alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Cinta Hewan Bawa Pundi Rupiah

Melirik Bisnis Si Imut Hamster

Memulai bisnis bisa berawal dari rasa cinta terhadap hewan.  Hal inilah yang dilakukan oleh Luqman dalam mengembangkan bisnis ternak hamster. Kecintaannya pada hewan mungil itu, kini melahirkan pundi-pundi rezeki bagi.

Oleh: SITI SULBIYAH

Tepat pada Mei 2013, Luqman (29) memutuskan untuk memulai bisnis ternak. Saat itu Lulusan Biologi Universitas Tanjungpura ini sedang mencari kesibukan baru di tengah kegalauannya menyelesaikan tugas akhir perkuliahan. Ia bertekad memulai usaha sebelum dirinya menyandang status sarjana.

Sebagai mahasiswa ilmu alam, dunia hewan cukup disukainya. Karena itu ia pikir tak ada salahnya memilih usaha ternak hewan. Media sosial pun ia jadikan rujukan untuk melihat seberapa besar potensi usaha ternak, khususnya di Kalbar. “Saya cari kata kunci hewan peliharaan, dan ternyata banyak yang cari. Termasuk hamster, ternyata banyak yang cari,” kata Luqman, Owner Hamster Mania.

Setelah melalui penggalian informasi soal potensi usaha ternak hewan peliharaan, hatinya berlabuh pada hamster. Ia pun mulai mengumpulkan modal awal untuk membangun usaha tersebut. Modal awal, ia gelontorkan Rp5 juta. Uang itu didapat dari penjualan Play Station kesayangan miliknya, serta meminjam dari karibnya. Dari modal itu, ia membangun kandang hamster sekaligus mendatangkan anakan hamster dari Bandung untuk dikembangbiakkan.

Namun ternyata langkah awal ini  tak semulus yang ia kira. Sebanyak 200 ekor anakan hamster yang ia pesan, sebagian besar mati dalam perjalanan. Pengalaman yang minim saat itu, membuatnya salah perhitungan. Ia pun merugi.

Lantas ia berhenti? Tentu saja tidak. Luqman mendapat pelajaran besar dari kejadian itu. Dengan kerja keras dan kesabaran, bisnis yang dirintis semakin berkembang. Saat ini, dalam satu bulan ia mampu menjual ratusan hamster. Rekor tertinggi adalah sebanyak 1000 ekor yang diborong pelanggan asal Malaysia.

Penjualan hamster meningkat seiring dengan semakin dikenalnya usaha Hamster Mania. Dari internet, sosial media, maupun dari mulut ke mulut. Cara-cara konvensional ditempuh. Ia juga pernah berjualan di Taman Alun-alun Kapuas, saat masih diperbolehkan dulu. Sesekali pada acara-acara besar maupun pameran yang digelar di kota ini. Kini, ia rutin menggelar lapak di area GOR Pangsuma setiap Minggu pagi.

Baca Juga :  Kisah Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Luqman juga memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, mulai dari media sosial, hingga optimalisasi usaha dengan fasilitas dari mesin pencari Google. “Bahkan pembeli dari luar negeri itu, tahunya dari Google Maps. Pernah ada pembeli dari Malaysia, India, hingga Amerika datang ke sini. Saat ini di Malaysia ada tiga pelanggan tetap yang setiap bulannya mengambil stok hamster dari saya,” kata dia.

Selain itu, untuk lebih mendekatkan dengan pelanggan setianya, ia juga rajin membuat konten Youtube bertema hamster. Nama akunnya, Hamster Mania. Publikasi via Youtube ini sangat efektif dan sangat mempengaruhi pangsa pasarnya, terutama di Malaysia. Konten yang ia buat, kini sudah hampir 100 video. “Bahkan saya sudah siapkan 400 judul lagi. Tinggal dieksekusi saja,” ujar dia.

Saat ini, jumlah stok hamster miliknya sekitar 200an ekor indukan, 500-1000 ekor anakan. Adapun hamster yang ia jual itu beragam jenisnya. Di antaranya, Campbell, Syrian, Hybrid, Winter White, Pearl, Roborovski. Harganya bervariasi sesuai dengan jenisnya, yakni Rp35.000-Rp110.000 per ekor. Sementara untuk anakan, harganya lebih murah Rp10 ribu per ekor dari harga indukan.

Banyak tantangan yang dihadapi Luqman dalam beternak hamster. Selain harus menjaga suhu kandang agar tidak terlampau panas, serangan dari hama tikus juga menjadi ancaman. “Tantangan terbesar ternak hamster itu hama. Tikus ini kadang bisa menembus kandang. Sekali makan, tikus bisa menghabiskan puluhan ekor hamster. Tapi yang dimakan cuma kepala saja,” tuturnya.

