alexametrics
25.6 C
Pontianak
Wednesday, August 17, 2022

Selamat Setelah Tiga Hari Terjebak di Hutan Terbakar

Masifnya Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Antara hidup dan mati. Begitulah yang dirasakan Rudi selama tiga hari terjebak kebakaran hutan di Blok Kruncing, Jember, Jawa Timur. Pria 35 tahun itu baru bisa dievakuasi pada Senin malam lalu (21/10). Ia selamat karena berendam di sungai.

INSIDEN ini tersebut bermula ketika dia pergi ke hutan untuk melihat tanaman kopi yang ada di tengah rimba. Warga Dusun Lengkong, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, itu ingin memastikan apakah tanamannya tersebut ikut terbakar atau tidak.

Dia berangkat dari rumahnya Sabtu (19/10) pukul 02.00. Korban berjalan kaki dengan menyusuri kawasan hutan. Tujuan lain, dia juga bermaksud menangkap burung di hutan.

Saat berangkat, dia hanya berbekal beras setengah kilogram untuk dimasak. Korban juga membawa satu sisir pisang untuk pakan burung jenis kacamata yang akan ditangkap.

Untuk sampai di lokasi, Rudi membutuhkan waktu sekitar sepuluh jam. ’’Sabtu pukul 12.00, saya baru sampai di lokasi tanaman kopi yang saya rawat,” ujar Rudi saat ditemui di kediamannya kemarin (22/10).

Awalnya, kawasan yang dia singgahi tak terbakar. Namun, tak berselang lama, api merembet hingga mengepung lahan yang dia tanami kopi. Rudi panik. Dia bingung mau menyelamatkan diri.

Di tengah rasa kalut itu, dia tiba-tiba teringat pada sebuah sungai tak jauh dari tempatnya berdiri. Sejurus kemudian, Rudi nekat menerobos jilatan api untuk turun ke sungai.

Namun, upaya itu tak berjalan mulus. Kobaran api menimbulkan asap tebal hingga menutupi jalan setapak yang dia lalui. Tak hanya itu, Rudi juga mulai batuk.

Dia lantas menggunakan penutup wajah yang dibawa dari rumah untuk menutup hidungnya. Matanya juga mulai terasa perih. Apalagi, saat angin kencang, api merembet dengan cepat. ’’Saya nekat menerobos dan turun ke sungai,” ujarnya.

Selama tiga hari dia berendam di sungai tersebut. Baru kemudian dia menghubungi Fita, istrinya, melalui ponsel.

Setelah itu, dia menelepon Ronal, adiknya. Beruntung, kala itu korban membawa power bank sehingga masih bisa menghubungi istri dan saudaranya tersebut.

Baca Juga :  Sistem Irigasi Masih Rusak, Petani Sigi Andalkan Mesin Alkon

Selama bertahan di hutan, Rudi hanya mengonsumsi pisang yang sedianya untuk menangkap burung. Berasnya sudah habis terbakar. Bahkan, sebagian celana dan jaket yang dikenakan juga terbakar saat dia berusaha melewati api ketika turun ke sungai.

Kabar Rudi yang terjebak selama tiga hari di hutan dan masih hidup tersebut segera tersebar. Setelah mendengar kabar itu, petugas kepolisian berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Polsek Jelbuk juga berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil Maesan, Bondowoso. Sebab, lokasi tempat Rudi ditemukan masuk wilayah perbatasan dua kecamatan, Jelbuk dan Maesan (Bondowoso).

’’Kami bersama BPBD Jember mengajak Ronal, adik korban. Dia kami ajak karena bisa menunjukkan jalur yang biasa dilewati korban,” ujar Kapolsek Jelbuk Iptu Sucahyo.

Setelah dijemput, korban dilarikan ke Puskesmas Jelbuk. Saat itu kondisinya cukup lemas karena tiga hari hanya makan pisang dan minum air sungai. ’’Alhamdulillah, meski sempat mendapat perawatan medis, sekarang kondisinya sudah membaik dan bisa berkumpul bersama keluarga,” tandasnya.

Luas Karhutla 13 Kali Ibu Kota

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Jember itu hanya sebagian kecil dari total luas karhutla di seluruh Indonesia. Jika dikalkulasi, sejak Januari sampai September lahan yang hangus di seantero negeri ini mencapai 857 ribu hektare (ha). Itu setara dengan 13 kali DKI Jakarta yang seluas 66.150 ha.

Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK ), luas lahan gambut yang terbakar mencapai 227 ribu ha. Yang paling banyak terdapat di Kalimantan Tengah (76 ribu ha). Sedangkan kebakaran lahan mineral terjadi di Nusa Tenggara Timur (119 ribu ha). ”Karhutla di lahan mineral terjadi di seluruh provinsi di Indonesia dengan luasan terdampak terkecil di Provinsi Banten dengan 9 hektare,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo kemarin (22/10).

