23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Resep Keluarga jadi Modal untuk Merintis Usaha

Kisah Diana Sari, Pemilik RM Ajo

Bermodal resep para keluarganya, Diana Sari (41) memberanikan diri membuka rumah makan. Namun, selama tiga bulan sepi pengunjung. Beruntung dia tak menyerah. Kini, kegigihannya membuahkan hasil yang manis. Dan, usahanya makin berkembang dengan adanya Kredit Usaha Rakyat dari Bank Syariah Indonesia.

Ramses Tobing, Pontianak

Tangan-tangan cekatan memegang jepitan makanan. Mengambil lauk pauk, kemudian membungkusnya bersama nasi, dan memberikannya kepada pengunjung yang mengantre.

Suasana itu kerap terlihat menjelang waktu makan siang di rumah makan Padang Ajo milik Diana. Rumah makan yang terletak di dekat persimpangan Jalan Budi Utomo, Kelurahan Siantan Hilir, Pontianak Utara ini selalu ramai. Pelanggannya cukup banyak.

Namun, menarik banyak penggemar masakan di rumah makan Padang Ajo bukan hal mudah bagi Diana. Dia merintis usaha tersebut pada 2002. Awalnya hanya di kaki lima. Diana menggabungkan resep makanan dari keluarganya maupun keluarga suaminya. Orang tua Diana juga memiliki rumah makan. Paman suaminya juga punya usaha yang sama.
“Saat pertama buka tak langsung ramai. Selama tiga bulan sepi pengunjung,” ungkap Diana.

Kondisi ini sudah diantisipasi Diana. Awal buka rumah makan, dia hanya memasak secukupnya saja. Ayam dan ikan hanya dua kilogram. Setelah tiga bulan, pelanggannya makin bertambah. Rumah makan ini operasionalnya dari pukul 07.00 hingga 21.00.

Diana pun membuat sistem agar tak harus belanja kebutuhan pokok setiap hari. Misalnya, beras dan minyak hanya sebulan sekali. Sedangkan sayur, daging, ikan dan ayam dibeli harian. Hanya saja pembayarannya dibagi. Ada yang dibelanjakan langsung bayar. Ada juga yang sistem bayar per minggu.
“Jadi tidak terlalu repot subuh-subuh harus turun belanja. Kalau rutinitas harian seperti memasak dan lainnya tetap berjalan seperti biasa,” cerita Diana.

Agar tidak banyak makanan yang tersisa, Diana juga mengatur batas maksimal memasak. “Kayak ikan dan daging ayam masaknya sedikit-sedikit. Begitu jam lima sore, stop masak. Tinggal menjual yang ada sampai habis. Begitu habis, baru tutup. Kalau sayur tidak habis, sudah tak bisa dipakai. Jika masih ada sisa ya dibuang,” terang ibu tiga anak ini.

Satu tahun berjalan, rumah makannya semakin ramai dikunjungi pelanggan. Ia mendapat tawaran untuk mengembangkan usahanya. Sebuah kios kecil di dekat simpang tiga Jalan Budi Utomo, Pontianak Utara.
“Saya ditawarkan tempat usaha. Waktu itu pakai sewa. Satu tahun satu juta. Waktu itu pihak pemilik rumah mintanya ambil sekali lima tahun,” jelas Diana.

Baca Juga :  PLN Berikan Santunan dan Modal Usaha untuk Memupuk Generasi Tangguh

Namun, ia bingung. Modal yang terkumpul belum cukup. Sampai akhirnya salah satu pelanggan di rumah makannya adalah karyawan perbankan. Pelanggan itu kerja di BRI Syariah (Sekarang sudah berubah menjadi Bank Syariah Indonesia). Dari pelanggan itulah, Diana mendapat dukungan modal untuk mengembangkan usahanya.
“Jadi saya coba bicara, dan Alhamdulillah dikasih solusi,” kata Diana.

