alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Nasib Enggang Gading, Maskot Kalbar yang Terus Diburu

Setidaknya lebih dari enam ribu ekor enggang gading (Rhinoplax vigil) di Kalimantan Barat dibunuh. Kepala dan paruh burung yang menjadi maskot Kalbar ini diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Salah satunya Tiongkok.

 ARIEF NUGROHO, Pontianak

 ENGGANG gading atau rangkong gading merupakan satu dari 13 jenis burung dari keluarga Bucerotidae yang dilindungi di Indonesia. Berbeda dengan burung jenis rangkong pada umumnya, enggang gading memiliki ciri khas di bagian paruh dan kepalanya. Enggang Gading memiliki cula atau balung di bagian atas paruhnya padat berisi, dengan berat mencapai 13 persen dari berat tubuhnya.

Makanan utama enggang gading sangat spesifik, berupa buah beringin atau ara berukuran besar. Hanya hutan yang masih sehat yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Makanan lain berupa binatang-binatang kecil hanya dikonsumsi sekitar dua persen dari keseluruhan komposisi makanannya.

Sama seperti semua jenis burung rangkong, enggang gading hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya (monogami). Tidak heran jika burung ini menjadi simbol kesetiaan.

Dalam proses perkembangbiakan, enggang gading akan mencari lubang sarang  yang tepat, terutama di pohon besar dan tinggi.  Sang betina akan masuk dan mengurung diri. Setidaknya butuh sekitar 150 hari bagi enggang gading untuk menghasilkan satu anak.

Selama proses pengeraman, enggang gading jantan akan menutup lubang sarang menggunakan adonan berupa tanah liat yang dibubuhi kotorannya. Celah sempit disisakan pada lubang penutup untuk mengambil hantaran makanan dari sang jantan, dan juga untuk menjaga suhu dan kebersihan di dalam sarang.

Di Kalbar, enggang gading menjadi maskot kebanggan daerah. Selain itu, burung enggang gading juga memiliki peranan penting yang berkaitan dengan budaya. Bahkan, bagi masyarakat adat Dayak, burung ini diyakini sebagai lambang kesucian, martabat dan simbol spiritual yang menghubungkan antara alam, manusia dan Jubata (Tuhan).

Namun sayangnya, jumlah populasi burung menawan ini semakin berkurang seiring tingginya tingkat perburuan dan masifnya kerusakan hutan sebagai habibat alaminya. Kepala dan paruh enggang gading dianggap memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bahkan satu buah paruh enggang gading dengan berat tertentu dihargai hingga jutaan rupiah.

Yoki Hadiprakarsa, Spesialis Ekologi dan Satwa Liar Yayasan Rangkong Indonesia mengungkapkan, sejak tahun 2015, IUCN Red List, burung enggang gading statusnya ditetapkan Kritis (CR/Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Padahal, jika dilihat tahun sebelumnya, statusnya masih Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah

Dikatakan Yoki, semua jenis rangkong termasuk enggang gading dilindungi UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No 7 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Dengan statusnya yang dilindungi, kata lelaki yang akrab disapa Yokyok ini, seharusnya kehidupan rangkong, khususnya enggang gading di hutan aman tanpa gangguan. Namun fakta di lapangan sungguh mengejutkan.

“Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Yayasan Titian pada 2013, tercatat sekitar enam ribu rangkong gading dewasa diburu untuk diambil paruhnya di Kalimantan Barat,” kata Yokyok dalam pemutaran film dan diskusi “Mencari Enggang Gading”, Jumat (28/2) malam di Pontianak.

Baca Juga :  Toleransi yang Tak Bisa Dikikis Pandemi

Sedangkan pada 2015, tercatat sekitar 2.343 paruh enggang gading berhasil disita dari pasar ilegal di berbagai negara, di antaranya Indonesia, Tiongkok, dan Amerika. Jika ditotal, dari 2012-2016 awal, sekitar 8.343 individu enggang gading yang dibantai dengan tujuan utama diselundupkan ke Tiongkok.

Menurut Yokyok, perburuan enggang gading sudah terjadi sejak abad ke-14 tepatnya zaman Dinasti Ming. Kala itu, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula enggang gading untuk dijadikan hiasan.

 

Perburuan dan Penegakan Hukum

Enggang gading adalah rangkong yang paling banyak diburu karena paruhnya yang padat dan unik. Di Kalbar, sindikat perburuan dan perdagangannya melibatkan jaringan internasional. Hanya saja hingga saat masih sedikit informasi tentang perburuan dan perdagangan satwa dilindungi itu.