Jika dibandingkan dengan data akhir Agustus 2019 yang tercatat 328.724 ha, luas kebakaran dalam 2 bulan terakhir mengalami kenaikan hingga 160 persen. Meski demikian, Plt Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Raffles B. Pandjaitan mengungkapkan, luas kebakaran tahun ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 2.611.411 ha. ”Oktober nanti diperkirakan berkurang,” katanya.

Baca Juga :  Titik Panas Meningkat, Kebakaran Lahan Hantui Kalbar

Data KLHK mencatat, luas karhutla dari Januari hingga September tahun ini 857.756 ha. Perinciannya, lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Luas lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) 134.227 ha, Kalimantan Barat (Kalbar) 127.462 ha, Kalimantan Selatan (Kalsel) 113.454 ha, Riau 75.871 ha, Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha, dan Jambi 39.638 ha.

Berdasar data KLHK, total luas lahan yang terbakar hingga September 2019 lebih besar jika dibandingkan dengan luas karhutla dalam tiga tahun terakhir. Karhutla tahun lalu seluas 510 ribu ha dan pada 2016 sebesar 438 ribu ha.

Sementara itu, data BNPB per kemarin pukul 08.00 WIB mencatat, masih terjadi karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas atau hot spot teridentifikasi di lima provinsi yang menjadi perhatian BNPB. Yaitu, Sumsel 153 titik, Kalteng 44 titik, Kalsel 23 titik, Kalbar 5 titik, dan Jambi dua titik. Data tersebut berdasar citra satelit Modis Catalog Lapan pada 24 jam terakhir.

Agus mengatakan, masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak. Data pengukuran dengan parameter PM 2,5 mengindikasikan kualitas udara pada tingkat baik hingga tidak sehat.

Berikut perincian kualitas udara yang diukur dengan PM 2,5 di enam provinsi. Antara lain, Sumsel tidak sehat (136), Jambi tidak sehat (102), Kalteng tidak sehat (101), Kalsel tidak sehat (60), dan Riau sedang (27). Hanya kualitas udara Kalimantan Barat yang menunjukkan tingkat baik (5) meskipun di provinsi itu terdapat titik panas. ”Selain di enam provinsi tersebut, kebakaran juga masih terjadi di kawasan pegunungan seperti Gunung Cikuray, Ungaran, Arjuno, Welirang, dan Ringgit,” papar Agus.(jum/rus/c7/ttg/tau/c11/oni)

 

Masifnya Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Antara hidup dan mati. Begitulah yang dirasakan Rudi selama tiga hari terjebak kebakaran hutan di Blok Kruncing, Jember, Jawa Timur. Pria 35 tahun itu baru bisa dievakuasi pada Senin malam lalu (21/10). Ia selamat karena berendam di sungai.

INSIDEN ini tersebut bermula ketika dia pergi ke hutan untuk melihat tanaman kopi yang ada di tengah rimba. Warga Dusun Lengkong, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, itu ingin memastikan apakah tanamannya tersebut ikut terbakar atau tidak.

Dia berangkat dari rumahnya Sabtu (19/10) pukul 02.00. Korban berjalan kaki dengan menyusuri kawasan hutan. Tujuan lain, dia juga bermaksud menangkap burung di hutan.

Saat berangkat, dia hanya berbekal beras setengah kilogram untuk dimasak. Korban juga membawa satu sisir pisang untuk pakan burung jenis kacamata yang akan ditangkap.

Untuk sampai di lokasi, Rudi membutuhkan waktu sekitar sepuluh jam. ’’Sabtu pukul 12.00, saya baru sampai di lokasi tanaman kopi yang saya rawat,” ujar Rudi saat ditemui di kediamannya kemarin (22/10).

Awalnya, kawasan yang dia singgahi tak terbakar. Namun, tak berselang lama, api merembet hingga mengepung lahan yang dia tanami kopi. Rudi panik. Dia bingung mau menyelamatkan diri.

Di tengah rasa kalut itu, dia tiba-tiba teringat pada sebuah sungai tak jauh dari tempatnya berdiri. Sejurus kemudian, Rudi nekat menerobos jilatan api untuk turun ke sungai.

Namun, upaya itu tak berjalan mulus. Kobaran api menimbulkan asap tebal hingga menutupi jalan setapak yang dia lalui. Tak hanya itu, Rudi juga mulai batuk.

Dia lantas menggunakan penutup wajah yang dibawa dari rumah untuk menutup hidungnya. Matanya juga mulai terasa perih. Apalagi, saat angin kencang, api merembet dengan cepat. ’’Saya nekat menerobos dan turun ke sungai,” ujarnya.

Selama tiga hari dia berendam di sungai tersebut. Baru kemudian dia menghubungi Fita, istrinya, melalui ponsel.

