alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Upaya Cegah dan Mengurangi Stunting, Jadikan Telur Menu Wajib di Meja Makan

Telur memiliki kandungan protein yang tinggi dan bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mengonsumsi satu butir telur satu hari dipercaya dapat mencegah gangguan tumbuh kembang balita atau stunting.

Arief Nugroho, Pontianak

STUNTING adalah kondisi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi. Tidak hanya gangguan fisik, balita penderita stunting juga dikhawatirkan bakal terganggu tingkat kecerdasannya.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut setidaknya ada 149 juta balita yang mengalami stunting di seluruh dunia pada tahun 2020. Sementara 45 juta anak lainnya diperkirakan memiliki tubuh terlalu kurus atau berat badan rendah.

Indonesia menjadi salah satu negara yang menyumbang angka stunting terbesar di dunia. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2018, Indonesia berada pada urutan ke-2 di kawasan Asia Tenggara dan urutan ke-5 dunia. Lantas, bagaimana dengan Kalimantan Barat?

Kalbar adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah stunting yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, angka prevalensi balita stunted berada di angka 29,8 persen. Provinsi yang berbatasan dengan negara Malaysia ini sekaligus menjadi provinsi prioritas nasional yang diminta untuk menurunkan angka stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Tentu ini bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi rata-rata angka prevalensi kabupaten/kota masih berada di angka 20 hingga 40 persen.  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, mulai dari memperhatikan asupan gizi ibu hamil dan pemberian makanan tambahan protein hewani, seperti susu, daging dan telur.

Telur dipercaya dapat mencegah stunting dengan kandungan protein, kalori, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, dan vitamin di dalamnya.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasi Jurnal Pendiatrics tahun 1997, anak-anak yang mengonsumsi satu butir telur setiap harinya bertambah tinggi dan tumbuh besar sesuai dengan usianya.

Hal senada juga diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh sebuah universitas di Amerika Serikat dan Ekuador selama enam bulan pada tahun 2015.

Penelitian tersebut dibagi menjadi dua kelompok yakni bayi berusia 6-9 bulan, yang setiap harinya mengonsumsi sebutir telur dan kelompok bayi yang tidak mengonsumsi telur. Hasilnya, pertumbuhan anak-anak yang mengonsumsi telur lebih baik dibanding yang tidak.

Di Kalbar, sosialisasi mengonsumsi telur terus digalakkan. Salah satunya dengan gerakan makan telur dan produk olahan hewan. Gerakan makan telur dan produk olahan hewan ini sebagai upaya mewujudkan anak di Kalbar sehat dan cerdas.  Produk hewani seperti telur kini bahkan sudah menjadi menu yang selalu menghiasi meja makan di dalam setiap rumah tangga.

Baca Juga :  BMKG: Waspada Badai Chanthu dan Conson, Kalimantan Barat Terdampak

Salah satunya adalah keluarga pasangan Maulid Dio Suhendro dan Sri Rezeki Permatasari. Bagi mereka, telur sudah menjadi menu wajib yang dihidangkan di meja makan dalam setiap kesempatan. Selain rasanya enak dan mudah didapat, telur memiliki protein tinggi  untuk menambah asupan gizi. Apalagi, kini mereka tengah menunggu kehadiran anak pertamanya.

Sore itu, Pontianak Post berkesempatan mengunjungi kediaman mereka di kawasan Purnama I, Kecamatan Pontianak Selatan. Pada kesempatan itu, Mita telihat sibuk menghidangkan menu makan malam untuk keluarga kecilnya.

Di atas meja makan tampak beberapa lauk pauk yang siap disantap. Ada telur goreng, telur dadar, ikan, sayur mayur dan buah-buahan.

“Untuk telur, kami selalu nyetok. Kalau habis, ya beli lagi. Pokoknya harus selalu ada di kulkas,” kata Mita.

Sri Rezeki Permatasari saat menghidangkan menu makanan di rumahnya. Salah satu menunya dari bahan produk hewani berupa telur. Telur memiliki kandungan protein tinggi untuk memenuhi asupan gizi, terutama bagi ibu hamil seperti dirinya. Mengonsumi telur juga dipercaya dapat mencegah stunting. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Mita sadar, di masa-masa kandungannya yang menginjak usia enam bulan seperti sekarang ini, ia butuh asupan protein hewani yang cukup.