Selama hampir tujuh tahun menekuni bisnis ini, kecintaannya pada hamster semakin bertumbuh. Karena itu pula, ia merasa enjoy dan ringan dalam menjalani bisnis ternak tersebut. Baginya, membangun bisnis harus dimulai dengan kecintaan pada apa yang dibisniskan. “Kalau mau berbisnis hamster, maka kita harus mencintai hamster itu. Dengan begitu, kita akan lebih serius merawatnya. Supaya pelanggan juga merasa puas,” pungkas dia.

Baca Juga :  Mengenal Egha Rodhu Hansyah, Pembuat Aplikasi IniTukang

 

Teori Tak Seindah Praktik

Bagi yang suka atau hobi memelihara hamster, mungkin dapat menjadikannya sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Seperti Luqman (29), owner Hamster Mania mengatakan hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai bisnis ini adalah tekad dan mental, bukan modal.

“Perlu dipersiapkan mental, bukan modal. Karena sebenarnya, modal bisa dicari,” kata dia memberikan tips pertama membangun bisnis.

Menurutnya, mental yang tak mudah menyerah penting dimiliki bagi pengusaha pemula untuk bisnis apa saja, termasuk ternak hamster. “Mental yang tidak mudah menyerah itu adalah saat pengusaha berada di titik terlemah dalam bisnisnya, tetapi mudah bangkit kembali dari keterpurukannya,” ungkap Luqman.

Selain itu, lanjut Luqman, kecintaan pada hal yang dibisniskan juga bisa menjadi motivasi besar untuk bangkit saat usaha mengalami hambatan.

“Termasuk untuk usaha hamster, niatkan bukan karena bisnis semata, tetapi karena rasa cinta terhadap hamster. Agar kita berternaknya itu dengan senang hati,” tuturnya.

Secara teknis, kata Luqman, usaha ini membutuhkan modal. Besarannya tidak ada ketentuan khusus. Modal ini diperlukan untuk membeli hamster yang akan dikembangbiakkan, serta membeli sarana yang diperlukan untuk ternak hamster. “Siapkan ruangan khusus untuk kandang hamster yang representatif. Jangan sampai ruangannya mudah ditembus oleh hama tikus,” tutur Luqman.

Adapun untuk langkah awal, dia menyarankan kepada pemula untuk membeli sepasang hamster dalam jumlah yang tidak banyak. Membeli sepasang hamster dalam jumlah ratusan ekor, menurutnya justru terlalu berisiko. Pemula harus belajar terlebih dahulu seluk beluk perilaku hamster, dengan mempelajarinya lewat praktik secara langsung. “Karena teori itu tak seindah praktik. Harus banyak pengalaman, karena itu mulai dari yang kecil,” pungkas dia. (sti)

Melirik Bisnis Si Imut Hamster

Memulai bisnis bisa berawal dari rasa cinta terhadap hewan.  Hal inilah yang dilakukan oleh Luqman dalam mengembangkan bisnis ternak hamster. Kecintaannya pada hewan mungil itu, kini melahirkan pundi-pundi rezeki bagi.

Oleh: SITI SULBIYAH

Tepat pada Mei 2013, Luqman (29) memutuskan untuk memulai bisnis ternak. Saat itu Lulusan Biologi Universitas Tanjungpura ini sedang mencari kesibukan baru di tengah kegalauannya menyelesaikan tugas akhir perkuliahan. Ia bertekad memulai usaha sebelum dirinya menyandang status sarjana.

Sebagai mahasiswa ilmu alam, dunia hewan cukup disukainya. Karena itu ia pikir tak ada salahnya memilih usaha ternak hewan. Media sosial pun ia jadikan rujukan untuk melihat seberapa besar potensi usaha ternak, khususnya di Kalbar. “Saya cari kata kunci hewan peliharaan, dan ternyata banyak yang cari. Termasuk hamster, ternyata banyak yang cari,” kata Luqman, Owner Hamster Mania.

Setelah melalui penggalian informasi soal potensi usaha ternak hewan peliharaan, hatinya berlabuh pada hamster. Ia pun mulai mengumpulkan modal awal untuk membangun usaha tersebut. Modal awal, ia gelontorkan Rp5 juta. Uang itu didapat dari penjualan Play Station kesayangan miliknya, serta meminjam dari karibnya. Dari modal itu, ia membangun kandang hamster sekaligus mendatangkan anakan hamster dari Bandung untuk dikembangbiakkan.

Namun ternyata langkah awal ini  tak semulus yang ia kira. Sebanyak 200 ekor anakan hamster yang ia pesan, sebagian besar mati dalam perjalanan. Pengalaman yang minim saat itu, membuatnya salah perhitungan. Ia pun merugi.

Lantas ia berhenti? Tentu saja tidak. Luqman mendapat pelajaran besar dari kejadian itu. Dengan kerja keras dan kesabaran, bisnis yang dirintis semakin berkembang. Saat ini, dalam satu bulan ia mampu menjual ratusan hamster. Rekor tertinggi adalah sebanyak 1000 ekor yang diborong pelanggan asal Malaysia.

