alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Jembatan Komunikasi PDP dengan Keluarga di Pojok Sahabat RSCM

Penjenguk Diminta Banyak Kasih Kata Motivasi

Di Pojok Sahabat, pasien dan keluarga penjenguk berbincang secara virtual dengan masing-masing pihak didampingi dokter. Disediakan waktu dua jam per hari dan harus bergiliran untuk memanfaatkan layanan tersebut.

DEBORA D. SITANGGANG, Jakarta  

”GIMANA rumah?”

”Anak-anak baik-baik kan?”

”Papa-mama sehat, ya?

Tiap hari, mulai pukul 11.00 sampai 13.00, kata-kata berlumuran rindu itu selalu terhambur dari lantai 6 Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Di detik yang bersamaan, enam lantai di bawahnya, kata-kata pemompa motivasi juga rutin terdengar. ”Terus semangat”; ”Cepat sembuh, ya”; ”Kamu pasti bisa”.

Yang di atas adalah para pasien dalam pengawasan (PDP) yang tengah menjalani isolasi di rumah sakit yang akrab disebut RSCM itu. Sedangkan yang di lobi adalah para penjenguk.

”Jadi, untuk pasien yang dirawat, ada Pojok Sahabat yang menghubungkan keluarga dengan pasiennya,” ungkap Kasubbaghumas RSCM Ananto ketika dihubungi (30/4).

Pandemi Covid-19 memang memisahkan banyak orang dari keluarga. Sudah pasti termasuk mereka yang harus menjalani isolasi. Padahal, pasien juga butuh dukungan orang sekitar jika ingin sembuh.

Program Pojok Sahabat itu sudah berjalan lebih dari sepekan. Ananto menjelaskan, mereka tak memakai aplikasi khusus.

Hanya menggunakan Zoom yang sekarang sedang booming dipakai berbagai pihak untuk pertemuan virtual.

Baca Juga :  Mahasiswi UGM Ungkap DNA Rumah Tinggal Tradisional Melayu Kalbar

Program itu muncul karena keluarga kerap merasa cemas pada kondisi anak, istri, ayah, atau ibu mereka yang termasuk PDP. Pada kondisi biasa, keluarga bisa rutin menjenguk atau bahkan ikut menginap di rumah sakit untuk menjaga pasien.

”Namun, dalam kondisi pandemi ini, mereka tidak boleh berinteraksi dengan pasien. Bisa menimbulkan kecemasan baru di rumah (karena kekhawatiran tertular),” lanjut Ananto.

Persoalannya, tidak semua pasien membawa ponsel saat masuk isolasi. Di sisi lain, keluarga juga belum tentu familier dengan aplikasi untuk video call.

”Kami sediakan (Pojok Sahabat) ini supaya keluarga tetap bisa berkomunikasi,” ujarnya.

Selain pasien dengan keluarga, media komunikasi jarak jauh juga dibutuhkan antara pasien yang ada di rumah dan dokter. Sebab, banyak pasien yang juga waswas jika harus pergi ke luar rumah dalam kondisi rentan seperti sekarang.

Salah satu yang mendorong adanya telemedicine adalah Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

”Ada yang bisa melalui telemedicine atau dikirim audio visualnya seperti kulit atau mata. Namun, yang membutuhkan pemeriksaan fisik dengan stetoskop masih tidak bisa (secara telemedicine) karena diagnosisnya bisa salah,” ungkap Ketua Bidang Khusus JKN dan Perumahsakitan PDPI dr Megantara Supriyadi kemarin.

Sejauh ini belum ada ketentuan yang mengatur telemedicine antara dokter dan pasien. Baru ada fasilitasi antar-rumah sakit atau dokter dengan dokter saja.

Baca Juga :  Bupati Soroti Kenaikan Kasus, Satgas Covid-19 Lakukan Evaluasi

PDPI saat ini tengah menyusun pedoman untuk penerapan telemedicine, khususnya untuk pasien paru-paru. Namun, setelah ada pedomannya pun, tidak lantas semua pemeriksaan bisa dialihkan ke telemedicine.

”Yang akan kami buat formatnya ini untuk pasien lama karena mungkin sudah ada catatan medisnya. Untuk pasien baru tidak bisa karena kita tetap memerlukan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai kaki,” lanjutnya

Di Pojok Sahabat RSCM, pasien dirawat di lantai 6, di ruang isolasi khusus dan terpisah dari pasien lain. Keluarga menunggu di bawah dan didampingi dokter. Keluarga yang hendak ”menjenguk” pasien akan menunggu sebelum kemudian dipanggil jika sudah tiba gilirannya.

Video call biasanya dimulai pukul 11.00 sampai 13.00. Dokter yang stand by di ruang rawat akan menjelaskan kondisi pasien. Keluarga juga bisa bertanya apa pun tentang kondisi terbaru si pasien.

Setelah itu, pasien dipersilakan berkomunikasi dengan keluarga untuk menanyakan kabar dan sebagainya. ”Keluarga biasanya diminta sama dokter untuk lebih banyak memberikan kata-kata motivasi yang menyemangati pasien,” katanya.

