alexametrics
26.7 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Petugas Harus Bongkar Dulu Pintu Pagar

Setelah Tim KPK Pelajari Kebiasaan Istri Nurhadi

Di rumah tempat Nurhadi ditangkap, baru sejak bulan puasa lalu tampak aktivitas. Biasanya ada paket yang diantar ke rumah itu dan selalu diminta untuk dilemparkan melewati pagar.

A.D. PRASETYO-DEBORA S., Jakarta

WAKTU menunjukkan pukul 21.30 ketika lampu di depan rumah besar itu tiba-tiba mati. Di saat bersamaan, beberapa orang berupaya membuka kunci pintu gerbang secara paksa. Sementara lainnya berjaga di sekitar rumah megah di Jalan Simprug Golf 17 Nomor 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tersebut. Sebagian mengenakan seragam dinas kepolisian.

Beberapa saat kemudian, pintu pagar yang berwarna cokelat dan berukuran cukup tinggi tersebut berhasil dibongkar. Suasana di beranda rumah itu temaram. Semua pintu tertutup rapat.

Untuk mengendalikan situasi, seorang petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mematikan sekring listrik. Lampu-lampu di dalam rumah yang masih menyala seketika mati. Gelap total.

Di saat nyaris bersamaan, berkali-kali pintu-pintu kayu itu digedor petugas yang ditemani pengurus RW setempat. Suaranya terdengar keras.

Namun, tak ada suara yang menyahut dari dalam rumah. Bergegas tim membongkar pintu utama, persis membuka paksa kunci gerbang depan rumah. Tim kemudian masuk dan mencari penghuni rumah.

Setelah 112 hari, pencarian Senin malam (1/6) itu akhirnya membuahkan hasil. Seorang pria diketahui bersembunyi di salah satu kamar. Pria itu adalah Nurhadi Abdurrachman, mantan sekretaris Mahkamah Agung (MA). Di kamar lain, tim menemukan pula Rezky Herbiyono, menantu Nurhadi.

Beberapa orang lain di rumah itu juga diketahui sedang bersembunyi. Mereka ”orang-orang” Nurhadi. Tin Zuraida, istri Nurhadi, juga diamankan dari rumah yang berada di salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan tersebut.

Setelah menunjukkan surat tugas penggeledahan dan perintah penangkapan, tim memeriksa semua orang yang diamankan. Kemudian menyisir setiap kamar. Beberapa dokumen yang dianggap penting disita. ”Ada penjaga rumah yang kabur,” ujar salah seorang petugas KPK.

Baca Juga :  Harun Masiku Kabur ke Singapura

Selasa pagi (2/6) Nurhadi dan istrinya beserta Rezky dibawa ke gedung KPK. Mereka diperiksa lebih intensif. Penyidik lantas memutuskan untuk menahan Nurhadi dan menantunya di rumah tahanan negara (rutan) KPK di Gedung Penunjang Kavling 4 (K4). ”Penahanan dilakukan kepada dua orang tersangka tersebut selama 20 hari pertama,” kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di gedung KPK.

Nurhadi dan menantunya diduga kerap berpindah tempat sejak nama mereka masuk daftar pencarian orang (DPO) pada 11 Februari lalu. Keduanya diketahui baru dua bulan menempati rumah bernuansa cokelat kalem itu. Selama ini, hunian dengan kolam renang di dalamnya itu dijaga beberapa orang.

Sarmin, salah seorang penjaga kompleks perumahan tersebut, mengungkapkan bahwa rumah itu sebelumnya kosong. Tanpa penghuni. ”(Mulai dihuni, Red) bulan puasa kemarin. Rumahnya (biasanya) dikontrakin,” ujar Sarmin.

Sekitar 25 meter dari rumah tersebut, terdapat warung kelontong kecil yang dijaga Ratimah. Dia juga menyebut rumah itu biasanya sepi.

Baru-baru ini saja terlihat aktivitas. Hanya, penghuninya jarang terlihat keluar rumah. ”Cuma orang yang kerja di sana (yang keluar-keluar, Red),” ungkap Ratimah.

Orang-orang yang bekerja di rumah dengan carport cukup luas itu kerap membeli makanan atau minuman di warung Ratimah. Rata-rata anak muda. Namun, Ratimah tidak pernah tahu siapa majikan orang-orang yang tinggal di rumah tersebut. Menurut Ratimah, biasanya penghuni keluar rumah dengan menaiki mobil dengan kaca tertutup rapat.

Warung Ratimah masih buka ketika sejumlah mobil petugas KPK datang ke rumah tersebut pukul 20.00 atau selepas Isya. ”Warung saya buka sampai jam 22.00,” lanjut Ratimah.

