alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Cagar Alam Mandor: Tetangga Situs Sejarah Perjuangan Bangsa

CAGAR Alam Mandor, sebuah kawasan konservasi yang cukup fenomenal di Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, menuju kawasan ini cukup ditempuh kurang lebih dua jam menggunakan angkutan jalan darat dari ibu kota Provinsi, Pontianak. Aksesnya pun mudah dilalui karena telah dibangun jalan aspal sampai di pinggir kawasan.

Koordinator Publikasi BKSDA Kalbar, Eni Ratnawati menjelaskan, Cagar Alam Mandor dengan luas 3.080 hektare, awalnya ditunjuk sebagai kawasan konservasi menurut Surat Keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Pontinak, Nomor 8 Tanggal 16 Maret 1936 yang disahkan oleh De Resider der Westafdeeling Van Borneo pada tanggal 30 Maret 1936. Berdasarkan Ordonansi Perlindungan 1941 (Natuurbeschermings ordonantie 1941), Cagar Alam Mandor ditunjuk untuk melindungi jenis tumbuhan asli Kalimantan Barat antara lain jenis anggrek alam.

Dalam perkembangannya, kawasan ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.757/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 ditunjuk sebagai Cagar Alam. Untuk menguatkan posisi kawasan, penandaanbatas telah dilakukan pada kawasan ini pada tahun 1978. Ini berdasarkan kegiatan tata batas secara definitif serta Berita Acara Tata Batas tanggal 4 Februari 1978 yang disahkan oleh Menteri Pertanian Ub. Direktur Jenderal Kehutanan tanggal 15 Januari 1980. Batas Cagar Alam Mandor sepanjang 29 kilometer. Terdiri atas 23,7 kilometer batas buatan dan 5,3 kilometer batas alam.

Baca Juga :  New PLN Mobile, Kemudahan Layanan Listrik dalam Genggaman Tangan

CA Mandor selain sebagai miniatur koleksi ekosistem rawa gambut dan dataran rendah serta hutan kerangas, CA Mandor juga menjadi habitat tumbuhan dan satwa liar khas Kalimantan Barat. Berbagai macam tumbuhan karnivora pemakan daging ada di sini. Sebut saja Nephentes ampullaria, Nephentes gracilis, Nephentes mirabilis bahkan terdapat kantong semar bertaring yaitu Nepenthes bicalcarata dan beberapa jenis lainnya. CA Mandor juga menjadi habitat satwa liar seperti Beruang, Kelempiau, Rusa Sambar, Kucing Hutan, Binturong dan Landak. Beberapa jenis burung cantik juga tercatat menghuni kawasan ini antara lain Enggang, Ruai, Elang Bondol, Alap-Alap dan beberapa jenis lainnya.

Sungguh tak dapat dipungkiri betapa beragamnya kekayaan alam yang terdapat di kawasan CA Mandor. Tak hanya kekayaan alamnya yang begitu banyak, ternyata CA Mandor juga menjadi saksi perjuangan Pahlawan Kemerdekaan Kalimantan Barat. Banyak Pahlawan perjuangan kemerdekaan gugur dan dimakamkan di Makam Juang Mandor yang letaknya persis di samping Cagar Alam ini. Makam-makam ini dahulu menjadi lokasi pembantaian pejuang kemerdekaan oleh tentara Jepang. Tragedi kemanusian pada masa perjuangan ini dikenal dengan Tragedi Mandor Berdarah. Untuk memperingatinya, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah.

Jika kita melihat ke dalam bangunan situs Monumen Makam Juang Mandor, kita dapat melihat beberapa kompleks makam. Makam-makam ini berjumlah sepuluh makam dengan perbedaan penggunaannya. Makam satu sampai dengan sembilan adalah makam yang diperuntukkan menguburkan bagi rakyat biasa dari berbagai kalangan dan etnis di Kalimantan Barat. Sedangkan makam ke sepuluh merupakan makam tempat pembantaian Raja dan orang-orang berpengaruh di Kalimantan Barat pada saat itu. Komplek pemakaman ini dibatasi dengan dinding beton dan dihiasi relief yang menggambarkan peristiwa pembantaian pada kala itu. Terdapat juga lapangan terbuka yang dahulu difungsikan sebagai lokasi pembunuhan masal tersebut.

Baca Juga :  Neo Jibles, Band Anak-Anak Muda Pelestari Koes Plus

Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut. M.T menegaskan bahwa Nilai penting Cagar Alam Mandor bukan saja dalam kerangka kebutuhan pelestarian ekosistem. “Namun juga menjadi salah satu bagian penting sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. Sehingga melestarikan Cagar Alam Mandor dan Monumen Perjuangan Mandor menjadi kebutuhan masyarakat Kalimantan Barat.”

Cagar Alam Mandor dengan segala potensinya memang layak untuk kita lestarikan. Selain sebagai monumen miniatur hutan Kalimantan Barat juga sebagai bagian dari monumen sejarah perjuangan bangsa. Kita sebagai generasi penerus kemerdekaan sudah sepatutnya mempertahankan keberadaan kawasan ini serta melanjutkan perjuangan kemerdekaan pahlawan kita dengan berkreasi dalam semangat nasionalisme menuju Indonesia Hebat Bersatu. (*)

CAGAR Alam Mandor, sebuah kawasan konservasi yang cukup fenomenal di Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, menuju kawasan ini cukup ditempuh kurang lebih dua jam menggunakan angkutan jalan darat dari ibu kota Provinsi, Pontianak. Aksesnya pun mudah dilalui karena telah dibangun jalan aspal sampai di pinggir kawasan.

