alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Kisah Odos Yunus, Driver Ojol Penyandang Disabilitas

Menjadi penyandang disabilitas tidak menyurutkan semangat Odos Yunus (36), untuk tetap bekerja mencari nafkah menghidupi keluarga. Pria yang bergelar sarjana hukum (SH) itu sehari-hari bekerja sebagai ojek online (Ojol) di Kota Pontianak.

Arief Nugroho, Pontianak

Hari sudah berada tepat di atas kepala saat saya berjumpa dengan Odos. Di bawah pohon di trotoar jalan Gajah Mada, Kota Pontianak, Sabtu, 10 September 2022.

Siang itu, ia tengah beristirahat sembari menyantap makan siang bekal dari istri tercinta.

Sekilas, tidak ada yang aneh dari penampilannya. Hanya saja memang ada yang sedikit berbeda dari driver-driver ojek online lainnya. Di atas setang kemudi sebelah kanan terdapat sebatang tongkat besi yang biasa ia gunakan untuk menopang dirinya saat berjalan kaki.

Odos merupakan seorang penyandang disabilitas. Sejak kecil ia menderita kelaian pada kaki sebelah kanannya, sehingga harus dibantu dengan tongkat penopang saat berjalan.

Ketidaksempurnaan fisik yang dialami Odos tidak menghalanginya untuk tetap bekerja, terlebih menjadi seorang driver ojek online. Ia bahkan sudah menjalani profesinya itu sejak tahun 2018. Ia terdaftar sebagai mitra sebuah perusahaan ojek online bernama Gojek.

“Saya sudah empat tahun ini gabung di Gojek. Sejak 2018,” katanya.

Menjadi driver ojol bukan lah cita-citanya. Sejak dulu ia ingin bekerja dan berkecimpung di dunia hukum. Namun apa boleh buat, keterbatasan fisik membawanya pada profesi ini.

Baca Juga :  Mengenal Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

“Dengan kondisi saya yang seperti ini mau kerja apa? Di kantoran tidak memungkinkan. Mau jadi kuli bangunan? itu sih bunuh diri. Satu-satunya pekerjaan ya dengan menjadi driver ojol. Apalagi, perusahaan aplikasi juga tidak menuntut persyaratan yang macam-macam,” lanjutnya.

Odos sendiri merupakan lulusan fakultas hukum di salah satu universitas negeri di Pontianak. Sebelum bermitra dengan perusahaan aplikasi Gojek, Odos pernah bekerja di sebuah perusahaan bidang kontruksi sebagai penyedia logistic.

“Dulu, sebelum jadi Ojol, saya ikut teman kontraktor. Di bagian logistic,” jelasnya.

Odos mengaku selama melakoni pekerjaan sebagai ojek online, ia tidak pernah mendapatkan tindakan diskriminasi, baik dari rekan sejawat maupun pelanggan.

“Tidak pernah. Kalau mendapat orderan membawa orang (penumpang), dia langsung naik aja. Meskipun tahu kondisi saya,” katanya.

ANTAR ORDERAN: Odos Yunus, seorang driver ojek online penyandang disabilitas saat mengantarkan orderan kepada pelanggannya di Kota Pontianak, Sabtu (10/9). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Untuk orderan, Odos tidak mau memilih-milih. Dari orderan membawa penumpang, hingga menjadi kurir makanan dan minuman. Hanya saja, menurut Odos, kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi saat awal-awal ia bergabung menjadi mitra dulu.

“Pendapatan tak menentu. Orderan tidak stabil. Hari ini bagus, banyak orederan. Besok tidak ada sama sekali. Meskipun aplikasi selalu on. Hari ini saja saya baru dapat satu orderan,” terangnya.

“Tapi saya bersyukur, dengan menjadi driver Ojol, bisa menopang perekonomian keluarga. Apa lagi saat ini anak saya masih bayi, dan mengonsumsi susu formula,”ujarnya.

Baca Juga :  Jangan Nekat Menstarter Saat Terjebak Genangan

Namun, ada yang membuatnya resah. Kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang dirasa sangat membebani masyarakat, khususnya penarik ojek online.

Belum lagi soal orderan yang tidak stabil, yang menyebabkan biaya operasional lebih besar dibanding pendapatan.

“Sudah lah orderan tidak stabil, sekarang harga BBM naik pula. Sudah pasti kami yang paling terbebani. Apalagi jarak rumah saya lumayan jauh. Bolak balik dari Kubu Raya ke Pontianak,” bebernya.

Jarak rumah Odos ke tempat biasanya ia mencari orderan memang lumayan jauh. Sekitar 25 kilometer atau setengah jam perjalanan. Setiap hari, ia berangkat dari rumah pukul 07.00 wib, dan pulang pukul 21.00 wib.

“Biasanya Rp.30 ribu bisa dapat 4 liter, sekarang Rp.30 ribu cuma dapat 3 liter. Dan kadang-kadang kalau saya keliling, minyak tak cukup. Mau tidak mau harus isi lagi,” kesahnya.

Namun demikian, ia tetap bersyukur, masih memiliki kesempatan untuk bekerja.

“Bagi saya, di ojol ini selain dapat keuntungan dari orderan, jika bisa membantu orang lain,” katanya.

Odos berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang meringkan para driver ojek online.

