23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Kebun Bibit Rakyat, Upaya Pemulihan Lahan Kritis dan Perekonomian Masyarakat

Kebun Bibit Rakyat (KBR) merupakan program pemerintah untuk menyediakan bibit tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna (MPTS) yang dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok masyarakat di pedesaan. Program ini berfungsi sebagai upaya pemulihan lahan kritis, juga membantu perekonomian masyarakat. Lantas bagimana caranya?

Arief Nugroho, Kubu Raya

Sore itu, Jumat (11/11), Masdar dan beberapa anggota Kelompok Berkat Jaya di Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya tengah sibuk menyiangi rumput yang tumbuh di sela-sela bedeng bibit Pinang di Kebun Bibit Rakyat yang dikelola kelompoknya.

Kebun Bibit Rakyat tersebut merupakan bantuan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas Kalimantan Barat.

Bersama 15 orang anggota kelompok di desa itu, mereka menanam sebanyak 33 ribu bibit Pinang, yang rencananya akan ditanam di lahan-lahan kritis seluas 25 hektar milik masyarakat.

Menurut dia, saat ini lahan milik masyarakat, terutama milik kelompok tani banyak yang belum ditanami. Sehingga, lahan-lahan tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal.

“Alhamdulillah, kelompok kami yang menjadi salah satu yang terpilih dan mendapat bantuan dana sebesar Rp.100 juta untuk program rehabilitasi,” kata Masdar.

“dan kami memilih tanaman Pinang,” sambungnya.

Menurutnya, selain cara tanamnya mudah dan jarang terserang hama penyakit, Pinang merupakan tanaman yang memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus. Meskipun saat ini harga buah Pinang mengalami fluktuatif.

“Kalau harga memang naik turun. Sekarang biji pinang kering Rp7.000 per kilogram. Tapi, kemarin sebelum lebaran, tembus mencapai Rp. 25 ribu per kilogram. Dengan adanya program ini, kami sangat terbantu,” kata dia.

Baca Juga :  Bertahan Hidup Dengan Uluran Tangan Para Tetangga

Menurut Masdar, disamping menghasilkan buah, pelepah pinang juga dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan atau lainnya, seperti piring.

“Kami juga memanfaatkan pelepah pinang untuk dijadikan piring yang dikelola bersama BUMDes,” bebernya.

Selain Kelompok Berkat Jaya di Desa Punggur Besar, Kebun Bibit Rakyat lainnya juga dikelola secara swakelola oleh Kelompok tani Tunas Intan di Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Seperti halnya Kelompok tani Berkat Jaya, Kelompok tani Tunas Intan juga menanam bibit Pinang.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas Provinsi Kalimantan Barat, Remran mengatakan, Kebun Bibit Rakyat (KBR) merupakan kegiatan pembuatan bibit dalam rangka upaya rehabilitasi lahan kritis terutama di luar kawasan hutan.

KBR dilaksanakan oleh kelompok masyarakat secara swakelola, mulai dari proses pembibitan, perawatan hingga penanaman. Dalam program ini, kata Remran, BPDAS Kapuas memberikan bantuan dana sebesar Rp 100 juta melalui proposal yang diajukan oleh kelompok tani.

“KBR ini merupakan salah satu kegiatan rehabilitasi lahan kritis di luar kawasan hutan oleh masyarakat. Kami memberikan bantuan dana, dan prasarana lainnya, seperti naungan, polybag dan lainnya,” kata Remran.

Selain bantuan dana, pihaknya juga menyediakan tenaga pendamping, agar proses pembibitan hingga penanaman bibit sesuai yang diharapkan.

Untuk tanamannya sendiri, kata Remran, adalah jenis-jenis tanaman yang diminati oleh masyarakat atau kelompok. Dengan harapan, kelompok masyarakat tersebut, selain dapat memulihkan lahan kritis melalui rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), juga dapat membantu perekonomian masyarakat. Karena setiap bibit yang mereka tanam dan tumbuh, akan diberikan kompensasi Rp.600 per bibit.

Baca Juga :  Aksi Tanam Pohon Pulihkan Lahan Kritis

“Jadi selain mereka mendapat upah perminggu dari proses pembibitan, perawatan, mereka juga juga mendapat kompensasi dari bibit yang ditanam dan tumbuh. Dengan seperti itu, secara ekonomi masyarakat terbantu,” beber Remran.

Namun demikian, kata Remran, meskipun Pinang yang ditanam adalah pinang lokal, tetapi benih untuk pembibitan tidak boleh benih asal-asalan. Melainkan harus mencari benih yang berkualitas, sehingga kedepannya pohon pinang tersebut dapat menghasilkan buah yang maksimal.

“Dengan bibit yang bagus, maka dalam kurun waktu 5 tahun, masyarakat bisa memanen hasilnya. Tentunya dengan hasil yang maksimal.,” terangnya.

Dikatakan Remran, saat ini jumlah Kebun Bibit Rakyat ada 52 unit yang tersebar di lima Kabupaten di Kalimantan Barat. Di antaranya Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau, Landak dan Kubu Raya.

“Alhamdulillah dengan kegiatan KBR ini secara ekonomi mereka bisa terbantu. Terutama ibu-ibu. Membantu suami,” katanya.

Pihaknya berharap, program KBR bisa berlanjut dan menyasar kelompok-kelompok masyarakat di daerah lainnya, sehingga luasan lahan kritis di Kalbar dapat berkurang dan dapat mengantisipasi bencana alam, seperti banjir yang setiap tahunnya terjadi.

