alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Bertahan Hidup Dengan Uluran Tangan Para Tetangga

Kisah Ari dan Neneknya Halipah yang Hidup Dalam Keprihatinan

Andika Pratama atau yang akrab disapa Ari (17 tahun) hanya tersenyum malu saat rumah usang yang ia tinggali bersama neneknya, Halipah ramai didatangi warga. Sehari-hari, keduanya dapat bertahan hidup hanya dengan mengandalkan bantuan dari para tetangga. Kondisi mereka semakin memprihatinkan karena nenek Halipah saat ini terbaring lemah tak berdaya lantaran sakit.

SIGIT ADRIYANTO, Pontianak

ARI tinggal bersama neneknya di sebuah rumah di Jalan Parit Tengah, Gang Mawar, Pontianak Barat. Remaja ini sudah putus sekolah sejak beberapa tahun lalu. Setelah lulus SMP, ia tak lagi melanjutkan ke jenjang SMA karena kesulitan biaya. Ari tak bisa berbuat banyak untuk mengubah nasib mereka, keluar dari himpitan ekonomi yang semakin mencekik.

Menurut penjelasan Ari, kesehatan neneknya mulai memburuk saat ibunya yang merupakan anak semata wayang Halipah meninggal dunia sekitar setahun lalu. Usai kepergian putrinya tersebut, kondisi sang nenek perlahan mulai menurun. Kini Halipah hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur.

“Untuk penyakitnya saya kurang tahu. Nenek hanya bisa terbaring. Jadi, setiap hari saya hanya merawat nenek di rumah,” kata Ari, kemarin. Dari pantauan Pontianak Post, beberapa bagian bangunan rumah yang ditempati Ari dan Halipah ini sudah rusak parah dan perlu diperbaiki. Namun apa daya, mereka tidak punya biaya.

Jangankan untuk membenahi rumah, untuk kehidupan sehari-hari saja Ari dan neneknya hanya mengandalkan bantuan dari masyarakat sekitar.  Tetangga mereka sering mengulurkan tangan memberi berbagai kebutuhan sehari-hari, khususnya makanan.

Saat ditanya soal pendidikan, Ari menjawab dengan tegas bahwa sebenarnya ia masih ingin melanjutkan sekolah.  Namun, keadaan belum memungkinkan.  Terlebih lagi ia kini harus merawat sang nenek.

“Kalau ada kesempatan tentunya masih mau lagi lanjut sekolah. Tapi sudah tidak ada ibu yang membiayai,” ujarnya. Bahkan, sampai saat ini ijazah SMP-nya juga terpaksa tidak diambil dari sekolah lantaran ada biaya administrasi yang belum terselesaikan.

Ari mengaku sempat mencoba bekerja sebagai kuli angkut. Namun pekerjaan itu tidak lama ia tekuni. “Pernah kerja ngangkat beras di pasar, cuma berhenti soalnya tidak mampu,” katanya.

Kini hari-harinya  disibukkan dengan merawat sang nenek. Ia tak mengeluh meski harus mengesampingkan egonya dan mengurangi waktu bermain dengan anak seusianya.  “Waktu nenek sedang tidur baru saya keluar main sama teman-teman,” tuturnya.

Ke depan, Ari berharap ia dapat melanjutkan kembali pendidikannya. Ia juga berharap ada bantuan untuk pengobatan nenek tercintanya. Ia ingin melihat neneknya kembali sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Baca Juga :  Tetap di Rumah, Tetap Kreatif, Tetap Produktif

Di tempat yang sama, turut hadir di rumah Ari salah satu Anggota DPRD Kota Pontianak, Luthfi Almutahar. Wakil rakyat ini menilai kondisi Ari dan Nenek Halipah sangat memprihatinkan. Ia berharap semoga kondisi seperti Ari tidak ada lagi di tempat lain di Kota Pontianak.

