23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Jantung Bocor, Sering Sesak dan Mudah Lelah, Haulia Jalani Operasi Lanjutan

Sri Haulia Putri saat ini menantikan jadwal operasi fontan untuk mengobati komplikasi jantung bocor yang dideritanya sejak lahir. Sambil menunggu jadwal, pihak keluarga juga tengah mengumpulkan dana  sekitar Rp21 juta untuk biaya di luar tanggungan BPJS Kesehatan.

Marsita Riandini, Pontianak

SESAK, batuk, pilek, bibir dan tubuh membiru kerap dialami bayi 4 tahun ini. Saat lahir, jantung Haulia sudah dicurigai ada kelainan.

“Petugas Klinik bersalin tempat saya melahirkan Haulia menyarankan untuk melakukan pemeriksaan. Mereka bilang jantung Haulia ini berisik,” kata Hadiyah, ibunda Haulia.

Hadiyah membawa anak ke empatnya ini ke dokter anak di RS Sultan Syarief Mohammad Alkadrie Kota Pontianak. Dari hasil pemeriksaan masih dicurigai adanya kelainan jantung. Haulia pun di rujuk ke RSUD dr. Soedarso.

“Dari situlah ketahuan  jantung anak saya bocor, dan bocornya tidak sedikit,” paparnya.

Haulia dirujuk ke RSCM Jakarta.Haulia sudah dua kali operasi. Tahun 2020, dia menjalani tindakan operasi Pulmonary Artery (PA) Banding. Tujuannya untuk mengecilkan diameter pembuluh darah ke jantung untuk mengurangi aliran darah ke paru-paru dan mengurangi tekanan pembuluh darah ke paru-paru.

Baca Juga :  Kenangan Bersama Keluarga Jadi Motivasi Lewati Masa Kritis

“Paru-paru Haulia juga tidak berkembang sebelah,” katanya.

Tahun 2021, Haulia kembali menjalani operasi. Kali ini tindakan BCPS yakni tindakan operasi yang bertujuan aliran darah bisa masuk ke paru-paru tanpa membebani bagian ventrikel jantung.

Hadiyah, ibu Haulia mengatakan belum lama ini dia baru pulang dari Jakarta. Dari hasil pemeriksaan Haulia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo(RSCM), Haulia harus menjalani operasi fontan.

Operasi fontan ini sebagai tahap akhir memperbaiki kelainan ventrikel jantung. Jika dibiarkan maka aliran darah dari bagian tubuh bawah akan tetap membebani jantung.

“Katanya operasi ini untuk memperbaiki jantung, katup yang tidak berfungsi akan diganti,” jelasnya.

Pihaknya masih harus menunggu jadwal operasi. “Kami masih menunggu jadwal operasi. Kami  kemarin hanya membawa uang seadanya. Jika harus menunggu dan ngekost tentu biaya yang harus dikeluarkan besar,” papar warga Jalan Srikaya, Gg, Srikaya 2 no.3 Rt.04/ Rw. 07, kel Sungai Jawi Luar kota Pontianak.

Baca Juga :  BPJS Gelar LOMBA Photo Story, Hadiah Utama Rp. 30 Juta

Hadiyah mengatakan, untuk melakukan operasi fontan harus menyiapkan uang 21 juta. Uang itu untuk penggunaan alat di luar tanggungan BPJS.

“Kalau yang ini, operasinya ditanggung BPJS, tapi alatnya itu yang harus bayar,” jelasnya.

Hadiyah berharap ketika jadwal operasi anaknya keluar, uang untuk pengobatan Haulia juga terkumpul.

“Ini pelan-pelan sambil nunggu jadwal,” ungkapnya. Ayah Haulia, Deny Yansyah bekerja berjualan nasi goreng di kawasan Sungai Jawi.

Menurut Hadiyah, Haulia sebenarnya disarankan untuk mengonsumsi susu yang diformulasikan khusus untuk mengatasi masalah gizi pada anak-anak. Namun, harganya sekitar Rp500 ribu per kilogramnya, ia tidak sanggup.

