alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Pundi-pundi dari Keladi, Pengganti Terigu dan Tembakau

Talas atau keladi kerap dipandang sebelah mata lantaran harganya yang relatif murah. Namun belakangan tanaman ini mulai menjadi primadona di Kalimantan Barat. Keladi bisa menjadi berbagai macam olahan makanan hingga pengganti tembakau. Hampir seluruh bagian tanaman ini punya nilai jual.

Aristono Edi Kiswantoro, Singkawang

RUDYZAR Zaidar Mochtar meremas daun keladi di tangannya. Remasan itu lalu dimasukan ke mesin pencacah berbentuk kotak sebesar meja kompor. Tak lama kemudian, daun itu sudah tercacah menjadi rajangan seukuran batang korek api. Deru mesin membuat eksportir ini sedikit menaikkan volume suara.

“Rajangan daun talas ini lah yang diekspor. Saya hanya mengirim rajangan daun keladi saja,” katanya kepada Pontianak Post di pabriknya, Jalan Pal V, Sungai Jawi, Pontianak.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya, dia mengekspor cacahan daun talas ini ke Eropa. Totalnya ada 10 ton. Di negara tujuan, cacahan ini dijadikan pengganti tembakau untuk bahan baku rokok. Menurut dia, pajak tembakau di Eropa dan sejumlah negara lain sekarang tinggi sekali.

“Jadi perusahaan di sana mencari alternatif tembakau. Salah satunya adalah daun keladi,” katanya.

Menurut dia, daun keladi yang telah dicacah kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Warna dan tekstur rajangan keladi kering ini kemudian akan mirip dengan rajangan tembakau.

ROKOK: Mesin pencacah daun keladi milik Rudyzar. Rajangan daun ini diekspor ke Eropa untuk dijadikan pengganti rokok tembakau. (Aristono/Pontianak Post)

“Di negara penerima, tembakau keladi ini juga akan diberikan perasa. Macam-macam rasanya, seperti kopi, pisang, vanila dan lain-lain. Mirip seperti rokok elektrik vape yang ada banyak rasa dan bau,” jelas orang yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalbar ini.

Di pabrik itu sendiri perangkatnya lengkap. Mulai dari mesin penggiling, pencacah, hingga rumah pengering atau dryer. Alat-alat ini awalnya digunakan untuk mengolah daun kratom menjadi tepung, yang diekspor ke Amerika Serikat dan Timur Tengah. Namun belakangan harga kratom anjlok.

“Saya masih kirim kratom. Harga kratom memang masih lebih tinggi dari keladi. Tetapi daun keladi ini tidak terlalu ribet dibanding kratom yang sekarang banyak sekali aturannya,” ungkapnya.

Rudyzar sendiri mendatangkan 20.000 bibit keladi jenis Beneng dari Jawa pada Agustus tahun lalu. Talas ini dipilih lantaran daunnya yang lebih lebar dibanding jenis lain. Kendati umbinya relatif kecil. Bibit ini kemudian dibagikan kepada sejumlah petani untuk ditanam.

“Saya menggunakan sistem bagi hasil,” ujar dia.

Baca Juga :  TKI di Korsel Bagi Waktu untuk Kerja-Kuliah

Menurutnya komoditas ini berpotensi untuk dikembangkan. Selain tidak membutuhkan perawatan berlebih, keladi juga tergolong tanaman yang cepat panen. Setiap tiga bulan daunnya sudah bisa dipanen. Satu kilogram daun basah bisa menghasilkan satu sampai dua ons daun kering untuk tujuan ekspor.

Selain itu daun, pelepah atau batangnya juga bisa dijadikan olahan makanan. Begitu juga umbinya yang mengandung nutrisi. Jadi tidak ada bagian dari tanaman ini yang tidak bisa menjadi nilai ekonomis.

“Maka dari itu saya tertarik untuk mengembangkannya di Kalimantan Barat,” kata dia.

