alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Malang Punya Ruang Laktasi, Warung di Banyuwangi Mirip Kafe 

Pasar Tradisional yang Menjelma Jujukan Wisata

Kesan kumuh, panas, bau, dan becek biasanya tersemat pada pasar tradisional. Namun, beberapa pasar di Malang dan Banyuwangi nyatanya tak memberikan gambaran itu. Justru pasar-pasar tersebut bisa menjadi jujukan wisatawan.

CHARINA MARIETASARI, Malang-Banyuwangi

Tulisan ”Selamat Datang di Pasar Oro-Oro Dowo, Kota Malang” terpampang di layar digital, menyambut pengunjung di pintu masuk. Di belakangnya terdapat papan arah untuk memudahkan konsumen. Yang mau belanja peracangan bisa lurus. Sementara yang sedang mencari sayur dan buah ke kanan. Kalau zona ikan dan makanan ke kiri.

Sebuah televisi besar terpajang di tembok kanan pintu masuk untuk menayangkan harga komoditas dari departemen perdagangan yang berubah setiap harinya. Lima tahun lalu Pasar Rakyat Oro-Oro Dowo tersebut direvitalisasi pemerintah setempat. Dari yang sebelumnya kumuh kini menjelma jadi pasar yang bersih, tetapi tetap mengedepankan konsep pasar rakyat. Pedagang dan pembeli masih berkomunikasi tawar-menawar harga. ”Enak belanja di sini. Bersih dan dingin, nggak kalah sama di swalayan,” celetuk Sumiyati yang saat itu sedang belanja sayur-mayur.

Penataan kios di pasar tersebut sangatlah rapi. Tiap lapak dibagi berdasar jenis. Ada kelompok daging, sayuran, makanan, buah, kue, dan lain-lain. Tidak berjejal. Lorong antar pedagang terbilang lebar untuk dua lajur berjalan. Bagian atap langit juga cukup tinggi sehingga sirkulasi udara terjaga. Tidak ada ceritanya penghuni pasar mengeluh gerah di sana.

Lantai pasar yang berbahan keramik dijaga selalu kering dan bersih. Tidak ada sampah yang berserakan. Jika berniat belanja banyak, kita tidak perlu khawatir. Ada fasilitas troli yang dijajar rapi di dekat pintu masuk. Pasar di Jalan Guntur, Malang, itu mempunyai luas 3.400 meter persegi dan menampung sekitar 251 pedagang yang tersebar dalam 71 kios dan 180 los. ”Setelah diubah gini, pembeli saya jadi lebih banyak. Apalagi kalau Sabtu Minggu, tambah rame,” kata penjual tempe Haryono yang sudah 20 tahun berdagang di sana.

Sanitasi pasar diatur dengan baik. Air limbah bekas cucian sayur, ikan, maupun daging langsung disalurkan melalui pipa-pipa bawah tanah. Putri, penjual ayam, mengungkapkan bahwa saat Minggu dirinya sering menjumpai pembeli dari luar kota. Banyak orang penasaran melihat kebersihan pasar. ”Kalau weekend banyak yang rekreasi ke sini. Ada yang dari Lombok, Jember, Bandung, dan lain-lain,” terang Putri.

Di pasar ini terdapat fasilitas musala dan ruang menyusui yang mungkin tidak ditemui di pasar lainnya. Ada pula wastafel di tiap sudut pasar untuk mencuci tangan bagi pedagang dan pengunjung. Yang membuat lebih nyaman lagi, lokasi pasar bersebelahan dengan Taman Malabar. Taman tersebut menyerupai hutan kota karena banyak pohon tua. Sangat mungkin mereka yang sedang menunggu belanja bisa melakukan aktivitas olahraga di taman atau sekadar duduk santai di bangku yang tersedia.

Baca Juga :  Kisah Inovator Semen Geo Fast, Sotya Astuningsih

Pasar yang menjual banyak kue tradisional itu dibangun ulang pada Agustus–Desember 2015. Dananya dari bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan. Pasar diresmikan pada April 2016.

Kepala Dinas Perdagangan Malang Wahyu Setianto menjelaskan, jumlah total pasar di Malang sekarang 28. Salah satu fokus kerja Pemkot Malang adalah merevitalisasi pasar. Tujuan utamanya, menghilangkan kekumuhan. ”Karena pasar-pasar di Kota Malang ini dibangunnya sudah lama, bahkan ada yang sejak zaman Belanda,” ungkapnya.

