alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Digitalisasi Perbankan, Menuruti Hasrat Kaum Muda

RUANG diskusi fans BTS di aplikasi streaming Joox begitu ramai malam itu. Ada seratusan peserta dalam diskusi tersebut. Topiknya adalah pengalaman perundungan dari para Army oleh netizen. Army adalah sebutan bagi penggemar grup K-Pop kenamaan tersebut.

“Kenapa sih orang suka mengolok-olok kita sebagai fans BTS. Padahal kita tidak pernah menyinggung mereka,” ujar orang bernama Dee. Suaranya yang begitu lantang segera disambut sahutan dari mic sebagian peserta. Sementara yang lain lebih memilih untuk curhat pada kolom chat.

Salah seorang fans BTS asal Pontianak, Kezia (21) menyebut tak bisa lepas dari aplikasi mendengarkan musik sejak era pandemi ini. Layanan hiburan di internet adalah pilihan mutlak bagi mahasiswi Universitas Tanjungpura ini.

“Di sini saya bisa bertemu dengan sesama penggemar BTS. Rasanya senang bisa ngobrol dengan orang yang punya hobi sama. Selain menambah teman, banyak informasi baru juga yang bisa kita dapat,” sebut dia.

Padahal ia sendiri bukan tipe orang yang suka kumpul-kumpul sesama fans di dunia nyata. Dia kurang percaya diri bila bertemu dengan orang yang belum akrab, sehingga ia lebih senang dengan pertemuan virtual.

Aplikasi musik streaming seperti Joox Spotify, Resso, dan semacamnya memang paket lengkap. Di sini para pengguna bisa mendengarkan jutaan lagu tanpa harus takut kehabisan memori penyimpanan. Juga mengobrol via video, suara, maupun chat sambil ditemani musik yang menjadi soundtrack, hingga berinteraksi dengan musisi idolanya langsung.  Bahkan pengguna bisa membuat podcast sendiri.

Lain halnya dengan Candra. Pemuda asal Singkawang ini semakin gandrung bermain game online. Siang malam dia tak lepas dari game PUBG Mobile.

“Apalagi pas PPKM, tidak bisa  nongkrong dan kemana-mana. Skripsi juga masih nunggu revisian lama. Jadinya makin menjadi main gamenya,” kata mahasiswa semester akhir ini.

Dia bahkan rela menguras tabungannya hingga jutaan rupiah untuk membeli barang-barang dalam game itu.

“Saya pernah beli jaket seharga dua juta rupiah di PUBG. Supaya keren saja dan beda dengan player lain,” sebut dia.Apa yang dibeli Candra itu barang virtual. Sementara itu, belanja barang nyata lewat online shop juga kian menjadi kebiasaan masyarakat.

Tak hanya kalangan hawa, tapi juga para pria. Jeri seorang pegawai swasta misalnya, tengah merenovasi rumah.Banyak bahan bangunan yang dibelinya dari e-commerce untuk kebutuhan itu. Tak hanya barang berukuran kecil.

“Saya beli pipa PVC untuk kabel listrik 10 batang dari Tokopedia. Barangnya dari Jakarta. Ongkos kirimnya gratis. Tidak perlu repot, tiga hari sampai ke rumah,” sebutnya.

Sebenarnya dia mau membeli dari toko di Pontianak secara online. Tetapi dia sering tidak menemukan barang yang dicari.

“Toko-toko bangunan lokal belum banyak yang masuk ke e-commerce. Terpaksa beli di luar. Mau gimana sudah kebiasaan belanja online,” ucap dia.

Hamdan, seorang digital enthusiast menyebut saat ini dunia sedang berada di tengah perubahan radikal dalam segala aspek. Tak terkecuali di Indonesia. Platform digital kian menjadi solusi kehidupan. Terutama di kalangan kaum muda yang menjadi mayoritas dalam peta demografi masyarakat.

Melansir Hasil Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tengah mengalami bonus demografi dengan proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 70,72%. Dari data tersebut, dilaporkan pula bahwa anak-anak muda dari kelompok gen Z dan milenial mendominasi penduduk Indonesia dengan proporsi masing-masing mencapai 27,94% dan 25,87%. Data dari BPS juga mengungkapkan bahwa jumlah anak muda usia 20-24 tahun di Indonesia mencapai lebih dari 22 juta jiwa.

