alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Lama Dipelihara, Insting Berburu Susah Balik

Merawat Elang di Tepi Hutan di Pusat Konservasi Kamojang

Merawat burung elang di tempat konservasi membutuhkan keahlian khusus. Tidak bisa sembarangan. Bahkan, petugas yang ingin memberi makan pun wajib mandi dulu.

SAHRUL YUNIZAR, Garut

”MENGINAP atau tidak? Kalau ingin tahu seluruh proses perawatan elang, ya harus menginap,” kata Zaini Rahman pertengahan Maret lalu. Zaini adalah ketua Raptor Indonesia yang juga inisiator berdirinya Pusat Konservasi Elang Kamojang. Dia kini dipercaya menjadi manajer di sana.

Pusat Konservasi Elang Kamojang berada di Desa Sukakarya. Luasnya sekitar 11 hektare. Dari pusat Kota Garut, perjalanan menuju desa tersebut sekitar satu jam. Lokasinya cukup jauh dari permukiman warga. Raptor Indonesia, Pertamina, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sengaja memilih tempat itu. Biosecurity alasannya. ”Jadi, seandainya di sini ada wabah, tidak akan menyebar ke warga. Begitu pula sebaliknya,” terang dia.

Dari luasan 11 hektare itu, lima hektare dipakai untuk memastikan biosecurity terjaga. Sedangkan enam hektare sisanya digunakan sebagai pusat konservasi yang terbagi atas tiga area rehabilitasi dan tiga area edukasi.

Petugas di sana tidak banyak. Hanya 17 orang totalnya. Biasanya lima sampai tujuh orang di antara mereka menginap di sana. Sisanya datang pagi buta, kemudian pulang setelah tugas sehari-hari rampung. Zaini adalah salah seorang yang saban hari menginap. Sudah puluhan tahun dia meneliti elang. Seingatnya sejak 1996.

Pagi buta, seusai salat Subuh, anak buah Zaini sudah siap semua. Mereka mengenakan wearpack. ”Yang mau masuk (pusat konservasi, Red) wajib mandi dulu,” tegas Zaini. Tujuannya untuk memastikan tidak ada virus yang dibawa ke area konservasi.

Aktivitas dimulai dengan menyiapkan pakan. Menu hari itu marmot, tikus putih, dan ikan lele. Ada yang hidup, ada yang mati. Elang yang sudah ada di kandang terbang mendapat pakan hidup. Yang masih di kandang transit, karantina, dan observasi kebagian pakan mati. Elang yang sudah di kandang rehabilitasi dan kandang latihan terbang memang berbeda. Naluri sebagai hewan liar sudah kembali. Tinggal dipertajam sampai benar-benar dinyatakan siap dilepas.

Sedangkan yang masih di kandang transit, karantina, dan kandang observasi butuh perlakuan berbeda. Apalagi elang yang sudah lama jadi hewan peliharaan. Insting berburu menghilang. Sehingga masih harus disuapi. Itulah tantangan Zaini dan rekan-rekan.

Baca Juga :  Grup Kesenian Tundang Mayang, Sanggar Pusaka; Pegang Hak Cipta Tundang, Eddy Ibrahim Tuai Banyak Prestasi

Dari total 141 elang yang ada di pusat konservasi itu, sebagian besar merupakan elang yang diserahkan masyarakat. Banyak yang sudah lama dipelihara. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka seperti sediakala. ”Dibilang berat, berat ya. Kami melepas satu ekor, tapi yang ditangkap lebih banyak,” katanya.

Proses rehabilitasi juga panjang. Menurut catatan Zaini, ada elang yang butuh waktu lima tahun baru bisa dilepasliarkan. Dengan waktu selama itu, biaya maupun sumber daya yang dibutuhkan besar. Sebab, rehabilitasi butuh proses.

Dian Tresno Wikanti sebagai dokter hewan yang mengurusi elang di sana pun mengakui hal itu. Elang yang sudah lama dipelihara paling sulit kembali seperti elang liar. Hilangnya insting dan kemampuan berburu adalah salah satu masalah yang membuat rehabilitasi menjadi berat. Setiap hari observer di pusat konservasi harus memperhatikan gerak-gerik mereka. Mulai cara makan, cara terbang, sampai cara bertengger.