Diana mendapatkan pinjaman dari dana KUR. Besarnya Rp25 juta. Saat itu jaminannya BPKB sepeda motor. Masa pengembaliannya tiga tahun. Dari modal itulah Diana mengembangkan usahanya. Dari buka di depan warung kopi hingga memiliki tempat sendiri, meskipun masih sewa.

Diana semakin bersemangat. Usai pinjaman pertama lunas, ia mengajukan kembali. Kali ini nilainya lebih besar, Rp50 juta. Masih sama, ia ingin usahanya semakin berkembang.

Lima bulan lalu ia mengajukan pinjaman. Dana itu digunakannya untuk membeli rumah dan dijadikannya cabang dari R.M Padang Ajo. Lokasinya masih sama, di seputar Siantan, Kecamatan Pontianak Utara.

Diana mengungkapkan pasang surut usaha dialaminya. Dia harus benar-benar siap modal saat rumah makannya sepi pengunjung. “Saat pengunjung ramai, harus bisa menyimpan lebih untuk kebutuhan ketika pengunjung sepi. Sehingga sirkulasi keuangan usaha tetap bisa jalan. Misalnya di awal bulan. Saat ramai pelanggan, saya lebihkan simpanannya untuk menutupi waktu sepinya,” kata Diana.

Saat pandemi Covid-19, omsetnya anjlok drastis. Sampai 70 persen. Namun Diana memutuskan tetap bertahan. Rumah makan tetap buka, meski pelanggan yang datang tidak ramai seperti hari-hari sebelum Covid-19.

Diana bersyukur ia bisa melewati masa paceklik itu. Usahanya masih tetap jalan hingga saat ini. Ia bahkan sudah mendapatkan kembali kucuran dana KUR.
“Lima bulan terakhir, kebetulan ada yang jual rumah. Jadi saya minta bantu biaya untuk membeli tempat usaha ini,” kata Diana.
Ia pun berencana untuk menambah cabangnya usahanya. Dukungan pembiayaan ia tetap memilih BSI. Selain karena sudah dekat dengan pelayanan, sejak awal berdiri, BSI mendukung permodalan usahanya hingga saat ini.

Area Micro dan Pawning Manager BSI Area Kalimantan Barat, Haida Syafariah mengatakan penyaluran KUR BSI Area Kalbar hingga Oktober 2022 sudah mencapai angka Rp146 miliar yang disalurannya untuk 1.389 UMKM. Penyalurannya meliputi daerah Pontianak, Ketapang, Sanggau, Singkawang, Melawi, Sambas, dan Sintang. Antara lain meliputi perdagangan besar dan eceran, pertanian, perkebunan dan kehutanan. Lalu sektor jasa-jasa, perikanan, industri olahan, dan konstruksi.

Haida juga mengatakan berbagai strategi dilakukan agar pelaku UMKM meningkatkan kapabilitas bisnisnya. Misalnya dengan peluncuran aplikasi SALAM DIGITAL. Aplikasi ini memudahkan karena pengajuan pembiayaannya bisa dilakukan secara online.

Baca Juga :  Geliat Bisnis Kuliner UMKM di Masa Pandemi

Lalu dalam bentuk program pengembangan dan pendampingan UMKM. Antara lain program inkubasi pencarian bakat Talenta Wirausaha BSI, Inisiasi pendirian UMKM Centre serta pendampingan coaching wirausaha.
“Program ini dilakukan di beberapa kota dan melibatkan mentor usaha yang sudah mapan,” kata Haida di Pontianak, kemarin.

Haida menambahkan secara nasional juga dilakukan dengan pengembangan platform per trade area, mengoptimalkan peran agregator dan reseller, perluasan pasar serta peningkatan SDM, bantuan dana untuk UMKM dengan payung PEN melalui program BPUM (Bantuan Produktif Usaha Mikro), subsidi KUR serta Modal koperasi lewat LPDB serta sinergi dengan berbagai kementerian dan BUMN yang memiliki UMKM binaan yang memiliki kualitas baik.

