alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Idap Kanker Stadium Empat, Pulih Berkat Semangat dan Keyakinan Hidup

Kisah Para Penyintas Kanker yang Berhasil Sembuh

Keyakinan dan semangat hidup jadi modal utama untuk melawan ganasnya kanker yang menggerogoti tubuh. Tanpa keduanya, dengan obat-obatan dan tindakan medis sekalipun, rasanya akan sulit untuk pulih. Kedua hal inilah yang terus didorong oleh asosiasi Cancer Information and Support Center (CISC) bagi penderita kanker di tanah air. Tak terkecuali di Kalimantan Barat.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Adalah Nunung Sutiastuti Sainin, yang menginisiasi berdirinya CISC Kalbar. Berangkat dari pengalaman pribadi yang berhasil menjinakkan penyakit kanker yang diderita, membuat ibu dua anak ini punya semangat untuk berbagi.

“Tahun 2015 saya dinyatakan kanker payudara stadium 4, dan divonis hanya bertahan 9 bulan lagi, saya berusaha untuk bangkit. Saya katakan kepada Allah, saya ingin sehat. Kalau sehat, saya akan berbuat untuk sesama,” ungkap Nunung, saat ditemui Pontianak Post, Selasa (4/2), tepat di Hari Kanker Sedunia.

Karena itu berbagai upaya ia tempuh untuk melawan kanker payudara yang menggerogoti tubuhnya. Mulai dari cara herbal, upaya medis, hingga akhirnya memutuskan untuk dioperasi. Pengobatan tidak hanya dilakukan di Pontianak saja, ia juga harus terbang ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif. Apalagi di sana ada dokter spesialis onkologi.

Upaya medis memang wajib dilakukan dalam rangka menyembuhkan penyakit tersebut. Tetapi lebih dari itu, kata dia, semangat hidup harus kuat.

Memotivasi diri sendiri sangat diperlukan. Jangan sampai depresi, karena akan sangat mempengaruhi psikologi dan tentunya kondisi tubuh. Untung saja, keluarga dan orang sekitar mendukung. “Salah satu motivasi saya adalah kedua anak saya,” tutur dia.

Setelah serangkaian pengobatan, diiringi dengan doa yang tiada putus, masa-masa sulit dalam menghadapi ganasnya kanker mampu dilewati. Vonis yang dinyatakan tinggal 9 bulan itu, nyatanya tak dapat melawan takdir Ilahi. Empat tahun berselang setelah vonis itu, ternyata ia masih merasakan nikmatnya hidup. Boleh dikatakan sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Meski begitu, kondisi tubuh harus tetap dijaga.

Baca Juga :  Guru Mengunjungi Rumah Siswa yang Tak Memiliki Ponsel Android

Selama masa pengobatan di tahun 2015 itulah, ia bertemu dengan banyak pasien yang menderita penyakit yang sama. Dari mereka pula ia dikenalkan dengan asosiasi CISC, sebuah komunitas yang bertujuan untuk memberikan dukungan serta layanan informasi pada masyarakat kanker dan orang awam. Komunitas itu, berpusat di Jakarta dan berdiri sejak tahun 2003.

“Saya waktu itu menawarkan diri untuk buka di Kalbar. Komunitas ini saya rasa perlu agar para penderita kanker bisa saling menyemangati dan berbagi informasi,” ucap dia.

Dimulai dari grup WhatsApp, ia mulai mencari anggota yang punya masalah serupa. Semula hanya beranggotakan lima orang saja. Dari mulut ke mulut, informasi mulai terdengar banyak telinga. Secara resmi, di Kalbar, komunitas ini terbentuk tahun 2017. “Saat ini anggota kami sekitar 90 orang, dari berbagai daerah di Kalbar,” sebut dia.

Selain diskusi dan saling menyemangati di grup WhatsApp tersebut, komunitas ini juga saling mengunjungi. Dari satu penderita satu ke penderita kanker lainnya. Mereka memberikan motivasi, dan bertukar informasi. Tak hanya itu, mereka juga bergotong royong membantu penderita yang kekurangan biaya. Mereka berupaya menghimpun dana, atau mencarikan bantuan lewat lembaga-lembaga yang bergerak dibidang kemanusiaan, atau komunitas yang peduli dengan kanker.  Termasuk salah satunya program Dompet Simpatik Pontianak Post.