Karena itu, meluncur deraslah sederet kalimat penyemangat tadi untuk merespons kerinduan para pasien akan keluarga dan rumah. Dari mulai, ”Kami sudah tak sabar menunggumu di rumah” sampai ”Nanti aku masakin makanan favoritmu deh kalau sudah pulang”. (*/c10/ttg)

Penjenguk Diminta Banyak Kasih Kata Motivasi

Di Pojok Sahabat, pasien dan keluarga penjenguk berbincang secara virtual dengan masing-masing pihak didampingi dokter. Disediakan waktu dua jam per hari dan harus bergiliran untuk memanfaatkan layanan tersebut.

DEBORA D. SITANGGANG, Jakarta  

”GIMANA rumah?”

”Anak-anak baik-baik kan?”

”Papa-mama sehat, ya?

Tiap hari, mulai pukul 11.00 sampai 13.00, kata-kata berlumuran rindu itu selalu terhambur dari lantai 6 Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Di detik yang bersamaan, enam lantai di bawahnya, kata-kata pemompa motivasi juga rutin terdengar. ”Terus semangat”; ”Cepat sembuh, ya”; ”Kamu pasti bisa”.

Yang di atas adalah para pasien dalam pengawasan (PDP) yang tengah menjalani isolasi di rumah sakit yang akrab disebut RSCM itu. Sedangkan yang di lobi adalah para penjenguk.

”Jadi, untuk pasien yang dirawat, ada Pojok Sahabat yang menghubungkan keluarga dengan pasiennya,” ungkap Kasubbaghumas RSCM Ananto ketika dihubungi (30/4).

Pandemi Covid-19 memang memisahkan banyak orang dari keluarga. Sudah pasti termasuk mereka yang harus menjalani isolasi. Padahal, pasien juga butuh dukungan orang sekitar jika ingin sembuh.

Program Pojok Sahabat itu sudah berjalan lebih dari sepekan. Ananto menjelaskan, mereka tak memakai aplikasi khusus.

Hanya menggunakan Zoom yang sekarang sedang booming dipakai berbagai pihak untuk pertemuan virtual.

Baca Juga :  Kodim 1207/BS Bentuk Satgas Desa Tangkal Covid-19

Program itu muncul karena keluarga kerap merasa cemas pada kondisi anak, istri, ayah, atau ibu mereka yang termasuk PDP. Pada kondisi biasa, keluarga bisa rutin menjenguk atau bahkan ikut menginap di rumah sakit untuk menjaga pasien.

”Namun, dalam kondisi pandemi ini, mereka tidak boleh berinteraksi dengan pasien. Bisa menimbulkan kecemasan baru di rumah (karena kekhawatiran tertular),” lanjut Ananto.

Persoalannya, tidak semua pasien membawa ponsel saat masuk isolasi. Di sisi lain, keluarga juga belum tentu familier dengan aplikasi untuk video call.

”Kami sediakan (Pojok Sahabat) ini supaya keluarga tetap bisa berkomunikasi,” ujarnya.

Selain pasien dengan keluarga, media komunikasi jarak jauh juga dibutuhkan antara pasien yang ada di rumah dan dokter. Sebab, banyak pasien yang juga waswas jika harus pergi ke luar rumah dalam kondisi rentan seperti sekarang.

Salah satu yang mendorong adanya telemedicine adalah Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

”Ada yang bisa melalui telemedicine atau dikirim audio visualnya seperti kulit atau mata. Namun, yang membutuhkan pemeriksaan fisik dengan stetoskop masih tidak bisa (secara telemedicine) karena diagnosisnya bisa salah,” ungkap Ketua Bidang Khusus JKN dan Perumahsakitan PDPI dr Megantara Supriyadi kemarin.

Sejauh ini belum ada ketentuan yang mengatur telemedicine antara dokter dan pasien. Baru ada fasilitasi antar-rumah sakit atau dokter dengan dokter saja.

Baca Juga :  Penjualan Masker Meningkat; Model Scuba yang Dipakai Artis Korea Paling Diminati

PDPI saat ini tengah menyusun pedoman untuk penerapan telemedicine, khususnya untuk pasien paru-paru. Namun, setelah ada pedomannya pun, tidak lantas semua pemeriksaan bisa dialihkan ke telemedicine.

”Yang akan kami buat formatnya ini untuk pasien lama karena mungkin sudah ada catatan medisnya. Untuk pasien baru tidak bisa karena kita tetap memerlukan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai kaki,” lanjutnya

Di Pojok Sahabat RSCM, pasien dirawat di lantai 6, di ruang isolasi khusus dan terpisah dari pasien lain. Keluarga menunggu di bawah dan didampingi dokter. Keluarga yang hendak ”menjenguk” pasien akan menunggu sebelum kemudian dipanggil jika sudah tiba gilirannya.

Video call biasanya dimulai pukul 11.00 sampai 13.00. Dokter yang stand by di ruang rawat akan menjelaskan kondisi pasien. Keluarga juga bisa bertanya apa pun tentang kondisi terbaru si pasien.

Setelah itu, pasien dipersilakan berkomunikasi dengan keluarga untuk menanyakan kabar dan sebagainya. ”Keluarga biasanya diminta sama dokter untuk lebih banyak memberikan kata-kata motivasi yang menyemangati pasien,” katanya.

Karena itu, meluncur deraslah sederet kalimat penyemangat tadi untuk merespons kerinduan para pasien akan keluarga dan rumah. Dari mulai, ”Kami sudah tak sabar menunggumu di rumah” sampai ”Nanti aku masakin makanan favoritmu deh kalau sudah pulang”. (*/c10/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/