alexametrics
25.6 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Liku-Liku Novendra Priasmoro Jadi Grand Master Catur Ke-8 Indonesia

Terima Tantangan Ketum Percasi untuk Tidak Nikah Dulu demi Super GM

Masalah keluarga sempat membuat Novendra Priasmoro drop. Semangatnya patah. Ia pun meninggalkan catur selama enam bulan. Seiring masalah keluarga itu selesai, ia kembali bangkit dan akhirnya mampu meraih impian menjadi seorang grand master.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

RIBUAN kilometer jarak yang menghubungkan Jakarta di Indonesia dengan Bangkok, ibu kota Thailand, dan Liberec, kota di utara Republik Ceko. Seberliku itu pula rute yang mesti ditempuh Novendra Priasmoro sampai akhirnya sampai pada raihan membanggakan: jadi pecatur tanah air kedelapan yang berhasil menjadi grand master (GM).

”Saya sebenarnya menargetkan jadi GM tahun lalu. Tapi tentu tetap bersyukur dan senang sekali karena impian saya dari sejak baru belajar main catur itu ya meraih GM,” ungkapnya di sela acara penyambutan dirinya di Jakarta pada Kamis lalu (5/3).

Impian itu mulai dipupuknya pada siang-siang setiap pulang sekolah, saat menyaksikan sang ayah, Djoko Istanto, bermain catur bersama teman-temannya di rumah mereka di Jakarta. Usianya baru 7 tahun pada 2006 itu, tetapi catur telah membuatnya lupa pada layang-layang, PlayStation, atau handphone –hal-hal yang biasanya mengasyikkan bagi anak-anak lelaki seusianya.

Ayahnya, seorang pecatur bergelar master nasional, jadi mentor pertamanya. ”Saya ditanya mau sekolah catur nggak, saya bilang mau. Langsung disekolahkan,” kenang pecatur 20 tahun itu.

Dimulailah liku-liku pecatur binaan United Tractors yang berulang tahun tiap 24 November ini menggeluti ”olahraga otak”. Melewati momen-momen yang menerbangkannya jauh ke angkasa, tapi juga tak jarang membantingnya kembali ke bumi.

Kemenangan itu menggumpalkan keyakinannya. ‘Bisa nih jadi GM tahun depan’, kira-kira begitu pikirnya.

Sebab, Hrant Melkumyan yang dia kalahkan di Bangkok Open 2018 itu seorang GM ber-Elo rating 2.669. Elo rating adalah suatu metode untuk menghitung tingkat keterampilan pemain pada permainan antara dua orang seperti catur. Untuk bisa sampai taraf GM, dibutuhkan Elo rating minimal 2.500.

Pecatur Armenia itu dia kalahkan pada babak ketujuh langkah ke-52. Sebelum keberhasilan menjuarai turnamen di ibu kota Thailand itu, Novendra sudah menggondol sederet gelar. Mulai dari level nasional seperti APPSO (2012) di Indonesia sampai ke tingkat internasional misalnya World School Brazil (2014) dan Asian Junior U-20 Filipina (2017).

Gelar di Bangkok itu membuat Elo ratingnya mencapai 2.449. ”Kesuksesan di Bangkok itu membuat saya mulai percaya diri (meraih GM). Sebelumnya masih ragu karena banyak di turnamen open masih sering banget kalah. Tidak stabil,” paparnya.

Sebelum sampai ke titik itu, berbagai kesulitan menghajar Novendra lebih dulu. Tahun 2012, misalnya, adalah tahun ”nano-nano” baginya.

Baca Juga :  Denny Muslimim, Pendidikan Gratis  hingga Wujudkan Apotek Mini di Tiap Desa

Pada tahun itu, kondisi keluarganya sedang tidak baik. Kedua orang tuanya hampir berpisah. Novendra pun mengaku hampir drop hingga sempat tidak bermain catur selama sekitar enam bulan. Sebab, dia merasa tidak ada yang mendukungnya lagi.

”Tapi, akhirnya mereka (orang tua) nyatu lagi,” kenangnya.

Dia pun akhirnya balik ke dunia yang dicintainya itu. ”Lagi-lagi bapak yang mengajak saya untuk main catur,” beber anak pasangan Djoko Istanto-Musringatun itu.