Suriyadi Raup Rp60 Juta Sebulan

Aneka camilan berbahan dasar keladi terhidang di Sekretariat Kelompok Pengolahan Hasil (Poksil) Bulan Purnama, Sungai Bulan, Kota Singkawang saat rombongan Bank Indonesia dan para jurnalis berkunjung ke sana, Sabtu (5/2) lalu. Sebut saja seperti keripik, stik, bolu, klepon, dan olahan keladi lainnya.

Kelompok ini berdiri tahun 2015 dan memiliki belasan anggota. Semuanya adalah pengolah keladi. Salah satu anggotanya adalah Suriyadi. Saban hari di rumahnya, dia bersama sang istri memproduksi keripik, dan stik keladi.

“Sehari saya rata-rata kami bisa memproduksi 30 kilogram stik dan keripik. Untungnya saya tidak kesulitan bahan baku, karena punya kebun keladi sendiri,” ucapnya.

OLAHAN: Produk camilan milik Suriyadi, seorang anggota Poksil Sungai Bulan. Dia mampu merapi omzet Rp2 juta sehari. (Istimewa)

Produk ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Kota Singkawang saja. Melainkan dikirim ke berbagai daerah, terutama Kota Pontianak. Suriyadi bahkan pernah mengirim hingga ke Malaysia. Omzetnya tidak main-main.

“Sebulan rata-rata omzet saya Rp60 juta. Atau sehari sekitar Rp2 juta,” ungkapnya.

Kunci kesuksesan usahanya ini ada pada rasa dan bumbu. Menurutnya, setiap jenis keladi perlu diperlakukan berbeda.

“Ada umbi yang padat dan kandungan airnya sedikit. Ada juga yang airnya banyak. Itu bumbunya tidak sama takarannya. Kami ada beberapa orang yang membantu (karyawan). Tapi untuk urusan memberi bumbu dan menggoreng, hanya saya dan istri yang bisa,” sebut dia.

Stik dan keripik memang menjadi produk yang paling jamak dibuat oleh para pengolah keladi. Namun belakangan Poksil Bulan Purnama mulai memperluas produk olahannya. Salah satunya adalah membuat tepung keladi, yang bisa menggantikan tepung terigu. Bahkan tepung keladi memiliki lebih banyak manfaat untuk kesehatan.

Tepung keladi itu sendiri sudah dikemas menarik dan diberi merek Tepung Keladi Singkawang. Ketua Poksil Bulan Purnama Mariati mengatakan, tepung talas ini dihargai Rp50.000,- per kilogramnya.

Baca Juga :  Sering Terkendala Minimnya Pengetahuan dan Akses Pasar

“Memang jauh lebih tinggi dibanding dibandingkan tepung terigu. Tetapi tepung keladi ini lebih rendah kalori dan gula sehingga bagus untuk kesehatan. Seratnya juga tinggi. Sangat cocok untuk orang tua, pengidap diabetes maupun untuk diet,” kata dia.

TEPUNG: Produk Tepung Keladi Singkawang milik Poksil Sungai Bulan. (Aristono/Pontianak Post)

Produk-produk tersebut sudah dipasarkan di Singkawang dan Pontianak. Selain itu Poksil Sungai Bulan juga sudah mempromosikannya lewat pameran-pameran. Mereka juga difasilitasi oleh Bank Indonesia untuk pengembangan produk dan pemasaran.

“Kami mendapat bantuan mesin pemotong umbi, mesin penepung, oven, mesin pengayak, kemasan, dan lain-lain dari BI,” sebut dia.

Sasar Pasar Khusus

Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini tampak serius berdiskusi dengan Mariati dan sejumlah anggota Poksil lainnya. Salah satu topiknya adalah soal harga tepung keladi yang kurang kompetitif dibanding tepung terigu. Di pasaran, terigu dengan merek terkenal harganya Rp15.000,-. Ada yang lebih murah dari itu.