Baca Juga :  Ine Aya’, Suara dari Hutan yang Perlahan Menghilang

Kemudian, saat dia membuka warungnya lagi pagi hari pukul 07.00, rumah itu sudah sangat sepi. Lebih sepi daripada biasanya.

Sekitar pukul 12.00 seorang pengantar paket datang ke rumah tersebut. Meski sudah berteriak menyampaikan paket, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Pengantar paket yang bernama Egi Ali Pasha tersebut mengaku kerap mengantar paket di sekitar kompleks Simprug Golf itu. ”Bisa sebulan sekali. Terakhir kemarin sudah sebulan lebih. Sekitar April lah,” ucap dia.

Paket yang diantarkan atas nama Rayi. Egi menyebutkan, biasanya ada yang menjaga rumah tersebut. Namun, saat paket diantar, penjaga biasanya meminta dia melemparkan saja paket melewati atas pagar.

Sayang, belum ada keterangan dari KPK soal siapa itu Rayi. Sedangkan paket yang Egi antarkan kemarin akhirnya dititipkan kepada petugas keamanan.

Ada dua dugaan terkait dengan pemilik rumah tersebut. Pertama, punya Nurhadi. Kedua, milik seseorang yang memfasilitasi pelariannya. KPK masih mempelajari lebih lanjut.

KPK juga tak banyak menjelaskan bagaimana pencarian Nurhadi dan menantunya. Lembaga antirasuah itu hanya menyebutkan bahwa informasi persembunyian dua tersangka dugaan suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar yang terkait dengan pengurusan perkara di MA tersebut diperoleh dari laporan masyarakat.

Berdasar informasi, penangkapan Nurhadi dan Rezky berawal dari penjejakan Tin Zuraida. Selama beberapa bulan tim KPK membuntuti mantan pegawai MA itu.

Dari beberapa kali pengintaian, Zuraida kerap singgah di rumah tersebut. ”Kami pelajari kebiasaan Tin Zuraida,” ungkap sumber di internal KPK.

Deputi Bidang Penindakan KPK Karyoto tidak bisa mengungkapkan secara detail terkait teknis penangkapan itu. Dia menyatakan, kegiatan meringkus buron tersebut merupakan hasil pengolahan informasi dari banyak pihak.

”Kami punya cara untuk mengolah informasi itu dan dicocokkan dengan informasi yang sudah ada,” paparnya. (*)

Setelah Tim KPK Pelajari Kebiasaan Istri Nurhadi

Di rumah tempat Nurhadi ditangkap, baru sejak bulan puasa lalu tampak aktivitas. Biasanya ada paket yang diantar ke rumah itu dan selalu diminta untuk dilemparkan melewati pagar.

A.D. PRASETYO-DEBORA S., Jakarta

WAKTU menunjukkan pukul 21.30 ketika lampu di depan rumah besar itu tiba-tiba mati. Di saat bersamaan, beberapa orang berupaya membuka kunci pintu gerbang secara paksa. Sementara lainnya berjaga di sekitar rumah megah di Jalan Simprug Golf 17 Nomor 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tersebut. Sebagian mengenakan seragam dinas kepolisian.

Beberapa saat kemudian, pintu pagar yang berwarna cokelat dan berukuran cukup tinggi tersebut berhasil dibongkar. Suasana di beranda rumah itu temaram. Semua pintu tertutup rapat.

Untuk mengendalikan situasi, seorang petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mematikan sekring listrik. Lampu-lampu di dalam rumah yang masih menyala seketika mati. Gelap total.

Di saat nyaris bersamaan, berkali-kali pintu-pintu kayu itu digedor petugas yang ditemani pengurus RW setempat. Suaranya terdengar keras.

Namun, tak ada suara yang menyahut dari dalam rumah. Bergegas tim membongkar pintu utama, persis membuka paksa kunci gerbang depan rumah. Tim kemudian masuk dan mencari penghuni rumah.

Setelah 112 hari, pencarian Senin malam (1/6) itu akhirnya membuahkan hasil. Seorang pria diketahui bersembunyi di salah satu kamar. Pria itu adalah Nurhadi Abdurrachman, mantan sekretaris Mahkamah Agung (MA). Di kamar lain, tim menemukan pula Rezky Herbiyono, menantu Nurhadi.

Beberapa orang lain di rumah itu juga diketahui sedang bersembunyi. Mereka ”orang-orang” Nurhadi. Tin Zuraida, istri Nurhadi, juga diamankan dari rumah yang berada di salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan tersebut.

Setelah menunjukkan surat tugas penggeledahan dan perintah penangkapan, tim memeriksa semua orang yang diamankan. Kemudian menyisir setiap kamar. Beberapa dokumen yang dianggap penting disita. ”Ada penjaga rumah yang kabur,” ujar salah seorang petugas KPK.