Ketika berkeliling bersama petugas pemberi pakan, salah seorang petugas tampak telaten jongkok dari balik pohon dan rerumputan. Dian menjelaskan, petugas tersebut merupakan observer. Tugasnya mengamati semua elang di tempatnya bekerja. Perempuan yang akrab dipanggil Bude itu menyampaikan, observer bisa jongkok selama berjam-jam demi mendapat data akurat. Bukan sehari atau dua hari, tugas itu dijalani setiap hari. ”Semuanya dicatat,” kata Bude.

Observer dilarang mendekat seperti keeper. Mereka harus sembunyi-sembunyi. Mengamati dari kejauhan. Tujuannya, elang tidak terganggu. Sehingga gerakannya natural. Data-data dari observer penting untuk bahan evaluasi. Menentukan sampai seberapa jauh elang sudah berkembang. Termasuk jadi bahan pertimbangan apakah sudah bisa dilepas ke habitatnya atau masih perlu proses rehabilitasi. Karena itu, mereka wajib mendapat data paling akurat.

Keterbatasan fasilitas dan sumber daya diakui Bude menambah beban pekerjaan. Pusat Konservasi Elang Kamojang memang yang terlengkap dan terbesar untuk urusan rehabilitasi elang. Namun bukan berarti tidak butuh penambahan kapasitas. Sebab, elang yang masuk selalu jauh lebih banyak daripada yang dilepasliarkan. Karena itu, Zaini, Bude, dan petugas lainnya harus memutar otak.

Baca Juga :  Hidupkan Lagi Kejayaan Sastra Arab Pra-Islam

Saat ini ada 110 kandang di sana. Dengan jumlah elang mencapai 144 ekor, ada kandang yang harus diisi lebih dari satu ekor. Kandang latihan terbang yang diisi lebih dari satu elang harus terus dipantau. Agar elang yang satu kandang itu tidak berkelahi.

 

Menurut Zaini, karakter elang bisa dideteksi. Pertama saat elang diperiksa kesehatannya, kedua ketika elang berada di kandang transit, dan ketiga saat elang masuk kandang observasi. ”Di kandang observasi kita akan lihat perilakunya,” ucap dia. Dari sana petugas juga bisa menentukan apakah ada potensi elang bisa dilepasliarkan kembali atau peluang itu hilang sama sekali.

Jika bertemu kesimpulan kedua, elang tersebut akan dipersiapkan untuk masuk kandang edukasi. Tidak akan masuk kandang latihan terbang. Sebab, elang yang tidak bisa dilepasliarkan tak akan sanggup bertahan di habitat aslinya. Akan kalah oleh elang lainnya. Sebagai salah satu top predator, tugas elang memang berat. Menjaga ekosistem suatu wilayah. Karena itu, elang harus punya insting dan naluri hewan liar.

Sejak kali pertama berdiri enam tahun lalu, Pusat Konservasi Elang Kamojang sudah kedatangan lebih dari 250 elang. ”Tidak semua elang bisa kami selamatkan. Karena penyakit, cacat, atau karena virus,” beber Zaini. Elang-elang itu yang masuk kandang edukasi. Yang lulus dari kandang latihan terbang, lanjut dia, sebanyak 50-an ekor. Semuanya sudah dilepasliarkan.

Jenis elang tersebut beragam. Ada elang jawa, elang ular, elang brontok, elang bondol, elang sayap cokelat, elang sikep madu asia, dan elang paria. Semua elang itu dilindungi. Tidak boleh dipelihara, diburu, apalagi dijual lewat jalur ilegal. Di situlah elang yang tidak bisa dilepasliarkan mengemban tugas. Lewat kandang edukasi, masyarakat diberi penjelasan berkenaan dengan elang. Bahwa memelihara elang tidak hanya dilarang, tapi juga butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mengembalikannya ke fungsi awal sebagai top predator.

Memburu dan memperjualbelikan elang juga tidak boleh. Karena dapat mengakibatkan elang terus berkurang. Bila sudah tidak ada elang di satu ekosistem, akibatnya gawat. Bencana alam salah satunya. Untuk itu, Pusat Konservasi Elang Kamojang berjibaku merehabilitasi elang sambil terus mengedukasi masyarakat.(*)

Merawat Elang di Tepi Hutan di Pusat Konservasi Kamojang

Merawat burung elang di tempat konservasi membutuhkan keahlian khusus. Tidak bisa sembarangan. Bahkan, petugas yang ingin memberi makan pun wajib mandi dulu.

