alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Masjid Jami Radhiyatum Mardhiyah, Masjid Tua Berdiri Usai Indonesia Merdeka

Ramadan 2022 penuh semarak dilewati umat muslim di Kalimantan Barat. Tidak terkecuali ratusan jemaah Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah, Gang Besar, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Sebuah bangunan masjid yang terletak dalam gang dan tidak jauh dari bibir Sungai Kapuas ini menjadi tempat ibadah turun temurun warga setempat. Banyak kenangan yang tersimpan. Selain umur bangunannya sudah uzur, juga menjadi masjid pertama warga di Kampung Arang–sebutan bagi masyarakat Desa Arang Limbung dalam beribadah dan beraktivitas keagamaan. Seperti apa bentuk bangunannya?

Deny Hamdani, Pontianak

Seorang pemuda, Rama(28) tampak khusuk dengan tasbih di tangannya. Mengambil posisi duduk bersila, mulutnya tampak komat- kamit bergerak membaca sholawat, tasbih, dah tahmid. Ia bersama jemaah lain baru selesai melaksanakan solat zuhur di bulan puasa, bersama jemaah-jemaah lainnya. Memang, tidak ada yang istimewa selain ibadah sholat pada bulan Ramadhan oleh para jemaah, Namun bangunan masjid tua ini menyimpan banyak cerita hidup bagi warga sekitar.

“Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah di Gang Besar ini, dulunya adalah sebuah surau atau langgar kecil. Berdiri sekitar tahun 1950an silam. Dibangun dari kayu belian ulin tua kelas satu. Sudah berubah beberapa kali bentuk bangunannya. Namun pastinya masjid ini merupakan Masjid tertua kedua di Kampung Arang, dibandingkan bangunan masjid-masjid lain yang terletak menyebar,” ucap Haji Syahri, pengurus Masjid didampingi Syahrul, seorang Marbot masjid membuka cerita seusai sholat zuhur.

Menurut dia Masjid tertua pertama justru letaknya berada di bibir Sungai Kapuas, di Gang Masjid. Bangunan tersebut bahkan sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 silam. Masjid tersebut sampai sekarang masih berdiri.

Baca Juga :  Warga Sui Kunyit Laporkan Pengurus Masjid

“Selain sebagai cikal bakal untuk bangunan Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah, juga menjadi simbol dan aktivitas masyarakat melawan penjajah Jepang waktu itu,” ucapnya.

Bangunan masjid pertama yang terletak di bibir sungai, kemudian menjadi pikiran para pengurus Masjid. Waktu itu, mereka berpikir bangunan masjid yang baik dan dapat dinikmati beberapa generasi harus berada di daerah darat. Darat dimaksudkan adalah areal bangunan yang letaknya cukup jauh dari bibir Sungai Kapuas.

Lalu dipilihlah sebuah tanah wakap salah satu pengurus, untuk diteruskan dibangun cikal bakal Masjid Radhiyatum Mardiyah. Kebetulan juga letak masjid pertama dan cikal bakal Masjid Radhiyatum Mardhiyah tidak jauh. Jaraknya berkisar 1000 meter lebih. “Akhirnya diputuskan dibangun sekitar tahun 1950-an. Bangunan pertama semuanya pondasi dari kayu ulin belian kelas satu semua. Awalnya bukan Masjid tetapi Surau. Lama-lama dirubah karena jumlah jemaah terus bertambah,” katanya bercerita.

Syahri melanjutkan, memang yang paham dan fasih cerita masjid tertua di Kampung Arang ini adalah para pengurus tua. Sayangnya, rata-rata sudah tutup usia. Pengurus dahulu hingga sekarang, juga sudah beberapa kali berganti generasi. Tetapi, setidaknya para pengurus sekarang, masih paham bagaimana masjid pertama di Kampung Arang ini berdiri. Kampung Arang sendiri menjadi sebutan akrab buat masyarakat yang tinggal menyebar hampir pada sebagian wilayah di Kecamatan Sungai Raya.