“Kalau hanya untuk sebagai pengganti terigu, rasanya tepung keladi sulit bersaing,” sebut Agus.

Menurut Agus, Poksil Sungai Bulan harus menciptakan pasar sendiri dari segmen tertentu. Untuk itu, diperlukan kemasan hingga jaringan pemasaran yang bagus.

DISKUSI: Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini saat berbincang dengan pengurus Poksil Sungai Bulan Singkawang di pabrik keladi milik kelompok itu. (Aristono/Pontianak Post)

“Tentu pasarnya bukan masyarakat kebanyakan, yang lebih memilih terigu karena ekonomis dan rasanya sama. Kita harus menciptakan pasar yang lebih premium, yang mengutamakan kesehatan dibanding rasa. Kemasannya harus berbahan bagus dan punya desain menarik,” ujar dia.

Selain itu, tepung talas yang ada masih memiliki tekstur yang mirip dengan terigu. Dia mengusulkan agar tepung talas ini dibikin lebih halus lagi. Agar tidak head to head dengan tepung terigu.

“Bisa dibuat seperti Quaker (oatmeals). Mungkin secara harga lebih bisa bersaing,” tukas dia.

Ditanya perihal keterlibatan BI, dia mengatakan, pihaknya hadir sejak tahun 2020 lalu dengan memberikan pembinaan dan bantuan alat lewat Program Sosial Bank Indonesia. Menurutnya, pengembangan keladi ini sejalan dengan misi BI dalam mendukung ketahanan pangan lokal dan pengendalian inflasi BI.

“Kami berharap produk keladi Singkawang ini dapat berkelanjutan dan meluas, serta didukung semua pihak,” ungkapnya.

Pihaknya sendiri telah bertemu dengan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie Tjhai pada akhir Desember tahun 2020. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pontianak Post, Tjhai mengaku bangga dengan kreativitas Poksil Sungai Bulan yang mampu mengolah keladi menjadi beragam produk.**

Talas atau keladi kerap dipandang sebelah mata lantaran harganya yang relatif murah. Namun belakangan tanaman ini mulai menjadi primadona di Kalimantan Barat. Keladi bisa menjadi berbagai macam olahan makanan hingga pengganti tembakau. Hampir seluruh bagian tanaman ini punya nilai jual.

Aristono Edi Kiswantoro, Singkawang

RUDYZAR Zaidar Mochtar meremas daun keladi di tangannya. Remasan itu lalu dimasukan ke mesin pencacah berbentuk kotak sebesar meja kompor. Tak lama kemudian, daun itu sudah tercacah menjadi rajangan seukuran batang korek api. Deru mesin membuat eksportir ini sedikit menaikkan volume suara.

“Rajangan daun talas ini lah yang diekspor. Saya hanya mengirim rajangan daun keladi saja,” katanya kepada Pontianak Post di pabriknya, Jalan Pal V, Sungai Jawi, Pontianak.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya, dia mengekspor cacahan daun talas ini ke Eropa. Totalnya ada 10 ton. Di negara tujuan, cacahan ini dijadikan pengganti tembakau untuk bahan baku rokok. Menurut dia, pajak tembakau di Eropa dan sejumlah negara lain sekarang tinggi sekali.

“Jadi perusahaan di sana mencari alternatif tembakau. Salah satunya adalah daun keladi,” katanya.

Menurut dia, daun keladi yang telah dicacah kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Warna dan tekstur rajangan keladi kering ini kemudian akan mirip dengan rajangan tembakau.

ROKOK: Mesin pencacah daun keladi milik Rudyzar. Rajangan daun ini diekspor ke Eropa untuk dijadikan pengganti rokok tembakau. (Aristono/Pontianak Post)

“Di negara penerima, tembakau keladi ini juga akan diberikan perasa. Macam-macam rasanya, seperti kopi, pisang, vanila dan lain-lain. Mirip seperti rokok elektrik vape yang ada banyak rasa dan bau,” jelas orang yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalbar ini.