Selain Oro-Oro Dowo, yang sudah direvitalisasi di Malang adalah Pasar Bareng, Gadanglama, Klojen, dan Bunul. ”Untuk tahun anggaran 2019, giliran Pasar Sukun, Sawojajar, Mergan, dan Kasin yang juga diubah menjadi seperti Oro-Oro Dowo,” terangnya.

Dana revitalisasinya berasal dari APBD dan pusat. Wahyu menerangkan, revitalisasi Pasar Oro-Oro Dowo memakai dana alokasi khusus sebanyak Rp 7 miliar. ”Memang kami belum punya data resmi terkait tingkat kunjungan. Tapi, bisa dibilang ada peningkatan kunjungan sekitar 20 persen setelah pasar-pasar direvitalisasi,” tuturnya.

 

****

Setelah puas mengeksplorasi Pasar Oro-Oro Dowo, sekarang beralih ke Pasar Klojen di Jalan Cokroaminoto, Malang. Pasar berbentuk segi empat itu dikelilingi kios warna-warni. Ada hijau, ungu, kuning, dan warna cerah lainnya. Konsepnya sama dengan Pasar Oro-Oro Dowo. Bersih, nyaman, lorongnya lebar, dan bagian atap langit dibuat tinggi. ”Pasar Klojen direvitalisasi 2018 pakai dana DAK sebesar Rp 4,9 miliar,” tutur Wahyu.

Kepala Pasar Klojen Totok menerangkan, ke depan Pasar Klojen ditetapkan sebagai pasar halal oleh wali kota Malang. ”Kalau sudah jadi pasar halal, akan ada sedikit perbedaan dalam penyajian. Tentu penyajiannya akan lebih syariah, kami masih pelajari lagi,” jelasnya.

Di dalam pasar seluas 1.860 meter persegi itu terdapat 315 pedagang. Namun, yang aktif sekitar 93 pedagang. ”Maksudnya yang aktif adalah yang setiap hari berjualan di Pasar Klojen,” tutur Totok.

Fasilitas di pasar tersebut memang belum selengkap di Pasar Oro-Oro Dowo. Belum ada musala dan ruang laktasi. Namun, hal itu tak mengurangi kenyamanan. Menurut Totok, semua fasilitas tersebut dibangun bulan ini.

Pengawas dan Ketertiban (Wastib) Pasar Klojen Devi menjelaskan, Pasar Klojen sekarang tidak kalah dengan toko swalayan. ”Kalau dulu mana ada yang mau ke sini. Sepi sekali,” ujarnya.

Devi bersama dengan temannya sesama wastib, Diana, memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban pasar yang buka sejak subuh itu. Misalnya, melarang pengamen dan pemulung masuk. Dia juga selalu mengingatkan para pedagang apabila penataan kiosnya tidak rapi atau mengganggu tempat jalannya pengunjung. ”Harus tegas untuk urusan kebersihan,” ujar Devi.

Baca Juga :  Monstera Semakin Diburu, Harganya Tembus Jutaan Rupiah

 

****

Selain di Malang, revitalisasi dilakukan di Pasar Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi secara bertahap melakukan revitalisasi pasar tradisional. Selain memenuhi fungsi sebagai tempat warga mendapat kebutuhan dengan harga murah, revitalisasi dimaksudkan agar pasar juga menjadi destinasi berkumpul dan berwisata.

Salah satu yang direvitalisasi adalah Pasar Banyuwangi. Pasar di pusat kota tersebut kini dilengkapi sentra kuliner ala pujasera. Ada 23 stan yang dipugar dengan investasi Rp 1,1 miliar. Stan tersebut menjadi lebih nyaman dan menarik layaknya kafe-kafe. Sentra kuliner yang terletak di bagian belakang pasar itu memiliki desain cantik ukiran-ukiran kayu bermotif khas Banyuwangi. Lantainya memakai ubin klasik.