“Kabarnya pemerintah mau menaikan tarif ojek online. Tapi jangan sampai membebani rakyat,” harapnya. (**)

Menjadi penyandang disabilitas tidak menyurutkan semangat Odos Yunus (36), untuk tetap bekerja mencari nafkah menghidupi keluarga. Pria yang bergelar sarjana hukum (SH) itu sehari-hari bekerja sebagai ojek online (Ojol) di Kota Pontianak.

Arief Nugroho, Pontianak

Hari sudah berada tepat di atas kepala saat saya berjumpa dengan Odos. Di bawah pohon di trotoar jalan Gajah Mada, Kota Pontianak, Sabtu, 10 September 2022.

Siang itu, ia tengah beristirahat sembari menyantap makan siang bekal dari istri tercinta.

Sekilas, tidak ada yang aneh dari penampilannya. Hanya saja memang ada yang sedikit berbeda dari driver-driver ojek online lainnya. Di atas setang kemudi sebelah kanan terdapat sebatang tongkat besi yang biasa ia gunakan untuk menopang dirinya saat berjalan kaki.

Odos merupakan seorang penyandang disabilitas. Sejak kecil ia menderita kelaian pada kaki sebelah kanannya, sehingga harus dibantu dengan tongkat penopang saat berjalan.

Ketidaksempurnaan fisik yang dialami Odos tidak menghalanginya untuk tetap bekerja, terlebih menjadi seorang driver ojek online. Ia bahkan sudah menjalani profesinya itu sejak tahun 2018. Ia terdaftar sebagai mitra sebuah perusahaan ojek online bernama Gojek.

“Saya sudah empat tahun ini gabung di Gojek. Sejak 2018,” katanya.

Menjadi driver ojol bukan lah cita-citanya. Sejak dulu ia ingin bekerja dan berkecimpung di dunia hukum. Namun apa boleh buat, keterbatasan fisik membawanya pada profesi ini.

Baca Juga :  Ada Doa dan Trik Khusus Supaya Sapi Kurban Tak Beringas

“Dengan kondisi saya yang seperti ini mau kerja apa? Di kantoran tidak memungkinkan. Mau jadi kuli bangunan? itu sih bunuh diri. Satu-satunya pekerjaan ya dengan menjadi driver ojol. Apalagi, perusahaan aplikasi juga tidak menuntut persyaratan yang macam-macam,” lanjutnya.

Odos sendiri merupakan lulusan fakultas hukum di salah satu universitas negeri di Pontianak. Sebelum bermitra dengan perusahaan aplikasi Gojek, Odos pernah bekerja di sebuah perusahaan bidang kontruksi sebagai penyedia logistic.

“Dulu, sebelum jadi Ojol, saya ikut teman kontraktor. Di bagian logistic,” jelasnya.

Odos mengaku selama melakoni pekerjaan sebagai ojek online, ia tidak pernah mendapatkan tindakan diskriminasi, baik dari rekan sejawat maupun pelanggan.

“Tidak pernah. Kalau mendapat orderan membawa orang (penumpang), dia langsung naik aja. Meskipun tahu kondisi saya,” katanya.

ANTAR ORDERAN: Odos Yunus, seorang driver ojek online penyandang disabilitas saat mengantarkan orderan kepada pelanggannya di Kota Pontianak, Sabtu (10/9). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Untuk orderan, Odos tidak mau memilih-milih. Dari orderan membawa penumpang, hingga menjadi kurir makanan dan minuman. Hanya saja, menurut Odos, kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi saat awal-awal ia bergabung menjadi mitra dulu.

“Pendapatan tak menentu. Orderan tidak stabil. Hari ini bagus, banyak orederan. Besok tidak ada sama sekali. Meskipun aplikasi selalu on. Hari ini saja saya baru dapat satu orderan,” terangnya.

“Tapi saya bersyukur, dengan menjadi driver Ojol, bisa menopang perekonomian keluarga. Apa lagi saat ini anak saya masih bayi, dan mengonsumsi susu formula,”ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Penghuni Lapas Tetap Berkarya di Masa Pandemi Covid-19

Namun, ada yang membuatnya resah. Kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang dirasa sangat membebani masyarakat, khususnya penarik ojek online.

Belum lagi soal orderan yang tidak stabil, yang menyebabkan biaya operasional lebih besar dibanding pendapatan.

“Sudah lah orderan tidak stabil, sekarang harga BBM naik pula. Sudah pasti kami yang paling terbebani. Apalagi jarak rumah saya lumayan jauh. Bolak balik dari Kubu Raya ke Pontianak,” bebernya.

Jarak rumah Odos ke tempat biasanya ia mencari orderan memang lumayan jauh. Sekitar 25 kilometer atau setengah jam perjalanan. Setiap hari, ia berangkat dari rumah pukul 07.00 wib, dan pulang pukul 21.00 wib.

“Biasanya Rp.30 ribu bisa dapat 4 liter, sekarang Rp.30 ribu cuma dapat 3 liter. Dan kadang-kadang kalau saya keliling, minyak tak cukup. Mau tidak mau harus isi lagi,” kesahnya.

Namun demikian, ia tetap bersyukur, masih memiliki kesempatan untuk bekerja.

“Bagi saya, di ojol ini selain dapat keuntungan dari orderan, jika bisa membantu orang lain,” katanya.

Odos berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang meringkan para driver ojek online.

“Kabarnya pemerintah mau menaikan tarif ojek online. Tapi jangan sampai membebani rakyat,” harapnya. (**)

Most Read

Artikel Terbaru

/