Di pabrik itu sendiri perangkatnya lengkap. Mulai dari mesin penggiling, pencacah, hingga rumah pengering atau dryer. Alat-alat ini awalnya digunakan untuk mengolah daun kratom menjadi tepung, yang diekspor ke Amerika Serikat dan Timur Tengah. Namun belakangan harga kratom anjlok.

“Saya masih kirim kratom. Harga kratom memang masih lebih tinggi dari keladi. Tetapi daun keladi ini tidak terlalu ribet dibanding kratom yang sekarang banyak sekali aturannya,” ungkapnya.

Rudyzar sendiri mendatangkan 20.000 bibit keladi jenis Beneng dari Jawa pada Agustus tahun lalu. Talas ini dipilih lantaran daunnya yang lebih lebar dibanding jenis lain. Kendati umbinya relatif kecil. Bibit ini kemudian dibagikan kepada sejumlah petani untuk ditanam.

“Saya menggunakan sistem bagi hasil,” ujar dia.

Baca Juga :  Sering Terkendala Minimnya Pengetahuan dan Akses Pasar

Menurutnya komoditas ini berpotensi untuk dikembangkan. Selain tidak membutuhkan perawatan berlebih, keladi juga tergolong tanaman yang cepat panen. Setiap tiga bulan daunnya sudah bisa dipanen. Satu kilogram daun basah bisa menghasilkan satu sampai dua ons daun kering untuk tujuan ekspor.

Selain itu daun, pelepah atau batangnya juga bisa dijadikan olahan makanan. Begitu juga umbinya yang mengandung nutrisi. Jadi tidak ada bagian dari tanaman ini yang tidak bisa menjadi nilai ekonomis.

“Maka dari itu saya tertarik untuk mengembangkannya di Kalimantan Barat,” kata dia.

Suriyadi Raup Rp60 Juta Sebulan

Aneka camilan berbahan dasar keladi terhidang di Sekretariat Kelompok Pengolahan Hasil (Poksil) Bulan Purnama, Sungai Bulan, Kota Singkawang saat rombongan Bank Indonesia dan para jurnalis berkunjung ke sana, Sabtu (5/2) lalu. Sebut saja seperti keripik, stik, bolu, klepon, dan olahan keladi lainnya.

Kelompok ini berdiri tahun 2015 dan memiliki belasan anggota. Semuanya adalah pengolah keladi. Salah satu anggotanya adalah Suriyadi. Saban hari di rumahnya, dia bersama sang istri memproduksi keripik, dan stik keladi.

“Sehari saya rata-rata kami bisa memproduksi 30 kilogram stik dan keripik. Untungnya saya tidak kesulitan bahan baku, karena punya kebun keladi sendiri,” ucapnya.

OLAHAN: Produk camilan milik Suriyadi, seorang anggota Poksil Sungai Bulan. Dia mampu merapi omzet Rp2 juta sehari. (Istimewa)

Produk ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Kota Singkawang saja. Melainkan dikirim ke berbagai daerah, terutama Kota Pontianak. Suriyadi bahkan pernah mengirim hingga ke Malaysia. Omzetnya tidak main-main.

“Sebulan rata-rata omzet saya Rp60 juta. Atau sehari sekitar Rp2 juta,” ungkapnya.

Kunci kesuksesan usahanya ini ada pada rasa dan bumbu. Menurutnya, setiap jenis keladi perlu diperlakukan berbeda.

“Ada umbi yang padat dan kandungan airnya sedikit. Ada juga yang airnya banyak. Itu bumbunya tidak sama takarannya. Kami ada beberapa orang yang membantu (karyawan). Tapi untuk urusan memberi bumbu dan menggoreng, hanya saya dan istri yang bisa,” sebut dia.

