alexametrics
30 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Paling Malas pada Tamu yang Langsung Tanya Harga

Mengunjungi Museum Privat Pelukis Legendaris Dullah

Lebih dari 700-an lukisan karya Dullah tersimpan di museum pribadinya yang tak lagi terbuka untuk umum sejak ada insiden pencurian. Pilihan warna pada karya-karya kurator istana periode Presiden Soekarno itu memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.

DIAR CANDRA, Solo

SEORANG tentara duduk di kotak kayu sambil menenggak sebotol jenewer. Dua serdadu lain menendang dan menghantam kepala tawanan.

Adapun dua tentara lainnya lagi mengambil peran lain melucuti jarit dan kebaya seorang perempuan. Semua kejadian itu terpampang di atas kanvas hasil karya pelukis legendaris Dullah bertajuk Gadis Kurir.

’’Lukisan karya Dullah ini terasa istimewa. Mulai detail-detail anatomi, kejadian yang dilukis membawa penontonnya seperti sedang melihat secara langsung kejadian tersebut,’’ ucap desainer grafis Jawa Pos Budiono mengomentari lukisan yang terpajang di ruang utama Museum Dullah tersebut bulan lalu.

Lukisan berukuran 200 x 350 sentimeter tersebut, menurut Sigit Hendro Sutjahjo, murid Dullah yang kini menjaga museum di Solo, Jawa Tengah, itu, terinspirasi proses interograsi tentara Belanda kepada kaum republik. Pada awalnya, lukisan itu masih berupa sketsa, kemudian diperbesar dalam media kanvas dan selesai pada 1975.

’’Pak Dullah ini kan selama periode revolusi (1945–1949, Red) juga ikut berjuang melawan Belanda dan NICA. Jadi, ya lukisan-lukisan bertema era tersebut sangat hidup karena memang beliau saksi mata di palagan,’’ jelas Hendro tentang gurunya yang berpulang 23 tahun lalu itu.

Dia mengungkapkan, ada 12 ruangan di Museum Dullah. Selain menyimpan karya-karya seniman kelahiran Solo, 19 September 1919, tersebut yang berjumlah 700-an, terdapat ruang lukisan teman-temannya seperti Affandi, Lee Man Fong, dan S. Sudjojono. Juga, ruang tempat karya para murid.

Dibuka 1 Agustus 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (alm) Prof Dr Fuad Hassan, museum itu menerima apresiasi yang sangat bagus. Pengunjungnya, menurut pria 60 tahun tersebut, datang dari berbagai kalangan usia dan pekerjaan.

Namun, sebuah insiden pencurian lukisan maestro seniman Indonesia Raden Saleh pada 1990 membuat Dullah berpikir ulang soal status museum yang terbuka untuk umum itu. Lukisan berjudul Musafir Padang Pasir yang bertarikh 1825 tersebut dicuri orang dan sempat menghebohkan jagat seni Solo, bahkan Indonesia. Buntutnya, museum itu tak lagi terbuka untuk umum setelah mangkatnya Dullah pada 1 Januari 1996.

Hendro menceritakan, hari hilangnya lukisan tersebut kebetulan berbarengan dengan klub kebanggaan warga Solo, Persis, bermain di Stadion Sriwedari. Lokasi museum yang tak seberapa jauh dari Stadion Sriwedari pun jadi menerima banyak tamu. Dan, momentum menyemutnya tamu itu kemudian dimanfaatkan si pencuri untuk mengambil lukisan.

’’Saya niteni (mencermati) dan bilang ke Pak Dullah bahwa lingkungan seni di Solo itu sempit. Makanya saya lihat di beberapa lokasi yang mungkin jadi jujukan pencuri untuk menjual lukisan itu,’’ ujar Hendro. ’’Karena lukisan yang dicuri itu hanya dimengerti orang yang paham seni atau kolektor,’’ tambah pria asal Jakarta tersebut.