Prestasi demi prestasi pun berhasil dia torehkan. Hingga kesempatan mewujudkan mimpi besarnya tersebut sampai di depan mata: menjadi GM, di turnamen di kandang sendiri, Jakarta Open Dwi Tarung Chess International.

Elo rating Novendra sudah 2.495. Artinya, hanya butuh 5 poin untuk bisa meraih GM. Dengan 6 babak yang dijalani, peluang Novendra cukup besar.

Namun, hasilnya di luar ekspektasi. Catatan 3 kemenangan dan 3 kekalahan melawan pecatur asal Vietnam Nguyen Anh Dung membuat rating Novendra turun dua angka menjadi 2.493. Sebab, saat itu rating Nguyen berada di bawah Novendra dengan 2.471.

Kandas. Novendra mencoba lagi di Praha Chess Open. Dengan rating 2.493, dia menduduki unggulan ke-8 dalam turnamen tersebut. Dengan 9 babak, Novendra sempat ngegas di tiga laga awal. Ia menyapu bersih kemenangan.

Ratingnya pun bertambah 5,2 poin. Artinya, Novendra hanya membutuhkan 1,8 poin untuk jadi GM. Sayang, di dua laga selanjutnya, Novendra gagal menang. Hanya bisa remis saat lawan Alexsey Kislinsky (2.440) dan kalah menghadapi Julian Kramer (2.400). Dua laga itu membuat ratingnya kembali turun 7 poin.

Di empat laga sisa, Novendra mencatatkan dua kemenangan dan dua kekalahan. Alhasil, ajang itu berkesudahan dengan rating Novendra minus 4 poin.

Elo ratingnya pun menjadi 2.489. Memang hal itu tak sampai membuatnya seperti pungguk yang merindukan bulan tetapi juga tidak mendekatkannya pada gelar GM.

Butuh 11 poin lagi untuk bisa sampai ke titel impian tersebut. Gelar itu baru bisa diraihnya di tantangan berikutnya: Liberec Open. Di turnamen tersebut, ia diunggulkan di posisi pertama.

Artinya, secara teknis, ia semestinya bisa mengatasi semua lawan. Di saat yang sama, ia juga harus bisa ”mengalahkan” diri sendiri: menepis inkonsistensi.

Empat jam sudah Novendra bertarung dengan pecatur asal Polandia itu, Franciszek Sernecki. Menjaga konsentrasi dan beradu strategi. Sampai akhirnya keduanya sepakat untuk remis.

Hasil imbang itu menguras 3,3 poin Novendra. Sebab, lawannya memiliki Elo rating lebih rendah darinya. Akhirnya yang ia impikan tercapai juga di babak ketujuh dari sembilan babak yang harus dilewati. Kemenangan atas pecatur perempuan asal Polandia bernama Kulon Klaudia memastikan Novendra menjadi GM.

Baca Juga :  Saat Belum Lancar Baca pun Bisa Cerita

Dia GM kedelapan Indonesia setelah Herman Suradiraja, Ardiansyah, Utut Adianto Wahyuwidayat, Edhi Handoko, Cerdas Barus, Ruben Gunawan, dan Susanto Megaranto. Novendralah pecatur Indonesia pertama yang sukses melakukannya dalam 16 tahun terakhir.

”Di turnamen-turnamen sebelumnya saya terlalu tegang, jadi tidak lepas mainnya. Di Liberec Open itu jadinya main santai saja,” ucapnya, mengenang kesuksesan yang diraih di turnamen yang berlangsung pada 22–29 Februari lalu itu.

***

”Ini pengurus PB (Pengurus Besar) Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) paling komplet yang datang di suatu acara. Biasanya ngawinin anak saja tidak seramai ini lho,” kata Utut Adianto yang langsung disambut tawa hadirin.

Ketua umum (Ketum) PB Percasi itu melemparkan guyonan tersebut saat memberikan sambutan dalam syukuran atas keberhasilan Novendra jadi GM. Bagi anggota DPR tersebut, kekompletan itu wujud kebanggaan atas raihan Novendra.

