alexametrics
26.7 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Sulap Rosela Jadi Beauty Water dan Hand Sanitizer

Selain masker, hand sanitizer menjadi benda wajib yang dibawa pada masa pandemi. Biasanya hand sanitizer dibuat dari ekstrak aloe vera. Nah, Yuka Nabila memilih cara berbeda untuk meraciknya. Dia menggunakan bunga rosela. Selain hand sanitizer, dia pernah memakai rosela untuk beauty water.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

YUKA masih ingat bagaimana respons para petani rosela di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, begitu tahu bahwa dirinya mau membeli rosela hingga 5 kilogram pada 2019. Petani kaget. Sebab, biasanya pembeli hanya membeli sekitar 500 gram hingga 1 kilogram rosela.

Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) itu kali pertama bertemu dengan petani rosela di Kediri ketika menjalani program pengabdian masyarakat. Selama 10 hari, anak bungsu dua bersaudara itu memahami dinamika permasalahan yang dihadapi para petani. Salah satunya, harga rosela.

Sebelum pandemi, pendapatan petani rosella cukup lumayan. Rosela dijual Rp 200 ribu per kilogram. Yuka mengatakan, pada masa pandemi pendapatan malah anjlok menjadi Rp 40 ribu per kilogram. ”Butuh banyak tangan untuk membantu petani rosela,” tutur Yuka saat ditemui beberapa waktu lalu. Awalnya rosela diolah menjadi beauty water.

Baca Juga :  Kisah Arpandi Memajukan Pertanian di Kecamatan Terentang, Sulap Kebun Karet Jadi Pertanian Terintegrasi

Ide tersebut ternyata mengantarkannya ke beberapa kompetisi. Mulai kompetisi tingkat nasional hingga ke Malaysia. Pada 2019 penggemar Bangtan Boys (BTS) tersebut membawa pulang silver award dari ajang International Innovation and Invention Challenge via Exhibition 2019, Malaysia.

Untuk yang kompetisi nasional, Yuka menyabet juara I dari National Economic View di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pada Maret tahun lalu, saat Covid-19 kali pertama datang ke Indonesia, dara kelahiran Jakarta itu memutar haluannya. Dari memproduksi rosela untuk beauty water menjadi hand sanitizer. Menurut dia, beauty water membutuhkan banyak hal untuk diperhatikan sebelum diproduksi massal. Salah satunya, uji klinis kosmetik.

Pada situasi pandemi, hand sanitizer dibutuhkan banyak orang. Yuka menangkap kondisi pasar tersebut. Dia terus mengembangkan formula untuk hand sanitizer berbahan rosela. Dia menggandeng beberapa kerabatnya dari universitas lain. Ada enam anggota di timnya dengan beragam background pendidikan. Mulai farmasi hingga desain komunikasi visual (DKV). ”Kami juga lagi fokus mengurusi perizinan produk. Rencananya, universitas membantu ke instansi perizinan. Sejauh ini, sanitizer masih dipakai untuk area universitas saja,” terang Yuka.

Baca Juga :  Ratusan Anak Tertular Hepatitis Misterius, Bagaimana dengan Orang Dewasa?

Untuk keberlangsungan produksi hingga kebutuhan pengembangan produk, dana menjadi hal yang vital. Yuka dan tim sempat bertemu dengan beberapa orang yang berencana menyuntikkan dana. Sayangnya, ada kendala terkait visi dan misi berbeda dengan apa yang dibawa Yuka.

Terpisah, Dekan FEB Gimanto Gunawan MM MAk mengatakan, FEB memiliki hubungan baik dengan empat negara. Yaitu, Malaysia, Korea Selatan, India, dan Turki. Fakultas memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk belajar, berkompetisi, hingga mengikuti pertukaran pelajar. Baik itu melalui paper conference maupun pertukaran budaya.