Baca Juga :  Kala Belalang Kembara Menyerbu Sawah, Rumah, hingga Bandara

Dari komunikasi dengan beberapa pedagang seni ’’bawah tanah’’ Solo, hasilnya, si pencuri minta uang tebusan Rp 100 juta. Diserahkan di area Candi Prambanan di perbatasan Klaten, Jawa Tengah–Sleman, Jogjakarta. Dengan bantuan polisi, gerombolan pencuri tersebut bisa dilumpuhkan.

Namun, perkara itu tak berhenti sampai di situ. Lukisan Musafir Padang Pasir disita pihak berwajib dengan status barang bukti. Belum kembalinya lukisan berusia lebih dari satu setengah abad tersebut meresahkan Dullah.
Ada kekhawatiran, selama proses persidangan, ada pihak ’’nakal’’ yang akan menghilangkan atau menukar lukisan itu. Maka untuk menenangkan gurunya, Hendro membuat replika karya Raden Saleh. Lantas, lukisan asli yang jadi barang bukti itu ditukar dengan lukisan KW karya Hendro tersebut.

’’Jadi, ketika tak dikembalikan kepada kami, ndak papa soalnya bukan yang asli,’’ ujar Hendro, lalu tertawa.
Ada pula cerita mengenai Rapat Ikada, lukisan yang masuk kategori tak selesai. Lukisan yang dibuat dengan cat air pada 1977 itu menggambarkan Presiden Soekarno mendapat sambutan dari rakyat seusai rapat akbar di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945.

’’Alasan tak selesai lebih karena situasi politik yang tak memungkinkan. Dullah ini kan seorang Soekarnois dan ketika melukis Rapat Ikada ini penguasa negeri kan Pak Harto (Presiden Soeharto, Red) yang kita tahu sikapnya seperti apa kepada Pak Karno (Presiden Soekarno, Red),’’ jelas Hendro.

Kedekatan Hendro dengan Dullah berlangsung sejak Dullah membuka Sanggar Pejeng di Bali pada 1973. Setelah menjadi pelukis istana sedekade (1950–1960), Dullah mundur dengan alasan bosan. Seperti yang dituturkan Dullah kepada Hendro, jadi pelukis istana itu juga capek. Ke mana pun Presiden Soekarno berkunjung, pasti Dullah ikut rombongan.

Salah satu karya Dullah saat ikut rombongan adalah sketsa Gadis Padang. Karya tersebut lahir ketika diajak Soekarno ke Sumatera Barat pada awal 1950-an. Di kertas berukuran 39 x 41,5 sentimeter, Dullah melukis di tempat kunjungan.

Hendro yang menjadi murid generasi ketiga di Sanggar Pejeng menyatakan, Dullah memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat sketsa. Sejak menggeluti seni pada usia belasan, setiap malam sebelum tidur dia membuat satu sketsa.

Itu pula yang diajarkan kepada para cantrik di Sanggar Pejeng. Sanggar yang didirikan pada 1973–1983 itu memiliki 90 cantrik dalam rentang waktu sepuluh tahun. Mereka yang datang sebetulnya ratusan. Namun, karena seleksi alam, akhirnya tersaringlah menjadi 90 orang itu.

’’Jadi murid Dullah itu tak gampang, lho. Tiap pagi kami harus di area yang ditentukan Pak Dullah, kemudian harus membuat gambar di lokasi tersebut minimal dalam bentuk sketsa,’’ kenang Hendro.

Para cantrik itu hidup di Sanggar Pejeng secara komunal dan semua keperluannya dibiayai Dullah. Dullah memang selalu menerima dengan tangan terbuka mereka yang ingin serius menggeluti dunia seni.

Sebagai cantrik Dullah, ada pula karya Hendro yang dipajang di Museum Dullah itu di ruang pamer para murid. Judulnya, Pemerintah Republik Indonesia Kembali Ke Jakarta.