Komandan Brigade SPORC Bekantan Kalbar Balai Gakkum Kalimantan, Muhammad Siraj mengungkapkan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan penegakan hukum terhadap kasus-kasus perburuan dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Kalbar, termasuk enggang gading.

Dikatakan Siraj, penegakan hukum terhadap perdagangan enggang gading sudah dilakukan sejak tahun 2012. Pada saat itu, Balai Gakkum Kalimantan berhasil mengamankan sebanyak 96 paruh yang dibawa dan akan diselundupkan oleh dua wanita, Zheng Jin Mei dan She Xiao Ying, warga negara Tiongkok melalui Bandara Internasional Supadio, Pontianak.

“Paruh-paruh enggang gading itu rencananya akan diselundupkan ke Tiongkok,” katanya. Di tahun berikutnya, 2013, petugas kembali menyita 229 paruh dari tangan Um Sim Mong di Kabupaten Melawi dan beberapa kasus pengungkapan perdagangan enggang gading lainnya hingga sekarang.

“Sejak tahun 2012 hingga 2019, setidaknya ada 547 paruh enggang gading yang kami sita dari perdagangan gelap di Kalimantan Barat,” lanjutnya.

Menurut Siraj, kepala atau paruh enggang gading dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di tingkat pemburu (masyarakat) misalnya, satu buah paruh enggang gading seberat 40 gram dihargai sekitar Rp300ribu.

“Jika beratnya di atas 40 gram, harga yang ditawarkan mencapai Rp1,7 juta. Namun, di tingkat pengepul di Jakarta, satu buah paruh dihargai sekitar Rp5 juta,” bebernya.

Dari data pengungkapan kasus, paruh-paruh tersebut diduga diperoleh dari hasil perburuan dari beberapa kawasan hutan di Kalbar, termasuk dari kawasan Taman Nasional Bukit Raya-Bukit Baka.

“Paruh-paruh tersebut bersumber dari perburuan dan penampungan di sejumlah daerah di Kalimantan Barat, seperti Kabupaten Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu,” kata Siraj.

Saat ini, pihaknya telah mempelajari alur perdagangan paruh enggang gading di Kalbar, nasional hingga transnasional.  “Setelah di penampungan, paruh-paruh itu dikirim atau dibawa sendiri ke Jakarta melalui bandara atau pelabuhan. Atau langsung dibawa ke Malaysia melalui jalur perbatasan,” jelasnya.

Menurut Siraj, perburuan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) mengalami berubahan trend atau pola. Di tahun 2006 misalnya, perburuan dan perdagangan satwa liar didominasi oleh perdagangan dan perburuan Orangutan, tahun 2010 telur penyu, 2010-2016 enggang gading dan 2016 hingga sekarang, beralih ke sisik trenggiling.

Baca Juga :  Rumah Subsidi Jadi Penyelamat Kisah Cinta

“Ada kemungkinan pola atau trendnya berubah. Karena populasi enggang sudah langka maka pemburu berubah ke trenggiling. Belum lama ini kami berhasil menyita 52 kg sisik. Bayangkan saja, satu ekor trenggiling, sisiknya hanya seberat 2 ons. Kalau 52 kg, kira-kira berapa trenggiling yang sudah dibunuh?” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Harnes Abrini, dari Yayasan Titian Lestari. Sejak awal Yayasan Titian Lestari lebih fokus terhadap investigasi perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar baik secara konvensional maupun perdagangan secara online.

Bahkan, ia telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah daerah yang terindikasi kerap melakukan perburuan dan perdagangan satwa liar. Seperti daerah Ketapang, Serawai dan beberapa daerah lainnya.

“Saat ini pola perdagangan satwa liar cenderung ketat. Tidak bisa langsung menyasar pada target karena sudah banyak perantara. Untuk itu perlu dukungan dari masyarakat dan aparat penegak hukum,” katanya dalam diskusi itu.

Namun demikian, kata Harnes, yang perlu ditekankan adalah bagimana pemberian efek jera pada pelaku. Menurutnya, vonis yang diterima pelaku tidak berbanding lurus dengan kerugian ekologi maupun kerugian Negara yang ditimbulkan.

 

Strategi dan Rencana Aksi

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama mitra masih terus melakukan monitoring terhadap serabaran populasi enggang gading di alam liar. Hingga saat ini memang belum ada data populasi enggang gading di Kalbar.

“Kami, maupun petugas di lapangan bersama mitra masih melakukan monitoring di sejumlah kawasan yang ditengarai masih ditemukan enggang gading. Karena ini memang tidak gampang untuk mendeteksi enggang gading,” kata Langgeng Kayoman dari BKSDA Kalbar yang juga hadir dalam diskusi dan pemutaran film “Mencari Enggang Gading”.

