alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Set Alat Lukis Hilang Hingga Harus Menumpang di Truk

Kisah Yoga dan Kuas Lukisnya (Bagian 2/ habis)

Petualangan itu dimulai dari sebuah ide kecilnya, berbagi. Yoga Ilhamsyah, Pemuda 24 tahun asal Pontianak ini bermimpi keliling Indonesia. “Bukan sekadar jalan-jalan,” katanya. Tapi ia ingin berbagi dengan masyarakat pedalaman.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

LEWAT sudah satu bulan Yoga bertualang. Halangan mulai menghampiri. Satu set alat lukis beserta cat yang ia gunakan untuk mencari uang di negeri orang tiba-tiba lenyap. Alhasil, sejak tragedi itu, 3 Februari lalu, ia melanjutkan mimpinya dengan cara menumpang.

Selama melakukan perjalanan ini, ia hanya bertemankan dirinya sendiri. Untungnya, ia telah mempersiapkan rencana di tiap kota persinggahan. “Aku kan daftar di banyak kegiatan komunitas. Misalkan komunitas di Pekanbaru buka kegiatan ini, komunitas di Aceh buka kegiatan itu, jadi ketika di pedalaman, aku ke sana bersama kawan-kawan komunitas itu. Tapi di perjalanan antar kota atau daerah itu aku sendiri,” katanya.

Sejauh ini, perjalanannya dari Kalimantan dilakukan menggunakan kendaraan umum. Ia naik kapal laut menuju Sumatera. Total waktu yang dihabiskan mencapai seminggu. Belum ditambah naik bus, angkot, truk dan kendaraan lokal lain yang ia tumpangi.

“Tapi baru-baru ini aku dapat kendala, alat-alat aku melukis hilang. Kernet bus salah turunkan pas dari Medan ke Pekanbaru. Jadi agak susah sekarang cari uang bang. Sekarang aku numpang- numpang truk untuk mencapai lokasi tujuan,” katanya.

Baca Juga :  Dorong Masyarakat Divaksin, Kejati Siapkan Undian Berhadiah

Perjalanan ini awalnya menggunakan uang pribadi hasil jasa melukis di Pontianak dan hasil menjual barang-barang lain. “Selain itu, aku juga dapat dukungan dari kawan-kawan satu komunitas. Ada yang bantu ongkos untuk makan,” ujarnya.

Salah satu kenangan yang membekas, menurutnya ada di dua daerah, yaitu di Pekanbaru dan Rokan Timur. Setelah lama menjadi sahabat anak-anak di pedalaman, ia tak menyangka mereka akan menangis sejadi-jadinya saat ia mengucap kata perpisahan.

“Jadi, di sana tuh anak-anaknya pas pisah dengan saya pada nangis. Sampai sekarang orang tua murid pun masih menghubungi. Masih mengingat kami yang sudah ke sana. Sedihlah pokoknya,” kata dia.

Begitu juga dengan masyarakat di daerah tersebut. Mereka ikut meneteskan air mata. Padahal apa yang mereka bawa ke pedalaman dirasa tak sebanding dengan dengan pelajaran hidup yang didapat.

“Hal-hal semacam itu sebenarnya. Hal sederhana tapi banyak pelajaran yang kita dapat. Kita niatnya ke sana berbagi, tapi mereka ngasih jauh lebih banyak dari apa yang kita beri,” kata Yoga.

Baca Juga :  Kisah Inovator Semen Geo Fast, Sotya Astuningsih

Ia pun berharap anak-anak pedalaman yang ia pernah singgahi dapat menjadi dirinya sendiri dan tetap kuat dengan keadaan. Mereka tak harus terus-menerus berharap kepada pemerintah atau tali asih dari orang lain.

Masyarakat pedalaman menurutnya tetap bisa berdikari dengan hal-hal yang dipunyai, dan yang ada di sekeliling. Masyarakat pedalaman dapat terus berdaya dengan sumber daya alam yang kaya.

“Aku ingin pesankan juga buat anak-anak di pedalaman, ketika belajar, kembalilah untuk daerah kita. Bangunlah daerah kita. Jangan belajar untuk pergi. Belajarlah untuk kembali,” katanya.

Ditanya apakah ada niatan pulang, Yoga mengaku tak tahu kapan akan berhenti dan menengok rumah. Ia tak menampik terkadang ada rasa rindu pulang ke kampung halaman. Namun, perjalanan menuju cita-citanya tak bisa berhenti sekarang.

“Cita-cita aku ingin sampai daerah timur Indonesia. Aku pengin juga sampai ke daerah timur Sekarang pulau Sumatera,” katanya.