Selain membuka kesempatan untuk mengikuti kegiatan tingkat internasional, Gimanto mengungkapkan bahwa universitas memberikan dukungan kepada mahasiswa berupa penggelontoran beasiswa. Ada beragam jenis beasiswa yang ditawarkan. Durasi beasiswanya pun berbeda-beda. Ada yang 6 hingga 18 bulan penuh.*

Selain masker, hand sanitizer menjadi benda wajib yang dibawa pada masa pandemi. Biasanya hand sanitizer dibuat dari ekstrak aloe vera. Nah, Yuka Nabila memilih cara berbeda untuk meraciknya. Dia menggunakan bunga rosela. Selain hand sanitizer, dia pernah memakai rosela untuk beauty water.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

YUKA masih ingat bagaimana respons para petani rosela di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, begitu tahu bahwa dirinya mau membeli rosela hingga 5 kilogram pada 2019. Petani kaget. Sebab, biasanya pembeli hanya membeli sekitar 500 gram hingga 1 kilogram rosela.

Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) itu kali pertama bertemu dengan petani rosela di Kediri ketika menjalani program pengabdian masyarakat. Selama 10 hari, anak bungsu dua bersaudara itu memahami dinamika permasalahan yang dihadapi para petani. Salah satunya, harga rosela.

Sebelum pandemi, pendapatan petani rosella cukup lumayan. Rosela dijual Rp 200 ribu per kilogram. Yuka mengatakan, pada masa pandemi pendapatan malah anjlok menjadi Rp 40 ribu per kilogram. ”Butuh banyak tangan untuk membantu petani rosela,” tutur Yuka saat ditemui beberapa waktu lalu. Awalnya rosela diolah menjadi beauty water.

Baca Juga :  Covid-19 Bisa Bawa Penyakit Jiwa

Ide tersebut ternyata mengantarkannya ke beberapa kompetisi. Mulai kompetisi tingkat nasional hingga ke Malaysia. Pada 2019 penggemar Bangtan Boys (BTS) tersebut membawa pulang silver award dari ajang International Innovation and Invention Challenge via Exhibition 2019, Malaysia.

Untuk yang kompetisi nasional, Yuka menyabet juara I dari National Economic View di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pada Maret tahun lalu, saat Covid-19 kali pertama datang ke Indonesia, dara kelahiran Jakarta itu memutar haluannya. Dari memproduksi rosela untuk beauty water menjadi hand sanitizer. Menurut dia, beauty water membutuhkan banyak hal untuk diperhatikan sebelum diproduksi massal. Salah satunya, uji klinis kosmetik.

Pada situasi pandemi, hand sanitizer dibutuhkan banyak orang. Yuka menangkap kondisi pasar tersebut. Dia terus mengembangkan formula untuk hand sanitizer berbahan rosela. Dia menggandeng beberapa kerabatnya dari universitas lain. Ada enam anggota di timnya dengan beragam background pendidikan. Mulai farmasi hingga desain komunikasi visual (DKV). ”Kami juga lagi fokus mengurusi perizinan produk. Rencananya, universitas membantu ke instansi perizinan. Sejauh ini, sanitizer masih dipakai untuk area universitas saja,” terang Yuka.

Baca Juga :  Tiba Malam, Beruntung Masih Bisa Daftar Ulang

Untuk keberlangsungan produksi hingga kebutuhan pengembangan produk, dana menjadi hal yang vital. Yuka dan tim sempat bertemu dengan beberapa orang yang berencana menyuntikkan dana. Sayangnya, ada kendala terkait visi dan misi berbeda dengan apa yang dibawa Yuka.

Terpisah, Dekan FEB Gimanto Gunawan MM MAk mengatakan, FEB memiliki hubungan baik dengan empat negara. Yaitu, Malaysia, Korea Selatan, India, dan Turki. Fakultas memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk belajar, berkompetisi, hingga mengikuti pertukaran pelajar. Baik itu melalui paper conference maupun pertukaran budaya.

Selain membuka kesempatan untuk mengikuti kegiatan tingkat internasional, Gimanto mengungkapkan bahwa universitas memberikan dukungan kepada mahasiswa berupa penggelontoran beasiswa. Ada beragam jenis beasiswa yang ditawarkan. Durasi beasiswanya pun berbeda-beda. Ada yang 6 hingga 18 bulan penuh.*

Most Read

Artikel Terbaru

/