24.7 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Kisah Petani PSR di Ngabang Bertahan di Tengah Harga Pupuk yang Melonjak

Kisah Petani Mandiri Panen Sawit Peremajaan di Kabupaten Landak (1)

Petani mandiri di Kabupaten Landak mulai memetik hasil dari program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Pohon-pohon yang mereka tanam sekira tiga tahun yang lalu telah berbuah. Tetapi, mereka menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Siti Sulbiyah, Ngabang

Sebuah mobil bak terbuka menelusuri jalan bertanah di antara pepohonan sawit muda. Jalan itu hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di sebelah gundukan Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang ditumpuk pada satu titik.

Yunus (62) bersama seorang rekannya turun dari mobil itu dengan membawa dodos. Dengan alat panen tersebut, satu persatu TBS dimasukkan ke dalam bak mobil. “Kemarin panen, hari ini buahnya diangkut,” tutur Yunus, petani sawit mandiri ditemui di kebun miliknya di Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, akhir Oktober lalu.

Buah sawit yang dihasilkan terbilang masih kecil. Beratnya sekitar 3-4 kilogram. Maklum, buah yang dihasilkan berasal dari pohon yang baru berusia tiga tahun. Lahan sawit milik Yunus ini merupakan hasil dari program peremajaan sawit rakyat (PSR).

Yunus menceritakan, tahun 2018 ia mendengar adanya program PSR dari pemerintah yang ditujukan bagi kebun sawit tua dan tidak lagi produktif. Karena merasa perlu, ia pun memberanikan diri mengikuti program tersebut. Yunus termasuk di antara petani sawit di Kabupaten Landak yang ikut pertama kali program PSR.

“Lahan saya yang ikut PSR itu 1,9 hektare,” katanya.

Setelah menunggu kurang dari tiga tahun, pohonya mulai berbuah. Pertama kali panen sekitar April 2022 yang lalu. Namun, beberapa bulan tidak dipanen karena buahnya masih kecil sehingga sulit terserap pabrik. “Nah, kalau sekarang buah sudah lebih besar,” ujarnya.

Petani mandiri lainnya, Oren (63) juga mulai memetik hasil dari program PSR yang ditanamnya sekitar tiga tahun lalu. Lahan satu kapling atau sekitar 1,9 hektare miliknya kini menghasilkan 1,5 ton sekali panen.

Di antara pohon-pohon sawit berukuran lebih dari satu meter miliknya, terdapat beberapa pokok pisang. Tanaman buah tersebut merupakan tumpang sari yang menyokong sementara perekonomiannya sambil menunggu sawit berbuah.  “Sekarang pohon pisang tinggal sedikit karena pohon sawit semakin tinggi,” kata warga Desa Amboyo Utara ini.

TUMPANG SARI : Oren, petani sawit dari Kabupaten Landak, Kalimantan Barat tengah membersihkan dahan-dahan kering pohon pisang. Sejumlah pohon pisang masih berdiri di sela-sela pohon sawit yang mulai meninggi. Pohon pisang ini sebelumnya merupakan tanaman tumpang sari yang menjadi penghasilan sementara petani sambil menunggu sawit berbuah. SITI/PONTIANAKPOST

Ketua Koperasi Produsen Titian Sejahtera Mandiri, Ismail Lapan mengatakan lebih dari setengah dari sekitar 100 anggota koperasinya telah mengikuti program peremajaan sawit. Sebagian lahan yang telah ikut peremajaan pada tahap pertama sudah mulai memanen hasil.

“Satu petani rata-rata (lahan yang diremajakan) satu kapling atau sekitar 1,8-2 hektare,” kata Ismail, yang juga petani sawit mandiri itu.

Ismail menceritakan para petani sawit mandiri di daerahnya sebagian besar merupakan petani eks plasma PTPN XIII. Perjuangan para petani mandiri yang mengikuti program ini diakuinya tidaklah mudah. Sebab, mereka tidak memiliki contoh dan gambaran riil peremajaan terhadap tanaman yang sudah tua.

Baca Juga :  Harga CPO Tinggi, Petani Sawit Kini Berpenghasilan Rp12 juta Sebulan

Menurutnya, petani harus merelakan pohon sawit diganti dengan tanaman baru meski berisiko kehilangan pendapatan dari sawit selama kurang dari tiga tahun. Sambil menunggu tanaman tumbuh dan berbuah, petani pun memanfaatkan lahan yang masih terbuka untuk menanam aneka sayuran dan buah dengan sistem tumpang sari.