Hanya pastinya, lanjut Haji Syahri bercerita bahwa wilayah pertama di Kampung Arang yang berdiri bangunan masjid adalah Masjid Jami Radhiyatum Mardhiyah. Belum ada di zaman itu, bangunan masjid lain. Waktu itu juga, banyak jemaah dari daerah lain banyak belajar dan menimba ilmu dari Masjid Jami Radhiyatum Mardhiyah. Masjid di Gang Besar ini menjadi primadona tempat belajar banyak jemaah dari daerah tetangga.

Baca Juga :  Pelajar SMP Santu Petrus Ukir Prestasi Nasional

“Kami masih kecil-kecil waktu itu. Hampir setiap sholat Ramadhan, bangunan Masjid selalu penuh jemaah. Suka sekali melihat kumpulan jemaah penuh sesak menimba berbagai ilmu agama,” kata pria yang sudah berumur lebih dari 60 tahun lebih ini.

Nah, seiring perkembangan zaman dengan gaya perkembangan bangunan rumah ibadah modern dan minimalis. Bangunan masjid ini juga banyak mengalami perombakan. Awalnya dari kayu ulin belian, berubah dengan bangunan semen-kawat nyamuk kini berdinding batako kokoh. Sekarang kelihat minimalis dengan berbagai ornamen lampu hias. Setidaknya sudah 4 atau 5 kali mengalami perombakan. Hanya pastinya, jemaah terus berganti dengan wajah-wajah baru dari keturunan cucu dan cicit para jemaah terdahulu.

Syahrul melanjutkan pastinya dari bangunan rumah ibadah tertua ini, tidak sedikit piagam dan penghargaan perlombaan disabet atas nama masjid. Para remaja sebelumnya sering kali berprestasi di berbagai perlombaan menyambutg hari raya keagaamaan. Entah itu, mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), lomba azan suara indah, qasidah, busana muslim dan aneka lomba lainnya. “Banyak sekali kenangannya. Kami hanya berharap, bahwa generasi penerus dan muda tetap akan melestariskan masjid ini sebagai simbol dan kebangaan masyarakat,” tukas dia.**

Ramadan 2022 penuh semarak dilewati umat muslim di Kalimantan Barat. Tidak terkecuali ratusan jemaah Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah, Gang Besar, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Sebuah bangunan masjid yang terletak dalam gang dan tidak jauh dari bibir Sungai Kapuas ini menjadi tempat ibadah turun temurun warga setempat. Banyak kenangan yang tersimpan. Selain umur bangunannya sudah uzur, juga menjadi masjid pertama warga di Kampung Arang–sebutan bagi masyarakat Desa Arang Limbung dalam beribadah dan beraktivitas keagamaan. Seperti apa bentuk bangunannya?

Deny Hamdani, Pontianak

Seorang pemuda, Rama(28) tampak khusuk dengan tasbih di tangannya. Mengambil posisi duduk bersila, mulutnya tampak komat- kamit bergerak membaca sholawat, tasbih, dah tahmid. Ia bersama jemaah lain baru selesai melaksanakan solat zuhur di bulan puasa, bersama jemaah-jemaah lainnya. Memang, tidak ada yang istimewa selain ibadah sholat pada bulan Ramadhan oleh para jemaah, Namun bangunan masjid tua ini menyimpan banyak cerita hidup bagi warga sekitar.

“Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah di Gang Besar ini, dulunya adalah sebuah surau atau langgar kecil. Berdiri sekitar tahun 1950an silam. Dibangun dari kayu belian ulin tua kelas satu. Sudah berubah beberapa kali bentuk bangunannya. Namun pastinya masjid ini merupakan Masjid tertua kedua di Kampung Arang, dibandingkan bangunan masjid-masjid lain yang terletak menyebar,” ucap Haji Syahri, pengurus Masjid didampingi Syahrul, seorang Marbot masjid membuka cerita seusai sholat zuhur.

Menurut dia Masjid tertua pertama justru letaknya berada di bibir Sungai Kapuas, di Gang Masjid. Bangunan tersebut bahkan sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 silam. Masjid tersebut sampai sekarang masih berdiri.

