alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Wisata Natuna Setelah Jadi Observasi WNI dari Wuhan 

Punya Tempat-Tempat Baru, Yakin Kembali Gaet Turis

Dunia pariwisata Natuna goyah oleh kebijakan penempatan observasi virus corona WNI di Lanud Raden Sadjad. Ratusan trip wisata dijadwal ulang. Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangat pegiat wisata. Mereka merasa bisa mendapat berkah di balik ini.

Ilham Wancoko, Natuna

KALA 238 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Tiongkok, tiba di Bandara Raden Sadjad, Natuna, Minggu (2/2), setidaknya 20 trip wisata di Kiki Travel dijadwal ulang. Bahkan, sebuah rencana pernikahan yang akan digelar di ikon pariwisata Natuna, Alif Stone Park, dengan 120 tamu terpaksa dibatalkan.

Nasib serupa dialami puluhan travel wisata lain di Natuna. Kiki Firdaus, owner Kiki Travel, menceritakan, banyak pengusaha wisata yang mengeluhkan penjadwalan ulang para turis tersebut. ”Memang penempatan observasi WNI Wuhan di Natuna ini berdampak besar. Itulah mengapa minimnya sosialisasi disayangkan,” ujar lelaki yang sekaligus menjadi ketua komunitas pegiat wisata Natuna bernama Generasi Pesona Indonesia (GenPI) tersebut.

Serangkaian penjadwalan ulang trip itu membuat destinasi wisata sepi. Untuk menghemat biaya operasional, pemerintah kabupaten (pemkab) sempat menutup sementara 119 tempat. ”Tutup sejak 2 Februari, tapi sudah diminta buka semua Rabu (5/2),” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna Hardinansyah.

Sejatinya, ada dua kejadian yang mengguncang pariwisata Natuna. Pertama, konflik Laut China Selatan yang dipicu masuknya nelayan Tiongkok ke perairan Natuna. ”Saya dengar sendiri, ada wisatawan ragu ke Natuna karena adanya konflik itu. Padahal, sebenarnya jauh sekali itu,” tutur Hardinansyah.

Kejadian kedua dan paling terasa adalah penempatan observasi WNI dari Wuhan. Hardinansyah memandang bahwa dua peristiwa itu sebetulnya bisa menjadi pijakan untuk membuat wisata di Natuna booming. ”Jangka pendek memang dampaknya buruk, tapi jangka panjang justru bisa bikin Natuna booming,” jelasnya.

Baca Juga :  Hari Pertama di Sekolah-Sekolah Korban Banjir

Caranya dengan memanfaatkan viralnya Natuna. Dia mengatakan, inilah saat tepat mempromosikan wisata Natuna. Kabupaten yang masuk dalam Provinsi Kepulauan Riau itu memiliki banyak jujukan menarik. Salah satu yang menjadi andalan adalah situs taman bumi Geopark Natuna.

Tempat tersebut menyajikan kumpulan batuan raksasa geosite yang sudah berumur ratusan juta tahun. Kementerian Pariwisata bahkan berniat memasukkannya sebagai kawasan Geopark Nasional.

Selain itu, Natuna punya potensi ikan yang mencapai 1 juta ton. ”Jepang berencana investasi pariwisata dan perikanan, lho,” ujarnya.

Kiki Firdaus menceritakan, saat ini GenPI gencar meningkatkan angka kunjungan ke Natuna. Mereka terus mencari destinasi wisata baru. ”Banyak lho tempat wisata yang kami temukan,” ujarnya.

Di antaranya, air terjun di Desa Pengadah. Awalnya, objek wisata itu hanya diketahui orang tua di desa tersebut. Dari mulut ke mulut bahwa ada air terjun bertingkat yang indah di tengah hutan. Informasi itu sampai ke salah seorang anggota GenPI. ”Orang tua kan dulu ke hutan cari kayu atau durian hutan. Setelah generasi milenial tahu, dicari air terjun itu,” ujarnya.

Sebelum hunting air terjun tersebut, semua informasi dikumpulkan. Sesepuh yang pernah ke sana menceritakan pernah menemukan pohon, batu tertentu, dan sebagainya. ”Ya, memang karena tidak ada jalur atau jalan menuju ke sana. Lewat tengah hutan,” tuturnya.

Pencarian dimulai akhir 2018. Bergantian setiap tim mencari ke tengah hutan. Berbekal GPS dan kompas. Pada satu minggu pertama pencarian, masih tanpa hasil. ”Tim bergantian terus,” ujar Kiki saat ditemui di kantor DPRD Natuna Kamis (6/2).

Saat pencarian itulah, tim kerap menjumpai monyet kekah, binatang primata langka yang hanya ada di Natuna. Binatang yang di wajahnya seperti memakai kacamata itu terancam punah karena konversi lahan dan perburuan. ”Suara binatang ini menemani tim, rasanya tenang kalau mendengar ocehan mereka,” tuturnya.