“Ada yang menanam timun, kacang, ubi, pisang, dan sayur-sayuran. Ada juga yang menanam tebu dan jagung. Hasilnya nanti bisa dijual kembali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Petani juga bekerja di lahan sawit yang masih produktif milik petani lain. Mereka kerja serabutan. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan bagi kebutuhan perawatan sawit yang diremajakan.

Program peremajaan sawit pada awalnya memberikan petani insentif sebesar Rp25 juta per hektare. Aturan baru,, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menaikkan jumlah insentif menjadi Rp30 juta per hektare. Nominal ini menurut Ismail hanya cukup sampai tahap penanaman saja. Untuk biaya perawatan seperti pupuk, tidaklah cukup dengan anggaran tersebut.

Kondisi tersebut tentu menyulitkan petani. Terlebih saat ini, harga pupuk diakuinya naik hingga 2-3 kali lipat. “Belum lagi masalah jalan dan gorong-gorong jembatan yang rusak membuat kami kesulitan membawa buah,” tuturnya.

Landak merupakan kabupaten pertama di Kalimantan Barat yang menjalankan program PSR sejak awal program ini digulirkan. Kepala Dinas Perkebunan Landak, Yulianus Edo Natalaga menuturkan sebagian besar lahan PSR sudah mulai berbuah. Mereka adalah petani yang telah mendapat Rekomendasi Teknis (rekomtek) tahun 2018 dengan tahun tanam 2019. Setidaknya ada empat koperasi yang lahan sawitnya telah memberi hasil.

“Karena masih tanaman baru, produksinya sekitar 500-750 per hektare. Produksi TBS ini memang tergantung perawatan,” tuturnya.

Edo menceritakan, proses pengajuan PSR mulai dilakukan tahun 2017. Akhir tahun 2018, rekomtek  yang keluar sebanyak 2.500 hektare. Meski sudah keluar rekomtek, namun dalam pelaksanaanya tidak langsung bisa dieksekusi secepatnya.

“Tantangan dalam pengerjaannya saat itu cukup besar. Karena petunjuk teknisnya bisa dibilang masih meraba-raba saat itu,” katanya.

Tantangan di lapangan juga tidak sedikit. Pada tahapan tumbang chipping misalnya, mendatangkan alat berat tidaklah mudah karena jumlahnya yang terbatas. Selain itu, lahan yang ingin dibersihkan tersebar dalam banyak titik.

Kelangkaan bibit juga menjadi kendala hingga saat ini. Menurutnya, keberadaan bibit merupakan persoalan klasik yang dalam kondisi normal saja petani harus menunggu cukup lama. Apalagi dengan adanya program PSR, bibit semakin sulit didapat.

“Sehingga ketika dana (untuk PSR) masuk, kemudian ke tahap tumbang chipping dan begitu selesai benihnya belum siap. Akhirnya ada waktu tunggu tanam. Bahkan ada yang sampai menunggu satu tahun,” tuturnya.

Edo menambahkan, lahan yang menganggur tersebut oleh sebagian petani dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Tahun 2019, pihaknya memiliki program pembagian benih jagung bagi petani yang mengikuti program PSR. Namun tak hanya jagung, petani secara mandiri berinisiatif menanam aneka sayuran yang hasilnya dijual untuk menopang perekonomian mereka yang hilang karena pohon sawit ditebang.

Baca Juga :  Cerita Tenaga Medis Tangani Pasien Covid-19; Semua untuk Kemanusiaan
HASIL : Ismail Lapan, petani sawit di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menunjukkan TBS yang baru berusia sekitar tiga tahun. TBS tersebut berasal dari lahan sawit yang diremajakan melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Produksi Ideal

Dosen Pertanian Universitas Tanjungpura, Muhammad Pramulya mengatakan proses penanaman dan pemeliharaan tanaman sawit baru akan memengaruhi kualitas hasil TBS. Dia mengatakan berat TBS ideal untuk usia tiga tahun adalah berkisar 3-5 kg.

“Paling bagus itu berat buahnya lima kilogram,” ujarnya.

Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap berat dan produktivitas buah sawit, antara lain dari benih, pupuk, hingga kondisi alam. Pemilihan benih bersertifikat menjadi sangat penting karena akan memengaruhi kualitas tanaman saat panen. Baik petani, koperasi, maupun pihak terkait harus jeli memilih benih sebab saat ini banyak beredar benih unggul yang palsu.