Menurutnya, ada beberapa kawasan hutan yang diduga kuat ditemukan populasi enggang gading, di antaranya TWA Gunung Melintang, Gunung Nyiut dan beberapa kawasan lainnya. “Kalau jenis rangkong lainnya hampir semua kawasan dijumpai, tapi kalau enggang gading sangat sulit,” lanjutnya.

Dikatakan Langgeng, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah menyusun Strategi dan Rencana Aksi (SRAK) Rangkong Gading.  Pada 2 Mei 2018, SRAK Rangkong Gading secara resmi ditetapkan sebagai pedoman bagi para pihak untuk mengimplementasikan strategi konservasi Rangkong Gading sebagaimana dinyatakan dalam Kepmen LHK No: SK.215/ MENLHK/ KSDAE/ KSA..2/5/2018.

SRAK Rangkong Gading yang berlaku selama 10 tahun (2018-2028) mencakup lima strategi utama, yaitu: (1) penelitian dan monitoring; (2) kebijakan dan penegakkan hukum; (3) kerja sama dan kemitraan; (4) komunikasi dan penyadartahuan; dan (5) pendanaan. Diharapkan SRAK berfungsi sebagai payung pengaturan nasional terhadap lima aspek tersebut sehingga memungkinkan kolaborasi dan kerja nyata dengan berbagai pihak.

Langgeng tidak memungkiri jika kerusakan hutan secara masif dan perburuan serta perdagangan ilegal menjadi faktor utama turunnya populasi enggang gading di Kalbar.

“Saat ini yang perlu dilakukan adalah penyadartahuan kepada masyarakat tentang fungsi pentingnya satwa itu. Selain itu, perlu juga didorong untuk penetapan kawasan dan ekowisata,” pungkasnya. (**)

Setidaknya lebih dari enam ribu ekor enggang gading (Rhinoplax vigil) di Kalimantan Barat dibunuh. Kepala dan paruh burung yang menjadi maskot Kalbar ini diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Salah satunya Tiongkok.

 ARIEF NUGROHO, Pontianak

 ENGGANG gading atau rangkong gading merupakan satu dari 13 jenis burung dari keluarga Bucerotidae yang dilindungi di Indonesia. Berbeda dengan burung jenis rangkong pada umumnya, enggang gading memiliki ciri khas di bagian paruh dan kepalanya. Enggang Gading memiliki cula atau balung di bagian atas paruhnya padat berisi, dengan berat mencapai 13 persen dari berat tubuhnya.

Makanan utama enggang gading sangat spesifik, berupa buah beringin atau ara berukuran besar. Hanya hutan yang masih sehat yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Makanan lain berupa binatang-binatang kecil hanya dikonsumsi sekitar dua persen dari keseluruhan komposisi makanannya.

Sama seperti semua jenis burung rangkong, enggang gading hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya (monogami). Tidak heran jika burung ini menjadi simbol kesetiaan.

Dalam proses perkembangbiakan, enggang gading akan mencari lubang sarang  yang tepat, terutama di pohon besar dan tinggi.  Sang betina akan masuk dan mengurung diri. Setidaknya butuh sekitar 150 hari bagi enggang gading untuk menghasilkan satu anak.

Selama proses pengeraman, enggang gading jantan akan menutup lubang sarang menggunakan adonan berupa tanah liat yang dibubuhi kotorannya. Celah sempit disisakan pada lubang penutup untuk mengambil hantaran makanan dari sang jantan, dan juga untuk menjaga suhu dan kebersihan di dalam sarang.

Di Kalbar, enggang gading menjadi maskot kebanggan daerah. Selain itu, burung enggang gading juga memiliki peranan penting yang berkaitan dengan budaya. Bahkan, bagi masyarakat adat Dayak, burung ini diyakini sebagai lambang kesucian, martabat dan simbol spiritual yang menghubungkan antara alam, manusia dan Jubata (Tuhan).

Namun sayangnya, jumlah populasi burung menawan ini semakin berkurang seiring tingginya tingkat perburuan dan masifnya kerusakan hutan sebagai habibat alaminya. Kepala dan paruh enggang gading dianggap memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bahkan satu buah paruh enggang gading dengan berat tertentu dihargai hingga jutaan rupiah.

