alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Ratusan Anak Tertular Hepatitis Misterius, Bagaimana dengan Orang Dewasa?

Ratusan anak di dunia tertular hepatitis akut misterius. Disebut misterius karena memang belum diketahui apa penyebabnya. Saat ini kasus yang ada menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS, penderita hepatitis misterius baru terjadi pada bayi hingga anak usia 16 tahun.

Di Indonesia, tiga kematian akibat hepatitis misterius terjadi pada anak usia 2 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun. Di Singapura, bayi berusia 10 bulan tertular gejala mirip hepatitis seperti mual muntah diare hingga muncul gejala sakit kuning.

Ahli Spesialis Anak dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang juga merawat 3 kasus kematian anak, dr. Hanifah Oswari menjelaskan kasus hepatitis misterius saat ini sepertinya memang hanya mengincar anak-anak. Sejauh ini penyakit ini belum ditemukan pada orang dewasa.

Baca Juga :  Kisah Reni Nuryanti Penulis Buku Biografi Inggit Garnasih

“Dari laporan di banyak negara, kasus tertua 16 tahun. Tak ada lebih dari itu,” katanya dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan, Kamis (5/5).

Menurutnya, kebanyakan kasus didominasi pada anak di bawah 10 tahun. Bahkan di Inggris lebih banyak didominasi pada anak di bawah 5 tahun.

“Dan ternyata kebanyakan itu di bawah 10 tahun. Kelihatannya sampai saat ini khusus pada anak-anak saja,” katanya.

Menurutnya, penyakit ini masih disebut misterius karena memang belum diketahui penyebabnya. Pasien yang datang rata-rata didominasi anak-anak usia bayi hingga 16 tahun dan mereka dalam kondisi keluhan bersamaan.

“Dari 3 anak yang meninggal di Indonesia pun sudah dalam kondisi berat ketika datang ke rumah sakit. Pasien datang bersamaan dan cepat,” katanya.

Baca Juga :  Cegah Penularan Hepatitis di Kalbar, Masyarakat Diimbau Taat Prokes dan PHBS

Dan, meski gejalanya mirip hepatitis, namun virusnya bukan virus yang menyebabkan hepatitis A, B, C, D, dan E. Sehingga para ahli dunia termasuk Pusat Pencegahan dan Pengendalian (CDC) AS menilai penularan terjadi karena adenovirus 41.

“Bukan dari virus hepatitis pada umumnya A sampai E, tapi yang ini bukan disebabkan oleh virus itu,” ujar dr. Hanifah.

Maka, dr. Hanifah meminta para orang tua ketika anak-anak sudah merasakan gejala awal segera membawa anak mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Jangan tunggu sampai gejala sakit kuning muncul karena itu sudah terlambat dan bisa memicu transplantasi hati hingga kematian.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani/JP Group

Ratusan anak di dunia tertular hepatitis akut misterius. Disebut misterius karena memang belum diketahui apa penyebabnya. Saat ini kasus yang ada menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS, penderita hepatitis misterius baru terjadi pada bayi hingga anak usia 16 tahun.

Di Indonesia, tiga kematian akibat hepatitis misterius terjadi pada anak usia 2 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun. Di Singapura, bayi berusia 10 bulan tertular gejala mirip hepatitis seperti mual muntah diare hingga muncul gejala sakit kuning.

Ahli Spesialis Anak dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang juga merawat 3 kasus kematian anak, dr. Hanifah Oswari menjelaskan kasus hepatitis misterius saat ini sepertinya memang hanya mengincar anak-anak. Sejauh ini penyakit ini belum ditemukan pada orang dewasa.

Baca Juga :  Ingin Jadi Dosen, Keterbatasan Bukan Jadi Penghalang

“Dari laporan di banyak negara, kasus tertua 16 tahun. Tak ada lebih dari itu,” katanya dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan, Kamis (5/5).

Menurutnya, kebanyakan kasus didominasi pada anak di bawah 10 tahun. Bahkan di Inggris lebih banyak didominasi pada anak di bawah 5 tahun.

“Dan ternyata kebanyakan itu di bawah 10 tahun. Kelihatannya sampai saat ini khusus pada anak-anak saja,” katanya.

Menurutnya, penyakit ini masih disebut misterius karena memang belum diketahui penyebabnya. Pasien yang datang rata-rata didominasi anak-anak usia bayi hingga 16 tahun dan mereka dalam kondisi keluhan bersamaan.

“Dari 3 anak yang meninggal di Indonesia pun sudah dalam kondisi berat ketika datang ke rumah sakit. Pasien datang bersamaan dan cepat,” katanya.

Baca Juga :  Dia Melihat Hutan dan Kegores Kayu, Masak Aku Tidur Nyaman di Hotel

Dan, meski gejalanya mirip hepatitis, namun virusnya bukan virus yang menyebabkan hepatitis A, B, C, D, dan E. Sehingga para ahli dunia termasuk Pusat Pencegahan dan Pengendalian (CDC) AS menilai penularan terjadi karena adenovirus 41.

“Bukan dari virus hepatitis pada umumnya A sampai E, tapi yang ini bukan disebabkan oleh virus itu,” ujar dr. Hanifah.

Maka, dr. Hanifah meminta para orang tua ketika anak-anak sudah merasakan gejala awal segera membawa anak mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Jangan tunggu sampai gejala sakit kuning muncul karena itu sudah terlambat dan bisa memicu transplantasi hati hingga kematian.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani/JP Group

Most Read

Artikel Terbaru

/