”Saya sempat bilang ke Kris (Kristianus Liem, Kabidinpres PB Percasi, Red), Novendra ini pemain kuat apa ayam sayur. Ternyata kan dibuktikan sudah bisa jadi GM,” ucapnya.

Meski demikian, ia menantang Novendra untuk meningkatkan kualitas hingga mencapai super GM. Untuk mencapai taraf itu, setiap pecatur harus mengumpulkan rating sebanyak 2.700. ”Meraih GM itu bukan end of journey. Novendra jangan langsung nikah, ya,” kata Utut, satu-satunya pecatur Indonesia yang pernah bergelar super GM itu, lagi-lagi disambut tawa yang hadir.

Bukannya Utut melarang Novendra menikah. Hanya saja, sepengetahuannya, banyak atlet Indonesia yang performanya menurun setelah berumah tangga.

Novendra menyambut dengan senang hati tantangan Ketum Percasi tersebut. ”Iya, siap saja. Kan masih muda juga, 20 tahun sekarang,” katanya.

Apalagi, ia sendiri memang berambisi menjadi super GM. Rencana ke arah itu pun sudah disusun, dengan dukungan United Tractors. ”Kalau saya sih nargetin 2–3 tahun bisa naikin Elo rating (hingga bisa jadi super GM),” katanya.

Untuk itu, dia akan sangat serius berlatih. Termasuk dengan tidak meninggalkan ”pola latihan” lama: main catur di lapak. Ini kebiasaan yang juga diperkenalkan sang ayah.

Lapak di sekitar Cawang–Bekasi-lah yang sering dikunjungi. Bermain di tempat itu disebutnya memiliki tantangan tersendiri. Sebab, kebanyakan pecatur main tanpa menggunakan teori, melainkan ilmu alam.

”Jadi, biar sparing saja kali ya, sering main dengan variasi lain. Selain itu nambah pengalaman dan wawasan baru,” katanya.

Novendra mengaku tak ingin lepas dari catur sampai usia lanjut kelak. Meski demikian, tidak berarti dia tidak punya angan-angan lain. ”Saya sih pernah mikir abis dari catur mau ke mana, mungkin buka usaha dari sebagian hasil saya. Nanti deh dipikirkan lagi,” katanya. (*/c10/ttg)

Terima Tantangan Ketum Percasi untuk Tidak Nikah Dulu demi Super GM

Masalah keluarga sempat membuat Novendra Priasmoro drop. Semangatnya patah. Ia pun meninggalkan catur selama enam bulan. Seiring masalah keluarga itu selesai, ia kembali bangkit dan akhirnya mampu meraih impian menjadi seorang grand master.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

RIBUAN kilometer jarak yang menghubungkan Jakarta di Indonesia dengan Bangkok, ibu kota Thailand, dan Liberec, kota di utara Republik Ceko. Seberliku itu pula rute yang mesti ditempuh Novendra Priasmoro sampai akhirnya sampai pada raihan membanggakan: jadi pecatur tanah air kedelapan yang berhasil menjadi grand master (GM).

”Saya sebenarnya menargetkan jadi GM tahun lalu. Tapi tentu tetap bersyukur dan senang sekali karena impian saya dari sejak baru belajar main catur itu ya meraih GM,” ungkapnya di sela acara penyambutan dirinya di Jakarta pada Kamis lalu (5/3).

Impian itu mulai dipupuknya pada siang-siang setiap pulang sekolah, saat menyaksikan sang ayah, Djoko Istanto, bermain catur bersama teman-temannya di rumah mereka di Jakarta. Usianya baru 7 tahun pada 2006 itu, tetapi catur telah membuatnya lupa pada layang-layang, PlayStation, atau handphone –hal-hal yang biasanya mengasyikkan bagi anak-anak lelaki seusianya.

Ayahnya, seorang pecatur bergelar master nasional, jadi mentor pertamanya. ”Saya ditanya mau sekolah catur nggak, saya bilang mau. Langsung disekolahkan,” kenang pecatur 20 tahun itu.

Dimulailah liku-liku pecatur binaan United Tractors yang berulang tahun tiap 24 November ini menggeluti ”olahraga otak”. Melewati momen-momen yang menerbangkannya jauh ke angkasa, tapi juga tak jarang membantingnya kembali ke bumi.