Baca Juga :  Wajah Baru Masjid Istiqlal setelah Renovasi Besar-besaran

Selain Hendro, murid Dullah yang menonjol dan bergabung sebelum Sanggar Pejeng berdiri adalah M. Toha. Lukisan atau sketsa Toha rata-rata berada di kertas ukuran mini 7 x 10,6 sentimeter. Toha bersama keempat murid Dullah lain merupakan penggambar-penggambar ketika Clash II alias Agresi Militer II meletus di Jogja, 19 Desember 1948, sampai Serangan Umum, 1 Maret 1949.

’’Jadi, sebagai seorang pejuang, Dullah meminta murid-muridnya itu membuat gambaran soal bagaimana adegan Clash II terjadi atau kejadian-kejadian di sekitarnya,’’ kata Hendro.

Lukisan-lukisan Toha yang menggunakan cat air, antara lain, menggambarkan tank-tank Belanda sedang melewati jalanan Jogja. Ada pula karya berjudul Penduduk Disuruh Mendorong Kendaraan Tentara Belanda Yang Mogok, Plakat-Plakat Di Waktu Serangan Umum, atau Tentara Belanda Menjual Rokok Perlu Uang.

Di sisi lain, meski Museum Dullah sudah berstatus privat, rombongan pengunjung tak berhenti mengalir. Sebelum menerima tamu, Hendro akan meminta izin dari anak Dullah, yakni Sawarna. Dari penuturan Hendro, tak sedikit selebriti yang ditolak karena mereka datang tak memberi kabar jauh-jauh hari alias mendadak.

’’Tapi, tipe pengunjung yang paling kurang saya sukai adalah mereka yang datang, kemudian bertanya berapa harga lukisan ini? Atau, lukisan ini dijual tidak ya?’’ ungkap Hendro.

Dia bercerita, suatu ketika ada kolektor yang datang dan menawar lukisan bertema perjuangan Jumpa Di Tengah Kota dengan bilangan puluhan miliar rupiah. Hendro menolaknya.

Bicara soal sistem pengamanan museum, selain Hendro, ada sosok lain yang juga menjaga: Miranto. Miranto menjelaskan, setiap pintu museum, selain digerendel gembok, juga dikunci palang besi lonjoran. ’’Selain itu, kami memasang CCTV di berbagai sudut museum ini. Sehingga dalam 24 jam terawasi dengan ketat,’’ ucap Mir.

Kurator Agus Dermawan T. yang juga menulis buku biografi Dullah berjudul Lukisan Rakyat Dullah menyebut nama pendek Dullah ini berkebalikan 180 derajat dari rekam jejak seni lukis yang dicatatkannya.

Sejak usia 15 tahun sampai akhir hayatnya berusia 76 tahun, salah seorang pelukis bergaya realis terbaik Indonesia itu terus berkarya. Bahkan, setelah sakit parah yang mengakibatkan tangan kanannya lumpuh pada 1993, Dullah tak berhenti melukis. Dia kemudian melukis dengan tangan kiri.

Salah satu kekhasan Dullah, menurut Agus, dalam bukunya itu disebutkan, sejak 1960-an Dullah memformulasikan teknik cat minyak yang memadukan estetika cat transparan. Transparansi warna kemudian diimbuhi nuansa jejak kuas yang lincah.

Dari ratusan karya Dullah tentang lukisan wajah, tulis Agus dalam bukunya, mulai kakek merokok, penari Bali, hingga sanak familinya, mengingatkan pada karya-karya pelukis besar Belanda Rembrandt.

Pilihan warna Dullah cenderung gradasi cokelat kehitaman, kuning, hijau, tosca, oranye, dan merah marun. Warna-warna itu, lanjut Agus, memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.

