alexametrics
25.3 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Yang Ingin Beri Bantuan Bisa Meletakkannya di Meja Teras

Dari Tetangga sampai Bupati Sambut Kepulangan Pasien Sembuh

Tepuk tangan dan ucapan selamat datang lewat pengeras suara menyambut kepulangan Slamet setelah diisolasi di rumah sakit. Sudah sepuh, mobilitas terbatas, dan tinggal sendirian, pria 72 tahun itu tak tahu tertular di mana.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri

BEGITU ambulans mendekati halaman rumah Slamet, seketika itu juga tepuk tangan dari para tetangga terdengar. Tanpa dikomando.

”Ya, selamat datang kembali di rumah, Pak Slamet,” kata salah seorang di antaranya dari balik pelantang suara.

Masker medis yang dipakai pria 72 tahun itu pun tak mampu menutupi kegembiraannya. Sambutan hangat para tetangga di Dusun Kadipaten, Desa Jendi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu menjadi pelengkap.

Kemarin (1/5) untuk kali pertama dalam sepekan terakhir Slamet menginjakkan kaki kembali di kediamannya yang masuk wilayah Kecamatan Selogiri tersebut. Pria 72 tahun itu terkonfirmasi positif Covid-19 sejak 24 April.

Dia pun harus dirawat di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri, hingga dinyatakan sembuh berdasarkan hasil tes swab. Sebelumnya Slamet mengeluhkan sesak napas dan demam. Karena hasil tes swab-nya positif, dia pun dijemput petugas kesehatan untuk menjalani isolasi.

”Alhamdulillah, sampun (sudah, Red) sehat. Hari ini (kemarin) sudah boleh pulang,” ujarnya.

Berbarengan dengan Slamet kemarin, Eko Eviyanto, pasien positif lainnya di Wonogiri, juga dinyatakan sembuh. Tapi, tak seperti Slamet, Eko, warga Desa Pandeyan, Kecamatan Jatisrono, tersebut, masih menjalani perawatan di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso. Itu guna penyembuhan penyakit lainnya.

Baca Juga :  Kisah Para Pemilik Darah Langka, Sempat Koma hingga Jadi Penyelamat Sesama

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri Adhi Dharma menuturkan, Eko merupakan sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) trayek Wonogiri–Jakarta. ”Yang bersangkutan sudah menjalani empat kali swab. Dua (tes) yang terakhir dinyatakan negatif (Covid-19),” terangnya kemarin.

Termasuk Slamet dan Eko, sudah ada tiga pasien sembuh di Wonogiri. Secara kumulatif, ada sepuluh kasus positif Covid-19 di kabupaten yang berbatasan dengan Pacitan, Jawa Timur, itu. Enam di antaranya masih dirawat, tiga sembuh, dan satu meninggal.

Di wilayah Solo Raya, jumlah kasus positif di Wonogiri kedua yang terendah setelah Boyolali yang mencatat tujuh kasus. Yang tertinggi Sukoharjo dengan 37 kasus, disusul Kota Solo dengan 22 kasus.

Slamet tinggal sendirian di rumah. Anak-anaknya di luar kota semua. Di usia yang sudah sesepuh itu, sehari-hari mobilitasnya juga hanya di seputar dusun dan desanya.

 

”Mboten ngertos ketularan saking pundi kulo (tidak tahu ketularan dari siapa saya, Red),” ujarnya.

Dan, di situlah letak berbahayanya pandemi Covid-19 ini. Bisa menulari siapa saja. Dari usia berapa saja. Yang menulari dan tertular pun bisa saja tak menunjukkan gejala apa pun.

”Yang harus dipahami, virus korona bisa disembuhkan. Yang penting, pasien harus patuh terhadap protokol penanganan medis,” kata Bupati Wonogiri Joko Sutopo seusai menjenguk Slamet kemarin didampingi forkopimda (forum koordinasi pimpinan daerah).

Baca Juga :  Pernikahan Dini Bawa GenRengers Educamp Pemuda Desa Mendunia

Kesembuhan Slamet itu, lanjut Joko yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Wonogiri, menambah semangat tenaga medis dan pemkab setempat untuk memerangi Covid-19.

Lebih menggembirakan lagi karena warga setempat menyambut hangat kedatangan Slamet. Sebab, selama ini, seperti juga terjadi di sejumlah tempat lain, ada kekhawatiran stigma kepada pasien positif. Bahkan, korban yang sudah meninggal pun, termasuk tenaga medis, ada yang ditolak pemakamannya.

”Simpati dan empati dari masyarakat, khususnya lingkungan tempat tinggal pasien, dapat menambah semangat agar segera sembuh. Tidak ada alasan bagi warga menolak pasien korona yang telah dinyatakan sembuh untuk pulang,” kata Joko.

Sesuai protokol, Slamet masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Untuk menunjukkan dukungan, Bambang Sadriyanto, salah seorang tokoh masyarakat di Selogiri, mempersilakan warga untuk memberikan bantuan sembako dan sebagainya.

”Tapi, tidak diserahkan secara langsung. Bagaimana caranya? Di teras rumah diberi meja. (Barang bantuan) bisa ditaruh di situ,” ujarnya.