Selain itu, ia juga rutin memeriksakan kandungannya ke Puskesmas, untuk mengetahui perkembangan janinnya.

Ahli gizi dari Politeknik Kesehatan Pontianak, Martinus Ginting mengatakan, pencegahan stunting dapat dilakukan dengan pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil, terutama makanan yang mengadung zat besi dan protein hewani, seperti telur dan produk lainnya.

Dikatakan Martinus, terjadinya stunting pada anak, memiliki keterkaitan yang cukup erat antara berat badan lahir dengan panjang lahir.

Ia menyebutkan, bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg, akan memiliki risiko terjadinya stunting sekitar 5 persen. Demikian juga jika panjang bayi yang lahir kurang dari 48 cm, risiko terjadinya stunting lima kali lebih besar dibanding anak yang lahir normal.

“Artinya kejadian itu dipengaruhi pada masa kehamilan,” kata Martinus Ginting saat dihubungi Pontianak Post, Rabu (24/8). Oleh karena itu, menurutnya perlu adanya asupan gizi yang terjamin bagi ibu hamil, baik berupa zat besi maupun protein.

Kenapa demikian? Martinus menjelaskan, risiko terjadinya stunting dipengaruhi beberapa hal, di antaranya anemia atau kekurangan sel darah merah dan Kekurangan Energi Kronis (KEK), atau asupan gizi oleh ibu hamil. Anemia diukur dari Hb (hemoglobin) atau sel darah merah. Hb sendiri terdiri dari dua unsur Heme dan globinHeme berupa zat besi hewani, sedangkan globin salah satu jenis protein.  Untuk memenuhi zat besi dan protein, salah satunya bisa didapat dengan mengonsumsi telur.

Baca Juga :  Koh Apung Menaklukan Paman Sam dengan Kuliner

“Kenapa telur menjadi pilihan, karena selain mudah didapat, telur memiliki kandungan protein yang baik untuk ibu hamil maupun balita,” kata dia.

Selama ini, kata Martinus, intervensi yang dilakukan pemerintah yakni dengan  pemberian tablet penambah darah pada ibu hamil. Namun faktanya masih banyak ibu hamil yang kekurangan gizi.

“Jadi wajar kalau masih banyak bayi lahir pendek dan berat badan kurang,” lanjutnya.

Selanjutnya, kata Martinus, setelah bayi lahir harus dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah enam bulan kemudian dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI.

“Stunting diukur sampai usia 2 tahun. Artinya, percepatan pertumbuhan itu terjadi 2 kali, yakni pada masa dua tahun ke bawah, dan masa remaja. Maka tidak heran jika pemerintah serius betul mengurangi stunting di usia dua tahun. atau dikenal dengan program 1000 hari pertama kehidupan,” bebernya.

Menurut dia, solusi yang paling memungkinkan adalah dengan berusaha mengurangi angka berat lahir rendah dan panjang lahir pendek, dengan fokus pada ibu hamil, bukan pada setelah lahir.

Dikatakan Martinus, saat ini angka stunting di Kalimantan Barat mencapai 29,8 persen. Pada tahun 2024 mendatang, Kalbar dituntut menurun angka stunting menjadi  14 persen. Tentu itu bukan perkara mudah.

“Artinya Kalbar harus menurunkan stunting sekitar 16 persen dalam kurun waktu 2,5 tahun. itu berarti Kalbar harus bisa menurunkan sekitar 5-6 persen per tahun, maka jika tidak, target 2024 tidak akan tercapai,” kata dia.

Terpisah, tim percepatan penurunan stunting Kalbar optimistis angka stunting dapat ditekan menjadi 25,49 persen di pengujung tahun 2022. Hal itu diungkapkan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Provinsi Kalbar , Ria Norsan, saat pembukaan Rapat Koordinasi Teknis TP2S, belum lama ini.

Dikatakan Norsan, setelah angka 25,49 persen tercapai, pada tahun 2023 ditargetkan angka stunting diturunkan pada prevalensi 21,28 persen, selanjutnya pada tahun 2024 ditargetkan turun mendekati angka target nasional 14 persen, yaitu 17,07 persen.

Norsan mengatakan, dalam upaya percepatan penurunan stunting, pihaknya telah melakukan sinergi dengan beberapa instansi terkait, seperti TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa.