Ciri utama kaum muda saat ini tentu saja sangat akrab dan tergantung dengan dunia digital.

“Aplikasi musik misalnya beberapa tahun terakhir mulai menjadi media utama menikmati musik menggantikan disk. Bahkan orang mulai jarang memutar file MP3 yang tersimpan di storage smartphone atau komputer mereka. Layanan music streaming lah yang dipilih. Begitu juga dengan menontin, mereka lebih memilih melakukannya via aplikasi di smartphone,” ujar pentolan komunitas Generasi Digital Indonesia (Gradasi) Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Evan Si Hobby Makan Ngevlog Bareng Edi Kamtono

Menurutnya, kaum muda sangat dominan dalam peta demografi saat ini. Golongan muda ini mampu menarik orangtua untuk mengikuti kebiasaan digital mereka.

“Para orang tua kini ter-influence oleh anak-anak mereka untuk berbelanja hingga menikmati hiburan secara digital. Apalagi penyedia platform digital menawarkan berbagai benefit dan promo untuk memancing konsumennya. Tak heran aktivitas digital makin tinggi saja, terutama di perkotaan dan daerah yang akses internetnya tinggi,” sebut dia.

Wajah Muda Perbankan

Konten-konten di laman akun Commonwealth Bank begitu menghibur dan lucu. Misalnya ada postingan tentang kepanikan bapak-bapak ketika disuruh belanja bulanan oleh istri. Atau tentang kamus lengkap bahasa Tangsel. Namun joke-jokes tersebut diakhiri dengan promo produk  yang terkait dengan jokes tersebut. Candaan tentang bapak-bapak diminta belanja misalnya, ternyata adalah premis untuk informasi tentang kemudahan menggunakan QR Code di aplikasi mobile banking Bank Commonwealth.

Selain jokes, isi konten di sana kebanyakan bahkan bukan jualan produk secara langsung, tetapi lebih kepada edukasi bagaimana menjaga kesehatan keuangan, tips investasi, hingga kuis-kuis, atau membahas hal-hal yang sedang viral. Akun itu terlihat terkelola dengan baik. Setiap postingan memiliki desain seragam dengan warna-warna pastel. Admin juga rutin membalas komentar netizen.

MEDSOS: Marketing digital via media sosial menjadi cara perbankan untuk menarik perhatian anak muda. Misalnya akun Instagram Bank Commonwealth yang kerap memunculkan konten komedi yang terselip promo produk. (TANGKAPAN LAYAR IG @Commbank_id)

Transformasi digital kini memang tengah gencar dilakukan perbankan, termasuk Commonwealth Bank. Pengguna internet di Indonesia jumlahnya mencapai 202 juta orang yang hampir seluruhnya punya smartphone. Sebagian besar adalah usia muda. Sedangkan aplikasi mobile yang paling banyak digunakan adalah media sosial. Tak heran perbankan begitu perhatian mengurus media sosialnya.

Presiden Direktur Bank Commonwealth Lauren Sulistiawati, dalam Banking Editros Masterclass 15 Februari 2022 lalu, menyebut pihaknya terus berupaya mengikuti perkembangan digital marketing dan kebutuhan anak muda. Aplikasi CommBank Mobile, misalnya, dirancang untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari dan membantu dalam mengelola keuangan lebih baik lagi untuk meraih rencana keuangan dan aspirasi anak muda.

Melalui Aplikasi CommBank Mobile, transaksi perbankan dibuat menjadi lebih sederhana, mudah dilakukan dan lebih menyenangkan. Bahkan untuk membuka rekening baru bisa dilakukan di aplikasi ini.

“Kami berharap nasabah bisa menikmati produk perbankan yang simple, fun, secara menyeluruh tapi juga tetap aman digunakan,” kata dia.

Sementara itu data BI, volume transaksi digital di Indonesia meningkat di 2020 hingga 2021 dengan mencapai Rp5.392 triliun. Hal ini didorong oleh pandemi yang mengharuskan masyarakat beralih ke digital.Sekitar 85-95% transaksi keuangan di bank BUKU III dan IV dilakukan melalui layanan digital.

