alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Kisah Anak-Anak Muda Pelestari Koes Plus

Diwejangi Yon, Yok, dan Nomo agar Bikin Lagu dari Hati

Saat P Plus terbentuk tiga tahun lalu, para personelnya masih duduk di bangku SMP. Kini mereka telah menguasai 120 lagu dan kukuh mempertahankan orisinalitas Koes Plus.

ANA R. DEWI, Jogjakarta–SHAFA NADIA, Jakarta 

SAAT Irfan Affandy lahir pada 5 Juli 2001, Koes Plus sudah merilis sekitar 85 album. Telah mengalami sebelas kali pergantian formasi. Tonny Koeswoyo sudah 14 tahun berpulang. Dan Yok Koeswoyo tidak lagi aktif di band yang bercikal bakal di Tuban, Jawa Timur, itu.

Padahal, Irfan tertua di Phenotip Plus alias P Plus, band pelestari lagu-lagu Koes Plus dari Bantul, Jogjakarta. Jadi, bisa dibayangkan betapa jauh jarak zaman antara cah-cah asal Desa Melikan Lor itu dengan band yang mulai dikenal pada 1960-an tersebut.

Tapi, dengan fasihnya Irfan bisa bicara soal akord Koes Plus yang disebutnya ”miring-miring”. Atau Septyaji Dharma, sang drumer sekaligus personel termuda P Plus, yang mengungkapkan bagaimana tak mudahnya dirinya mencari ropel atau fill in di setiap lagu Koes Plus agar lebih mirip dengan rekaman asli.

Itu bukti kesekian betapa pengaruh Koes Plus melintas zaman, melintas generasi. Cara mereka mengharmonisasi musik, cara mereka menulis lirik, tak lekang dimakan zaman. Band garage rock Kelompok Penerbang Roket, misalnya, termasuk pengagum mereka. Terutama lagu Kelelawar, yang kala pertama dirilis pada 1969 sempat seret di pasar.

”Kami awalnya iseng karena sedang belajar tentang musik. Tapi, lama-lama kami ingin juga mengeksplor bakat kami,” ujar Irfan (lead guitar dan keyboard).

Phenotip yang dalam bahasa fisika berarti keturunan atau kemiripan itu berdiri sejak 2016, saat Irfan, Dharma, Pradipta Perisai (bas), dan Setiawan (vokal/rhythm guitar) masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sejak kecil empat sekawan yang berasal dari desa yang sama itu memang sering mendengarkan lagu-lagu Koes Bersaudara/Koes Plus. Kebetulan, dalam kurun 1999 hingga 2012 di Bantul sempat terbentuk grup band pelestari Koes Plus lain, yakni Ngak Ngik Ngok Band.

Baca Juga :  Setiap Jumat Butuh 300 Masker untuk Jamaah

Kala itu Ngak Ngik Ngok menjadi band kebanggaan Bumi Projo Tamansari, julukan Bantul. Base camp atau studio yang dipakai P Plus saat ini juga studio milik Ngak Ngik Ngok.

Ngak-ngik-ngok adalah sebutan Presiden Soekarno untuk musik Barat. Itu terlontar dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1959. Dan, sebagai bagian upaya memerangi pengaruh imperialisme Barat pula, keluarlah Penetapan Presiden Nomor 11 Tahun 1963 tentang larangan musik ngak-ngik-ngok.

Dianggap melanggar larangan itu, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo –yang kala itu masih berbendera Koes Bersaudara– ditahan kejaksaan pada 4 Juni 1965. Musik mereka juga dilarang diputar. Tapi, kepada Budi Setiyono yang menulis reportase panjang bertajuk Ngak Ngik Ngok, Yok menyebut penahanan itu sebenarnya bagian dari misi negara dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia.

Di mata Irfan, akord yang dimainkan Koes Plus sedikit berbeda dari grup band lain. Terutama dari segi harmonisasi. Harmonisasi itu pula yang membuat karya-karya Koes Plus awet sepanjang masa.

Gaya permainan P Plus secara keseluruhan plek dengan aslinya. Ketukan drum khas Murry, misalnya, berhasil direplika Dharma. Dia mengaku selalu berusaha memainkan style drum semirip mungkin. ”Menjaga orisinalitas lagu itu yang sulit,” kata Dharma yang dihubungi  Radar Jogja (jaringan Pontianak Post) secara terpisah.

Dibanding grup band lain, ketukan drum Murry di Koes Plus sangat bervariasi dan memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, dalam beberapa part ketukan diisi menggunakan kick drum. Padahal, pada grup musik umumnya, ketukan diisi menggunakan snare drum.

Sejauh ini sudah sekitar 120 lagu Koes Plus yang mereka kuasai. Kuingat Selalu dan Senang-Senang Bergembira termasuk lagu-lagu favorit mereka.