“Sejak tahun 2019 sampai 2021 angka stunting Kalbar sudah menunjukkan penurunan. Kita optimis bisa mencapai target yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (*)

Telur memiliki kandungan protein yang tinggi dan bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mengonsumsi satu butir telur satu hari dipercaya dapat mencegah gangguan tumbuh kembang balita atau stunting.

Arief Nugroho, Pontianak

STUNTING adalah kondisi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi. Tidak hanya gangguan fisik, balita penderita stunting juga dikhawatirkan bakal terganggu tingkat kecerdasannya.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut setidaknya ada 149 juta balita yang mengalami stunting di seluruh dunia pada tahun 2020. Sementara 45 juta anak lainnya diperkirakan memiliki tubuh terlalu kurus atau berat badan rendah.

Indonesia menjadi salah satu negara yang menyumbang angka stunting terbesar di dunia. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2018, Indonesia berada pada urutan ke-2 di kawasan Asia Tenggara dan urutan ke-5 dunia. Lantas, bagaimana dengan Kalimantan Barat?

Kalbar adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah stunting yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, angka prevalensi balita stunted berada di angka 29,8 persen. Provinsi yang berbatasan dengan negara Malaysia ini sekaligus menjadi provinsi prioritas nasional yang diminta untuk menurunkan angka stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Tentu ini bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi rata-rata angka prevalensi kabupaten/kota masih berada di angka 20 hingga 40 persen.  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, mulai dari memperhatikan asupan gizi ibu hamil dan pemberian makanan tambahan protein hewani, seperti susu, daging dan telur.

Telur dipercaya dapat mencegah stunting dengan kandungan protein, kalori, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, dan vitamin di dalamnya.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasi Jurnal Pendiatrics tahun 1997, anak-anak yang mengonsumsi satu butir telur setiap harinya bertambah tinggi dan tumbuh besar sesuai dengan usianya.

Hal senada juga diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh sebuah universitas di Amerika Serikat dan Ekuador selama enam bulan pada tahun 2015.

Penelitian tersebut dibagi menjadi dua kelompok yakni bayi berusia 6-9 bulan, yang setiap harinya mengonsumsi sebutir telur dan kelompok bayi yang tidak mengonsumsi telur. Hasilnya, pertumbuhan anak-anak yang mengonsumsi telur lebih baik dibanding yang tidak.

Di Kalbar, sosialisasi mengonsumsi telur terus digalakkan. Salah satunya dengan gerakan makan telur dan produk olahan hewan. Gerakan makan telur dan produk olahan hewan ini sebagai upaya mewujudkan anak di Kalbar sehat dan cerdas.  Produk hewani seperti telur kini bahkan sudah menjadi menu yang selalu menghiasi meja makan di dalam setiap rumah tangga.

Baca Juga :  Cerita Dekan Fakultas Kedokteran Untan Sembuh Covid-19

Salah satunya adalah keluarga pasangan Maulid Dio Suhendro dan Sri Rezeki Permatasari. Bagi mereka, telur sudah menjadi menu wajib yang dihidangkan di meja makan dalam setiap kesempatan. Selain rasanya enak dan mudah didapat, telur memiliki protein tinggi  untuk menambah asupan gizi. Apalagi, kini mereka tengah menunggu kehadiran anak pertamanya.

Sore itu, Pontianak Post berkesempatan mengunjungi kediaman mereka di kawasan Purnama I, Kecamatan Pontianak Selatan. Pada kesempatan itu, Mita telihat sibuk menghidangkan menu makan malam untuk keluarga kecilnya.

Di atas meja makan tampak beberapa lauk pauk yang siap disantap. Ada telur goreng, telur dadar, ikan, sayur mayur dan buah-buahan.

“Untuk telur, kami selalu nyetok. Kalau habis, ya beli lagi. Pokoknya harus selalu ada di kulkas,” kata Mita.

Sri Rezeki Permatasari saat menghidangkan menu makanan di rumahnya. Salah satu menunya dari bahan produk hewani berupa telur. Telur memiliki kandungan protein tinggi untuk memenuhi asupan gizi, terutama bagi ibu hamil seperti dirinya. Mengonsumi telur juga dipercaya dapat mencegah stunting. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Mita sadar, di masa-masa kandungannya yang menginjak usia enam bulan seperti sekarang ini, ia butuh asupan protein hewani yang cukup.

Selain itu, ia juga rutin memeriksakan kandungannya ke Puskesmas, untuk mengetahui perkembangan janinnya.