SAHRUL YUNIZAR, Garut

”MENGINAP atau tidak? Kalau ingin tahu seluruh proses perawatan elang, ya harus menginap,” kata Zaini Rahman pertengahan Maret lalu. Zaini adalah ketua Raptor Indonesia yang juga inisiator berdirinya Pusat Konservasi Elang Kamojang. Dia kini dipercaya menjadi manajer di sana.

Pusat Konservasi Elang Kamojang berada di Desa Sukakarya. Luasnya sekitar 11 hektare. Dari pusat Kota Garut, perjalanan menuju desa tersebut sekitar satu jam. Lokasinya cukup jauh dari permukiman warga. Raptor Indonesia, Pertamina, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sengaja memilih tempat itu. Biosecurity alasannya. ”Jadi, seandainya di sini ada wabah, tidak akan menyebar ke warga. Begitu pula sebaliknya,” terang dia.

Dari luasan 11 hektare itu, lima hektare dipakai untuk memastikan biosecurity terjaga. Sedangkan enam hektare sisanya digunakan sebagai pusat konservasi yang terbagi atas tiga area rehabilitasi dan tiga area edukasi.

Petugas di sana tidak banyak. Hanya 17 orang totalnya. Biasanya lima sampai tujuh orang di antara mereka menginap di sana. Sisanya datang pagi buta, kemudian pulang setelah tugas sehari-hari rampung. Zaini adalah salah seorang yang saban hari menginap. Sudah puluhan tahun dia meneliti elang. Seingatnya sejak 1996.

Pagi buta, seusai salat Subuh, anak buah Zaini sudah siap semua. Mereka mengenakan wearpack. ”Yang mau masuk (pusat konservasi, Red) wajib mandi dulu,” tegas Zaini. Tujuannya untuk memastikan tidak ada virus yang dibawa ke area konservasi.

Aktivitas dimulai dengan menyiapkan pakan. Menu hari itu marmot, tikus putih, dan ikan lele. Ada yang hidup, ada yang mati. Elang yang sudah ada di kandang terbang mendapat pakan hidup. Yang masih di kandang transit, karantina, dan observasi kebagian pakan mati. Elang yang sudah di kandang rehabilitasi dan kandang latihan terbang memang berbeda. Naluri sebagai hewan liar sudah kembali. Tinggal dipertajam sampai benar-benar dinyatakan siap dilepas.

Sedangkan yang masih di kandang transit, karantina, dan kandang observasi butuh perlakuan berbeda. Apalagi elang yang sudah lama jadi hewan peliharaan. Insting berburu menghilang. Sehingga masih harus disuapi. Itulah tantangan Zaini dan rekan-rekan.

Baca Juga :  Heboh Wacana Larangan Cadar dan Celana Cingkrang

Dari total 141 elang yang ada di pusat konservasi itu, sebagian besar merupakan elang yang diserahkan masyarakat. Banyak yang sudah lama dipelihara. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka seperti sediakala. ”Dibilang berat, berat ya. Kami melepas satu ekor, tapi yang ditangkap lebih banyak,” katanya.

Proses rehabilitasi juga panjang. Menurut catatan Zaini, ada elang yang butuh waktu lima tahun baru bisa dilepasliarkan. Dengan waktu selama itu, biaya maupun sumber daya yang dibutuhkan besar. Sebab, rehabilitasi butuh proses.

Dian Tresno Wikanti sebagai dokter hewan yang mengurusi elang di sana pun mengakui hal itu. Elang yang sudah lama dipelihara paling sulit kembali seperti elang liar. Hilangnya insting dan kemampuan berburu adalah salah satu masalah yang membuat rehabilitasi menjadi berat. Setiap hari observer di pusat konservasi harus memperhatikan gerak-gerik mereka. Mulai cara makan, cara terbang, sampai cara bertengger.