Platform e-commerce menjadi salah satu ladang terbesar untuk traksaksi digital. Traksaksi e-commerce sepanjang 2021 mencapai Rp401 triliun. BI memperkirakan transaksi di platform serupa tahun ini akan meningkat 30an persen, yaitu mencapai Rp526 triliun.

Sedangkan untuk belanja pada toko fisik, penggunaan sistem QR Code Indonesian Standard (QRIS) yang menggunakan aplikasi smartphone (mobile banking dan dompet digital) juga meningkat. Di Kalimantan Barat saja, per awal April 2022 tercatat lebih 170 ribu merchant yang bergabung di Kalbar.

Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini menyebut penggunanya, transaksi digital dengan QR Code ini sebagian adalah anak muda, terutama dari milenial dan Gen Z.

“Di Kalbar, kami memang belum mendetilkan profil pengguna QRIS. Tetapi dari pengamatan memang kebanyakan anak muda yang menggunakan. Walaupun QRIS ini diperuntukkan untuk seluruh usia,” sebut dia.

Kadence International Indonesia dalam keterangannya kepada Pontianak Post, memaparkan hasil surveinya tahun 2021. Sebanyak 44% responden menggunakan pembayaran digital setidaknya 4 kali dalam seminggu untuk melakukan transaksi online. Responden juga setidaknya melakukan transaksi offline di 1-2 merchant dalam 3 bulan terakhir.

Baca Juga :  Milenial Bijak Berinvestasi

Transaksi digital di provinsi ini memang terus meningkat dan meluas seiring gencarnya pembangunan infrastruktur internet. Asisten III Setda Kalbar, Alfian menyebut, di provinsi ini, hanyha ada 252 desa dari total 2.031 desa yang belum memiliki jaringan internet.

“Pemerintah pusat dan daerah saat ini sedang berupaya untuk menghadirkan jaringan internet di seluruh desa. Sebentar lagi kemudahan transaksi secara digital untuk seluruh masyarakat bisa terlaksana,” sebut dia.

Kompetitor Baru

Aplikasi perbankan dan keuangan mengalami peningkatan jumlah penggunanya tahun lalu. Naiknya hampir 40 persen dari pengguna internet mengakses aplikasi tersebut. Namun perbankan bukan satu-satunya pemain dalam ekosistem digital.

Sejumlah platform bermunculan untuk menawarkan cara baru bertransaksi. Platform e-commerce bahkan memiliki uang elektronik sendiri. Misalnya Tokopedia dan Gojek punya GoPay. Lalu Shoppe punya Shoppe pay. Belum lagi pemain dompet eletronik lainnya, seperti Dana, OVO, dan lainnya.

Sementara untuk pembelanjaan barang secara kredit (paylater), kartu kredit perbankan mulai mendapat saingan. Sejumlah platform telah memulai metode paylater untuk transaksi di e-commerce. Riset Perilaku Konsumen E-Commerce Report 2021 pun mengungkapkan pengguna metode pembayaran paylater di Indonesia meningkat selama pandemi, dengan 55% dari konsumen yang menyatakan pernah menggunakan paylater, baru menggunakannya saat pandemi.

General Manager Kredivo Kredivo,Lily Suriani industri paylater bertumbuh secara signifikan dalam waktu relatif cepat.

“Kebutuhan masyarakat akan opsi metode pembayaran fleksibel di tengah rendahnya penetrasi kartu kredit di Indonesia masih menjadi faktor utama bagi pertumbuhan industri ini,” ungkap dia dalam keterangan yang diterima Pontianak Post.

Paylater seolah menjadi jalan keluar bagi sebagian masyarakat yang belum tersentuh bank. Tercatat, sekitar 26% atau 47 juta jiwa dari total populasi penduduk di Indonesia telah memiliki rekening bank. Sebagian besar adalah usia produktif atau kaum muda. Namun mereka masih menghadapi keterbatasan akses ke layanan pembiayaan perbankan seperti kartu kredit dan kredit konsumtif lainnya.