Ahli gizi dari Politeknik Kesehatan Pontianak, Martinus Ginting mengatakan, pencegahan stunting dapat dilakukan dengan pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil, terutama makanan yang mengadung zat besi dan protein hewani, seperti telur dan produk lainnya.

Dikatakan Martinus, terjadinya stunting pada anak, memiliki keterkaitan yang cukup erat antara berat badan lahir dengan panjang lahir.

Ia menyebutkan, bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg, akan memiliki risiko terjadinya stunting sekitar 5 persen. Demikian juga jika panjang bayi yang lahir kurang dari 48 cm, risiko terjadinya stunting lima kali lebih besar dibanding anak yang lahir normal.

“Artinya kejadian itu dipengaruhi pada masa kehamilan,” kata Martinus Ginting saat dihubungi Pontianak Post, Rabu (24/8). Oleh karena itu, menurutnya perlu adanya asupan gizi yang terjamin bagi ibu hamil, baik berupa zat besi maupun protein.

Kenapa demikian? Martinus menjelaskan, risiko terjadinya stunting dipengaruhi beberapa hal, di antaranya anemia atau kekurangan sel darah merah dan Kekurangan Energi Kronis (KEK), atau asupan gizi oleh ibu hamil. Anemia diukur dari Hb (hemoglobin) atau sel darah merah. Hb sendiri terdiri dari dua unsur Heme dan globinHeme berupa zat besi hewani, sedangkan globin salah satu jenis protein.  Untuk memenuhi zat besi dan protein, salah satunya bisa didapat dengan mengonsumsi telur.

Baca Juga :  PKK Pontianak Bentuk Tim Penanganan Stunting

“Kenapa telur menjadi pilihan, karena selain mudah didapat, telur memiliki kandungan protein yang baik untuk ibu hamil maupun balita,” kata dia.

Selama ini, kata Martinus, intervensi yang dilakukan pemerintah yakni dengan  pemberian tablet penambah darah pada ibu hamil. Namun faktanya masih banyak ibu hamil yang kekurangan gizi.

“Jadi wajar kalau masih banyak bayi lahir pendek dan berat badan kurang,” lanjutnya.

Selanjutnya, kata Martinus, setelah bayi lahir harus dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah enam bulan kemudian dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI.

“Stunting diukur sampai usia 2 tahun. Artinya, percepatan pertumbuhan itu terjadi 2 kali, yakni pada masa dua tahun ke bawah, dan masa remaja. Maka tidak heran jika pemerintah serius betul mengurangi stunting di usia dua tahun. atau dikenal dengan program 1000 hari pertama kehidupan,” bebernya.

Menurut dia, solusi yang paling memungkinkan adalah dengan berusaha mengurangi angka berat lahir rendah dan panjang lahir pendek, dengan fokus pada ibu hamil, bukan pada setelah lahir.

Dikatakan Martinus, saat ini angka stunting di Kalimantan Barat mencapai 29,8 persen. Pada tahun 2024 mendatang, Kalbar dituntut menurun angka stunting menjadi  14 persen. Tentu itu bukan perkara mudah.

“Artinya Kalbar harus menurunkan stunting sekitar 16 persen dalam kurun waktu 2,5 tahun. itu berarti Kalbar harus bisa menurunkan sekitar 5-6 persen per tahun, maka jika tidak, target 2024 tidak akan tercapai,” kata dia.

Terpisah, tim percepatan penurunan stunting Kalbar optimistis angka stunting dapat ditekan menjadi 25,49 persen di pengujung tahun 2022. Hal itu diungkapkan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Provinsi Kalbar , Ria Norsan, saat pembukaan Rapat Koordinasi Teknis TP2S, belum lama ini.

Dikatakan Norsan, setelah angka 25,49 persen tercapai, pada tahun 2023 ditargetkan angka stunting diturunkan pada prevalensi 21,28 persen, selanjutnya pada tahun 2024 ditargetkan turun mendekati angka target nasional 14 persen, yaitu 17,07 persen.

Norsan mengatakan, dalam upaya percepatan penurunan stunting, pihaknya telah melakukan sinergi dengan beberapa instansi terkait, seperti TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa.

“Sejak tahun 2019 sampai 2021 angka stunting Kalbar sudah menunjukkan penurunan. Kita optimis bisa mencapai target yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/