Sementara itu Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Barat mencatat trend peningkatan yang signifikan dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di provinsi ini. Per 12 Oktober 2022, 2022 realisasi KUR di Kalbar telah mencapai Rp4,07 triliun dengan 71.579 debitur.

Angka penyaluran KUR ini bahkan telah melebihi total penyaluran KUR tahun 2021. Adapun rinciannya, jumlah debitur KUR telah mencapai 69.068 debitur dengan total penyaluran Rp3,9 triliun. Jumlah penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) telah mencapai 14.466 debitur dengan total penyaluran sebesar Rp63,57 miliar.

Akademi Universitas Tanjungpura Muhammad Fahmi mengatakan peningkatan penyaluran KUR menggambarkan kolaborasi yang baik dari berbagai stake holder. Sehingga pelaku usaha memiliki antusias dalam pemanfaatan program KUR.
“Tentunya pemerintah tahun 2023 menaikkan target karena penyaluran tahun 2022 merupakan gambaran terukur dari pemerintah,” kata Fahmi.

Fahmi melanjutkan ke depan menjadi tantangan pemerintah untuk meliterasi tentang KUR. Baik itu berkaitan dengan penyaluran dan pemanfaatan. Literasi itu untuk memastikannya tepat sasaran dan tepat guna.
“Tentu untuk memeratakan akses bagi pelaku usaha,” kata Fahmi.

Lanjut Fahmi, peningkatan penyaluran juga sejalan dengan yang dilakukan pemerintah dengan mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Menurut Fahmi, dengan membeli produk UMKM sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Namun tambah Fahmi diperlukan sektor produksi yang kuat serta sektor pendukung seperti yang dilakukan pemerintah dengan program KUR.
“Semua pihak harus ikut turun. Sektor produksi yang dikelola UMKM dikuatkan untuk mencapai apa yang diinginkan bersama,” pungkasnya. (*)

Kisah Diana Sari, Pemilik RM Ajo

Bermodal resep para keluarganya, Diana Sari (41) memberanikan diri membuka rumah makan. Namun, selama tiga bulan sepi pengunjung. Beruntung dia tak menyerah. Kini, kegigihannya membuahkan hasil yang manis. Dan, usahanya makin berkembang dengan adanya Kredit Usaha Rakyat dari Bank Syariah Indonesia.

Ramses Tobing, Pontianak

Tangan-tangan cekatan memegang jepitan makanan. Mengambil lauk pauk, kemudian membungkusnya bersama nasi, dan memberikannya kepada pengunjung yang mengantre.

Suasana itu kerap terlihat menjelang waktu makan siang di rumah makan Padang Ajo milik Diana. Rumah makan yang terletak di dekat persimpangan Jalan Budi Utomo, Kelurahan Siantan Hilir, Pontianak Utara ini selalu ramai. Pelanggannya cukup banyak.

Namun, menarik banyak penggemar masakan di rumah makan Padang Ajo bukan hal mudah bagi Diana. Dia merintis usaha tersebut pada 2002. Awalnya hanya di kaki lima. Diana menggabungkan resep makanan dari keluarganya maupun keluarga suaminya. Orang tua Diana juga memiliki rumah makan. Paman suaminya juga punya usaha yang sama.
“Saat pertama buka tak langsung ramai. Selama tiga bulan sepi pengunjung,” ungkap Diana.

Kondisi ini sudah diantisipasi Diana. Awal buka rumah makan, dia hanya memasak secukupnya saja. Ayam dan ikan hanya dua kilogram. Setelah tiga bulan, pelanggannya makin bertambah. Rumah makan ini operasionalnya dari pukul 07.00 hingga 21.00.