Desain seperti itu membuat kesan pasar tradisional yang identik dengan tidak beraturan kini hilang. Berubah menjadi tempat asyik untuk berkumpul bersama keluarga untuk berwisata dan tentu saja foto-foto. Di sentra kuliner tersebut dijual berbagai makanan khas Banyuwangi. Ada sego tempong, rujak soto, sego cawuk, rawon, dan masih banyak lagi. ”Menteri luar negeri dan menteri perdagangan pernah makan ketan saya di sini,” kata Abdus, pemilik kedai kopi dan ketan.

Pedagang lainnya, Iswati, merasa sangat diuntungkan dengan perombakan pasar itu. Lapaknya menjadi lebih bagus dan bersih. ”Kami hanya bayar retribusi Rp 5 ribu per hari ke petugas pasar. Sangat tidak apa-apa, yang penting dagangan laris,” kata penjual rujak soto dan pecel rawon yang sudah ada di pasar itu sejak 1996.

Hanifan, pengunjung di kedai kopi, mengaku kerasan nongkrong di pasar. ”Suasananya kayak kafe, tapi harganya murah. Nasi bungkus cuma Rp 5 ribu,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan Banyuwangi Is Wahyudi menuturkan, pasar bisa menjadi destinasi yang menarik sepanjang memiliki desain yang khas dan nyaman. Dengan begitu, wisatawan bisa merasakan pengalaman bertransaksi di pasar tradisional sekaligus dapat mencicipi kuliner lokal.

Menurut dia, merevitalisasi pasar tradisional seperti itu sekaligus memaksa para pedagang untuk menjaga kebersihan dan kerapian pasar. Sebab, memang didesain sebagai destinasi, bukan cuma untuk transaksi dagang.

Banyuwangi telah memiliki 21 pasar. Beberapa yang telah direvitalisasi adalah Pasar Benculuk, Pasar Blambangan, Pasar Banyuwangi, dan Pasar Kebondalem. Kemudian, untuk tahun ini, Pemkab Banyuwangi tengah merevitalisasi Pasar Gendoh Sempu, Pasar Jatirejo, dan Pasar Rogojampi. ”Konsepnya bukan dijadikan sentra kuliner. Para pedagangnya akan kami kelompokkan sesuai jenis yang dijual supaya lebih rapi. Karena selama ini tidak beraturan,” paparnya. (*/c10/ayi)

Pasar Tradisional yang Menjelma Jujukan Wisata

Kesan kumuh, panas, bau, dan becek biasanya tersemat pada pasar tradisional. Namun, beberapa pasar di Malang dan Banyuwangi nyatanya tak memberikan gambaran itu. Justru pasar-pasar tersebut bisa menjadi jujukan wisatawan.

CHARINA MARIETASARI, Malang-Banyuwangi

Tulisan ”Selamat Datang di Pasar Oro-Oro Dowo, Kota Malang” terpampang di layar digital, menyambut pengunjung di pintu masuk. Di belakangnya terdapat papan arah untuk memudahkan konsumen. Yang mau belanja peracangan bisa lurus. Sementara yang sedang mencari sayur dan buah ke kanan. Kalau zona ikan dan makanan ke kiri.

Sebuah televisi besar terpajang di tembok kanan pintu masuk untuk menayangkan harga komoditas dari departemen perdagangan yang berubah setiap harinya. Lima tahun lalu Pasar Rakyat Oro-Oro Dowo tersebut direvitalisasi pemerintah setempat. Dari yang sebelumnya kumuh kini menjelma jadi pasar yang bersih, tetapi tetap mengedepankan konsep pasar rakyat. Pedagang dan pembeli masih berkomunikasi tawar-menawar harga. ”Enak belanja di sini. Bersih dan dingin, nggak kalah sama di swalayan,” celetuk Sumiyati yang saat itu sedang belanja sayur-mayur.

Penataan kios di pasar tersebut sangatlah rapi. Tiap lapak dibagi berdasar jenis. Ada kelompok daging, sayuran, makanan, buah, kue, dan lain-lain. Tidak berjejal. Lorong antar pedagang terbilang lebar untuk dua lajur berjalan. Bagian atap langit juga cukup tinggi sehingga sirkulasi udara terjaga. Tidak ada ceritanya penghuni pasar mengeluh gerah di sana.