Baca Juga :  Kenangan Bersama Keluarga Jadi Motivasi Lewati Masa Kritis

Setelah pencarian tiga bulan, air terjun itu ditemukan. Posisinya bertingkat-tingkat. Air mengalir di atas permukaan batu yang indah. Air berakhir di semacam kolam alami yang jernih. ”Air dari air terjun ini bahkan bisa diminum,” ujarnya.

Tak hanya itu, pegiat wisata juga menemukan Pulau Batu-Batu. Kiki mengisahkan, kali ini dirinya mendapat cerita dari para nelayan. ”Ada sebuah pulau batu, yang menjadi spot memancing sekaligus tempat istirahat burung camar,” paparnya.

Tim mencarinya dengan perahu. Butuh waktu enam jam untuk sampai di Pulau Batu-Batu. Memang, pulau itu kecil yang terdiri atas bebatuan. Namun, keindahannya benar-benar membius, bebatuan dalam laut terlihat jelas. Ikan-ikan yang bersembunyi di bebatuan menambah pesonanya. ”Yang paling asyik, burung camar di Pulau Batu-Batu ini ramah manusia. Bisa hinggap di tangan saat diberi makanan,” ujarnya.

GenPI terus berupaya meyakinkan wisatawan soal sterilnya Natuna dari virus corona. Karantina WNI itu tidak berpengaruh pada perjalanan wisata. GenPI juga mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama untuk berkunjung ke Natuna. ”Kedatangan menteri pariwisata tentu akan berdampak. Beliau bisa menunjukkan betapa amannya di Natuna, itu keinginan kami,” jelasnya.

Dia mengatakan, selain itu GenPI membuat program goes to school. Khususnya sekolah pariwisata di Natuna. ”Kami ajak semuanya show off keindahan Natuna, melalui semua media massa. Termasuk media sosial,” jelasnya.

Saatnya menunjukkan keindahan Natuna secara nasional dan internasional. Tak hanya anak sekolah, komunitas klub motor juga diminta untuk sering eksis di media sosial. ”Saat touring ke tempat wisata, kami minta untuk pamer ke media sosial. Biar semua mengetahui bahwa sebongkah surga ada di Natuna,” ujarnya. (*/c7/ayi)

Punya Tempat-Tempat Baru, Yakin Kembali Gaet Turis

Dunia pariwisata Natuna goyah oleh kebijakan penempatan observasi virus corona WNI di Lanud Raden Sadjad. Ratusan trip wisata dijadwal ulang. Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangat pegiat wisata. Mereka merasa bisa mendapat berkah di balik ini.

Ilham Wancoko, Natuna

KALA 238 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Tiongkok, tiba di Bandara Raden Sadjad, Natuna, Minggu (2/2), setidaknya 20 trip wisata di Kiki Travel dijadwal ulang. Bahkan, sebuah rencana pernikahan yang akan digelar di ikon pariwisata Natuna, Alif Stone Park, dengan 120 tamu terpaksa dibatalkan.

Nasib serupa dialami puluhan travel wisata lain di Natuna. Kiki Firdaus, owner Kiki Travel, menceritakan, banyak pengusaha wisata yang mengeluhkan penjadwalan ulang para turis tersebut. ”Memang penempatan observasi WNI Wuhan di Natuna ini berdampak besar. Itulah mengapa minimnya sosialisasi disayangkan,” ujar lelaki yang sekaligus menjadi ketua komunitas pegiat wisata Natuna bernama Generasi Pesona Indonesia (GenPI) tersebut.

Serangkaian penjadwalan ulang trip itu membuat destinasi wisata sepi. Untuk menghemat biaya operasional, pemerintah kabupaten (pemkab) sempat menutup sementara 119 tempat. ”Tutup sejak 2 Februari, tapi sudah diminta buka semua Rabu (5/2),” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna Hardinansyah.

Sejatinya, ada dua kejadian yang mengguncang pariwisata Natuna. Pertama, konflik Laut China Selatan yang dipicu masuknya nelayan Tiongkok ke perairan Natuna. ”Saya dengar sendiri, ada wisatawan ragu ke Natuna karena adanya konflik itu. Padahal, sebenarnya jauh sekali itu,” tutur Hardinansyah.

Kejadian kedua dan paling terasa adalah penempatan observasi WNI dari Wuhan. Hardinansyah memandang bahwa dua peristiwa itu sebetulnya bisa menjadi pijakan untuk membuat wisata di Natuna booming. ”Jangka pendek memang dampaknya buruk, tapi jangka panjang justru bisa bikin Natuna booming,” jelasnya.