Pupuk memiliki peran yang besar dalam memengaruhi kualitas tanaman. Pramulya menilai, 70 persen biaya pemeliharaan sawit terletak pada pupuk. Sayangnya, saat ini harga pupuk mengalami kenaikan. Di sisi lain, banyak  pula beredar pupuk murah yang tidak terjamin mutunya.

“Pupuk benar-benar harus menjadi perhatian. Karena korelasi antara pupuk dan hasil tanaman itu sangat erat,” tuturnya.

Begitu pula dengan faktor alam yang juga memberikan pengaruh pada hasil tanaman. Pramulya menjelaskan, respon pupuk dan pengaruh musim akan terlihat hasilnya dua tahun kemudian. Faktor ini memang tidak bisa dikendalikan, namun bisa diminimalisir dampaknya bila penanganannya tepat. Petani perlu membuat manajemen air yang baik, agar pohon tidak kekurangan atau kelebihan pasokan air.

Pihaknya mendukung program PSR yang merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki rakyat. Terlebih, tidak sedikit lahan sawit tua dan tidak lagi produktif.

Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalbar, menunjukkan bahwa terdapat 72,806 hektare kebun sawit yang tua ataupun rusak. Kepala Disbunnak Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan pihaknya terus meningkatkan capaian PSR dalam rangka mendorong industri sawit berkelanjutan.

Menurutnya, berbagai kemudahan dilakukan pemerintah guna mempercepat realisasi PSR. Salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 03 Tahun 2022 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengembangan, Peremajaan, serta Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit.

“Dalam upaya percepatan capaian peremajaan kelapa sawit pekebun, telah diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 03 Tahun 2022 yang memberikan ruang kolaborasi perusahaan melalui jalur kemitraan,” ujar Munsif.

Melalui jalur kemitraan dengan perusahaan ini, pihaknya optimis capaian PSR akan lebih progresif lagi. Dia juga berharap berbagai kendala yang ada selama ini dapat teratasi dengan adanya aturan baru ini.

Berdasarkan data Disbunnak Kalbar, jumlah rekomtek yang dikeluarkan oleh Dirjenbun dari tahun 2018 hingga Agustus 2022 adalah sebanyak 16.674 hektare. Rinciannya, tahun 2018-2021 secara berurutan adalah 2.867 hektare, 5.251 hektare, 6.247 hektare, dan 2.085 hektare. Sedangkan untuk tahun 2022, per Agustus rekomtek yang keluar sebanyak 4.400 hektare. (bersambung)

Kisah Petani Mandiri Panen Sawit Peremajaan di Kabupaten Landak (1)

Petani mandiri di Kabupaten Landak mulai memetik hasil dari program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Pohon-pohon yang mereka tanam sekira tiga tahun yang lalu telah berbuah. Tetapi, mereka menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Siti Sulbiyah, Ngabang

Sebuah mobil bak terbuka menelusuri jalan bertanah di antara pepohonan sawit muda. Jalan itu hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di sebelah gundukan Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang ditumpuk pada satu titik.

Yunus (62) bersama seorang rekannya turun dari mobil itu dengan membawa dodos. Dengan alat panen tersebut, satu persatu TBS dimasukkan ke dalam bak mobil. “Kemarin panen, hari ini buahnya diangkut,” tutur Yunus, petani sawit mandiri ditemui di kebun miliknya di Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, akhir Oktober lalu.

Buah sawit yang dihasilkan terbilang masih kecil. Beratnya sekitar 3-4 kilogram. Maklum, buah yang dihasilkan berasal dari pohon yang baru berusia tiga tahun. Lahan sawit milik Yunus ini merupakan hasil dari program peremajaan sawit rakyat (PSR).

Yunus menceritakan, tahun 2018 ia mendengar adanya program PSR dari pemerintah yang ditujukan bagi kebun sawit tua dan tidak lagi produktif. Karena merasa perlu, ia pun memberanikan diri mengikuti program tersebut. Yunus termasuk di antara petani sawit di Kabupaten Landak yang ikut pertama kali program PSR.

“Lahan saya yang ikut PSR itu 1,9 hektare,” katanya.

Setelah menunggu kurang dari tiga tahun, pohonya mulai berbuah. Pertama kali panen sekitar April 2022 yang lalu. Namun, beberapa bulan tidak dipanen karena buahnya masih kecil sehingga sulit terserap pabrik. “Nah, kalau sekarang buah sudah lebih besar,” ujarnya.

Petani mandiri lainnya, Oren (63) juga mulai memetik hasil dari program PSR yang ditanamnya sekitar tiga tahun lalu. Lahan satu kapling atau sekitar 1,9 hektare miliknya kini menghasilkan 1,5 ton sekali panen.