Meskipun harapan satu-satunya untuk mendapatkan ongkos telah hilang, ia mengaku tak gentar. Kapan akan berhenti belum terpikirkan. Untuk pulang juga belum terpikirkan. “Mungkin sampai ada hal yang benar-benar darurat, yang benar-benar aku harus pulang, aku coba pulang,” katanya. (*)

Kisah Yoga dan Kuas Lukisnya (Bagian 2/ habis)

Petualangan itu dimulai dari sebuah ide kecilnya, berbagi. Yoga Ilhamsyah, Pemuda 24 tahun asal Pontianak ini bermimpi keliling Indonesia. “Bukan sekadar jalan-jalan,” katanya. Tapi ia ingin berbagi dengan masyarakat pedalaman.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

LEWAT sudah satu bulan Yoga bertualang. Halangan mulai menghampiri. Satu set alat lukis beserta cat yang ia gunakan untuk mencari uang di negeri orang tiba-tiba lenyap. Alhasil, sejak tragedi itu, 3 Februari lalu, ia melanjutkan mimpinya dengan cara menumpang.

Selama melakukan perjalanan ini, ia hanya bertemankan dirinya sendiri. Untungnya, ia telah mempersiapkan rencana di tiap kota persinggahan. “Aku kan daftar di banyak kegiatan komunitas. Misalkan komunitas di Pekanbaru buka kegiatan ini, komunitas di Aceh buka kegiatan itu, jadi ketika di pedalaman, aku ke sana bersama kawan-kawan komunitas itu. Tapi di perjalanan antar kota atau daerah itu aku sendiri,” katanya.

Sejauh ini, perjalanannya dari Kalimantan dilakukan menggunakan kendaraan umum. Ia naik kapal laut menuju Sumatera. Total waktu yang dihabiskan mencapai seminggu. Belum ditambah naik bus, angkot, truk dan kendaraan lokal lain yang ia tumpangi.

“Tapi baru-baru ini aku dapat kendala, alat-alat aku melukis hilang. Kernet bus salah turunkan pas dari Medan ke Pekanbaru. Jadi agak susah sekarang cari uang bang. Sekarang aku numpang- numpang truk untuk mencapai lokasi tujuan,” katanya.

Baca Juga :  Kala Belalang Kembara Menyerbu Sawah, Rumah, hingga Bandara

Perjalanan ini awalnya menggunakan uang pribadi hasil jasa melukis di Pontianak dan hasil menjual barang-barang lain. “Selain itu, aku juga dapat dukungan dari kawan-kawan satu komunitas. Ada yang bantu ongkos untuk makan,” ujarnya.

Salah satu kenangan yang membekas, menurutnya ada di dua daerah, yaitu di Pekanbaru dan Rokan Timur. Setelah lama menjadi sahabat anak-anak di pedalaman, ia tak menyangka mereka akan menangis sejadi-jadinya saat ia mengucap kata perpisahan.

“Jadi, di sana tuh anak-anaknya pas pisah dengan saya pada nangis. Sampai sekarang orang tua murid pun masih menghubungi. Masih mengingat kami yang sudah ke sana. Sedihlah pokoknya,” kata dia.

Begitu juga dengan masyarakat di daerah tersebut. Mereka ikut meneteskan air mata. Padahal apa yang mereka bawa ke pedalaman dirasa tak sebanding dengan dengan pelajaran hidup yang didapat.

“Hal-hal semacam itu sebenarnya. Hal sederhana tapi banyak pelajaran yang kita dapat. Kita niatnya ke sana berbagi, tapi mereka ngasih jauh lebih banyak dari apa yang kita beri,” kata Yoga.

Baca Juga :  Menyisir Muara Kakap dengan Kapal Wisata 

Ia pun berharap anak-anak pedalaman yang ia pernah singgahi dapat menjadi dirinya sendiri dan tetap kuat dengan keadaan. Mereka tak harus terus-menerus berharap kepada pemerintah atau tali asih dari orang lain.

Masyarakat pedalaman menurutnya tetap bisa berdikari dengan hal-hal yang dipunyai, dan yang ada di sekeliling. Masyarakat pedalaman dapat terus berdaya dengan sumber daya alam yang kaya.

“Aku ingin pesankan juga buat anak-anak di pedalaman, ketika belajar, kembalilah untuk daerah kita. Bangunlah daerah kita. Jangan belajar untuk pergi. Belajarlah untuk kembali,” katanya.

Ditanya apakah ada niatan pulang, Yoga mengaku tak tahu kapan akan berhenti dan menengok rumah. Ia tak menampik terkadang ada rasa rindu pulang ke kampung halaman. Namun, perjalanan menuju cita-citanya tak bisa berhenti sekarang.

“Cita-cita aku ingin sampai daerah timur Indonesia. Aku pengin juga sampai ke daerah timur Sekarang pulau Sumatera,” katanya.

Meskipun harapan satu-satunya untuk mendapatkan ongkos telah hilang, ia mengaku tak gentar. Kapan akan berhenti belum terpikirkan. Untuk pulang juga belum terpikirkan. “Mungkin sampai ada hal yang benar-benar darurat, yang benar-benar aku harus pulang, aku coba pulang,” katanya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/