Setelah itu, dia menelepon Ronal, adiknya. Beruntung, kala itu korban membawa power bank sehingga masih bisa menghubungi istri dan saudaranya tersebut.

Baca Juga :  Hobby Makan, Menginspirasi untuk Berbagi

Selama bertahan di hutan, Rudi hanya mengonsumsi pisang yang sedianya untuk menangkap burung. Berasnya sudah habis terbakar. Bahkan, sebagian celana dan jaket yang dikenakan juga terbakar saat dia berusaha melewati api ketika turun ke sungai.

Kabar Rudi yang terjebak selama tiga hari di hutan dan masih hidup tersebut segera tersebar. Setelah mendengar kabar itu, petugas kepolisian berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Polsek Jelbuk juga berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil Maesan, Bondowoso. Sebab, lokasi tempat Rudi ditemukan masuk wilayah perbatasan dua kecamatan, Jelbuk dan Maesan (Bondowoso).

’’Kami bersama BPBD Jember mengajak Ronal, adik korban. Dia kami ajak karena bisa menunjukkan jalur yang biasa dilewati korban,” ujar Kapolsek Jelbuk Iptu Sucahyo.

Setelah dijemput, korban dilarikan ke Puskesmas Jelbuk. Saat itu kondisinya cukup lemas karena tiga hari hanya makan pisang dan minum air sungai. ’’Alhamdulillah, meski sempat mendapat perawatan medis, sekarang kondisinya sudah membaik dan bisa berkumpul bersama keluarga,” tandasnya.

Luas Karhutla 13 Kali Ibu Kota

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Jember itu hanya sebagian kecil dari total luas karhutla di seluruh Indonesia. Jika dikalkulasi, sejak Januari sampai September lahan yang hangus di seantero negeri ini mencapai 857 ribu hektare (ha). Itu setara dengan 13 kali DKI Jakarta yang seluas 66.150 ha.

Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK ), luas lahan gambut yang terbakar mencapai 227 ribu ha. Yang paling banyak terdapat di Kalimantan Tengah (76 ribu ha). Sedangkan kebakaran lahan mineral terjadi di Nusa Tenggara Timur (119 ribu ha). ”Karhutla di lahan mineral terjadi di seluruh provinsi di Indonesia dengan luasan terdampak terkecil di Provinsi Banten dengan 9 hektare,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo kemarin (22/10).

Jika dibandingkan dengan data akhir Agustus 2019 yang tercatat 328.724 ha, luas kebakaran dalam 2 bulan terakhir mengalami kenaikan hingga 160 persen. Meski demikian, Plt Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Raffles B. Pandjaitan mengungkapkan, luas kebakaran tahun ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 2.611.411 ha. ”Oktober nanti diperkirakan berkurang,” katanya.

Baca Juga :  0,6 Ha Lahan Terbakar di Menyuke

Data KLHK mencatat, luas karhutla dari Januari hingga September tahun ini 857.756 ha. Perinciannya, lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Luas lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) 134.227 ha, Kalimantan Barat (Kalbar) 127.462 ha, Kalimantan Selatan (Kalsel) 113.454 ha, Riau 75.871 ha, Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha, dan Jambi 39.638 ha.

Berdasar data KLHK, total luas lahan yang terbakar hingga September 2019 lebih besar jika dibandingkan dengan luas karhutla dalam tiga tahun terakhir. Karhutla tahun lalu seluas 510 ribu ha dan pada 2016 sebesar 438 ribu ha.

Sementara itu, data BNPB per kemarin pukul 08.00 WIB mencatat, masih terjadi karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas atau hot spot teridentifikasi di lima provinsi yang menjadi perhatian BNPB. Yaitu, Sumsel 153 titik, Kalteng 44 titik, Kalsel 23 titik, Kalbar 5 titik, dan Jambi dua titik. Data tersebut berdasar citra satelit Modis Catalog Lapan pada 24 jam terakhir.

Agus mengatakan, masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak. Data pengukuran dengan parameter PM 2,5 mengindikasikan kualitas udara pada tingkat baik hingga tidak sehat.

Berikut perincian kualitas udara yang diukur dengan PM 2,5 di enam provinsi. Antara lain, Sumsel tidak sehat (136), Jambi tidak sehat (102), Kalteng tidak sehat (101), Kalsel tidak sehat (60), dan Riau sedang (27). Hanya kualitas udara Kalimantan Barat yang menunjukkan tingkat baik (5) meskipun di provinsi itu terdapat titik panas. ”Selain di enam provinsi tersebut, kebakaran juga masih terjadi di kawasan pegunungan seperti Gunung Cikuray, Ungaran, Arjuno, Welirang, dan Ringgit,” papar Agus.(jum/rus/c7/ttg/tau/c11/oni)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/