Kemenangan itu menggumpalkan keyakinannya. ‘Bisa nih jadi GM tahun depan’, kira-kira begitu pikirnya.

Sebab, Hrant Melkumyan yang dia kalahkan di Bangkok Open 2018 itu seorang GM ber-Elo rating 2.669. Elo rating adalah suatu metode untuk menghitung tingkat keterampilan pemain pada permainan antara dua orang seperti catur. Untuk bisa sampai taraf GM, dibutuhkan Elo rating minimal 2.500.

Pecatur Armenia itu dia kalahkan pada babak ketujuh langkah ke-52. Sebelum keberhasilan menjuarai turnamen di ibu kota Thailand itu, Novendra sudah menggondol sederet gelar. Mulai dari level nasional seperti APPSO (2012) di Indonesia sampai ke tingkat internasional misalnya World School Brazil (2014) dan Asian Junior U-20 Filipina (2017).

Gelar di Bangkok itu membuat Elo ratingnya mencapai 2.449. ”Kesuksesan di Bangkok itu membuat saya mulai percaya diri (meraih GM). Sebelumnya masih ragu karena banyak di turnamen open masih sering banget kalah. Tidak stabil,” paparnya.

Sebelum sampai ke titik itu, berbagai kesulitan menghajar Novendra lebih dulu. Tahun 2012, misalnya, adalah tahun ”nano-nano” baginya.

Baca Juga :  Nammong, Minuman Berkhasiat Khas Sambas yang Melegenda dan Kian Langka

Pada tahun itu, kondisi keluarganya sedang tidak baik. Kedua orang tuanya hampir berpisah. Novendra pun mengaku hampir drop hingga sempat tidak bermain catur selama sekitar enam bulan. Sebab, dia merasa tidak ada yang mendukungnya lagi.

”Tapi, akhirnya mereka (orang tua) nyatu lagi,” kenangnya.

Dia pun akhirnya balik ke dunia yang dicintainya itu. ”Lagi-lagi bapak yang mengajak saya untuk main catur,” beber anak pasangan Djoko Istanto-Musringatun itu.

Prestasi demi prestasi pun berhasil dia torehkan. Hingga kesempatan mewujudkan mimpi besarnya tersebut sampai di depan mata: menjadi GM, di turnamen di kandang sendiri, Jakarta Open Dwi Tarung Chess International.

Elo rating Novendra sudah 2.495. Artinya, hanya butuh 5 poin untuk bisa meraih GM. Dengan 6 babak yang dijalani, peluang Novendra cukup besar.

Namun, hasilnya di luar ekspektasi. Catatan 3 kemenangan dan 3 kekalahan melawan pecatur asal Vietnam Nguyen Anh Dung membuat rating Novendra turun dua angka menjadi 2.493. Sebab, saat itu rating Nguyen berada di bawah Novendra dengan 2.471.

Kandas. Novendra mencoba lagi di Praha Chess Open. Dengan rating 2.493, dia menduduki unggulan ke-8 dalam turnamen tersebut. Dengan 9 babak, Novendra sempat ngegas di tiga laga awal. Ia menyapu bersih kemenangan.

Ratingnya pun bertambah 5,2 poin. Artinya, Novendra hanya membutuhkan 1,8 poin untuk jadi GM. Sayang, di dua laga selanjutnya, Novendra gagal menang. Hanya bisa remis saat lawan Alexsey Kislinsky (2.440) dan kalah menghadapi Julian Kramer (2.400). Dua laga itu membuat ratingnya kembali turun 7 poin.

Di empat laga sisa, Novendra mencatatkan dua kemenangan dan dua kekalahan. Alhasil, ajang itu berkesudahan dengan rating Novendra minus 4 poin.

Elo ratingnya pun menjadi 2.489. Memang hal itu tak sampai membuatnya seperti pungguk yang merindukan bulan tetapi juga tidak mendekatkannya pada gelar GM.

Butuh 11 poin lagi untuk bisa sampai ke titel impian tersebut. Gelar itu baru bisa diraihnya di tantangan berikutnya: Liberec Open. Di turnamen tersebut, ia diunggulkan di posisi pertama.

Artinya, secara teknis, ia semestinya bisa mengatasi semua lawan. Di saat yang sama, ia juga harus bisa ”mengalahkan” diri sendiri: menepis inkonsistensi.