“Pernah kami bantu salah satu penderita kanker untuk mendapat bantuan dana melalui program Dompet Simpatik,” kata dia.

Baca Juga :  Jembatan Komunikasi PDP dengan Keluarga di Pojok Sahabat RSCM

Bagi Nunung, ikhtiar dan doa memang harus terus dilakukan bagi mereka yang diberikan ujian berupa penyakit. Kehadiran dan dukungan orang lain juga diperlukan. Komunitas CISC ini hadir untuk mereka yang membutuhkan dukungan dari orang lain. Sebagian dari mereka ternyata mampu melawan ganasnya penyakit ini. Meski ada pula yang tak berhasil, padahal telah berupaya. Namun hal ini tidak menjadi alasan untuk menyerah.

“Anggota kami saat ini ada yang kena kanker usus, kanker hidung, kanker paru-paru, payudara, dan serviks. Kanker payudara yang paling banyak,” kata dia.

Melalui komunitas ini, ke depan ia berharap dapat berbuat lebih. Tidak hanya sekedar berbagi dan membantu secara finansial, pihaknya juga akan memperjuangkan fasilitas kesehatan bagi penderita kanker yang memadai di Kalbar. Menurutnya, saat ini fasilitas tersebut masih kurang. Tak heran bila banyak dari mereka yang berobat ke luar Kalbar, terutama di Jakarta.

Tetapi tentu saja biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Memang biaya pengobatan sudah ditutupi oleh BPJS, tetapi bagaimana dengan transportasi dan akomodasi selama di ibu kota? Hal inilah yang membutuhkan ongkos yang besar. “Bagi mereka yang punya uang, tentu saja tidak masalah. Tetapi bagi mereka yang tidak, bagaimana? Apalagi jika mereka itu berasal dari daerah yang jauh,” kata dia.

Pihaknya berharap ada perhatian lebih dari eksekutif dan legislatif terkait hal ini. Upaya pencegahan dan penanganan yang tercermin dari fasilitas kesehatan yang memadai harus segera diwujudkan. Salah satunya, adalah ketersedian dokter spesialis kanker.

“Di Kalbar ini juga perlu dokter onkologi. Inilah yang kami harapkan. Ke depan kami akan mendorong hal ini,” pungkas dia. (sti)

Kisah Para Penyintas Kanker yang Berhasil Sembuh

Keyakinan dan semangat hidup jadi modal utama untuk melawan ganasnya kanker yang menggerogoti tubuh. Tanpa keduanya, dengan obat-obatan dan tindakan medis sekalipun, rasanya akan sulit untuk pulih. Kedua hal inilah yang terus didorong oleh asosiasi Cancer Information and Support Center (CISC) bagi penderita kanker di tanah air. Tak terkecuali di Kalimantan Barat.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Adalah Nunung Sutiastuti Sainin, yang menginisiasi berdirinya CISC Kalbar. Berangkat dari pengalaman pribadi yang berhasil menjinakkan penyakit kanker yang diderita, membuat ibu dua anak ini punya semangat untuk berbagi.

“Tahun 2015 saya dinyatakan kanker payudara stadium 4, dan divonis hanya bertahan 9 bulan lagi, saya berusaha untuk bangkit. Saya katakan kepada Allah, saya ingin sehat. Kalau sehat, saya akan berbuat untuk sesama,” ungkap Nunung, saat ditemui Pontianak Post, Selasa (4/2), tepat di Hari Kanker Sedunia.

Karena itu berbagai upaya ia tempuh untuk melawan kanker payudara yang menggerogoti tubuhnya. Mulai dari cara herbal, upaya medis, hingga akhirnya memutuskan untuk dioperasi. Pengobatan tidak hanya dilakukan di Pontianak saja, ia juga harus terbang ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif. Apalagi di sana ada dokter spesialis onkologi.

Upaya medis memang wajib dilakukan dalam rangka menyembuhkan penyakit tersebut. Tetapi lebih dari itu, kata dia, semangat hidup harus kuat.

Memotivasi diri sendiri sangat diperlukan. Jangan sampai depresi, karena akan sangat mempengaruhi psikologi dan tentunya kondisi tubuh. Untung saja, keluarga dan orang sekitar mendukung. “Salah satu motivasi saya adalah kedua anak saya,” tutur dia.