’’Bukankah tanah Indonesia yang gembur dan basah itu berwarna cokelat tua?’’ kata Dullah yang dikutip Agus dalam bukunya. (*/c5/ttg)

Mengunjungi Museum Privat Pelukis Legendaris Dullah

Lebih dari 700-an lukisan karya Dullah tersimpan di museum pribadinya yang tak lagi terbuka untuk umum sejak ada insiden pencurian. Pilihan warna pada karya-karya kurator istana periode Presiden Soekarno itu memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.

DIAR CANDRA, Solo

SEORANG tentara duduk di kotak kayu sambil menenggak sebotol jenewer. Dua serdadu lain menendang dan menghantam kepala tawanan.

Adapun dua tentara lainnya lagi mengambil peran lain melucuti jarit dan kebaya seorang perempuan. Semua kejadian itu terpampang di atas kanvas hasil karya pelukis legendaris Dullah bertajuk Gadis Kurir.

’’Lukisan karya Dullah ini terasa istimewa. Mulai detail-detail anatomi, kejadian yang dilukis membawa penontonnya seperti sedang melihat secara langsung kejadian tersebut,’’ ucap desainer grafis Jawa Pos Budiono mengomentari lukisan yang terpajang di ruang utama Museum Dullah tersebut bulan lalu.

Lukisan berukuran 200 x 350 sentimeter tersebut, menurut Sigit Hendro Sutjahjo, murid Dullah yang kini menjaga museum di Solo, Jawa Tengah, itu, terinspirasi proses interograsi tentara Belanda kepada kaum republik. Pada awalnya, lukisan itu masih berupa sketsa, kemudian diperbesar dalam media kanvas dan selesai pada 1975.

’’Pak Dullah ini kan selama periode revolusi (1945–1949, Red) juga ikut berjuang melawan Belanda dan NICA. Jadi, ya lukisan-lukisan bertema era tersebut sangat hidup karena memang beliau saksi mata di palagan,’’ jelas Hendro tentang gurunya yang berpulang 23 tahun lalu itu.

Dia mengungkapkan, ada 12 ruangan di Museum Dullah. Selain menyimpan karya-karya seniman kelahiran Solo, 19 September 1919, tersebut yang berjumlah 700-an, terdapat ruang lukisan teman-temannya seperti Affandi, Lee Man Fong, dan S. Sudjojono. Juga, ruang tempat karya para murid.

Dibuka 1 Agustus 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (alm) Prof Dr Fuad Hassan, museum itu menerima apresiasi yang sangat bagus. Pengunjungnya, menurut pria 60 tahun tersebut, datang dari berbagai kalangan usia dan pekerjaan.

Namun, sebuah insiden pencurian lukisan maestro seniman Indonesia Raden Saleh pada 1990 membuat Dullah berpikir ulang soal status museum yang terbuka untuk umum itu. Lukisan berjudul Musafir Padang Pasir yang bertarikh 1825 tersebut dicuri orang dan sempat menghebohkan jagat seni Solo, bahkan Indonesia. Buntutnya, museum itu tak lagi terbuka untuk umum setelah mangkatnya Dullah pada 1 Januari 1996.

Hendro menceritakan, hari hilangnya lukisan tersebut kebetulan berbarengan dengan klub kebanggaan warga Solo, Persis, bermain di Stadion Sriwedari. Lokasi museum yang tak seberapa jauh dari Stadion Sriwedari pun jadi menerima banyak tamu. Dan, momentum menyemutnya tamu itu kemudian dimanfaatkan si pencuri untuk mengambil lukisan.

’’Saya niteni (mencermati) dan bilang ke Pak Dullah bahwa lingkungan seni di Solo itu sempit. Makanya saya lihat di beberapa lokasi yang mungkin jadi jujukan pencuri untuk menjual lukisan itu,’’ ujar Hendro. ’’Karena lukisan yang dicuri itu hanya dimengerti orang yang paham seni atau kolektor,’’ tambah pria asal Jakarta tersebut.