Industri paylater juga terus beriringan dengan pengembangan industri e-commerce. Hal ini pun tercermin dari preferensi konsumen dalam memilih metode pembayaran digital untuk berbelanja di e-commerce, dengan 27% responden menggunakan paylater untuk berbelanja di e-commerce paling tidak satu kali dalam setahun terakhir, bersaing dengan  metode pembayaran e-wallet dan transfer bank.Sementara itu, transaksi paylater di e-commerce Indonesia juga mengalami peningkatan hingga 8,7 kali.

Sebelumnya untuk pembiayaan, perbankan sebenarnya telah mendapat kompetitor kuat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dengan bermunculannya start-up fintech P2P landing. Perbankan konvensional kini juga mendapat ‘kawan baru’, yaitu bank digital atau neo bank. Sebuah spesies baru bank yang sama sekali tak punya kantor cabang. Dimana semua layanan dilakukan secara online, mulai dari onboarding sampai penarikan uang, dengan tingkat keamanan yang sama dengan bank konvensional. Nama bank digital seperti; Bank Jago, Bank Neo, Jenius, Line Bank, dan lain-lain mulai dikenal di kalangan anak muda.

Analis keuangan digital dari Sigmaphi, Gusti Raganata menyebut bank digital dan startup menawarkan layanan yang lebih cepat dengan biaya lebih murah, sesuai profil kaum milenial dan Gen Z saat ini. Selain itu platform fintech dan e-commerce yang juga akrab dengan kaum muda menjadi sasaran mereka.

“Terdapat kebutuhan untuk berkolaborasi dalam menunjang layanan dan produk yang dibawa oleh neobank, seperti mendorong integrasi dengan ekosistem seperti fintech dan e-commerce,” kata dia.

Menurutnya bank digital dan start-up mampu memberikan solusidalam memenuhi keinginan masyarakat terutama kaum muda. Kendati masih sangat mendominasi layanan keuangan, perbankan konvensional harus mampu membaca gerak zaman yang saat ini dipengaruhi oleh gaya hidup anak muda.

“Masa depan perbankan harus mampu mengintegrasikan kebutuhan gaya hidup masyarakat. Ekosistem gaya hidup akan dirioritaskan seperti rumah tangga, kesehatan, pariwisata, ritel, transportasi, dan pendudukan,” pungkasnya. **

RUANG diskusi fans BTS di aplikasi streaming Joox begitu ramai malam itu. Ada seratusan peserta dalam diskusi tersebut. Topiknya adalah pengalaman perundungan dari para Army oleh netizen. Army adalah sebutan bagi penggemar grup K-Pop kenamaan tersebut.

“Kenapa sih orang suka mengolok-olok kita sebagai fans BTS. Padahal kita tidak pernah menyinggung mereka,” ujar orang bernama Dee. Suaranya yang begitu lantang segera disambut sahutan dari mic sebagian peserta. Sementara yang lain lebih memilih untuk curhat pada kolom chat.

Salah seorang fans BTS asal Pontianak, Kezia (21) menyebut tak bisa lepas dari aplikasi mendengarkan musik sejak era pandemi ini. Layanan hiburan di internet adalah pilihan mutlak bagi mahasiswi Universitas Tanjungpura ini.

“Di sini saya bisa bertemu dengan sesama penggemar BTS. Rasanya senang bisa ngobrol dengan orang yang punya hobi sama. Selain menambah teman, banyak informasi baru juga yang bisa kita dapat,” sebut dia.

Padahal ia sendiri bukan tipe orang yang suka kumpul-kumpul sesama fans di dunia nyata. Dia kurang percaya diri bila bertemu dengan orang yang belum akrab, sehingga ia lebih senang dengan pertemuan virtual.

Aplikasi musik streaming seperti Joox Spotify, Resso, dan semacamnya memang paket lengkap. Di sini para pengguna bisa mendengarkan jutaan lagu tanpa harus takut kehabisan memori penyimpanan. Juga mengobrol via video, suara, maupun chat sambil ditemani musik yang menjadi soundtrack, hingga berinteraksi dengan musisi idolanya langsung.  Bahkan pengguna bisa membuat podcast sendiri.

Lain halnya dengan Candra. Pemuda asal Singkawang ini semakin gandrung bermain game online. Siang malam dia tak lepas dari game PUBG Mobile.