Setelah serangkaian pengobatan, diiringi dengan doa yang tiada putus, masa-masa sulit dalam menghadapi ganasnya kanker mampu dilewati. Vonis yang dinyatakan tinggal 9 bulan itu, nyatanya tak dapat melawan takdir Ilahi. Empat tahun berselang setelah vonis itu, ternyata ia masih merasakan nikmatnya hidup. Boleh dikatakan sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Meski begitu, kondisi tubuh harus tetap dijaga.

Baca Juga :  Menikah Berteman Masker, Disinfektan, dan Hand Sanitizer

Selama masa pengobatan di tahun 2015 itulah, ia bertemu dengan banyak pasien yang menderita penyakit yang sama. Dari mereka pula ia dikenalkan dengan asosiasi CISC, sebuah komunitas yang bertujuan untuk memberikan dukungan serta layanan informasi pada masyarakat kanker dan orang awam. Komunitas itu, berpusat di Jakarta dan berdiri sejak tahun 2003.

“Saya waktu itu menawarkan diri untuk buka di Kalbar. Komunitas ini saya rasa perlu agar para penderita kanker bisa saling menyemangati dan berbagi informasi,” ucap dia.

Dimulai dari grup WhatsApp, ia mulai mencari anggota yang punya masalah serupa. Semula hanya beranggotakan lima orang saja. Dari mulut ke mulut, informasi mulai terdengar banyak telinga. Secara resmi, di Kalbar, komunitas ini terbentuk tahun 2017. “Saat ini anggota kami sekitar 90 orang, dari berbagai daerah di Kalbar,” sebut dia.

Selain diskusi dan saling menyemangati di grup WhatsApp tersebut, komunitas ini juga saling mengunjungi. Dari satu penderita satu ke penderita kanker lainnya. Mereka memberikan motivasi, dan bertukar informasi. Tak hanya itu, mereka juga bergotong royong membantu penderita yang kekurangan biaya. Mereka berupaya menghimpun dana, atau mencarikan bantuan lewat lembaga-lembaga yang bergerak dibidang kemanusiaan, atau komunitas yang peduli dengan kanker.  Termasuk salah satunya program Dompet Simpatik Pontianak Post.

“Pernah kami bantu salah satu penderita kanker untuk mendapat bantuan dana melalui program Dompet Simpatik,” kata dia.

Baca Juga :  Cegah Penularan Covid-19, Yayasan Mujahidin Hadirkan Pasar Juadah Online

Bagi Nunung, ikhtiar dan doa memang harus terus dilakukan bagi mereka yang diberikan ujian berupa penyakit. Kehadiran dan dukungan orang lain juga diperlukan. Komunitas CISC ini hadir untuk mereka yang membutuhkan dukungan dari orang lain. Sebagian dari mereka ternyata mampu melawan ganasnya penyakit ini. Meski ada pula yang tak berhasil, padahal telah berupaya. Namun hal ini tidak menjadi alasan untuk menyerah.

“Anggota kami saat ini ada yang kena kanker usus, kanker hidung, kanker paru-paru, payudara, dan serviks. Kanker payudara yang paling banyak,” kata dia.

Melalui komunitas ini, ke depan ia berharap dapat berbuat lebih. Tidak hanya sekedar berbagi dan membantu secara finansial, pihaknya juga akan memperjuangkan fasilitas kesehatan bagi penderita kanker yang memadai di Kalbar. Menurutnya, saat ini fasilitas tersebut masih kurang. Tak heran bila banyak dari mereka yang berobat ke luar Kalbar, terutama di Jakarta.

Tetapi tentu saja biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Memang biaya pengobatan sudah ditutupi oleh BPJS, tetapi bagaimana dengan transportasi dan akomodasi selama di ibu kota? Hal inilah yang membutuhkan ongkos yang besar. “Bagi mereka yang punya uang, tentu saja tidak masalah. Tetapi bagi mereka yang tidak, bagaimana? Apalagi jika mereka itu berasal dari daerah yang jauh,” kata dia.

Pihaknya berharap ada perhatian lebih dari eksekutif dan legislatif terkait hal ini. Upaya pencegahan dan penanganan yang tercermin dari fasilitas kesehatan yang memadai harus segera diwujudkan. Salah satunya, adalah ketersedian dokter spesialis kanker.

“Di Kalbar ini juga perlu dokter onkologi. Inilah yang kami harapkan. Ke depan kami akan mendorong hal ini,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/