“Tentunya saya sebagai wakil rakyat memperjuangkan agar tidak ada Ari-Ari yang lainnya lagi. Kalau bisa nanti kita panggil dinas-dinas terkait, kelurahan, camat, dan dinas sosial, karena kondisi tempat tinggal Ari itu juga harus diperhatikan. Belakang rumahnya sudah pada bocor, dan terutama masalah kesehatan,” ujarnya.

Di saat yang bersamaan, ia langsung menemani Ari pergi ke sekolahnya, yakni SMP Tunas Bhakti di Jalan Tebu untuk mengambil ijazah SMP Ari yang sebelumnya sempat tertahan. Di samping itu, Luthfi juga mencoba meminta kepala sekolah bersangkutan untuk bersama memperjuangkan keinginan Ari untuk melanjutkan sekolahnya lagi di tingkat SMA.

“Kita sudah bertemu dan ngobrol dengan kepala sekolah. Alhamdulillah respon mereka sangat baik. Namun terkait masalah penahanan ijazah tidak benar melainkan hanya sekadar miskomunikasi. Mengenai tunggakan belum dapat dikonfirmasi karena kepala sekolahnya baru diganti. Kalau nanti terbukti ada tunggakan, akan diputihkan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, pihak sekolah juga menjamin akan menyerahkan ijazah Ari. Hanya saja, saat ini keberadaan ijazah tersebut masih dicari. Apabila sudah ketemu akan diserahkan kepada Ari.

“Ini penting karena kita ketahui bersama bahwa Kota Pontianak telah mencanangkan untuk mewujudkan Kota Layak Anak. Nah, ini bisa jadi contoh supaya jangan ada Ari-Ari selanjutnya. Makanya kita akan mendorong dan kalau bisa warga-warga dapat aktif membantu dan antusias terhadap hal-hal seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP-SMA Tunas Bhakti, Dedi Novian mengungkapkan dirinya tak mengetahui secara pasti terkait masalah yang dialami Andika Pratama alias Ari tersebut. Apalagi soal penahanan ijazah dengan alasan tunggakan biaya administrasi.

“Saya tidak tahu karena saya baru menjabat selama enam bulan. Yang pasti kasus ini akan diusut dan kita akan bantu carikan ijazahnya,” ujar dia.

Dia mengatakan saat ini pihaknya akan langsung bergerak melakukan pencarian terhadap berkas Ari yang sebelumnya diketahui merupakan lulusan tahun 2017. Hal ini dilakukan utnuk memastikan keberadaan ijazah SMP milik Ari masih ada atau tidak. “Karena yang ditakutkan adalah ijazah itu dipegang oleh kepala sekolah yang lama dan sudah tidak di sini lagi,” tuturnya.

Baca Juga :  Selamat Setelah Tiga Hari Terjebak di Hutan Terbakar

Dia juga akan mencoba mengajukan kepada yayasan agar Ari dapat melanjutkan pendidikan dengan keringanan, bila perlu dibebaskan dari biaya dalam bentuk apapun. “Masalah biaya insyaAllah tidak jadi halangan, yang terpenting Ari mau melanjutkan sekolahnya,” jelas dia.

Ketua RT setempat, Gusnawati mengungkapkan bahwa nenek Ari, yakni Halipah yang saat ini sudah berusia 65 tahun sudah sakit sejak setahun lalu, usai anaknya meninggal dunia. Semenjak itu, Halipah memang sudah terlihat uring-uringan, bahkan sering ngomong sendiri.

“Kita sudah berusaha agar beliau dapat bantuan dari dinas sosial dan dinas kesehatan. Selain itu, warga juga sudah saya ajak untuk berpartisipasi dalam membantu seperti menjaga kebersihan rumahnya. Ya paling tidak buat lingkungan sekitar rumahnya bersih dan sehat,” paparnya.