“Apalagi pas PPKM, tidak bisa  nongkrong dan kemana-mana. Skripsi juga masih nunggu revisian lama. Jadinya makin menjadi main gamenya,” kata mahasiswa semester akhir ini.

Dia bahkan rela menguras tabungannya hingga jutaan rupiah untuk membeli barang-barang dalam game itu.

“Saya pernah beli jaket seharga dua juta rupiah di PUBG. Supaya keren saja dan beda dengan player lain,” sebut dia.Apa yang dibeli Candra itu barang virtual. Sementara itu, belanja barang nyata lewat online shop juga kian menjadi kebiasaan masyarakat.

Tak hanya kalangan hawa, tapi juga para pria. Jeri seorang pegawai swasta misalnya, tengah merenovasi rumah.Banyak bahan bangunan yang dibelinya dari e-commerce untuk kebutuhan itu. Tak hanya barang berukuran kecil.

“Saya beli pipa PVC untuk kabel listrik 10 batang dari Tokopedia. Barangnya dari Jakarta. Ongkos kirimnya gratis. Tidak perlu repot, tiga hari sampai ke rumah,” sebutnya.

Sebenarnya dia mau membeli dari toko di Pontianak secara online. Tetapi dia sering tidak menemukan barang yang dicari.

“Toko-toko bangunan lokal belum banyak yang masuk ke e-commerce. Terpaksa beli di luar. Mau gimana sudah kebiasaan belanja online,” ucap dia.

Hamdan, seorang digital enthusiast menyebut saat ini dunia sedang berada di tengah perubahan radikal dalam segala aspek. Tak terkecuali di Indonesia. Platform digital kian menjadi solusi kehidupan. Terutama di kalangan kaum muda yang menjadi mayoritas dalam peta demografi masyarakat.

Melansir Hasil Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tengah mengalami bonus demografi dengan proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 70,72%. Dari data tersebut, dilaporkan pula bahwa anak-anak muda dari kelompok gen Z dan milenial mendominasi penduduk Indonesia dengan proporsi masing-masing mencapai 27,94% dan 25,87%. Data dari BPS juga mengungkapkan bahwa jumlah anak muda usia 20-24 tahun di Indonesia mencapai lebih dari 22 juta jiwa.

Ciri utama kaum muda saat ini tentu saja sangat akrab dan tergantung dengan dunia digital.

“Aplikasi musik misalnya beberapa tahun terakhir mulai menjadi media utama menikmati musik menggantikan disk. Bahkan orang mulai jarang memutar file MP3 yang tersimpan di storage smartphone atau komputer mereka. Layanan music streaming lah yang dipilih. Begitu juga dengan menontin, mereka lebih memilih melakukannya via aplikasi di smartphone,” ujar pentolan komunitas Generasi Digital Indonesia (Gradasi) Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Venesia; Kota Terapung yang Makin Tenggelam

Menurutnya, kaum muda sangat dominan dalam peta demografi saat ini. Golongan muda ini mampu menarik orangtua untuk mengikuti kebiasaan digital mereka.

“Para orang tua kini ter-influence oleh anak-anak mereka untuk berbelanja hingga menikmati hiburan secara digital. Apalagi penyedia platform digital menawarkan berbagai benefit dan promo untuk memancing konsumennya. Tak heran aktivitas digital makin tinggi saja, terutama di perkotaan dan daerah yang akses internetnya tinggi,” sebut dia.

Wajah Muda Perbankan

Konten-konten di laman akun Commonwealth Bank begitu menghibur dan lucu. Misalnya ada postingan tentang kepanikan bapak-bapak ketika disuruh belanja bulanan oleh istri. Atau tentang kamus lengkap bahasa Tangsel. Namun joke-jokes tersebut diakhiri dengan promo produk  yang terkait dengan jokes tersebut. Candaan tentang bapak-bapak diminta belanja misalnya, ternyata adalah premis untuk informasi tentang kemudahan menggunakan QR Code di aplikasi mobile banking Bank Commonwealth.

Selain jokes, isi konten di sana kebanyakan bahkan bukan jualan produk secara langsung, tetapi lebih kepada edukasi bagaimana menjaga kesehatan keuangan, tips investasi, hingga kuis-kuis, atau membahas hal-hal yang sedang viral. Akun itu terlihat terkelola dengan baik. Setiap postingan memiliki desain seragam dengan warna-warna pastel. Admin juga rutin membalas komentar netizen.