Ketika berkeliling bersama petugas pemberi pakan, salah seorang petugas tampak telaten jongkok dari balik pohon dan rerumputan. Dian menjelaskan, petugas tersebut merupakan observer. Tugasnya mengamati semua elang di tempatnya bekerja. Perempuan yang akrab dipanggil Bude itu menyampaikan, observer bisa jongkok selama berjam-jam demi mendapat data akurat. Bukan sehari atau dua hari, tugas itu dijalani setiap hari. ”Semuanya dicatat,” kata Bude.

Observer dilarang mendekat seperti keeper. Mereka harus sembunyi-sembunyi. Mengamati dari kejauhan. Tujuannya, elang tidak terganggu. Sehingga gerakannya natural. Data-data dari observer penting untuk bahan evaluasi. Menentukan sampai seberapa jauh elang sudah berkembang. Termasuk jadi bahan pertimbangan apakah sudah bisa dilepas ke habitatnya atau masih perlu proses rehabilitasi. Karena itu, mereka wajib mendapat data paling akurat.

Keterbatasan fasilitas dan sumber daya diakui Bude menambah beban pekerjaan. Pusat Konservasi Elang Kamojang memang yang terlengkap dan terbesar untuk urusan rehabilitasi elang. Namun bukan berarti tidak butuh penambahan kapasitas. Sebab, elang yang masuk selalu jauh lebih banyak daripada yang dilepasliarkan. Karena itu, Zaini, Bude, dan petugas lainnya harus memutar otak.

Baca Juga :  Grup Kesenian Tundang Mayang, Sanggar Pusaka; Pegang Hak Cipta Tundang, Eddy Ibrahim Tuai Banyak Prestasi

Saat ini ada 110 kandang di sana. Dengan jumlah elang mencapai 144 ekor, ada kandang yang harus diisi lebih dari satu ekor. Kandang latihan terbang yang diisi lebih dari satu elang harus terus dipantau. Agar elang yang satu kandang itu tidak berkelahi.

 

Menurut Zaini, karakter elang bisa dideteksi. Pertama saat elang diperiksa kesehatannya, kedua ketika elang berada di kandang transit, dan ketiga saat elang masuk kandang observasi. ”Di kandang observasi kita akan lihat perilakunya,” ucap dia. Dari sana petugas juga bisa menentukan apakah ada potensi elang bisa dilepasliarkan kembali atau peluang itu hilang sama sekali.

Jika bertemu kesimpulan kedua, elang tersebut akan dipersiapkan untuk masuk kandang edukasi. Tidak akan masuk kandang latihan terbang. Sebab, elang yang tidak bisa dilepasliarkan tak akan sanggup bertahan di habitat aslinya. Akan kalah oleh elang lainnya. Sebagai salah satu top predator, tugas elang memang berat. Menjaga ekosistem suatu wilayah. Karena itu, elang harus punya insting dan naluri hewan liar.

Sejak kali pertama berdiri enam tahun lalu, Pusat Konservasi Elang Kamojang sudah kedatangan lebih dari 250 elang. ”Tidak semua elang bisa kami selamatkan. Karena penyakit, cacat, atau karena virus,” beber Zaini. Elang-elang itu yang masuk kandang edukasi. Yang lulus dari kandang latihan terbang, lanjut dia, sebanyak 50-an ekor. Semuanya sudah dilepasliarkan.

Jenis elang tersebut beragam. Ada elang jawa, elang ular, elang brontok, elang bondol, elang sayap cokelat, elang sikep madu asia, dan elang paria. Semua elang itu dilindungi. Tidak boleh dipelihara, diburu, apalagi dijual lewat jalur ilegal. Di situlah elang yang tidak bisa dilepasliarkan mengemban tugas. Lewat kandang edukasi, masyarakat diberi penjelasan berkenaan dengan elang. Bahwa memelihara elang tidak hanya dilarang, tapi juga butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mengembalikannya ke fungsi awal sebagai top predator.

Memburu dan memperjualbelikan elang juga tidak boleh. Karena dapat mengakibatkan elang terus berkurang. Bila sudah tidak ada elang di satu ekosistem, akibatnya gawat. Bencana alam salah satunya. Untuk itu, Pusat Konservasi Elang Kamojang berjibaku merehabilitasi elang sambil terus mengedukasi masyarakat.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/