Dari berbagai upaya yang dilakukan, pihak dinas terkait sudah memberikan respon positif. Nenek Halipah dan cucunya dijanjikan akan mendapat Bantuan Pangan Non Tunai di tahun 2020. Sebelum ini, kondisi Halipah juga sudah diperiksa dan dinyatakan bahwa yang bersangkutan mengidap darah tinggi serta ada masalah di bagian syaraf.

“Sebelumnya pernah dibawa berobat ke puskesmas, namun sudah lama saat kondisinya belum seperti ini. Baru tadi inilah diperiksa lagi. Hasilnya darah tinggi dan juga ada masalah di syaraf,” ujarnya.

Kendati demikian, Gusnawati mengatakan sebenarnya Halipah sudah pernah dapat jatah bantuan BPNT. Namun semenjak kepergian anaknya di tahun 2019, bantuan itu berhenti lantaran sudah tak berlaku lagi.

“Karena dari beliau ini sudah tua jadi tidak ada yang ngantar untuk ngambil beras. Sebelumnya sudah pernah dari raskin sampai BPNT. Pokoknya semenjak anaknya meninggal dia sudah tidak ngambil dan kartunya pun dia sudah lupa ada di mana. Jadi, waktu itu kita bersama warga berbongkar cari kartu, dan sudah kita ajukan lagi ke dinsos. Insyallah tahun 2020 ini akan dapat lagi,” jelasnya.

Sementara terkait sekolah Ari, dirinya mengatakan sebelumnya pernah mengajukan ke tingkat kelurahan. Namun langkah tersebut terhenti lantaran Ari tak memiliki ijazah asli yang diketahui masih belum di ambil sampai saat ini.

“Sudah coba diajukan hanya saja dari kelurahan tanya anak ini benar atau tidak mau sekolah, kalau benar akan kita usahakan ke sekolah negeri. Cuma saat itu Ari terkendala ijazah, sampai sekarang ijarah nya belum diambil,” pungkasnya. (*)

Kisah Ari dan Neneknya Halipah yang Hidup Dalam Keprihatinan

Andika Pratama atau yang akrab disapa Ari (17 tahun) hanya tersenyum malu saat rumah usang yang ia tinggali bersama neneknya, Halipah ramai didatangi warga. Sehari-hari, keduanya dapat bertahan hidup hanya dengan mengandalkan bantuan dari para tetangga. Kondisi mereka semakin memprihatinkan karena nenek Halipah saat ini terbaring lemah tak berdaya lantaran sakit.

SIGIT ADRIYANTO, Pontianak

ARI tinggal bersama neneknya di sebuah rumah di Jalan Parit Tengah, Gang Mawar, Pontianak Barat. Remaja ini sudah putus sekolah sejak beberapa tahun lalu. Setelah lulus SMP, ia tak lagi melanjutkan ke jenjang SMA karena kesulitan biaya. Ari tak bisa berbuat banyak untuk mengubah nasib mereka, keluar dari himpitan ekonomi yang semakin mencekik.

Menurut penjelasan Ari, kesehatan neneknya mulai memburuk saat ibunya yang merupakan anak semata wayang Halipah meninggal dunia sekitar setahun lalu. Usai kepergian putrinya tersebut, kondisi sang nenek perlahan mulai menurun. Kini Halipah hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur.

“Untuk penyakitnya saya kurang tahu. Nenek hanya bisa terbaring. Jadi, setiap hari saya hanya merawat nenek di rumah,” kata Ari, kemarin. Dari pantauan Pontianak Post, beberapa bagian bangunan rumah yang ditempati Ari dan Halipah ini sudah rusak parah dan perlu diperbaiki. Namun apa daya, mereka tidak punya biaya.

Jangankan untuk membenahi rumah, untuk kehidupan sehari-hari saja Ari dan neneknya hanya mengandalkan bantuan dari masyarakat sekitar.  Tetangga mereka sering mengulurkan tangan memberi berbagai kebutuhan sehari-hari, khususnya makanan.

