ke Jogjakarta. Itulah ”rute” Novian Chaniago untuk band idolanya tersebut. Dia sudah menyiapkan dua pertanyaan.

FOLLY AKBAR, Jakarta

Wind of Change

DIA tidak sedang menyanyi di dinginnya Gorky Park, Moskow, di Rusia sana. Tidak pula bermaksud menyuarakan situasi politik di Eropa Timur.  Tapi, nasib memang kesunyian masing-masing.

 

..Take me to the magic of the moment

On a glory night

Where the children of tomorrow dream away (dream away)

In the wind of change…

 

Di suatu siang yang panas di Blok M, Jakarta, dua pekan lalu (14/2), seseorang merekamnya tengah mengamen menyanyikan larik-larik refrain itu. Selembar kertas karton yang mengutarakan maksud hati si pengamen turut terbaca jelas. Ada pula peran klik ribuan tangan di dunia maya sampai akhirnya membawa pengamen tersebut,  Novian Chaniago menuju ‘to the magic of the moment’.

Ia akan bertemu Scorpions, band yang lagunya ia nyanyikan di video itu (Wind of Change). Tidak cuma untuk nonton konsernya di JogjaROCKarta Festival 2020, hari ini, Minggu (1/3), tapi bertatap muka langsung. Bercakap-cakap. Tentu saja berfoto ria. Hal-hal yang bisa membuat ribuan fans band asal Jerman tersebut mengelus dada karena iri.

”Ini mungkin udah rezeki saya,” ujar Novian Chaniago saat ditemui di Taman PSKD, Blok M, Jakarta, tempat dia biasa mengamen. Rezeki yang tentu saja tidak jatuh begitu saja di bawah pohon mangga.

 

Send Me an Angel

 

Jempol tangan Novian berhenti di unggahan salah satu akun Instagram itu. ”Lho kok Scorpions mau main sama Whitesnake di Jogja,” ujarnya dengan intonasi suara terkejut, menceritakan apa yang dia baca dua pekan lalu.

Novian sudah lama mengidolakan Scorpions, band yang terbentuk pada 1965 di Hannover, Jerman, tersebut. Otomatis ia sangat ingin menontonnya langsung di Stadion Kridosono, lokasi JogjaROCKarta 2020.

Tapi, pria 51 tahun itu sadar tak akan mudah mewujudkan impiannya. Dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Tidak hanya untuk membeli tiket konser, tetapi juga transportasi dan akomodasi. Padahal, kondisi dompetnya saat itu seperti musim kemarau yang panjang.

“Saya mikir, gimana nih, duit kan, banyak keperluan yang lain, ya kan?” ucapnya dengan logat Betawi yang kental. Karena ngamen sudah jadi jalan ninjanya sejak SMP, Novian tak punya opsi lain. Dia sadar, mengamennya kali ini harus berbeda. Sebab dia butuh uang cepat agar tidak kehabisan slot tiket konser. ”Udah, saya bikin tulisan aja tolong bantu saya untuk liat Scorpions gitu, terus ngamen,” kata pria berdarah Minang itu.

Baca Juga :  Ganti Sendi Lutut dengan Sendi Buatan

Sebetulnya, terang Novian, ada cara lain yang lebih mudah: meminta bantuan ke sejumlah rekan yang terhitung kaya. Namun, Novian akhirnya membuang jauh-jauh opsi tersebut.  Novian anti meminta-minta, apalagi untuk kesenangan pribadi. Baginya, berusaha sendiri dengan mengamen jauh lebih terhormat.

Ngamen tidak sama dengan meminta-minta tetapi menjual keterampilan membawakan musik. Apalagi, Novian juga berkarya dan menciptakan lagu sendiri. ”Ngamen sama kayak pedagang. Kita jual suara, jual musik. Kalau barang bagus, mau denger, dia bayar. Kalau ga suka, ga bayar,” jelasnya.

Keteguhan sikap tersebut berbuah. Pada siang itu, 14 Februari, yang sebagian orang merayakannya sebagai Valentine’s Day, pria lajang tersebut mendapat cukup banyak ”sentuhan kasih sayang”. ”Banyak yang ngasih. Dapat Rp 380 ribu hanya dalam sejam,” ungkapnya.

Dalam satu hari, Novian punya tiga sif di tempat mengamennya tersebut. Masing-masing satu jam. Lewat Send Me an Angel, Scorpions menulis tentang pengharapan dan keteguhan hati. ”Close your eyes and you will find//Passage out of the dark,” kata band yang didirikan Rudolf Schenker tersebut.