Baca Juga :  Cerita Tiga Guru Inisiator Perpustakaan Keliling

Selasa pagi (2/6) Nurhadi dan istrinya beserta Rezky dibawa ke gedung KPK. Mereka diperiksa lebih intensif. Penyidik lantas memutuskan untuk menahan Nurhadi dan menantunya di rumah tahanan negara (rutan) KPK di Gedung Penunjang Kavling 4 (K4). ”Penahanan dilakukan kepada dua orang tersangka tersebut selama 20 hari pertama,” kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di gedung KPK.

Nurhadi dan menantunya diduga kerap berpindah tempat sejak nama mereka masuk daftar pencarian orang (DPO) pada 11 Februari lalu. Keduanya diketahui baru dua bulan menempati rumah bernuansa cokelat kalem itu. Selama ini, hunian dengan kolam renang di dalamnya itu dijaga beberapa orang.

Sarmin, salah seorang penjaga kompleks perumahan tersebut, mengungkapkan bahwa rumah itu sebelumnya kosong. Tanpa penghuni. ”(Mulai dihuni, Red) bulan puasa kemarin. Rumahnya (biasanya) dikontrakin,” ujar Sarmin.

Sekitar 25 meter dari rumah tersebut, terdapat warung kelontong kecil yang dijaga Ratimah. Dia juga menyebut rumah itu biasanya sepi.

Baru-baru ini saja terlihat aktivitas. Hanya, penghuninya jarang terlihat keluar rumah. ”Cuma orang yang kerja di sana (yang keluar-keluar, Red),” ungkap Ratimah.

Orang-orang yang bekerja di rumah dengan carport cukup luas itu kerap membeli makanan atau minuman di warung Ratimah. Rata-rata anak muda. Namun, Ratimah tidak pernah tahu siapa majikan orang-orang yang tinggal di rumah tersebut. Menurut Ratimah, biasanya penghuni keluar rumah dengan menaiki mobil dengan kaca tertutup rapat.

Warung Ratimah masih buka ketika sejumlah mobil petugas KPK datang ke rumah tersebut pukul 20.00 atau selepas Isya. ”Warung saya buka sampai jam 22.00,” lanjut Ratimah.

Baca Juga :  Jelang Matinya UU KPK Lama, Satu Menteri dan 2 Bupati Tak Berkutik

Kemudian, saat dia membuka warungnya lagi pagi hari pukul 07.00, rumah itu sudah sangat sepi. Lebih sepi daripada biasanya.

Sekitar pukul 12.00 seorang pengantar paket datang ke rumah tersebut. Meski sudah berteriak menyampaikan paket, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Pengantar paket yang bernama Egi Ali Pasha tersebut mengaku kerap mengantar paket di sekitar kompleks Simprug Golf itu. ”Bisa sebulan sekali. Terakhir kemarin sudah sebulan lebih. Sekitar April lah,” ucap dia.

Paket yang diantarkan atas nama Rayi. Egi menyebutkan, biasanya ada yang menjaga rumah tersebut. Namun, saat paket diantar, penjaga biasanya meminta dia melemparkan saja paket melewati atas pagar.

Sayang, belum ada keterangan dari KPK soal siapa itu Rayi. Sedangkan paket yang Egi antarkan kemarin akhirnya dititipkan kepada petugas keamanan.

Ada dua dugaan terkait dengan pemilik rumah tersebut. Pertama, punya Nurhadi. Kedua, milik seseorang yang memfasilitasi pelariannya. KPK masih mempelajari lebih lanjut.

KPK juga tak banyak menjelaskan bagaimana pencarian Nurhadi dan menantunya. Lembaga antirasuah itu hanya menyebutkan bahwa informasi persembunyian dua tersangka dugaan suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar yang terkait dengan pengurusan perkara di MA tersebut diperoleh dari laporan masyarakat.

Berdasar informasi, penangkapan Nurhadi dan Rezky berawal dari penjejakan Tin Zuraida. Selama beberapa bulan tim KPK membuntuti mantan pegawai MA itu.

Dari beberapa kali pengintaian, Zuraida kerap singgah di rumah tersebut. ”Kami pelajari kebiasaan Tin Zuraida,” ungkap sumber di internal KPK.

Deputi Bidang Penindakan KPK Karyoto tidak bisa mengungkapkan secara detail terkait teknis penangkapan itu. Dia menyatakan, kegiatan meringkus buron tersebut merupakan hasil pengolahan informasi dari banyak pihak.

”Kami punya cara untuk mengolah informasi itu dan dicocokkan dengan informasi yang sudah ada,” paparnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/