Diana pun membuat sistem agar tak harus belanja kebutuhan pokok setiap hari. Misalnya, beras dan minyak hanya sebulan sekali. Sedangkan sayur, daging, ikan dan ayam dibeli harian. Hanya saja pembayarannya dibagi. Ada yang dibelanjakan langsung bayar. Ada juga yang sistem bayar per minggu.
“Jadi tidak terlalu repot subuh-subuh harus turun belanja. Kalau rutinitas harian seperti memasak dan lainnya tetap berjalan seperti biasa,” cerita Diana.

Agar tidak banyak makanan yang tersisa, Diana juga mengatur batas maksimal memasak. “Kayak ikan dan daging ayam masaknya sedikit-sedikit. Begitu jam lima sore, stop masak. Tinggal menjual yang ada sampai habis. Begitu habis, baru tutup. Kalau sayur tidak habis, sudah tak bisa dipakai. Jika masih ada sisa ya dibuang,” terang ibu tiga anak ini.

Satu tahun berjalan, rumah makannya semakin ramai dikunjungi pelanggan. Ia mendapat tawaran untuk mengembangkan usahanya. Sebuah kios kecil di dekat simpang tiga Jalan Budi Utomo, Pontianak Utara.
“Saya ditawarkan tempat usaha. Waktu itu pakai sewa. Satu tahun satu juta. Waktu itu pihak pemilik rumah mintanya ambil sekali lima tahun,” jelas Diana.

Baca Juga :  ABDSI Kalbar Dorong Penyaluran KUR yang Berkualitas

Namun, ia bingung. Modal yang terkumpul belum cukup. Sampai akhirnya salah satu pelanggan di rumah makannya adalah karyawan perbankan. Pelanggan itu kerja di BRI Syariah (Sekarang sudah berubah menjadi Bank Syariah Indonesia). Dari pelanggan itulah, Diana mendapat dukungan modal untuk mengembangkan usahanya.
“Jadi saya coba bicara, dan Alhamdulillah dikasih solusi,” kata Diana.

Diana mendapatkan pinjaman dari dana KUR. Besarnya Rp25 juta. Saat itu jaminannya BPKB sepeda motor. Masa pengembaliannya tiga tahun. Dari modal itulah Diana mengembangkan usahanya. Dari buka di depan warung kopi hingga memiliki tempat sendiri, meskipun masih sewa.

Diana semakin bersemangat. Usai pinjaman pertama lunas, ia mengajukan kembali. Kali ini nilainya lebih besar, Rp50 juta. Masih sama, ia ingin usahanya semakin berkembang.

Lima bulan lalu ia mengajukan pinjaman. Dana itu digunakannya untuk membeli rumah dan dijadikannya cabang dari R.M Padang Ajo. Lokasinya masih sama, di seputar Siantan, Kecamatan Pontianak Utara.

Diana mengungkapkan pasang surut usaha dialaminya. Dia harus benar-benar siap modal saat rumah makannya sepi pengunjung. “Saat pengunjung ramai, harus bisa menyimpan lebih untuk kebutuhan ketika pengunjung sepi. Sehingga sirkulasi keuangan usaha tetap bisa jalan. Misalnya di awal bulan. Saat ramai pelanggan, saya lebihkan simpanannya untuk menutupi waktu sepinya,” kata Diana.

Saat pandemi Covid-19, omsetnya anjlok drastis. Sampai 70 persen. Namun Diana memutuskan tetap bertahan. Rumah makan tetap buka, meski pelanggan yang datang tidak ramai seperti hari-hari sebelum Covid-19.

Diana bersyukur ia bisa melewati masa paceklik itu. Usahanya masih tetap jalan hingga saat ini. Ia bahkan sudah mendapatkan kembali kucuran dana KUR.
“Lima bulan terakhir, kebetulan ada yang jual rumah. Jadi saya minta bantu biaya untuk membeli tempat usaha ini,” kata Diana.
Ia pun berencana untuk menambah cabangnya usahanya. Dukungan pembiayaan ia tetap memilih BSI. Selain karena sudah dekat dengan pelayanan, sejak awal berdiri, BSI mendukung permodalan usahanya hingga saat ini.