Semesta bakal mendukung lewat cara-cara yang tak diduga. Siang itu, di keriuhan Blok M, angel bagi Novian berwujud seseorang yang merekam aksinya. Dia salah seorang pengunjung Warung Ayam Bakar Berkah, tak jauh dari tempat Novian mengamen.

Di era di mana seseorang bisa terkenal tanpa disadari ini, dengan cepat video itu pun menyebar. Ribuan orang menontonnya, termasuk Anas Syahrul Alimin, promotor yang mendatangkan Scorpions. Lewat Twitter pribadinya, CEO Rajawali Indonesia Communications tersebut mencari sosok si pengamen.

Sampai di titik itu Novian belum tahu bahwa dirinya sudah ”seterkenal” itu. Baru beberapa hari kemudian dia ngeh. Itu pun setelah diberi tahu salah seorang karyawan Warung Ayam Bakar Berkah. ”Dia bilang, Mas, videonya viral. Saya bingung, video apa? Yang mana?” kata Novian.

Setelah paham apa yang terjadi, Novian langsung menghubungi akun media sosial Anas dan meninggalkan nomor telepon. Saat itu sebetulnya Novian sudah memegang tiket dengan biaya sendiri hasil mengamen.

Baca Juga :  Midji Selalu Tegas, Harisson Tak Kenal Libur

Tak butuh waktu lama, Anas langsung menghubungi. ”Dia bilang siap mempertemukan saya dengan Scorpions,” ujar Novian.  Gembira luar biasa itu sudah pasti. Tapi, Novian tak mau bersikap berlebihan. Untuk itu, agar pertemuan dengan band idola bisa lebih bermakna, dia perlu mempersiapkan diri.

 

Still Loving You

 

Bagi Anas, keputusannya untuk menghubungi Novian dan mempertemukannya dengan para personel Scorpions adalah bentuk apresiasi. ”Saya sangat apresiasi attitude dan mentalnya,” ujar Anas saat dihubungi terpisah.

Anas menilai mental mau bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan tidak dimiliki semua orang. Bahkan, berdasarkan pengalamannya, tidak sedikit orang kaya yang memiliki mental jelek. ”Kita lihat banyak orang sudah punya duit, mampu, justru cari gratisan,” imbuhnya.

Soal konsep pertemuannya, Anas mengatakan, nanti Novian bertemu face-to-face dengan personel Scorpions. Di situ akan dilakukan perbincangan kecil dan foto-foto. Kepada manajemen band yang sekarang digawangi Rudolf Schenker (rhythm guitar), Klaus Meine (vocal), Matthias Jabs (lead guitar), Pawel Maciwoda (bass), dan Mikkey Dee (drum) itu, Anas sudah menyampaikan rencana tersebut. Lampu hijau pun sudah didapat. ”Saya jelaskan ke mereka, ini ada musisi jalanan yang ingin menonton, dia harus mengamen. Saya tunjukkan videonya,” kata Anas.

Apakah ada kemungkinan berduet? Anas menyebutkan, belum ada rencana ke situ. Bagi Novian, apa pun bentuk pertemuannya dengan para personel band yang telah menjual lebih dari 110 juta kopi album di seluruh dunia itu, dia akan menyambutnya dengan gembira. ”Kami kan sama-sama musisi. Hanya levelnya yang berbeda,” tuturnya.

Jika ada kesempatan, Novian juga akan menanyakan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana proses kreatif pembuatan lagu berjudul Wind of Change? ”Karena saya suka lagu itu, oke banget,” ucap dia menyebut alasannya.

Pertanyaan kedua, bagaimana cara menjaga soliditas personel band dalam waktu yang lama? Sebab, lanjut Novian, itu hal yang tak mudah. Dia sendiri sudah dua kali gagal membentuk band.

Kalau ternyata Scorpions memberinya kejutan dengan mengajaknya berduet? ”Wah, ya seneng banget. Kayak kesamber petir, mau pingsan saya bisa. Tapi, saya ga mau berharap, hati saya adalah raja saya,” jelasnya.

Tapi, bila memang tawaran itu datang, Novian siap mengerahkan segala kemampuan. Ia semacam ingin memperlihatkan semangat ”Still Loving You” meski Scorpions sudah berumur lebih dari setengah abad. (*/c9/ttg)

Kalau Bisa Duet, Itu Kayak Kesamber Petir, Bisa Pingsan Saya

Dari Blok M lewat Gorky Park sampai ke Jogjakarta. Itulah ”rute” Novian Chaniago untuk band idolanya tersebut. Dia sudah menyiapkan dua pertanyaan.