Lantai pasar yang berbahan keramik dijaga selalu kering dan bersih. Tidak ada sampah yang berserakan. Jika berniat belanja banyak, kita tidak perlu khawatir. Ada fasilitas troli yang dijajar rapi di dekat pintu masuk. Pasar di Jalan Guntur, Malang, itu mempunyai luas 3.400 meter persegi dan menampung sekitar 251 pedagang yang tersebar dalam 71 kios dan 180 los. ”Setelah diubah gini, pembeli saya jadi lebih banyak. Apalagi kalau Sabtu Minggu, tambah rame,” kata penjual tempe Haryono yang sudah 20 tahun berdagang di sana.

Sanitasi pasar diatur dengan baik. Air limbah bekas cucian sayur, ikan, maupun daging langsung disalurkan melalui pipa-pipa bawah tanah. Putri, penjual ayam, mengungkapkan bahwa saat Minggu dirinya sering menjumpai pembeli dari luar kota. Banyak orang penasaran melihat kebersihan pasar. ”Kalau weekend banyak yang rekreasi ke sini. Ada yang dari Lombok, Jember, Bandung, dan lain-lain,” terang Putri.

Di pasar ini terdapat fasilitas musala dan ruang menyusui yang mungkin tidak ditemui di pasar lainnya. Ada pula wastafel di tiap sudut pasar untuk mencuci tangan bagi pedagang dan pengunjung. Yang membuat lebih nyaman lagi, lokasi pasar bersebelahan dengan Taman Malabar. Taman tersebut menyerupai hutan kota karena banyak pohon tua. Sangat mungkin mereka yang sedang menunggu belanja bisa melakukan aktivitas olahraga di taman atau sekadar duduk santai di bangku yang tersedia.

Baca Juga :  Manfaatkan Platform Digital, Kerajinan Tangan Berbahan Kulit Kayu Kapuak Terjual Hingga ke Amerika

Pasar yang menjual banyak kue tradisional itu dibangun ulang pada Agustus–Desember 2015. Dananya dari bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan. Pasar diresmikan pada April 2016.

Kepala Dinas Perdagangan Malang Wahyu Setianto menjelaskan, jumlah total pasar di Malang sekarang 28. Salah satu fokus kerja Pemkot Malang adalah merevitalisasi pasar. Tujuan utamanya, menghilangkan kekumuhan. ”Karena pasar-pasar di Kota Malang ini dibangunnya sudah lama, bahkan ada yang sejak zaman Belanda,” ungkapnya.

Selain Oro-Oro Dowo, yang sudah direvitalisasi di Malang adalah Pasar Bareng, Gadanglama, Klojen, dan Bunul. ”Untuk tahun anggaran 2019, giliran Pasar Sukun, Sawojajar, Mergan, dan Kasin yang juga diubah menjadi seperti Oro-Oro Dowo,” terangnya.

Dana revitalisasinya berasal dari APBD dan pusat. Wahyu menerangkan, revitalisasi Pasar Oro-Oro Dowo memakai dana alokasi khusus sebanyak Rp 7 miliar. ”Memang kami belum punya data resmi terkait tingkat kunjungan. Tapi, bisa dibilang ada peningkatan kunjungan sekitar 20 persen setelah pasar-pasar direvitalisasi,” tuturnya.

 

****

Setelah puas mengeksplorasi Pasar Oro-Oro Dowo, sekarang beralih ke Pasar Klojen di Jalan Cokroaminoto, Malang. Pasar berbentuk segi empat itu dikelilingi kios warna-warni. Ada hijau, ungu, kuning, dan warna cerah lainnya. Konsepnya sama dengan Pasar Oro-Oro Dowo. Bersih, nyaman, lorongnya lebar, dan bagian atap langit dibuat tinggi. ”Pasar Klojen direvitalisasi 2018 pakai dana DAK sebesar Rp 4,9 miliar,” tutur Wahyu.

Kepala Pasar Klojen Totok menerangkan, ke depan Pasar Klojen ditetapkan sebagai pasar halal oleh wali kota Malang. ”Kalau sudah jadi pasar halal, akan ada sedikit perbedaan dalam penyajian. Tentu penyajiannya akan lebih syariah, kami masih pelajari lagi,” jelasnya.

Di dalam pasar seluas 1.860 meter persegi itu terdapat 315 pedagang. Namun, yang aktif sekitar 93 pedagang. ”Maksudnya yang aktif adalah yang setiap hari berjualan di Pasar Klojen,” tutur Totok.