Untuk diketahui, lahan kritis di Kalimantan Barat saat ini mencapai 969 ribu hektar, yang tersebar di dalam maupun di luar kawasan hutan. Sehingga Kalimantan Barat rentan terhadap bencana alam.**

Kebun Bibit Rakyat (KBR) merupakan program pemerintah untuk menyediakan bibit tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna (MPTS) yang dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok masyarakat di pedesaan. Program ini berfungsi sebagai upaya pemulihan lahan kritis, juga membantu perekonomian masyarakat. Lantas bagimana caranya?

Arief Nugroho, Kubu Raya

Sore itu, Jumat (11/11), Masdar dan beberapa anggota Kelompok Berkat Jaya di Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya tengah sibuk menyiangi rumput yang tumbuh di sela-sela bedeng bibit Pinang di Kebun Bibit Rakyat yang dikelola kelompoknya.

Kebun Bibit Rakyat tersebut merupakan bantuan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas Kalimantan Barat.

Bersama 15 orang anggota kelompok di desa itu, mereka menanam sebanyak 33 ribu bibit Pinang, yang rencananya akan ditanam di lahan-lahan kritis seluas 25 hektar milik masyarakat.

Menurut dia, saat ini lahan milik masyarakat, terutama milik kelompok tani banyak yang belum ditanami. Sehingga, lahan-lahan tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal.

“Alhamdulillah, kelompok kami yang menjadi salah satu yang terpilih dan mendapat bantuan dana sebesar Rp.100 juta untuk program rehabilitasi,” kata Masdar.

“dan kami memilih tanaman Pinang,” sambungnya.

Menurutnya, selain cara tanamnya mudah dan jarang terserang hama penyakit, Pinang merupakan tanaman yang memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus. Meskipun saat ini harga buah Pinang mengalami fluktuatif.

“Kalau harga memang naik turun. Sekarang biji pinang kering Rp7.000 per kilogram. Tapi, kemarin sebelum lebaran, tembus mencapai Rp. 25 ribu per kilogram. Dengan adanya program ini, kami sangat terbantu,” kata dia.

Baca Juga :  Bertahan Hidup Dengan Uluran Tangan Para Tetangga

Menurut Masdar, disamping menghasilkan buah, pelepah pinang juga dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan atau lainnya, seperti piring.

“Kami juga memanfaatkan pelepah pinang untuk dijadikan piring yang dikelola bersama BUMDes,” bebernya.

Selain Kelompok Berkat Jaya di Desa Punggur Besar, Kebun Bibit Rakyat lainnya juga dikelola secara swakelola oleh Kelompok tani Tunas Intan di Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Seperti halnya Kelompok tani Berkat Jaya, Kelompok tani Tunas Intan juga menanam bibit Pinang.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas Provinsi Kalimantan Barat, Remran mengatakan, Kebun Bibit Rakyat (KBR) merupakan kegiatan pembuatan bibit dalam rangka upaya rehabilitasi lahan kritis terutama di luar kawasan hutan.

KBR dilaksanakan oleh kelompok masyarakat secara swakelola, mulai dari proses pembibitan, perawatan hingga penanaman. Dalam program ini, kata Remran, BPDAS Kapuas memberikan bantuan dana sebesar Rp 100 juta melalui proposal yang diajukan oleh kelompok tani.

“KBR ini merupakan salah satu kegiatan rehabilitasi lahan kritis di luar kawasan hutan oleh masyarakat. Kami memberikan bantuan dana, dan prasarana lainnya, seperti naungan, polybag dan lainnya,” kata Remran.

Selain bantuan dana, pihaknya juga menyediakan tenaga pendamping, agar proses pembibitan hingga penanaman bibit sesuai yang diharapkan.

Untuk tanamannya sendiri, kata Remran, adalah jenis-jenis tanaman yang diminati oleh masyarakat atau kelompok. Dengan harapan, kelompok masyarakat tersebut, selain dapat memulihkan lahan kritis melalui rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), juga dapat membantu perekonomian masyarakat. Karena setiap bibit yang mereka tanam dan tumbuh, akan diberikan kompensasi Rp.600 per bibit.

Baca Juga :  Jadikan Drone Sebagai Penabur Benih dan Pupuk

“Jadi selain mereka mendapat upah perminggu dari proses pembibitan, perawatan, mereka juga juga mendapat kompensasi dari bibit yang ditanam dan tumbuh. Dengan seperti itu, secara ekonomi masyarakat terbantu,” beber Remran.

Namun demikian, kata Remran, meskipun Pinang yang ditanam adalah pinang lokal, tetapi benih untuk pembibitan tidak boleh benih asal-asalan. Melainkan harus mencari benih yang berkualitas, sehingga kedepannya pohon pinang tersebut dapat menghasilkan buah yang maksimal.

“Dengan bibit yang bagus, maka dalam kurun waktu 5 tahun, masyarakat bisa memanen hasilnya. Tentunya dengan hasil yang maksimal.,” terangnya.

Dikatakan Remran, saat ini jumlah Kebun Bibit Rakyat ada 52 unit yang tersebar di lima Kabupaten di Kalimantan Barat. Di antaranya Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau, Landak dan Kubu Raya.

“Alhamdulillah dengan kegiatan KBR ini secara ekonomi mereka bisa terbantu. Terutama ibu-ibu. Membantu suami,” katanya.

Pihaknya berharap, program KBR bisa berlanjut dan menyasar kelompok-kelompok masyarakat di daerah lainnya, sehingga luasan lahan kritis di Kalbar dapat berkurang dan dapat mengantisipasi bencana alam, seperti banjir yang setiap tahunnya terjadi.

Untuk diketahui, lahan kritis di Kalimantan Barat saat ini mencapai 969 ribu hektar, yang tersebar di dalam maupun di luar kawasan hutan. Sehingga Kalimantan Barat rentan terhadap bencana alam.**

Most Read

Artikel Terbaru

/