Sebagaimana band profesional, P Plus juga punya manajemen dan seksi dokumentasi. Jam terbang mereka pun lumayan tinggi. Sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat serta Jakarta telah mereka rambah. ”Ya, kami terus belajar saja untuk mengulik lagu. Terus berlatih agar bisa semakin mirip lagi,” kata Irfan.

Baca Juga :  Mengintip Dapur Umum Kontingan Indonesia di SEA Games 2019

Di beberapa kesempatan berbeda, semua anggota P Plus sempat bertemu personel Koes Plus. Pertama, di acara Golden Memories di Jogja, mereka bertemu Yon Koeswoyo. Lalu bertemu Yok Koeswoyo di acara Gebyar Lagu Koes Plus di Solo. Irfan dkk juga sempat sowan ke rumah Nomo Koeswoyo (drumer Koes Bersaudara) di Magelang.

BendGo, band pelestari Koes Plus lainnya, malah mendapat kehormatan karena peluncuran album mereka, Tradisi Pertiwi, dihadiri langsung Yok. ”Ini yang saya tunggu. Nggak nyangka, ada pelestari yang bisa bikin saya suka. BendGo sama dengan Koes Plus dan semoga bisa jadi penerus Koes Plus,” ujar Aritonang, rhythm guitarist sekaligus vokalis BendGo, menirukan ucapan Yok, sang pemain bas Koes Plus.

Selain Tonank, sapaan akrab Aritonang, BendGo beranggota Kusnandar (lead guitar sekaligus vokal), Alung (keyboard, bas, dan vokal), serta Ipang (drum). BendGo merupakan kependekan dari Bendungan Jago, yang diambil dari nama jalan base camp pertama mereka di daerah Jakarta Pusat.

”Waktu itu masih pakai rumah Tono, mantan personel BendGo yang sebelumnya,” kata Tonank, seraya menambahkan bahwa mereka kemudian pindah ke rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Seharusnya di bulan ini BendGo kembali menggarap double album. Di dalamnya terdapat lagu yang diciptakan untuk Koes Plus yang berjudul Koeswoyo Murry. ”Koes Plus tak akan bisa digantikan siapa pun. Kalau kami, BendGo, menciptakan karya untuk meneruskan semangat dari Koes Plus,” katanya.

Dharma juga tak bisa lupa wejangan para personel Koes Plus yang pernah mereka temui. ”Yang paling kami ingat, kalau kami membuat lagu dari hati, pasti akan sampai juga ke hati,” ungkapnya.*

Diwejangi Yon, Yok, dan Nomo agar Bikin Lagu dari Hati

Saat P Plus terbentuk tiga tahun lalu, para personelnya masih duduk di bangku SMP. Kini mereka telah menguasai 120 lagu dan kukuh mempertahankan orisinalitas Koes Plus.

ANA R. DEWI, Jogjakarta–SHAFA NADIA, Jakarta 

SAAT Irfan Affandy lahir pada 5 Juli 2001, Koes Plus sudah merilis sekitar 85 album. Telah mengalami sebelas kali pergantian formasi. Tonny Koeswoyo sudah 14 tahun berpulang. Dan Yok Koeswoyo tidak lagi aktif di band yang bercikal bakal di Tuban, Jawa Timur, itu.

Padahal, Irfan tertua di Phenotip Plus alias P Plus, band pelestari lagu-lagu Koes Plus dari Bantul, Jogjakarta. Jadi, bisa dibayangkan betapa jauh jarak zaman antara cah-cah asal Desa Melikan Lor itu dengan band yang mulai dikenal pada 1960-an tersebut.

Tapi, dengan fasihnya Irfan bisa bicara soal akord Koes Plus yang disebutnya ”miring-miring”. Atau Septyaji Dharma, sang drumer sekaligus personel termuda P Plus, yang mengungkapkan bagaimana tak mudahnya dirinya mencari ropel atau fill in di setiap lagu Koes Plus agar lebih mirip dengan rekaman asli.

Itu bukti kesekian betapa pengaruh Koes Plus melintas zaman, melintas generasi. Cara mereka mengharmonisasi musik, cara mereka menulis lirik, tak lekang dimakan zaman. Band garage rock Kelompok Penerbang Roket, misalnya, termasuk pengagum mereka. Terutama lagu Kelelawar, yang kala pertama dirilis pada 1969 sempat seret di pasar.

”Kami awalnya iseng karena sedang belajar tentang musik. Tapi, lama-lama kami ingin juga mengeksplor bakat kami,” ujar Irfan (lead guitar dan keyboard).

Phenotip yang dalam bahasa fisika berarti keturunan atau kemiripan itu berdiri sejak 2016, saat Irfan, Dharma, Pradipta Perisai (bas), dan Setiawan (vokal/rhythm guitar) masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sejak kecil empat sekawan yang berasal dari desa yang sama itu memang sering mendengarkan lagu-lagu Koes Bersaudara/Koes Plus. Kebetulan, dalam kurun 1999 hingga 2012 di Bantul sempat terbentuk grup band pelestari Koes Plus lain, yakni Ngak Ngik Ngok Band.

