alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Tradisi Pembakaran Replika Kapal Wangkang Tarik Wisatawan

Tradisi tahunan sembahyang leluhur atau sembahyang kubur masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat mencapai puncaknya. Jumat (12/) bertepatan dengan tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek merupakan hari terakhir. Sembahyang rebut digelar dan ditutup dengan pembakaran replika kapal wangkang.

Marsita Riandini, Pontianak

REPLIKA kapal wangkang berukuran besar bersandar di kompleks pemakaman Yayasan Bhakti Suci di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Pembakaran kapal wangkang inilah yang menjadi puncak dari proses panjang perjalanan para arwah ke dunia. Sebagai ritual akhir dari sembahyang leluhur yang dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa pemeluk agama Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha Tridharma.

Kapal dari kayu cerucuk, bambu dan kain ini dibuat lebih kurang hampir dua bulan. Setiap tahunnya, panjang dan tinggi kapal bertambah sekitar 5 cm karena diyakini arwah juga ikut bertambah seiring waktu. Makna lainnya menyiratkan pertambahan rezeki, umur dan kemajuan dalam kehidupan.

Sebelum “berlayar”, segala kebutuhan disiapkan. Mulai dari replika awak kapal hingga tempat untuk penumpangnya. Ada juga pasukan khusus yang diyakini membawa arwah yang tidak disembahyangi, seperti arwah yang meninggal saat masih bujang ataupun gadis. Pasukan itu berseragam kuning dan membawa gendang.

Baca Juga :  Mengenal Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Tak ketinggalan uang sembahyang juga dibawa untuk bekal selama “berlayar”. Beragam makanan seperti kue, sayur mayur, buah-buahan, hingga kebutuhan pokok lainnya juga dimuat dalam kapal ini. Makanan tersebut asli dari hasil sumbangan donatur.

Pada pukul 14.00, masyarakat dari berbagai etnis dan agama ramai berdatangan. Selain kapal wangkang, tradisi sembahyang rebut ikut menjadi daya pikat yang membuat masyarakat antusias.

Tak sekadar menonton, ada yang ikut ambil bagian usai sembahyang rebut digelar. Bagi yang beruntung, bisa membawa pulang satu wadah yang berisi buah, sayur, beras dan lainnya. Itulah sebabnya ritual ini dinamakan sembahyang rebut.

“Artinya, dulu masyarakat Tionghoa mungkin sekitar 100 tahun lalu, sifat gotong- royongnya sudah sangat tinggi. Yang berkemampuan, mereka memberi barang untuk diletakkan. Untuk yang tidak mampu, mereka mengambil di situ,” ujar Yo Han Sia, Ketua Panitia Pelaksana Pembakaran Kapal Wangkang dan Sembahyang Rebut Tahun 2022.

Baca Juga :  Pendemi dan Jalan Rusak, Kunjungan Wisatawan Berkurang

Susanto Muliawan Lim, Ketua Umum YBS mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan juga daya tarik wisata. Dua tahun sebelumnya, lokasi ini sepi dari penonton saat tradisi bakar kapal wangkang digelar. Bahkan tradisi sembahyang rebut juga ditiadakan karena pandemi Covid-19.

“Tahun ini ada kelonggaran. Kondisi pandemi sudah masuk endemi maka kami adakan kembali. Kami juga tidak membatasi penonton. Silakan jika ingin menyaksikan,” ujarnya.

Susanto berharap, dari tahun ke tahun kegiatan ini dapat menambah keberkahan dan kemakmuran bagi masyarakat Tionghoa dan masyarakat pada umumnya. “Ini momen satu tahun sekali. Mudah-mudahan yang akan datang, covid tidak ada lagi, sehingga kegiatan ini dapat kita tingkatkan lagi guna meningkatkan daya tarik wisata,” pungkasnya.**

Tradisi tahunan sembahyang leluhur atau sembahyang kubur masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat mencapai puncaknya. Jumat (12/) bertepatan dengan tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek merupakan hari terakhir. Sembahyang rebut digelar dan ditutup dengan pembakaran replika kapal wangkang.

Marsita Riandini, Pontianak

REPLIKA kapal wangkang berukuran besar bersandar di kompleks pemakaman Yayasan Bhakti Suci di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Pembakaran kapal wangkang inilah yang menjadi puncak dari proses panjang perjalanan para arwah ke dunia. Sebagai ritual akhir dari sembahyang leluhur yang dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa pemeluk agama Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha Tridharma.

Kapal dari kayu cerucuk, bambu dan kain ini dibuat lebih kurang hampir dua bulan. Setiap tahunnya, panjang dan tinggi kapal bertambah sekitar 5 cm karena diyakini arwah juga ikut bertambah seiring waktu. Makna lainnya menyiratkan pertambahan rezeki, umur dan kemajuan dalam kehidupan.

Sebelum “berlayar”, segala kebutuhan disiapkan. Mulai dari replika awak kapal hingga tempat untuk penumpangnya. Ada juga pasukan khusus yang diyakini membawa arwah yang tidak disembahyangi, seperti arwah yang meninggal saat masih bujang ataupun gadis. Pasukan itu berseragam kuning dan membawa gendang.

Baca Juga :  Mengontak Alien dari Langit Jogjakarta

Tak ketinggalan uang sembahyang juga dibawa untuk bekal selama “berlayar”. Beragam makanan seperti kue, sayur mayur, buah-buahan, hingga kebutuhan pokok lainnya juga dimuat dalam kapal ini. Makanan tersebut asli dari hasil sumbangan donatur.

Pada pukul 14.00, masyarakat dari berbagai etnis dan agama ramai berdatangan. Selain kapal wangkang, tradisi sembahyang rebut ikut menjadi daya pikat yang membuat masyarakat antusias.

Tak sekadar menonton, ada yang ikut ambil bagian usai sembahyang rebut digelar. Bagi yang beruntung, bisa membawa pulang satu wadah yang berisi buah, sayur, beras dan lainnya. Itulah sebabnya ritual ini dinamakan sembahyang rebut.

“Artinya, dulu masyarakat Tionghoa mungkin sekitar 100 tahun lalu, sifat gotong- royongnya sudah sangat tinggi. Yang berkemampuan, mereka memberi barang untuk diletakkan. Untuk yang tidak mampu, mereka mengambil di situ,” ujar Yo Han Sia, Ketua Panitia Pelaksana Pembakaran Kapal Wangkang dan Sembahyang Rebut Tahun 2022.

Baca Juga :  Nuansa Dusun Daya Pikat Dayang Resort Singkawang

Susanto Muliawan Lim, Ketua Umum YBS mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan juga daya tarik wisata. Dua tahun sebelumnya, lokasi ini sepi dari penonton saat tradisi bakar kapal wangkang digelar. Bahkan tradisi sembahyang rebut juga ditiadakan karena pandemi Covid-19.

“Tahun ini ada kelonggaran. Kondisi pandemi sudah masuk endemi maka kami adakan kembali. Kami juga tidak membatasi penonton. Silakan jika ingin menyaksikan,” ujarnya.

Susanto berharap, dari tahun ke tahun kegiatan ini dapat menambah keberkahan dan kemakmuran bagi masyarakat Tionghoa dan masyarakat pada umumnya. “Ini momen satu tahun sekali. Mudah-mudahan yang akan datang, covid tidak ada lagi, sehingga kegiatan ini dapat kita tingkatkan lagi guna meningkatkan daya tarik wisata,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/