FOLLY AKBAR, Jakarta

Wind of Change

DIA tidak sedang menyanyi di dinginnya Gorky Park, Moskow, di Rusia sana. Tidak pula bermaksud menyuarakan situasi politik di Eropa Timur.  Tapi, nasib memang kesunyian masing-masing.

 

..Take me to the magic of the moment

On a glory night

Where the children of tomorrow dream away (dream away)

In the wind of change…

 

Di suatu siang yang panas di Blok M, Jakarta, dua pekan lalu (14/2), seseorang merekamnya tengah mengamen menyanyikan larik-larik refrain itu. Selembar kertas karton yang mengutarakan maksud hati si pengamen turut terbaca jelas. Ada pula peran klik ribuan tangan di dunia maya sampai akhirnya membawa pengamen tersebut,  Novian Chaniago menuju ‘to the magic of the moment’.

Ia akan bertemu Scorpions, band yang lagunya ia nyanyikan di video itu (Wind of Change). Tidak cuma untuk nonton konsernya di JogjaROCKarta Festival 2020, hari ini, Minggu (1/3), tapi bertatap muka langsung. Bercakap-cakap. Tentu saja berfoto ria. Hal-hal yang bisa membuat ribuan fans band asal Jerman tersebut mengelus dada karena iri.

”Ini mungkin udah rezeki saya,” ujar Novian Chaniago saat ditemui di Taman PSKD, Blok M, Jakarta, tempat dia biasa mengamen. Rezeki yang tentu saja tidak jatuh begitu saja di bawah pohon mangga.

 

Send Me an Angel

 

Jempol tangan Novian berhenti di unggahan salah satu akun Instagram itu. ”Lho kok Scorpions mau main sama Whitesnake di Jogja,” ujarnya dengan intonasi suara terkejut, menceritakan apa yang dia baca dua pekan lalu.

Novian sudah lama mengidolakan Scorpions, band yang terbentuk pada 1965 di Hannover, Jerman, tersebut. Otomatis ia sangat ingin menontonnya langsung di Stadion Kridosono, lokasi JogjaROCKarta 2020.

Tapi, pria 51 tahun itu sadar tak akan mudah mewujudkan impiannya. Dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Tidak hanya untuk membeli tiket konser, tetapi juga transportasi dan akomodasi. Padahal, kondisi dompetnya saat itu seperti musim kemarau yang panjang.

“Saya mikir, gimana nih, duit kan, banyak keperluan yang lain, ya kan?” ucapnya dengan logat Betawi yang kental. Karena ngamen sudah jadi jalan ninjanya sejak SMP, Novian tak punya opsi lain. Dia sadar, mengamennya kali ini harus berbeda. Sebab dia butuh uang cepat agar tidak kehabisan slot tiket konser. ”Udah, saya bikin tulisan aja tolong bantu saya untuk liat Scorpions gitu, terus ngamen,” kata pria berdarah Minang itu.

Baca Juga :  Lomba Tilawah Usia Emas, Termuda 50 Tahun Tertua 68 Tahun

Sebetulnya, terang Novian, ada cara lain yang lebih mudah: meminta bantuan ke sejumlah rekan yang terhitung kaya. Namun, Novian akhirnya membuang jauh-jauh opsi tersebut.  Novian anti meminta-minta, apalagi untuk kesenangan pribadi. Baginya, berusaha sendiri dengan mengamen jauh lebih terhormat.

Ngamen tidak sama dengan meminta-minta tetapi menjual keterampilan membawakan musik. Apalagi, Novian juga berkarya dan menciptakan lagu sendiri. ”Ngamen sama kayak pedagang. Kita jual suara, jual musik. Kalau barang bagus, mau denger, dia bayar. Kalau ga suka, ga bayar,” jelasnya.

Keteguhan sikap tersebut berbuah. Pada siang itu, 14 Februari, yang sebagian orang merayakannya sebagai Valentine’s Day, pria lajang tersebut mendapat cukup banyak ”sentuhan kasih sayang”. ”Banyak yang ngasih. Dapat Rp 380 ribu hanya dalam sejam,” ungkapnya.