Stik dan keripik memang menjadi produk yang paling jamak dibuat oleh para pengolah keladi. Namun belakangan Poksil Bulan Purnama mulai memperluas produk olahannya. Salah satunya adalah membuat tepung keladi, yang bisa menggantikan tepung terigu. Bahkan tepung keladi memiliki lebih banyak manfaat untuk kesehatan.

Tepung keladi itu sendiri sudah dikemas menarik dan diberi merek Tepung Keladi Singkawang. Ketua Poksil Bulan Purnama Mariati mengatakan, tepung talas ini dihargai Rp50.000,- per kilogramnya.

Baca Juga :  Terapkan Teknologi UPK 75 Tahun RI

“Memang jauh lebih tinggi dibanding dibandingkan tepung terigu. Tetapi tepung keladi ini lebih rendah kalori dan gula sehingga bagus untuk kesehatan. Seratnya juga tinggi. Sangat cocok untuk orang tua, pengidap diabetes maupun untuk diet,” kata dia.

TEPUNG: Produk Tepung Keladi Singkawang milik Poksil Sungai Bulan. (Aristono/Pontianak Post)

Produk-produk tersebut sudah dipasarkan di Singkawang dan Pontianak. Selain itu Poksil Sungai Bulan juga sudah mempromosikannya lewat pameran-pameran. Mereka juga difasilitasi oleh Bank Indonesia untuk pengembangan produk dan pemasaran.

“Kami mendapat bantuan mesin pemotong umbi, mesin penepung, oven, mesin pengayak, kemasan, dan lain-lain dari BI,” sebut dia.

Sasar Pasar Khusus

Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini tampak serius berdiskusi dengan Mariati dan sejumlah anggota Poksil lainnya. Salah satu topiknya adalah soal harga tepung keladi yang kurang kompetitif dibanding tepung terigu. Di pasaran, terigu dengan merek terkenal harganya Rp15.000,-. Ada yang lebih murah dari itu.

“Kalau hanya untuk sebagai pengganti terigu, rasanya tepung keladi sulit bersaing,” sebut Agus.

Menurut Agus, Poksil Sungai Bulan harus menciptakan pasar sendiri dari segmen tertentu. Untuk itu, diperlukan kemasan hingga jaringan pemasaran yang bagus.

DISKUSI: Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini saat berbincang dengan pengurus Poksil Sungai Bulan Singkawang di pabrik keladi milik kelompok itu. (Aristono/Pontianak Post)

“Tentu pasarnya bukan masyarakat kebanyakan, yang lebih memilih terigu karena ekonomis dan rasanya sama. Kita harus menciptakan pasar yang lebih premium, yang mengutamakan kesehatan dibanding rasa. Kemasannya harus berbahan bagus dan punya desain menarik,” ujar dia.

Selain itu, tepung talas yang ada masih memiliki tekstur yang mirip dengan terigu. Dia mengusulkan agar tepung talas ini dibikin lebih halus lagi. Agar tidak head to head dengan tepung terigu.

“Bisa dibuat seperti Quaker (oatmeals). Mungkin secara harga lebih bisa bersaing,” tukas dia.

Ditanya perihal keterlibatan BI, dia mengatakan, pihaknya hadir sejak tahun 2020 lalu dengan memberikan pembinaan dan bantuan alat lewat Program Sosial Bank Indonesia. Menurutnya, pengembangan keladi ini sejalan dengan misi BI dalam mendukung ketahanan pangan lokal dan pengendalian inflasi BI.

“Kami berharap produk keladi Singkawang ini dapat berkelanjutan dan meluas, serta didukung semua pihak,” ungkapnya.

Pihaknya sendiri telah bertemu dengan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie Tjhai pada akhir Desember tahun 2020. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pontianak Post, Tjhai mengaku bangga dengan kreativitas Poksil Sungai Bulan yang mampu mengolah keladi menjadi beragam produk.**

Most Read

Artikel Terbaru

/