Saat ditanya soal pendidikan, Ari menjawab dengan tegas bahwa sebenarnya ia masih ingin melanjutkan sekolah.  Namun, keadaan belum memungkinkan.  Terlebih lagi ia kini harus merawat sang nenek.

“Kalau ada kesempatan tentunya masih mau lagi lanjut sekolah. Tapi sudah tidak ada ibu yang membiayai,” ujarnya. Bahkan, sampai saat ini ijazah SMP-nya juga terpaksa tidak diambil dari sekolah lantaran ada biaya administrasi yang belum terselesaikan.

Ari mengaku sempat mencoba bekerja sebagai kuli angkut. Namun pekerjaan itu tidak lama ia tekuni. “Pernah kerja ngangkat beras di pasar, cuma berhenti soalnya tidak mampu,” katanya.

Kini hari-harinya  disibukkan dengan merawat sang nenek. Ia tak mengeluh meski harus mengesampingkan egonya dan mengurangi waktu bermain dengan anak seusianya.  “Waktu nenek sedang tidur baru saya keluar main sama teman-teman,” tuturnya.

Ke depan, Ari berharap ia dapat melanjutkan kembali pendidikannya. Ia juga berharap ada bantuan untuk pengobatan nenek tercintanya. Ia ingin melihat neneknya kembali sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Baca Juga :  Kisah Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Di tempat yang sama, turut hadir di rumah Ari salah satu Anggota DPRD Kota Pontianak, Luthfi Almutahar. Wakil rakyat ini menilai kondisi Ari dan Nenek Halipah sangat memprihatinkan. Ia berharap semoga kondisi seperti Ari tidak ada lagi di tempat lain di Kota Pontianak.

“Tentunya saya sebagai wakil rakyat memperjuangkan agar tidak ada Ari-Ari yang lainnya lagi. Kalau bisa nanti kita panggil dinas-dinas terkait, kelurahan, camat, dan dinas sosial, karena kondisi tempat tinggal Ari itu juga harus diperhatikan. Belakang rumahnya sudah pada bocor, dan terutama masalah kesehatan,” ujarnya.

Di saat yang bersamaan, ia langsung menemani Ari pergi ke sekolahnya, yakni SMP Tunas Bhakti di Jalan Tebu untuk mengambil ijazah SMP Ari yang sebelumnya sempat tertahan. Di samping itu, Luthfi juga mencoba meminta kepala sekolah bersangkutan untuk bersama memperjuangkan keinginan Ari untuk melanjutkan sekolahnya lagi di tingkat SMA.

“Kita sudah bertemu dan ngobrol dengan kepala sekolah. Alhamdulillah respon mereka sangat baik. Namun terkait masalah penahanan ijazah tidak benar melainkan hanya sekadar miskomunikasi. Mengenai tunggakan belum dapat dikonfirmasi karena kepala sekolahnya baru diganti. Kalau nanti terbukti ada tunggakan, akan diputihkan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, pihak sekolah juga menjamin akan menyerahkan ijazah Ari. Hanya saja, saat ini keberadaan ijazah tersebut masih dicari. Apabila sudah ketemu akan diserahkan kepada Ari.

“Ini penting karena kita ketahui bersama bahwa Kota Pontianak telah mencanangkan untuk mewujudkan Kota Layak Anak. Nah, ini bisa jadi contoh supaya jangan ada Ari-Ari selanjutnya. Makanya kita akan mendorong dan kalau bisa warga-warga dapat aktif membantu dan antusias terhadap hal-hal seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP-SMA Tunas Bhakti, Dedi Novian mengungkapkan dirinya tak mengetahui secara pasti terkait masalah yang dialami Andika Pratama alias Ari tersebut. Apalagi soal penahanan ijazah dengan alasan tunggakan biaya administrasi.