Pemberi bantuan bisa memanggil Slamet dari luar rumah untuk segera mengambil bantuan di meja. ”Sambutan warga sangat bagus. Tidak ada satu pun yang tidak sepakat dengan kepulangan Pak Slamet,” kata Bambang. (*/al/wa/c10/ttg)

Dari Tetangga sampai Bupati Sambut Kepulangan Pasien Sembuh

Tepuk tangan dan ucapan selamat datang lewat pengeras suara menyambut kepulangan Slamet setelah diisolasi di rumah sakit. Sudah sepuh, mobilitas terbatas, dan tinggal sendirian, pria 72 tahun itu tak tahu tertular di mana.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri

BEGITU ambulans mendekati halaman rumah Slamet, seketika itu juga tepuk tangan dari para tetangga terdengar. Tanpa dikomando.

”Ya, selamat datang kembali di rumah, Pak Slamet,” kata salah seorang di antaranya dari balik pelantang suara.

Masker medis yang dipakai pria 72 tahun itu pun tak mampu menutupi kegembiraannya. Sambutan hangat para tetangga di Dusun Kadipaten, Desa Jendi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu menjadi pelengkap.

Kemarin (1/5) untuk kali pertama dalam sepekan terakhir Slamet menginjakkan kaki kembali di kediamannya yang masuk wilayah Kecamatan Selogiri tersebut. Pria 72 tahun itu terkonfirmasi positif Covid-19 sejak 24 April.

Dia pun harus dirawat di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri, hingga dinyatakan sembuh berdasarkan hasil tes swab. Sebelumnya Slamet mengeluhkan sesak napas dan demam. Karena hasil tes swab-nya positif, dia pun dijemput petugas kesehatan untuk menjalani isolasi.

”Alhamdulillah, sampun (sudah, Red) sehat. Hari ini (kemarin) sudah boleh pulang,” ujarnya.

Berbarengan dengan Slamet kemarin, Eko Eviyanto, pasien positif lainnya di Wonogiri, juga dinyatakan sembuh. Tapi, tak seperti Slamet, Eko, warga Desa Pandeyan, Kecamatan Jatisrono, tersebut, masih menjalani perawatan di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso. Itu guna penyembuhan penyakit lainnya.

Baca Juga :  Cantiknya Pembuat Kopi di Djaja Bikin Betah Ngopi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri Adhi Dharma menuturkan, Eko merupakan sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) trayek Wonogiri–Jakarta. ”Yang bersangkutan sudah menjalani empat kali swab. Dua (tes) yang terakhir dinyatakan negatif (Covid-19),” terangnya kemarin.

Termasuk Slamet dan Eko, sudah ada tiga pasien sembuh di Wonogiri. Secara kumulatif, ada sepuluh kasus positif Covid-19 di kabupaten yang berbatasan dengan Pacitan, Jawa Timur, itu. Enam di antaranya masih dirawat, tiga sembuh, dan satu meninggal.

Di wilayah Solo Raya, jumlah kasus positif di Wonogiri kedua yang terendah setelah Boyolali yang mencatat tujuh kasus. Yang tertinggi Sukoharjo dengan 37 kasus, disusul Kota Solo dengan 22 kasus.

Slamet tinggal sendirian di rumah. Anak-anaknya di luar kota semua. Di usia yang sudah sesepuh itu, sehari-hari mobilitasnya juga hanya di seputar dusun dan desanya.

 

”Mboten ngertos ketularan saking pundi kulo (tidak tahu ketularan dari siapa saya, Red),” ujarnya.

Dan, di situlah letak berbahayanya pandemi Covid-19 ini. Bisa menulari siapa saja. Dari usia berapa saja. Yang menulari dan tertular pun bisa saja tak menunjukkan gejala apa pun.

”Yang harus dipahami, virus korona bisa disembuhkan. Yang penting, pasien harus patuh terhadap protokol penanganan medis,” kata Bupati Wonogiri Joko Sutopo seusai menjenguk Slamet kemarin didampingi forkopimda (forum koordinasi pimpinan daerah).

Baca Juga :  Menko Airlangga Apresiasi Dedikasi TNI dan Polri yang Turut Aktif dalam Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Kesembuhan Slamet itu, lanjut Joko yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Wonogiri, menambah semangat tenaga medis dan pemkab setempat untuk memerangi Covid-19.

Lebih menggembirakan lagi karena warga setempat menyambut hangat kedatangan Slamet. Sebab, selama ini, seperti juga terjadi di sejumlah tempat lain, ada kekhawatiran stigma kepada pasien positif. Bahkan, korban yang sudah meninggal pun, termasuk tenaga medis, ada yang ditolak pemakamannya.

”Simpati dan empati dari masyarakat, khususnya lingkungan tempat tinggal pasien, dapat menambah semangat agar segera sembuh. Tidak ada alasan bagi warga menolak pasien korona yang telah dinyatakan sembuh untuk pulang,” kata Joko.

Sesuai protokol, Slamet masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Untuk menunjukkan dukungan, Bambang Sadriyanto, salah seorang tokoh masyarakat di Selogiri, mempersilakan warga untuk memberikan bantuan sembako dan sebagainya.

”Tapi, tidak diserahkan secara langsung. Bagaimana caranya? Di teras rumah diberi meja. (Barang bantuan) bisa ditaruh di situ,” ujarnya.

Pemberi bantuan bisa memanggil Slamet dari luar rumah untuk segera mengambil bantuan di meja. ”Sambutan warga sangat bagus. Tidak ada satu pun yang tidak sepakat dengan kepulangan Pak Slamet,” kata Bambang. (*/al/wa/c10/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/