Penjualan hamster meningkat seiring dengan semakin dikenalnya usaha Hamster Mania. Dari internet, sosial media, maupun dari mulut ke mulut. Cara-cara konvensional ditempuh. Ia juga pernah berjualan di Taman Alun-alun Kapuas, saat masih diperbolehkan dulu. Sesekali pada acara-acara besar maupun pameran yang digelar di kota ini. Kini, ia rutin menggelar lapak di area GOR Pangsuma setiap Minggu pagi.

Baca Juga :  Minion' Sepeda Jadul yang Kembali Digandrungi; Makin Tua Makin Mahal dan Dicari

Luqman juga memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, mulai dari media sosial, hingga optimalisasi usaha dengan fasilitas dari mesin pencari Google. “Bahkan pembeli dari luar negeri itu, tahunya dari Google Maps. Pernah ada pembeli dari Malaysia, India, hingga Amerika datang ke sini. Saat ini di Malaysia ada tiga pelanggan tetap yang setiap bulannya mengambil stok hamster dari saya,” kata dia.

Selain itu, untuk lebih mendekatkan dengan pelanggan setianya, ia juga rajin membuat konten Youtube bertema hamster. Nama akunnya, Hamster Mania. Publikasi via Youtube ini sangat efektif dan sangat mempengaruhi pangsa pasarnya, terutama di Malaysia. Konten yang ia buat, kini sudah hampir 100 video. “Bahkan saya sudah siapkan 400 judul lagi. Tinggal dieksekusi saja,” ujar dia.

Saat ini, jumlah stok hamster miliknya sekitar 200an ekor indukan, 500-1000 ekor anakan. Adapun hamster yang ia jual itu beragam jenisnya. Di antaranya, Campbell, Syrian, Hybrid, Winter White, Pearl, Roborovski. Harganya bervariasi sesuai dengan jenisnya, yakni Rp35.000-Rp110.000 per ekor. Sementara untuk anakan, harganya lebih murah Rp10 ribu per ekor dari harga indukan.

Banyak tantangan yang dihadapi Luqman dalam beternak hamster. Selain harus menjaga suhu kandang agar tidak terlampau panas, serangan dari hama tikus juga menjadi ancaman. “Tantangan terbesar ternak hamster itu hama. Tikus ini kadang bisa menembus kandang. Sekali makan, tikus bisa menghabiskan puluhan ekor hamster. Tapi yang dimakan cuma kepala saja,” tuturnya.

Selama hampir tujuh tahun menekuni bisnis ini, kecintaannya pada hamster semakin bertumbuh. Karena itu pula, ia merasa enjoy dan ringan dalam menjalani bisnis ternak tersebut. Baginya, membangun bisnis harus dimulai dengan kecintaan pada apa yang dibisniskan. “Kalau mau berbisnis hamster, maka kita harus mencintai hamster itu. Dengan begitu, kita akan lebih serius merawatnya. Supaya pelanggan juga merasa puas,” pungkas dia.

Baca Juga :  Keliling Indonesia untuk Mengajar di Pedalaman

 

Teori Tak Seindah Praktik

Bagi yang suka atau hobi memelihara hamster, mungkin dapat menjadikannya sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Seperti Luqman (29), owner Hamster Mania mengatakan hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai bisnis ini adalah tekad dan mental, bukan modal.

“Perlu dipersiapkan mental, bukan modal. Karena sebenarnya, modal bisa dicari,” kata dia memberikan tips pertama membangun bisnis.

Menurutnya, mental yang tak mudah menyerah penting dimiliki bagi pengusaha pemula untuk bisnis apa saja, termasuk ternak hamster. “Mental yang tidak mudah menyerah itu adalah saat pengusaha berada di titik terlemah dalam bisnisnya, tetapi mudah bangkit kembali dari keterpurukannya,” ungkap Luqman.

Selain itu, lanjut Luqman, kecintaan pada hal yang dibisniskan juga bisa menjadi motivasi besar untuk bangkit saat usaha mengalami hambatan.

“Termasuk untuk usaha hamster, niatkan bukan karena bisnis semata, tetapi karena rasa cinta terhadap hamster. Agar kita berternaknya itu dengan senang hati,” tuturnya.

Secara teknis, kata Luqman, usaha ini membutuhkan modal. Besarannya tidak ada ketentuan khusus. Modal ini diperlukan untuk membeli hamster yang akan dikembangbiakkan, serta membeli sarana yang diperlukan untuk ternak hamster. “Siapkan ruangan khusus untuk kandang hamster yang representatif. Jangan sampai ruangannya mudah ditembus oleh hama tikus,” tutur Luqman.

Adapun untuk langkah awal, dia menyarankan kepada pemula untuk membeli sepasang hamster dalam jumlah yang tidak banyak. Membeli sepasang hamster dalam jumlah ratusan ekor, menurutnya justru terlalu berisiko. Pemula harus belajar terlebih dahulu seluk beluk perilaku hamster, dengan mempelajarinya lewat praktik secara langsung. “Karena teori itu tak seindah praktik. Harus banyak pengalaman, karena itu mulai dari yang kecil,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/