Baca Juga :  Neo Jibles, Band Anak-Anak Muda Pelestari Koes Plus

Caranya dengan memanfaatkan viralnya Natuna. Dia mengatakan, inilah saat tepat mempromosikan wisata Natuna. Kabupaten yang masuk dalam Provinsi Kepulauan Riau itu memiliki banyak jujukan menarik. Salah satu yang menjadi andalan adalah situs taman bumi Geopark Natuna.

Tempat tersebut menyajikan kumpulan batuan raksasa geosite yang sudah berumur ratusan juta tahun. Kementerian Pariwisata bahkan berniat memasukkannya sebagai kawasan Geopark Nasional.

Selain itu, Natuna punya potensi ikan yang mencapai 1 juta ton. ”Jepang berencana investasi pariwisata dan perikanan, lho,” ujarnya.

Kiki Firdaus menceritakan, saat ini GenPI gencar meningkatkan angka kunjungan ke Natuna. Mereka terus mencari destinasi wisata baru. ”Banyak lho tempat wisata yang kami temukan,” ujarnya.

Di antaranya, air terjun di Desa Pengadah. Awalnya, objek wisata itu hanya diketahui orang tua di desa tersebut. Dari mulut ke mulut bahwa ada air terjun bertingkat yang indah di tengah hutan. Informasi itu sampai ke salah seorang anggota GenPI. ”Orang tua kan dulu ke hutan cari kayu atau durian hutan. Setelah generasi milenial tahu, dicari air terjun itu,” ujarnya.

Sebelum hunting air terjun tersebut, semua informasi dikumpulkan. Sesepuh yang pernah ke sana menceritakan pernah menemukan pohon, batu tertentu, dan sebagainya. ”Ya, memang karena tidak ada jalur atau jalan menuju ke sana. Lewat tengah hutan,” tuturnya.

Pencarian dimulai akhir 2018. Bergantian setiap tim mencari ke tengah hutan. Berbekal GPS dan kompas. Pada satu minggu pertama pencarian, masih tanpa hasil. ”Tim bergantian terus,” ujar Kiki saat ditemui di kantor DPRD Natuna Kamis (6/2).

Saat pencarian itulah, tim kerap menjumpai monyet kekah, binatang primata langka yang hanya ada di Natuna. Binatang yang di wajahnya seperti memakai kacamata itu terancam punah karena konversi lahan dan perburuan. ”Suara binatang ini menemani tim, rasanya tenang kalau mendengar ocehan mereka,” tuturnya.

Baca Juga :  Heboh Wacana Larangan Cadar dan Celana Cingkrang

Setelah pencarian tiga bulan, air terjun itu ditemukan. Posisinya bertingkat-tingkat. Air mengalir di atas permukaan batu yang indah. Air berakhir di semacam kolam alami yang jernih. ”Air dari air terjun ini bahkan bisa diminum,” ujarnya.

Tak hanya itu, pegiat wisata juga menemukan Pulau Batu-Batu. Kiki mengisahkan, kali ini dirinya mendapat cerita dari para nelayan. ”Ada sebuah pulau batu, yang menjadi spot memancing sekaligus tempat istirahat burung camar,” paparnya.

Tim mencarinya dengan perahu. Butuh waktu enam jam untuk sampai di Pulau Batu-Batu. Memang, pulau itu kecil yang terdiri atas bebatuan. Namun, keindahannya benar-benar membius, bebatuan dalam laut terlihat jelas. Ikan-ikan yang bersembunyi di bebatuan menambah pesonanya. ”Yang paling asyik, burung camar di Pulau Batu-Batu ini ramah manusia. Bisa hinggap di tangan saat diberi makanan,” ujarnya.

GenPI terus berupaya meyakinkan wisatawan soal sterilnya Natuna dari virus corona. Karantina WNI itu tidak berpengaruh pada perjalanan wisata. GenPI juga mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama untuk berkunjung ke Natuna. ”Kedatangan menteri pariwisata tentu akan berdampak. Beliau bisa menunjukkan betapa amannya di Natuna, itu keinginan kami,” jelasnya.

Dia mengatakan, selain itu GenPI membuat program goes to school. Khususnya sekolah pariwisata di Natuna. ”Kami ajak semuanya show off keindahan Natuna, melalui semua media massa. Termasuk media sosial,” jelasnya.

Saatnya menunjukkan keindahan Natuna secara nasional dan internasional. Tak hanya anak sekolah, komunitas klub motor juga diminta untuk sering eksis di media sosial. ”Saat touring ke tempat wisata, kami minta untuk pamer ke media sosial. Biar semua mengetahui bahwa sebongkah surga ada di Natuna,” ujarnya. (*/c7/ayi)

Most Read

Artikel Terbaru

/