“Semakin hari harganya semakin mahal. Makanya saya ganti susu yang harganya Rp. 156 ribu per kilogramnya,” pungkasnya. (*)

Sri Haulia Putri saat ini menantikan jadwal operasi fontan untuk mengobati komplikasi jantung bocor yang dideritanya sejak lahir. Sambil menunggu jadwal, pihak keluarga juga tengah mengumpulkan dana  sekitar Rp21 juta untuk biaya di luar tanggungan BPJS Kesehatan.

Marsita Riandini, Pontianak

SESAK, batuk, pilek, bibir dan tubuh membiru kerap dialami bayi 4 tahun ini. Saat lahir, jantung Haulia sudah dicurigai ada kelainan.

“Petugas Klinik bersalin tempat saya melahirkan Haulia menyarankan untuk melakukan pemeriksaan. Mereka bilang jantung Haulia ini berisik,” kata Hadiyah, ibunda Haulia.

Hadiyah membawa anak ke empatnya ini ke dokter anak di RS Sultan Syarief Mohammad Alkadrie Kota Pontianak. Dari hasil pemeriksaan masih dicurigai adanya kelainan jantung. Haulia pun di rujuk ke RSUD dr. Soedarso.

“Dari situlah ketahuan  jantung anak saya bocor, dan bocornya tidak sedikit,” paparnya.

Haulia dirujuk ke RSCM Jakarta.Haulia sudah dua kali operasi. Tahun 2020, dia menjalani tindakan operasi Pulmonary Artery (PA) Banding. Tujuannya untuk mengecilkan diameter pembuluh darah ke jantung untuk mengurangi aliran darah ke paru-paru dan mengurangi tekanan pembuluh darah ke paru-paru.

Baca Juga :  Peduli Lingkungan, BPJS Kesehatan Berikan Bantuan Tempat Sampah

“Paru-paru Haulia juga tidak berkembang sebelah,” katanya.

Tahun 2021, Haulia kembali menjalani operasi. Kali ini tindakan BCPS yakni tindakan operasi yang bertujuan aliran darah bisa masuk ke paru-paru tanpa membebani bagian ventrikel jantung.

Hadiyah, ibu Haulia mengatakan belum lama ini dia baru pulang dari Jakarta. Dari hasil pemeriksaan Haulia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo(RSCM), Haulia harus menjalani operasi fontan.

Operasi fontan ini sebagai tahap akhir memperbaiki kelainan ventrikel jantung. Jika dibiarkan maka aliran darah dari bagian tubuh bawah akan tetap membebani jantung.

“Katanya operasi ini untuk memperbaiki jantung, katup yang tidak berfungsi akan diganti,” jelasnya.

Pihaknya masih harus menunggu jadwal operasi. “Kami masih menunggu jadwal operasi. Kami  kemarin hanya membawa uang seadanya. Jika harus menunggu dan ngekost tentu biaya yang harus dikeluarkan besar,” papar warga Jalan Srikaya, Gg, Srikaya 2 no.3 Rt.04/ Rw. 07, kel Sungai Jawi Luar kota Pontianak.

Baca Juga :  Keliling Indonesia untuk Mengajar di Pedalaman

Hadiyah mengatakan, untuk melakukan operasi fontan harus menyiapkan uang 21 juta. Uang itu untuk penggunaan alat di luar tanggungan BPJS.

“Kalau yang ini, operasinya ditanggung BPJS, tapi alatnya itu yang harus bayar,” jelasnya.

Hadiyah berharap ketika jadwal operasi anaknya keluar, uang untuk pengobatan Haulia juga terkumpul.

“Ini pelan-pelan sambil nunggu jadwal,” ungkapnya. Ayah Haulia, Deny Yansyah bekerja berjualan nasi goreng di kawasan Sungai Jawi.

Menurut Hadiyah, Haulia sebenarnya disarankan untuk mengonsumsi susu yang diformulasikan khusus untuk mengatasi masalah gizi pada anak-anak. Namun, harganya sekitar Rp500 ribu per kilogramnya, ia tidak sanggup.

“Semakin hari harganya semakin mahal. Makanya saya ganti susu yang harganya Rp. 156 ribu per kilogramnya,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/