Baca Juga :  Pasokan Kedelai dan Permintaan Konsumen Tetap Normal

“Selain sebagai cikal bakal untuk bangunan Masjid Jami Radhiyatum Mardiyah, juga menjadi simbol dan aktivitas masyarakat melawan penjajah Jepang waktu itu,” ucapnya.

Bangunan masjid pertama yang terletak di bibir sungai, kemudian menjadi pikiran para pengurus Masjid. Waktu itu, mereka berpikir bangunan masjid yang baik dan dapat dinikmati beberapa generasi harus berada di daerah darat. Darat dimaksudkan adalah areal bangunan yang letaknya cukup jauh dari bibir Sungai Kapuas.

Lalu dipilihlah sebuah tanah wakap salah satu pengurus, untuk diteruskan dibangun cikal bakal Masjid Radhiyatum Mardiyah. Kebetulan juga letak masjid pertama dan cikal bakal Masjid Radhiyatum Mardhiyah tidak jauh. Jaraknya berkisar 1000 meter lebih. “Akhirnya diputuskan dibangun sekitar tahun 1950-an. Bangunan pertama semuanya pondasi dari kayu ulin belian kelas satu semua. Awalnya bukan Masjid tetapi Surau. Lama-lama dirubah karena jumlah jemaah terus bertambah,” katanya bercerita.

Syahri melanjutkan, memang yang paham dan fasih cerita masjid tertua di Kampung Arang ini adalah para pengurus tua. Sayangnya, rata-rata sudah tutup usia. Pengurus dahulu hingga sekarang, juga sudah beberapa kali berganti generasi. Tetapi, setidaknya para pengurus sekarang, masih paham bagaimana masjid pertama di Kampung Arang ini berdiri. Kampung Arang sendiri menjadi sebutan akrab buat masyarakat yang tinggal menyebar hampir pada sebagian wilayah di Kecamatan Sungai Raya.

Hanya pastinya, lanjut Haji Syahri bercerita bahwa wilayah pertama di Kampung Arang yang berdiri bangunan masjid adalah Masjid Jami Radhiyatum Mardhiyah. Belum ada di zaman itu, bangunan masjid lain. Waktu itu juga, banyak jemaah dari daerah lain banyak belajar dan menimba ilmu dari Masjid Jami Radhiyatum Mardhiyah. Masjid di Gang Besar ini menjadi primadona tempat belajar banyak jemaah dari daerah tetangga.

Baca Juga :  Pelajar SMP Santu Petrus Ukir Prestasi Nasional

“Kami masih kecil-kecil waktu itu. Hampir setiap sholat Ramadhan, bangunan Masjid selalu penuh jemaah. Suka sekali melihat kumpulan jemaah penuh sesak menimba berbagai ilmu agama,” kata pria yang sudah berumur lebih dari 60 tahun lebih ini.

Nah, seiring perkembangan zaman dengan gaya perkembangan bangunan rumah ibadah modern dan minimalis. Bangunan masjid ini juga banyak mengalami perombakan. Awalnya dari kayu ulin belian, berubah dengan bangunan semen-kawat nyamuk kini berdinding batako kokoh. Sekarang kelihat minimalis dengan berbagai ornamen lampu hias. Setidaknya sudah 4 atau 5 kali mengalami perombakan. Hanya pastinya, jemaah terus berganti dengan wajah-wajah baru dari keturunan cucu dan cicit para jemaah terdahulu.

Syahrul melanjutkan pastinya dari bangunan rumah ibadah tertua ini, tidak sedikit piagam dan penghargaan perlombaan disabet atas nama masjid. Para remaja sebelumnya sering kali berprestasi di berbagai perlombaan menyambutg hari raya keagaamaan. Entah itu, mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), lomba azan suara indah, qasidah, busana muslim dan aneka lomba lainnya. “Banyak sekali kenangannya. Kami hanya berharap, bahwa generasi penerus dan muda tetap akan melestariskan masjid ini sebagai simbol dan kebangaan masyarakat,” tukas dia.**

Most Read

Artikel Terbaru

/