MEDSOS: Marketing digital via media sosial menjadi cara perbankan untuk menarik perhatian anak muda. Misalnya akun Instagram Bank Commonwealth yang kerap memunculkan konten komedi yang terselip promo produk. (TANGKAPAN LAYAR IG @Commbank_id)

Transformasi digital kini memang tengah gencar dilakukan perbankan, termasuk Commonwealth Bank. Pengguna internet di Indonesia jumlahnya mencapai 202 juta orang yang hampir seluruhnya punya smartphone. Sebagian besar adalah usia muda. Sedangkan aplikasi mobile yang paling banyak digunakan adalah media sosial. Tak heran perbankan begitu perhatian mengurus media sosialnya.

Presiden Direktur Bank Commonwealth Lauren Sulistiawati, dalam Banking Editros Masterclass 15 Februari 2022 lalu, menyebut pihaknya terus berupaya mengikuti perkembangan digital marketing dan kebutuhan anak muda. Aplikasi CommBank Mobile, misalnya, dirancang untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari dan membantu dalam mengelola keuangan lebih baik lagi untuk meraih rencana keuangan dan aspirasi anak muda.

Melalui Aplikasi CommBank Mobile, transaksi perbankan dibuat menjadi lebih sederhana, mudah dilakukan dan lebih menyenangkan. Bahkan untuk membuka rekening baru bisa dilakukan di aplikasi ini.

“Kami berharap nasabah bisa menikmati produk perbankan yang simple, fun, secara menyeluruh tapi juga tetap aman digunakan,” kata dia.

Sementara itu data BI, volume transaksi digital di Indonesia meningkat di 2020 hingga 2021 dengan mencapai Rp5.392 triliun. Hal ini didorong oleh pandemi yang mengharuskan masyarakat beralih ke digital.Sekitar 85-95% transaksi keuangan di bank BUKU III dan IV dilakukan melalui layanan digital.

Platform e-commerce menjadi salah satu ladang terbesar untuk traksaksi digital. Traksaksi e-commerce sepanjang 2021 mencapai Rp401 triliun. BI memperkirakan transaksi di platform serupa tahun ini akan meningkat 30an persen, yaitu mencapai Rp526 triliun.

Sedangkan untuk belanja pada toko fisik, penggunaan sistem QR Code Indonesian Standard (QRIS) yang menggunakan aplikasi smartphone (mobile banking dan dompet digital) juga meningkat. Di Kalimantan Barat saja, per awal April 2022 tercatat lebih 170 ribu merchant yang bergabung di Kalbar.

Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini menyebut penggunanya, transaksi digital dengan QR Code ini sebagian adalah anak muda, terutama dari milenial dan Gen Z.

“Di Kalbar, kami memang belum mendetilkan profil pengguna QRIS. Tetapi dari pengamatan memang kebanyakan anak muda yang menggunakan. Walaupun QRIS ini diperuntukkan untuk seluruh usia,” sebut dia.

Kadence International Indonesia dalam keterangannya kepada Pontianak Post, memaparkan hasil surveinya tahun 2021. Sebanyak 44% responden menggunakan pembayaran digital setidaknya 4 kali dalam seminggu untuk melakukan transaksi online. Responden juga setidaknya melakukan transaksi offline di 1-2 merchant dalam 3 bulan terakhir.

Baca Juga :  Kinerja Perbankan Syariah Kian Cemerlang

Transaksi digital di provinsi ini memang terus meningkat dan meluas seiring gencarnya pembangunan infrastruktur internet. Asisten III Setda Kalbar, Alfian menyebut, di provinsi ini, hanyha ada 252 desa dari total 2.031 desa yang belum memiliki jaringan internet.

“Pemerintah pusat dan daerah saat ini sedang berupaya untuk menghadirkan jaringan internet di seluruh desa. Sebentar lagi kemudahan transaksi secara digital untuk seluruh masyarakat bisa terlaksana,” sebut dia.