Koordinator Publikasi BKSDA Kalbar, Eni Ratnawati menjelaskan, Cagar Alam Mandor dengan luas 3.080 hektare, awalnya ditunjuk sebagai kawasan konservasi menurut Surat Keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Pontinak, Nomor 8 Tanggal 16 Maret 1936 yang disahkan oleh De Resider der Westafdeeling Van Borneo pada tanggal 30 Maret 1936. Berdasarkan Ordonansi Perlindungan 1941 (Natuurbeschermings ordonantie 1941), Cagar Alam Mandor ditunjuk untuk melindungi jenis tumbuhan asli Kalimantan Barat antara lain jenis anggrek alam.

Dalam perkembangannya, kawasan ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.757/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 ditunjuk sebagai Cagar Alam. Untuk menguatkan posisi kawasan, penandaanbatas telah dilakukan pada kawasan ini pada tahun 1978. Ini berdasarkan kegiatan tata batas secara definitif serta Berita Acara Tata Batas tanggal 4 Februari 1978 yang disahkan oleh Menteri Pertanian Ub. Direktur Jenderal Kehutanan tanggal 15 Januari 1980. Batas Cagar Alam Mandor sepanjang 29 kilometer. Terdiri atas 23,7 kilometer batas buatan dan 5,3 kilometer batas alam.

Baca Juga :  Paling Malas pada Tamu yang Langsung Tanya Harga

CA Mandor selain sebagai miniatur koleksi ekosistem rawa gambut dan dataran rendah serta hutan kerangas, CA Mandor juga menjadi habitat tumbuhan dan satwa liar khas Kalimantan Barat. Berbagai macam tumbuhan karnivora pemakan daging ada di sini. Sebut saja Nephentes ampullaria, Nephentes gracilis, Nephentes mirabilis bahkan terdapat kantong semar bertaring yaitu Nepenthes bicalcarata dan beberapa jenis lainnya. CA Mandor juga menjadi habitat satwa liar seperti Beruang, Kelempiau, Rusa Sambar, Kucing Hutan, Binturong dan Landak. Beberapa jenis burung cantik juga tercatat menghuni kawasan ini antara lain Enggang, Ruai, Elang Bondol, Alap-Alap dan beberapa jenis lainnya.

Sungguh tak dapat dipungkiri betapa beragamnya kekayaan alam yang terdapat di kawasan CA Mandor. Tak hanya kekayaan alamnya yang begitu banyak, ternyata CA Mandor juga menjadi saksi perjuangan Pahlawan Kemerdekaan Kalimantan Barat. Banyak Pahlawan perjuangan kemerdekaan gugur dan dimakamkan di Makam Juang Mandor yang letaknya persis di samping Cagar Alam ini. Makam-makam ini dahulu menjadi lokasi pembantaian pejuang kemerdekaan oleh tentara Jepang. Tragedi kemanusian pada masa perjuangan ini dikenal dengan Tragedi Mandor Berdarah. Untuk memperingatinya, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah.

Jika kita melihat ke dalam bangunan situs Monumen Makam Juang Mandor, kita dapat melihat beberapa kompleks makam. Makam-makam ini berjumlah sepuluh makam dengan perbedaan penggunaannya. Makam satu sampai dengan sembilan adalah makam yang diperuntukkan menguburkan bagi rakyat biasa dari berbagai kalangan dan etnis di Kalimantan Barat. Sedangkan makam ke sepuluh merupakan makam tempat pembantaian Raja dan orang-orang berpengaruh di Kalimantan Barat pada saat itu. Komplek pemakaman ini dibatasi dengan dinding beton dan dihiasi relief yang menggambarkan peristiwa pembantaian pada kala itu. Terdapat juga lapangan terbuka yang dahulu difungsikan sebagai lokasi pembunuhan masal tersebut.

Baca Juga :  Jemaah Menangis Haru saat Qunut Nazilah Dibacakan

Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut. M.T menegaskan bahwa Nilai penting Cagar Alam Mandor bukan saja dalam kerangka kebutuhan pelestarian ekosistem. “Namun juga menjadi salah satu bagian penting sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. Sehingga melestarikan Cagar Alam Mandor dan Monumen Perjuangan Mandor menjadi kebutuhan masyarakat Kalimantan Barat.”

Cagar Alam Mandor dengan segala potensinya memang layak untuk kita lestarikan. Selain sebagai monumen miniatur hutan Kalimantan Barat juga sebagai bagian dari monumen sejarah perjuangan bangsa. Kita sebagai generasi penerus kemerdekaan sudah sepatutnya mempertahankan keberadaan kawasan ini serta melanjutkan perjuangan kemerdekaan pahlawan kita dengan berkreasi dalam semangat nasionalisme menuju Indonesia Hebat Bersatu. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/