Di antara pohon-pohon sawit berukuran lebih dari satu meter miliknya, terdapat beberapa pokok pisang. Tanaman buah tersebut merupakan tumpang sari yang menyokong sementara perekonomiannya sambil menunggu sawit berbuah.  “Sekarang pohon pisang tinggal sedikit karena pohon sawit semakin tinggi,” kata warga Desa Amboyo Utara ini.

TUMPANG SARI : Oren, petani sawit dari Kabupaten Landak, Kalimantan Barat tengah membersihkan dahan-dahan kering pohon pisang. Sejumlah pohon pisang masih berdiri di sela-sela pohon sawit yang mulai meninggi. Pohon pisang ini sebelumnya merupakan tanaman tumpang sari yang menjadi penghasilan sementara petani sambil menunggu sawit berbuah. SITI/PONTIANAKPOST

Ketua Koperasi Produsen Titian Sejahtera Mandiri, Ismail Lapan mengatakan lebih dari setengah dari sekitar 100 anggota koperasinya telah mengikuti program peremajaan sawit. Sebagian lahan yang telah ikut peremajaan pada tahap pertama sudah mulai memanen hasil.

“Satu petani rata-rata (lahan yang diremajakan) satu kapling atau sekitar 1,8-2 hektare,” kata Ismail, yang juga petani sawit mandiri itu.

Ismail menceritakan para petani sawit mandiri di daerahnya sebagian besar merupakan petani eks plasma PTPN XIII. Perjuangan para petani mandiri yang mengikuti program ini diakuinya tidaklah mudah. Sebab, mereka tidak memiliki contoh dan gambaran riil peremajaan terhadap tanaman yang sudah tua.

Baca Juga :  Petani Sawit Keluhkan TBS Tak Terserap PKS Offtaker

Menurutnya, petani harus merelakan pohon sawit diganti dengan tanaman baru meski berisiko kehilangan pendapatan dari sawit selama kurang dari tiga tahun. Sambil menunggu tanaman tumbuh dan berbuah, petani pun memanfaatkan lahan yang masih terbuka untuk menanam aneka sayuran dan buah dengan sistem tumpang sari.

“Ada yang menanam timun, kacang, ubi, pisang, dan sayur-sayuran. Ada juga yang menanam tebu dan jagung. Hasilnya nanti bisa dijual kembali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Petani juga bekerja di lahan sawit yang masih produktif milik petani lain. Mereka kerja serabutan. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan bagi kebutuhan perawatan sawit yang diremajakan.

Program peremajaan sawit pada awalnya memberikan petani insentif sebesar Rp25 juta per hektare. Aturan baru,, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menaikkan jumlah insentif menjadi Rp30 juta per hektare. Nominal ini menurut Ismail hanya cukup sampai tahap penanaman saja. Untuk biaya perawatan seperti pupuk, tidaklah cukup dengan anggaran tersebut.

Kondisi tersebut tentu menyulitkan petani. Terlebih saat ini, harga pupuk diakuinya naik hingga 2-3 kali lipat. “Belum lagi masalah jalan dan gorong-gorong jembatan yang rusak membuat kami kesulitan membawa buah,” tuturnya.

Landak merupakan kabupaten pertama di Kalimantan Barat yang menjalankan program PSR sejak awal program ini digulirkan. Kepala Dinas Perkebunan Landak, Yulianus Edo Natalaga menuturkan sebagian besar lahan PSR sudah mulai berbuah. Mereka adalah petani yang telah mendapat Rekomendasi Teknis (rekomtek) tahun 2018 dengan tahun tanam 2019. Setidaknya ada empat koperasi yang lahan sawitnya telah memberi hasil.

“Karena masih tanaman baru, produksinya sekitar 500-750 per hektare. Produksi TBS ini memang tergantung perawatan,” tuturnya.

Edo menceritakan, proses pengajuan PSR mulai dilakukan tahun 2017. Akhir tahun 2018, rekomtek  yang keluar sebanyak 2.500 hektare. Meski sudah keluar rekomtek, namun dalam pelaksanaanya tidak langsung bisa dieksekusi secepatnya.

“Tantangan dalam pengerjaannya saat itu cukup besar. Karena petunjuk teknisnya bisa dibilang masih meraba-raba saat itu,” katanya.

Tantangan di lapangan juga tidak sedikit. Pada tahapan tumbang chipping misalnya, mendatangkan alat berat tidaklah mudah karena jumlahnya yang terbatas. Selain itu, lahan yang ingin dibersihkan tersebar dalam banyak titik.