Fasilitas di pasar tersebut memang belum selengkap di Pasar Oro-Oro Dowo. Belum ada musala dan ruang laktasi. Namun, hal itu tak mengurangi kenyamanan. Menurut Totok, semua fasilitas tersebut dibangun bulan ini.

Pengawas dan Ketertiban (Wastib) Pasar Klojen Devi menjelaskan, Pasar Klojen sekarang tidak kalah dengan toko swalayan. ”Kalau dulu mana ada yang mau ke sini. Sepi sekali,” ujarnya.

Devi bersama dengan temannya sesama wastib, Diana, memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban pasar yang buka sejak subuh itu. Misalnya, melarang pengamen dan pemulung masuk. Dia juga selalu mengingatkan para pedagang apabila penataan kiosnya tidak rapi atau mengganggu tempat jalannya pengunjung. ”Harus tegas untuk urusan kebersihan,” ujar Devi.

Baca Juga :  Pesawat Buatan Habibie N250 Gatotkoco Dimuseumkan

 

****

Selain di Malang, revitalisasi dilakukan di Pasar Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi secara bertahap melakukan revitalisasi pasar tradisional. Selain memenuhi fungsi sebagai tempat warga mendapat kebutuhan dengan harga murah, revitalisasi dimaksudkan agar pasar juga menjadi destinasi berkumpul dan berwisata.

Salah satu yang direvitalisasi adalah Pasar Banyuwangi. Pasar di pusat kota tersebut kini dilengkapi sentra kuliner ala pujasera. Ada 23 stan yang dipugar dengan investasi Rp 1,1 miliar. Stan tersebut menjadi lebih nyaman dan menarik layaknya kafe-kafe. Sentra kuliner yang terletak di bagian belakang pasar itu memiliki desain cantik ukiran-ukiran kayu bermotif khas Banyuwangi. Lantainya memakai ubin klasik.

Desain seperti itu membuat kesan pasar tradisional yang identik dengan tidak beraturan kini hilang. Berubah menjadi tempat asyik untuk berkumpul bersama keluarga untuk berwisata dan tentu saja foto-foto. Di sentra kuliner tersebut dijual berbagai makanan khas Banyuwangi. Ada sego tempong, rujak soto, sego cawuk, rawon, dan masih banyak lagi. ”Menteri luar negeri dan menteri perdagangan pernah makan ketan saya di sini,” kata Abdus, pemilik kedai kopi dan ketan.

Pedagang lainnya, Iswati, merasa sangat diuntungkan dengan perombakan pasar itu. Lapaknya menjadi lebih bagus dan bersih. ”Kami hanya bayar retribusi Rp 5 ribu per hari ke petugas pasar. Sangat tidak apa-apa, yang penting dagangan laris,” kata penjual rujak soto dan pecel rawon yang sudah ada di pasar itu sejak 1996.

Hanifan, pengunjung di kedai kopi, mengaku kerasan nongkrong di pasar. ”Suasananya kayak kafe, tapi harganya murah. Nasi bungkus cuma Rp 5 ribu,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan Banyuwangi Is Wahyudi menuturkan, pasar bisa menjadi destinasi yang menarik sepanjang memiliki desain yang khas dan nyaman. Dengan begitu, wisatawan bisa merasakan pengalaman bertransaksi di pasar tradisional sekaligus dapat mencicipi kuliner lokal.

Menurut dia, merevitalisasi pasar tradisional seperti itu sekaligus memaksa para pedagang untuk menjaga kebersihan dan kerapian pasar. Sebab, memang didesain sebagai destinasi, bukan cuma untuk transaksi dagang.

Banyuwangi telah memiliki 21 pasar. Beberapa yang telah direvitalisasi adalah Pasar Benculuk, Pasar Blambangan, Pasar Banyuwangi, dan Pasar Kebondalem. Kemudian, untuk tahun ini, Pemkab Banyuwangi tengah merevitalisasi Pasar Gendoh Sempu, Pasar Jatirejo, dan Pasar Rogojampi. ”Konsepnya bukan dijadikan sentra kuliner. Para pedagangnya akan kami kelompokkan sesuai jenis yang dijual supaya lebih rapi. Karena selama ini tidak beraturan,” paparnya. (*/c10/ayi)

Most Read

Artikel Terbaru

/