Baca Juga :  Sistem Irigasi Masih Rusak, Petani Sigi Andalkan Mesin Alkon

Dari komunikasi dengan beberapa pedagang seni ’’bawah tanah’’ Solo, hasilnya, si pencuri minta uang tebusan Rp 100 juta. Diserahkan di area Candi Prambanan di perbatasan Klaten, Jawa Tengah–Sleman, Jogjakarta. Dengan bantuan polisi, gerombolan pencuri tersebut bisa dilumpuhkan.

Namun, perkara itu tak berhenti sampai di situ. Lukisan Musafir Padang Pasir disita pihak berwajib dengan status barang bukti. Belum kembalinya lukisan berusia lebih dari satu setengah abad tersebut meresahkan Dullah.
Ada kekhawatiran, selama proses persidangan, ada pihak ’’nakal’’ yang akan menghilangkan atau menukar lukisan itu. Maka untuk menenangkan gurunya, Hendro membuat replika karya Raden Saleh. Lantas, lukisan asli yang jadi barang bukti itu ditukar dengan lukisan KW karya Hendro tersebut.

’’Jadi, ketika tak dikembalikan kepada kami, ndak papa soalnya bukan yang asli,’’ ujar Hendro, lalu tertawa.
Ada pula cerita mengenai Rapat Ikada, lukisan yang masuk kategori tak selesai. Lukisan yang dibuat dengan cat air pada 1977 itu menggambarkan Presiden Soekarno mendapat sambutan dari rakyat seusai rapat akbar di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945.

’’Alasan tak selesai lebih karena situasi politik yang tak memungkinkan. Dullah ini kan seorang Soekarnois dan ketika melukis Rapat Ikada ini penguasa negeri kan Pak Harto (Presiden Soeharto, Red) yang kita tahu sikapnya seperti apa kepada Pak Karno (Presiden Soekarno, Red),’’ jelas Hendro.

Kedekatan Hendro dengan Dullah berlangsung sejak Dullah membuka Sanggar Pejeng di Bali pada 1973. Setelah menjadi pelukis istana sedekade (1950–1960), Dullah mundur dengan alasan bosan. Seperti yang dituturkan Dullah kepada Hendro, jadi pelukis istana itu juga capek. Ke mana pun Presiden Soekarno berkunjung, pasti Dullah ikut rombongan.

Salah satu karya Dullah saat ikut rombongan adalah sketsa Gadis Padang. Karya tersebut lahir ketika diajak Soekarno ke Sumatera Barat pada awal 1950-an. Di kertas berukuran 39 x 41,5 sentimeter, Dullah melukis di tempat kunjungan.

Hendro yang menjadi murid generasi ketiga di Sanggar Pejeng menyatakan, Dullah memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat sketsa. Sejak menggeluti seni pada usia belasan, setiap malam sebelum tidur dia membuat satu sketsa.

Itu pula yang diajarkan kepada para cantrik di Sanggar Pejeng. Sanggar yang didirikan pada 1973–1983 itu memiliki 90 cantrik dalam rentang waktu sepuluh tahun. Mereka yang datang sebetulnya ratusan. Namun, karena seleksi alam, akhirnya tersaringlah menjadi 90 orang itu.

’’Jadi murid Dullah itu tak gampang, lho. Tiap pagi kami harus di area yang ditentukan Pak Dullah, kemudian harus membuat gambar di lokasi tersebut minimal dalam bentuk sketsa,’’ kenang Hendro.

Para cantrik itu hidup di Sanggar Pejeng secara komunal dan semua keperluannya dibiayai Dullah. Dullah memang selalu menerima dengan tangan terbuka mereka yang ingin serius menggeluti dunia seni.

Sebagai cantrik Dullah, ada pula karya Hendro yang dipajang di Museum Dullah itu di ruang pamer para murid. Judulnya, Pemerintah Republik Indonesia Kembali Ke Jakarta.