“Saya tidak tahu karena saya baru menjabat selama enam bulan. Yang pasti kasus ini akan diusut dan kita akan bantu carikan ijazahnya,” ujar dia.

Dia mengatakan saat ini pihaknya akan langsung bergerak melakukan pencarian terhadap berkas Ari yang sebelumnya diketahui merupakan lulusan tahun 2017. Hal ini dilakukan utnuk memastikan keberadaan ijazah SMP milik Ari masih ada atau tidak. “Karena yang ditakutkan adalah ijazah itu dipegang oleh kepala sekolah yang lama dan sudah tidak di sini lagi,” tuturnya.

Baca Juga :  Tiap Dua Tahun IQ sang Anak Terus Bertambah

Dia juga akan mencoba mengajukan kepada yayasan agar Ari dapat melanjutkan pendidikan dengan keringanan, bila perlu dibebaskan dari biaya dalam bentuk apapun. “Masalah biaya insyaAllah tidak jadi halangan, yang terpenting Ari mau melanjutkan sekolahnya,” jelas dia.

Ketua RT setempat, Gusnawati mengungkapkan bahwa nenek Ari, yakni Halipah yang saat ini sudah berusia 65 tahun sudah sakit sejak setahun lalu, usai anaknya meninggal dunia. Semenjak itu, Halipah memang sudah terlihat uring-uringan, bahkan sering ngomong sendiri.

“Kita sudah berusaha agar beliau dapat bantuan dari dinas sosial dan dinas kesehatan. Selain itu, warga juga sudah saya ajak untuk berpartisipasi dalam membantu seperti menjaga kebersihan rumahnya. Ya paling tidak buat lingkungan sekitar rumahnya bersih dan sehat,” paparnya.

Dari berbagai upaya yang dilakukan, pihak dinas terkait sudah memberikan respon positif. Nenek Halipah dan cucunya dijanjikan akan mendapat Bantuan Pangan Non Tunai di tahun 2020. Sebelum ini, kondisi Halipah juga sudah diperiksa dan dinyatakan bahwa yang bersangkutan mengidap darah tinggi serta ada masalah di bagian syaraf.

“Sebelumnya pernah dibawa berobat ke puskesmas, namun sudah lama saat kondisinya belum seperti ini. Baru tadi inilah diperiksa lagi. Hasilnya darah tinggi dan juga ada masalah di syaraf,” ujarnya.

Kendati demikian, Gusnawati mengatakan sebenarnya Halipah sudah pernah dapat jatah bantuan BPNT. Namun semenjak kepergian anaknya di tahun 2019, bantuan itu berhenti lantaran sudah tak berlaku lagi.

“Karena dari beliau ini sudah tua jadi tidak ada yang ngantar untuk ngambil beras. Sebelumnya sudah pernah dari raskin sampai BPNT. Pokoknya semenjak anaknya meninggal dia sudah tidak ngambil dan kartunya pun dia sudah lupa ada di mana. Jadi, waktu itu kita bersama warga berbongkar cari kartu, dan sudah kita ajukan lagi ke dinsos. Insyallah tahun 2020 ini akan dapat lagi,” jelasnya.

Sementara terkait sekolah Ari, dirinya mengatakan sebelumnya pernah mengajukan ke tingkat kelurahan. Namun langkah tersebut terhenti lantaran Ari tak memiliki ijazah asli yang diketahui masih belum di ambil sampai saat ini.

“Sudah coba diajukan hanya saja dari kelurahan tanya anak ini benar atau tidak mau sekolah, kalau benar akan kita usahakan ke sekolah negeri. Cuma saat itu Ari terkendala ijazah, sampai sekarang ijarah nya belum diambil,” pungkasnya. (*)

Most Read

Bangun Homesty di Pulau Juante

Pontianak Kualitas Udara Terbersih

Tiga PDP Meninggal Dunia

Enam Tersangka Korupsi Ditahan

Artikel Terbaru

/