Area Micro dan Pawning Manager BSI Area Kalimantan Barat, Haida Syafariah mengatakan penyaluran KUR BSI Area Kalbar hingga Oktober 2022 sudah mencapai angka Rp146 miliar yang disalurannya untuk 1.389 UMKM. Penyalurannya meliputi daerah Pontianak, Ketapang, Sanggau, Singkawang, Melawi, Sambas, dan Sintang. Antara lain meliputi perdagangan besar dan eceran, pertanian, perkebunan dan kehutanan. Lalu sektor jasa-jasa, perikanan, industri olahan, dan konstruksi.

Haida juga mengatakan berbagai strategi dilakukan agar pelaku UMKM meningkatkan kapabilitas bisnisnya. Misalnya dengan peluncuran aplikasi SALAM DIGITAL. Aplikasi ini memudahkan karena pengajuan pembiayaannya bisa dilakukan secara online.

Baca Juga :  Kesaksian Mereka dari Detik-Detik Kecelakaan Massal Terjadi

Lalu dalam bentuk program pengembangan dan pendampingan UMKM. Antara lain program inkubasi pencarian bakat Talenta Wirausaha BSI, Inisiasi pendirian UMKM Centre serta pendampingan coaching wirausaha.
“Program ini dilakukan di beberapa kota dan melibatkan mentor usaha yang sudah mapan,” kata Haida di Pontianak, kemarin.

Haida menambahkan secara nasional juga dilakukan dengan pengembangan platform per trade area, mengoptimalkan peran agregator dan reseller, perluasan pasar serta peningkatan SDM, bantuan dana untuk UMKM dengan payung PEN melalui program BPUM (Bantuan Produktif Usaha Mikro), subsidi KUR serta Modal koperasi lewat LPDB serta sinergi dengan berbagai kementerian dan BUMN yang memiliki UMKM binaan yang memiliki kualitas baik.

Sementara itu Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Barat mencatat trend peningkatan yang signifikan dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di provinsi ini. Per 12 Oktober 2022, 2022 realisasi KUR di Kalbar telah mencapai Rp4,07 triliun dengan 71.579 debitur.

Angka penyaluran KUR ini bahkan telah melebihi total penyaluran KUR tahun 2021. Adapun rinciannya, jumlah debitur KUR telah mencapai 69.068 debitur dengan total penyaluran Rp3,9 triliun. Jumlah penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) telah mencapai 14.466 debitur dengan total penyaluran sebesar Rp63,57 miliar.

Akademi Universitas Tanjungpura Muhammad Fahmi mengatakan peningkatan penyaluran KUR menggambarkan kolaborasi yang baik dari berbagai stake holder. Sehingga pelaku usaha memiliki antusias dalam pemanfaatan program KUR.
“Tentunya pemerintah tahun 2023 menaikkan target karena penyaluran tahun 2022 merupakan gambaran terukur dari pemerintah,” kata Fahmi.

Fahmi melanjutkan ke depan menjadi tantangan pemerintah untuk meliterasi tentang KUR. Baik itu berkaitan dengan penyaluran dan pemanfaatan. Literasi itu untuk memastikannya tepat sasaran dan tepat guna.
“Tentu untuk memeratakan akses bagi pelaku usaha,” kata Fahmi.

Lanjut Fahmi, peningkatan penyaluran juga sejalan dengan yang dilakukan pemerintah dengan mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Menurut Fahmi, dengan membeli produk UMKM sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Namun tambah Fahmi diperlukan sektor produksi yang kuat serta sektor pendukung seperti yang dilakukan pemerintah dengan program KUR.
“Semua pihak harus ikut turun. Sektor produksi yang dikelola UMKM dikuatkan untuk mencapai apa yang diinginkan bersama,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/