Baca Juga :  Penampilan Publik Pertama Budi Karya Sumadi setelah Positif Covid-19

Selain Hendro, murid Dullah yang menonjol dan bergabung sebelum Sanggar Pejeng berdiri adalah M. Toha. Lukisan atau sketsa Toha rata-rata berada di kertas ukuran mini 7 x 10,6 sentimeter. Toha bersama keempat murid Dullah lain merupakan penggambar-penggambar ketika Clash II alias Agresi Militer II meletus di Jogja, 19 Desember 1948, sampai Serangan Umum, 1 Maret 1949.

’’Jadi, sebagai seorang pejuang, Dullah meminta murid-muridnya itu membuat gambaran soal bagaimana adegan Clash II terjadi atau kejadian-kejadian di sekitarnya,’’ kata Hendro.

Lukisan-lukisan Toha yang menggunakan cat air, antara lain, menggambarkan tank-tank Belanda sedang melewati jalanan Jogja. Ada pula karya berjudul Penduduk Disuruh Mendorong Kendaraan Tentara Belanda Yang Mogok, Plakat-Plakat Di Waktu Serangan Umum, atau Tentara Belanda Menjual Rokok Perlu Uang.

Di sisi lain, meski Museum Dullah sudah berstatus privat, rombongan pengunjung tak berhenti mengalir. Sebelum menerima tamu, Hendro akan meminta izin dari anak Dullah, yakni Sawarna. Dari penuturan Hendro, tak sedikit selebriti yang ditolak karena mereka datang tak memberi kabar jauh-jauh hari alias mendadak.

’’Tapi, tipe pengunjung yang paling kurang saya sukai adalah mereka yang datang, kemudian bertanya berapa harga lukisan ini? Atau, lukisan ini dijual tidak ya?’’ ungkap Hendro.

Dia bercerita, suatu ketika ada kolektor yang datang dan menawar lukisan bertema perjuangan Jumpa Di Tengah Kota dengan bilangan puluhan miliar rupiah. Hendro menolaknya.

Bicara soal sistem pengamanan museum, selain Hendro, ada sosok lain yang juga menjaga: Miranto. Miranto menjelaskan, setiap pintu museum, selain digerendel gembok, juga dikunci palang besi lonjoran. ’’Selain itu, kami memasang CCTV di berbagai sudut museum ini. Sehingga dalam 24 jam terawasi dengan ketat,’’ ucap Mir.

Kurator Agus Dermawan T. yang juga menulis buku biografi Dullah berjudul Lukisan Rakyat Dullah menyebut nama pendek Dullah ini berkebalikan 180 derajat dari rekam jejak seni lukis yang dicatatkannya.

Sejak usia 15 tahun sampai akhir hayatnya berusia 76 tahun, salah seorang pelukis bergaya realis terbaik Indonesia itu terus berkarya. Bahkan, setelah sakit parah yang mengakibatkan tangan kanannya lumpuh pada 1993, Dullah tak berhenti melukis. Dia kemudian melukis dengan tangan kiri.

Salah satu kekhasan Dullah, menurut Agus, dalam bukunya itu disebutkan, sejak 1960-an Dullah memformulasikan teknik cat minyak yang memadukan estetika cat transparan. Transparansi warna kemudian diimbuhi nuansa jejak kuas yang lincah.

Dari ratusan karya Dullah tentang lukisan wajah, tulis Agus dalam bukunya, mulai kakek merokok, penari Bali, hingga sanak familinya, mengingatkan pada karya-karya pelukis besar Belanda Rembrandt.

Pilihan warna Dullah cenderung gradasi cokelat kehitaman, kuning, hijau, tosca, oranye, dan merah marun. Warna-warna itu, lanjut Agus, memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.

’’Bukankah tanah Indonesia yang gembur dan basah itu berwarna cokelat tua?’’ kata Dullah yang dikutip Agus dalam bukunya. (*/c5/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/