Kelangkaan bibit juga menjadi kendala hingga saat ini. Menurutnya, keberadaan bibit merupakan persoalan klasik yang dalam kondisi normal saja petani harus menunggu cukup lama. Apalagi dengan adanya program PSR, bibit semakin sulit didapat.

“Sehingga ketika dana (untuk PSR) masuk, kemudian ke tahap tumbang chipping dan begitu selesai benihnya belum siap. Akhirnya ada waktu tunggu tanam. Bahkan ada yang sampai menunggu satu tahun,” tuturnya.

Edo menambahkan, lahan yang menganggur tersebut oleh sebagian petani dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Tahun 2019, pihaknya memiliki program pembagian benih jagung bagi petani yang mengikuti program PSR. Namun tak hanya jagung, petani secara mandiri berinisiatif menanam aneka sayuran yang hasilnya dijual untuk menopang perekonomian mereka yang hilang karena pohon sawit ditebang.

Baca Juga :  Pesta Panen Padi di Tengah Pandemi
HASIL : Ismail Lapan, petani sawit di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menunjukkan TBS yang baru berusia sekitar tiga tahun. TBS tersebut berasal dari lahan sawit yang diremajakan melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Produksi Ideal

Dosen Pertanian Universitas Tanjungpura, Muhammad Pramulya mengatakan proses penanaman dan pemeliharaan tanaman sawit baru akan memengaruhi kualitas hasil TBS. Dia mengatakan berat TBS ideal untuk usia tiga tahun adalah berkisar 3-5 kg.

“Paling bagus itu berat buahnya lima kilogram,” ujarnya.

Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap berat dan produktivitas buah sawit, antara lain dari benih, pupuk, hingga kondisi alam. Pemilihan benih bersertifikat menjadi sangat penting karena akan memengaruhi kualitas tanaman saat panen. Baik petani, koperasi, maupun pihak terkait harus jeli memilih benih sebab saat ini banyak beredar benih unggul yang palsu.

Pupuk memiliki peran yang besar dalam memengaruhi kualitas tanaman. Pramulya menilai, 70 persen biaya pemeliharaan sawit terletak pada pupuk. Sayangnya, saat ini harga pupuk mengalami kenaikan. Di sisi lain, banyak  pula beredar pupuk murah yang tidak terjamin mutunya.

“Pupuk benar-benar harus menjadi perhatian. Karena korelasi antara pupuk dan hasil tanaman itu sangat erat,” tuturnya.

Begitu pula dengan faktor alam yang juga memberikan pengaruh pada hasil tanaman. Pramulya menjelaskan, respon pupuk dan pengaruh musim akan terlihat hasilnya dua tahun kemudian. Faktor ini memang tidak bisa dikendalikan, namun bisa diminimalisir dampaknya bila penanganannya tepat. Petani perlu membuat manajemen air yang baik, agar pohon tidak kekurangan atau kelebihan pasokan air.

Pihaknya mendukung program PSR yang merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki rakyat. Terlebih, tidak sedikit lahan sawit tua dan tidak lagi produktif.

Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalbar, menunjukkan bahwa terdapat 72,806 hektare kebun sawit yang tua ataupun rusak. Kepala Disbunnak Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan pihaknya terus meningkatkan capaian PSR dalam rangka mendorong industri sawit berkelanjutan.

Menurutnya, berbagai kemudahan dilakukan pemerintah guna mempercepat realisasi PSR. Salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 03 Tahun 2022 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengembangan, Peremajaan, serta Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit.

“Dalam upaya percepatan capaian peremajaan kelapa sawit pekebun, telah diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 03 Tahun 2022 yang memberikan ruang kolaborasi perusahaan melalui jalur kemitraan,” ujar Munsif.

Melalui jalur kemitraan dengan perusahaan ini, pihaknya optimis capaian PSR akan lebih progresif lagi. Dia juga berharap berbagai kendala yang ada selama ini dapat teratasi dengan adanya aturan baru ini.

Berdasarkan data Disbunnak Kalbar, jumlah rekomtek yang dikeluarkan oleh Dirjenbun dari tahun 2018 hingga Agustus 2022 adalah sebanyak 16.674 hektare. Rinciannya, tahun 2018-2021 secara berurutan adalah 2.867 hektare, 5.251 hektare, 6.247 hektare, dan 2.085 hektare. Sedangkan untuk tahun 2022, per Agustus rekomtek yang keluar sebanyak 4.400 hektare. (bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/