Empat jam sudah Novendra bertarung dengan pecatur asal Polandia itu, Franciszek Sernecki. Menjaga konsentrasi dan beradu strategi. Sampai akhirnya keduanya sepakat untuk remis.

Hasil imbang itu menguras 3,3 poin Novendra. Sebab, lawannya memiliki Elo rating lebih rendah darinya. Akhirnya yang ia impikan tercapai juga di babak ketujuh dari sembilan babak yang harus dilewati. Kemenangan atas pecatur perempuan asal Polandia bernama Kulon Klaudia memastikan Novendra menjadi GM.

Baca Juga :  Denny Muslimim, Pendidikan Gratis  hingga Wujudkan Apotek Mini di Tiap Desa

Dia GM kedelapan Indonesia setelah Herman Suradiraja, Ardiansyah, Utut Adianto Wahyuwidayat, Edhi Handoko, Cerdas Barus, Ruben Gunawan, dan Susanto Megaranto. Novendralah pecatur Indonesia pertama yang sukses melakukannya dalam 16 tahun terakhir.

”Di turnamen-turnamen sebelumnya saya terlalu tegang, jadi tidak lepas mainnya. Di Liberec Open itu jadinya main santai saja,” ucapnya, mengenang kesuksesan yang diraih di turnamen yang berlangsung pada 22–29 Februari lalu itu.

***

”Ini pengurus PB (Pengurus Besar) Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) paling komplet yang datang di suatu acara. Biasanya ngawinin anak saja tidak seramai ini lho,” kata Utut Adianto yang langsung disambut tawa hadirin.

Ketua umum (Ketum) PB Percasi itu melemparkan guyonan tersebut saat memberikan sambutan dalam syukuran atas keberhasilan Novendra jadi GM. Bagi anggota DPR tersebut, kekompletan itu wujud kebanggaan atas raihan Novendra.

”Saya sempat bilang ke Kris (Kristianus Liem, Kabidinpres PB Percasi, Red), Novendra ini pemain kuat apa ayam sayur. Ternyata kan dibuktikan sudah bisa jadi GM,” ucapnya.

Meski demikian, ia menantang Novendra untuk meningkatkan kualitas hingga mencapai super GM. Untuk mencapai taraf itu, setiap pecatur harus mengumpulkan rating sebanyak 2.700. ”Meraih GM itu bukan end of journey. Novendra jangan langsung nikah, ya,” kata Utut, satu-satunya pecatur Indonesia yang pernah bergelar super GM itu, lagi-lagi disambut tawa yang hadir.

Bukannya Utut melarang Novendra menikah. Hanya saja, sepengetahuannya, banyak atlet Indonesia yang performanya menurun setelah berumah tangga.

Novendra menyambut dengan senang hati tantangan Ketum Percasi tersebut. ”Iya, siap saja. Kan masih muda juga, 20 tahun sekarang,” katanya.

Apalagi, ia sendiri memang berambisi menjadi super GM. Rencana ke arah itu pun sudah disusun, dengan dukungan United Tractors. ”Kalau saya sih nargetin 2–3 tahun bisa naikin Elo rating (hingga bisa jadi super GM),” katanya.

Untuk itu, dia akan sangat serius berlatih. Termasuk dengan tidak meninggalkan ”pola latihan” lama: main catur di lapak. Ini kebiasaan yang juga diperkenalkan sang ayah.

Lapak di sekitar Cawang–Bekasi-lah yang sering dikunjungi. Bermain di tempat itu disebutnya memiliki tantangan tersendiri. Sebab, kebanyakan pecatur main tanpa menggunakan teori, melainkan ilmu alam.

”Jadi, biar sparing saja kali ya, sering main dengan variasi lain. Selain itu nambah pengalaman dan wawasan baru,” katanya.

Novendra mengaku tak ingin lepas dari catur sampai usia lanjut kelak. Meski demikian, tidak berarti dia tidak punya angan-angan lain. ”Saya sih pernah mikir abis dari catur mau ke mana, mungkin buka usaha dari sebagian hasil saya. Nanti deh dipikirkan lagi,” katanya. (*/c10/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/