Dalam satu hari, Novian punya tiga sif di tempat mengamennya tersebut. Masing-masing satu jam. Lewat Send Me an Angel, Scorpions menulis tentang pengharapan dan keteguhan hati. ”Close your eyes and you will find//Passage out of the dark,” kata band yang didirikan Rudolf Schenker tersebut.

Semesta bakal mendukung lewat cara-cara yang tak diduga. Siang itu, di keriuhan Blok M, angel bagi Novian berwujud seseorang yang merekam aksinya. Dia salah seorang pengunjung Warung Ayam Bakar Berkah, tak jauh dari tempat Novian mengamen.

Di era di mana seseorang bisa terkenal tanpa disadari ini, dengan cepat video itu pun menyebar. Ribuan orang menontonnya, termasuk Anas Syahrul Alimin, promotor yang mendatangkan Scorpions. Lewat Twitter pribadinya, CEO Rajawali Indonesia Communications tersebut mencari sosok si pengamen.

Sampai di titik itu Novian belum tahu bahwa dirinya sudah ”seterkenal” itu. Baru beberapa hari kemudian dia ngeh. Itu pun setelah diberi tahu salah seorang karyawan Warung Ayam Bakar Berkah. ”Dia bilang, Mas, videonya viral. Saya bingung, video apa? Yang mana?” kata Novian.

Setelah paham apa yang terjadi, Novian langsung menghubungi akun media sosial Anas dan meninggalkan nomor telepon. Saat itu sebetulnya Novian sudah memegang tiket dengan biaya sendiri hasil mengamen.

Baca Juga :  TKI di Korsel Bagi Waktu untuk Kerja-Kuliah

Tak butuh waktu lama, Anas langsung menghubungi. ”Dia bilang siap mempertemukan saya dengan Scorpions,” ujar Novian.  Gembira luar biasa itu sudah pasti. Tapi, Novian tak mau bersikap berlebihan. Untuk itu, agar pertemuan dengan band idola bisa lebih bermakna, dia perlu mempersiapkan diri.

 

Still Loving You

 

Bagi Anas, keputusannya untuk menghubungi Novian dan mempertemukannya dengan para personel Scorpions adalah bentuk apresiasi. ”Saya sangat apresiasi attitude dan mentalnya,” ujar Anas saat dihubungi terpisah.

Anas menilai mental mau bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan tidak dimiliki semua orang. Bahkan, berdasarkan pengalamannya, tidak sedikit orang kaya yang memiliki mental jelek. ”Kita lihat banyak orang sudah punya duit, mampu, justru cari gratisan,” imbuhnya.

Soal konsep pertemuannya, Anas mengatakan, nanti Novian bertemu face-to-face dengan personel Scorpions. Di situ akan dilakukan perbincangan kecil dan foto-foto. Kepada manajemen band yang sekarang digawangi Rudolf Schenker (rhythm guitar), Klaus Meine (vocal), Matthias Jabs (lead guitar), Pawel Maciwoda (bass), dan Mikkey Dee (drum) itu, Anas sudah menyampaikan rencana tersebut. Lampu hijau pun sudah didapat. ”Saya jelaskan ke mereka, ini ada musisi jalanan yang ingin menonton, dia harus mengamen. Saya tunjukkan videonya,” kata Anas.

Apakah ada kemungkinan berduet? Anas menyebutkan, belum ada rencana ke situ. Bagi Novian, apa pun bentuk pertemuannya dengan para personel band yang telah menjual lebih dari 110 juta kopi album di seluruh dunia itu, dia akan menyambutnya dengan gembira. ”Kami kan sama-sama musisi. Hanya levelnya yang berbeda,” tuturnya.

Jika ada kesempatan, Novian juga akan menanyakan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana proses kreatif pembuatan lagu berjudul Wind of Change? ”Karena saya suka lagu itu, oke banget,” ucap dia menyebut alasannya.

Pertanyaan kedua, bagaimana cara menjaga soliditas personel band dalam waktu yang lama? Sebab, lanjut Novian, itu hal yang tak mudah. Dia sendiri sudah dua kali gagal membentuk band.

Kalau ternyata Scorpions memberinya kejutan dengan mengajaknya berduet? ”Wah, ya seneng banget. Kayak kesamber petir, mau pingsan saya bisa. Tapi, saya ga mau berharap, hati saya adalah raja saya,” jelasnya.

Tapi, bila memang tawaran itu datang, Novian siap mengerahkan segala kemampuan. Ia semacam ingin memperlihatkan semangat ”Still Loving You” meski Scorpions sudah berumur lebih dari setengah abad. (*/c9/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/