Baca Juga :  Kisah Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Kala itu Ngak Ngik Ngok menjadi band kebanggaan Bumi Projo Tamansari, julukan Bantul. Base camp atau studio yang dipakai P Plus saat ini juga studio milik Ngak Ngik Ngok.

Ngak-ngik-ngok adalah sebutan Presiden Soekarno untuk musik Barat. Itu terlontar dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1959. Dan, sebagai bagian upaya memerangi pengaruh imperialisme Barat pula, keluarlah Penetapan Presiden Nomor 11 Tahun 1963 tentang larangan musik ngak-ngik-ngok.

Dianggap melanggar larangan itu, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo –yang kala itu masih berbendera Koes Bersaudara– ditahan kejaksaan pada 4 Juni 1965. Musik mereka juga dilarang diputar. Tapi, kepada Budi Setiyono yang menulis reportase panjang bertajuk Ngak Ngik Ngok, Yok menyebut penahanan itu sebenarnya bagian dari misi negara dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia.

Di mata Irfan, akord yang dimainkan Koes Plus sedikit berbeda dari grup band lain. Terutama dari segi harmonisasi. Harmonisasi itu pula yang membuat karya-karya Koes Plus awet sepanjang masa.

Gaya permainan P Plus secara keseluruhan plek dengan aslinya. Ketukan drum khas Murry, misalnya, berhasil direplika Dharma. Dia mengaku selalu berusaha memainkan style drum semirip mungkin. ”Menjaga orisinalitas lagu itu yang sulit,” kata Dharma yang dihubungi  Radar Jogja (jaringan Pontianak Post) secara terpisah.

Dibanding grup band lain, ketukan drum Murry di Koes Plus sangat bervariasi dan memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, dalam beberapa part ketukan diisi menggunakan kick drum. Padahal, pada grup musik umumnya, ketukan diisi menggunakan snare drum.

Sejauh ini sudah sekitar 120 lagu Koes Plus yang mereka kuasai. Kuingat Selalu dan Senang-Senang Bergembira termasuk lagu-lagu favorit mereka.

Sebagaimana band profesional, P Plus juga punya manajemen dan seksi dokumentasi. Jam terbang mereka pun lumayan tinggi. Sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat serta Jakarta telah mereka rambah. ”Ya, kami terus belajar saja untuk mengulik lagu. Terus berlatih agar bisa semakin mirip lagi,” kata Irfan.

Baca Juga :  Pelatihan Pemasaran Produk Online Bagi Pokmas Desa Peduli Gambut

Di beberapa kesempatan berbeda, semua anggota P Plus sempat bertemu personel Koes Plus. Pertama, di acara Golden Memories di Jogja, mereka bertemu Yon Koeswoyo. Lalu bertemu Yok Koeswoyo di acara Gebyar Lagu Koes Plus di Solo. Irfan dkk juga sempat sowan ke rumah Nomo Koeswoyo (drumer Koes Bersaudara) di Magelang.

BendGo, band pelestari Koes Plus lainnya, malah mendapat kehormatan karena peluncuran album mereka, Tradisi Pertiwi, dihadiri langsung Yok. ”Ini yang saya tunggu. Nggak nyangka, ada pelestari yang bisa bikin saya suka. BendGo sama dengan Koes Plus dan semoga bisa jadi penerus Koes Plus,” ujar Aritonang, rhythm guitarist sekaligus vokalis BendGo, menirukan ucapan Yok, sang pemain bas Koes Plus.

Selain Tonank, sapaan akrab Aritonang, BendGo beranggota Kusnandar (lead guitar sekaligus vokal), Alung (keyboard, bas, dan vokal), serta Ipang (drum). BendGo merupakan kependekan dari Bendungan Jago, yang diambil dari nama jalan base camp pertama mereka di daerah Jakarta Pusat.

”Waktu itu masih pakai rumah Tono, mantan personel BendGo yang sebelumnya,” kata Tonank, seraya menambahkan bahwa mereka kemudian pindah ke rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Seharusnya di bulan ini BendGo kembali menggarap double album. Di dalamnya terdapat lagu yang diciptakan untuk Koes Plus yang berjudul Koeswoyo Murry. ”Koes Plus tak akan bisa digantikan siapa pun. Kalau kami, BendGo, menciptakan karya untuk meneruskan semangat dari Koes Plus,” katanya.

Dharma juga tak bisa lupa wejangan para personel Koes Plus yang pernah mereka temui. ”Yang paling kami ingat, kalau kami membuat lagu dari hati, pasti akan sampai juga ke hati,” ungkapnya.*

Most Read

Artikel Terbaru

/