Kompetitor Baru

Aplikasi perbankan dan keuangan mengalami peningkatan jumlah penggunanya tahun lalu. Naiknya hampir 40 persen dari pengguna internet mengakses aplikasi tersebut. Namun perbankan bukan satu-satunya pemain dalam ekosistem digital.

Sejumlah platform bermunculan untuk menawarkan cara baru bertransaksi. Platform e-commerce bahkan memiliki uang elektronik sendiri. Misalnya Tokopedia dan Gojek punya GoPay. Lalu Shoppe punya Shoppe pay. Belum lagi pemain dompet eletronik lainnya, seperti Dana, OVO, dan lainnya.

Sementara untuk pembelanjaan barang secara kredit (paylater), kartu kredit perbankan mulai mendapat saingan. Sejumlah platform telah memulai metode paylater untuk transaksi di e-commerce. Riset Perilaku Konsumen E-Commerce Report 2021 pun mengungkapkan pengguna metode pembayaran paylater di Indonesia meningkat selama pandemi, dengan 55% dari konsumen yang menyatakan pernah menggunakan paylater, baru menggunakannya saat pandemi.

General Manager Kredivo Kredivo,Lily Suriani industri paylater bertumbuh secara signifikan dalam waktu relatif cepat.

“Kebutuhan masyarakat akan opsi metode pembayaran fleksibel di tengah rendahnya penetrasi kartu kredit di Indonesia masih menjadi faktor utama bagi pertumbuhan industri ini,” ungkap dia dalam keterangan yang diterima Pontianak Post.

Paylater seolah menjadi jalan keluar bagi sebagian masyarakat yang belum tersentuh bank. Tercatat, sekitar 26% atau 47 juta jiwa dari total populasi penduduk di Indonesia telah memiliki rekening bank. Sebagian besar adalah usia produktif atau kaum muda. Namun mereka masih menghadapi keterbatasan akses ke layanan pembiayaan perbankan seperti kartu kredit dan kredit konsumtif lainnya.

Industri paylater juga terus beriringan dengan pengembangan industri e-commerce. Hal ini pun tercermin dari preferensi konsumen dalam memilih metode pembayaran digital untuk berbelanja di e-commerce, dengan 27% responden menggunakan paylater untuk berbelanja di e-commerce paling tidak satu kali dalam setahun terakhir, bersaing dengan  metode pembayaran e-wallet dan transfer bank.Sementara itu, transaksi paylater di e-commerce Indonesia juga mengalami peningkatan hingga 8,7 kali.

Sebelumnya untuk pembiayaan, perbankan sebenarnya telah mendapat kompetitor kuat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dengan bermunculannya start-up fintech P2P landing. Perbankan konvensional kini juga mendapat ‘kawan baru’, yaitu bank digital atau neo bank. Sebuah spesies baru bank yang sama sekali tak punya kantor cabang. Dimana semua layanan dilakukan secara online, mulai dari onboarding sampai penarikan uang, dengan tingkat keamanan yang sama dengan bank konvensional. Nama bank digital seperti; Bank Jago, Bank Neo, Jenius, Line Bank, dan lain-lain mulai dikenal di kalangan anak muda.

Analis keuangan digital dari Sigmaphi, Gusti Raganata menyebut bank digital dan startup menawarkan layanan yang lebih cepat dengan biaya lebih murah, sesuai profil kaum milenial dan Gen Z saat ini. Selain itu platform fintech dan e-commerce yang juga akrab dengan kaum muda menjadi sasaran mereka.

“Terdapat kebutuhan untuk berkolaborasi dalam menunjang layanan dan produk yang dibawa oleh neobank, seperti mendorong integrasi dengan ekosistem seperti fintech dan e-commerce,” kata dia.

Menurutnya bank digital dan start-up mampu memberikan solusidalam memenuhi keinginan masyarakat terutama kaum muda. Kendati masih sangat mendominasi layanan keuangan, perbankan konvensional harus mampu membaca gerak zaman yang saat ini dipengaruhi oleh gaya hidup anak muda.

“Masa depan perbankan harus mampu mengintegrasikan kebutuhan gaya hidup masyarakat. Ekosistem gaya hidup akan dirioritaskan seperti rumah tangga, kesehatan, pariwisata, ritel, transportasi, dan pendudukan,” pungkasnya. **

Most Read

Artikel Terbaru

/