Yoki Hadiprakarsa, Spesialis Ekologi dan Satwa Liar Yayasan Rangkong Indonesia mengungkapkan, sejak tahun 2015, IUCN Red List, burung enggang gading statusnya ditetapkan Kritis (CR/Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Padahal, jika dilihat tahun sebelumnya, statusnya masih Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah

Dikatakan Yoki, semua jenis rangkong termasuk enggang gading dilindungi UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No 7 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Dengan statusnya yang dilindungi, kata lelaki yang akrab disapa Yokyok ini, seharusnya kehidupan rangkong, khususnya enggang gading di hutan aman tanpa gangguan. Namun fakta di lapangan sungguh mengejutkan.

“Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Yayasan Titian pada 2013, tercatat sekitar enam ribu rangkong gading dewasa diburu untuk diambil paruhnya di Kalimantan Barat,” kata Yokyok dalam pemutaran film dan diskusi “Mencari Enggang Gading”, Jumat (28/2) malam di Pontianak.

Baca Juga :  Menyusuri Manila, Saudara Kembar Jakarta

Sedangkan pada 2015, tercatat sekitar 2.343 paruh enggang gading berhasil disita dari pasar ilegal di berbagai negara, di antaranya Indonesia, Tiongkok, dan Amerika. Jika ditotal, dari 2012-2016 awal, sekitar 8.343 individu enggang gading yang dibantai dengan tujuan utama diselundupkan ke Tiongkok.

Menurut Yokyok, perburuan enggang gading sudah terjadi sejak abad ke-14 tepatnya zaman Dinasti Ming. Kala itu, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula enggang gading untuk dijadikan hiasan.

 

Perburuan dan Penegakan Hukum

Enggang gading adalah rangkong yang paling banyak diburu karena paruhnya yang padat dan unik. Di Kalbar, sindikat perburuan dan perdagangannya melibatkan jaringan internasional. Hanya saja hingga saat masih sedikit informasi tentang perburuan dan perdagangan satwa dilindungi itu.

Komandan Brigade SPORC Bekantan Kalbar Balai Gakkum Kalimantan, Muhammad Siraj mengungkapkan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan penegakan hukum terhadap kasus-kasus perburuan dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Kalbar, termasuk enggang gading.

Dikatakan Siraj, penegakan hukum terhadap perdagangan enggang gading sudah dilakukan sejak tahun 2012. Pada saat itu, Balai Gakkum Kalimantan berhasil mengamankan sebanyak 96 paruh yang dibawa dan akan diselundupkan oleh dua wanita, Zheng Jin Mei dan She Xiao Ying, warga negara Tiongkok melalui Bandara Internasional Supadio, Pontianak.

“Paruh-paruh enggang gading itu rencananya akan diselundupkan ke Tiongkok,” katanya. Di tahun berikutnya, 2013, petugas kembali menyita 229 paruh dari tangan Um Sim Mong di Kabupaten Melawi dan beberapa kasus pengungkapan perdagangan enggang gading lainnya hingga sekarang.

“Sejak tahun 2012 hingga 2019, setidaknya ada 547 paruh enggang gading yang kami sita dari perdagangan gelap di Kalimantan Barat,” lanjutnya.

Menurut Siraj, kepala atau paruh enggang gading dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di tingkat pemburu (masyarakat) misalnya, satu buah paruh enggang gading seberat 40 gram dihargai sekitar Rp300ribu.

“Jika beratnya di atas 40 gram, harga yang ditawarkan mencapai Rp1,7 juta. Namun, di tingkat pengepul di Jakarta, satu buah paruh dihargai sekitar Rp5 juta,” bebernya.

Dari data pengungkapan kasus, paruh-paruh tersebut diduga diperoleh dari hasil perburuan dari beberapa kawasan hutan di Kalbar, termasuk dari kawasan Taman Nasional Bukit Raya-Bukit Baka.

“Paruh-paruh tersebut bersumber dari perburuan dan penampungan di sejumlah daerah di Kalimantan Barat, seperti Kabupaten Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu,” kata Siraj.

Saat ini, pihaknya telah mempelajari alur perdagangan paruh enggang gading di Kalbar, nasional hingga transnasional.  “Setelah di penampungan, paruh-paruh itu dikirim atau dibawa sendiri ke Jakarta melalui bandara atau pelabuhan. Atau langsung dibawa ke Malaysia melalui jalur perbatasan,” jelasnya.

Menurut Siraj, perburuan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) mengalami berubahan trend atau pola. Di tahun 2006 misalnya, perburuan dan perdagangan satwa liar didominasi oleh perdagangan dan perburuan Orangutan, tahun 2010 telur penyu, 2010-2016 enggang gading dan 2016 hingga sekarang, beralih ke sisik trenggiling.

Baca Juga :  Penyelundup Satwa Divonis Bersalah

“Ada kemungkinan pola atau trendnya berubah. Karena populasi enggang sudah langka maka pemburu berubah ke trenggiling. Belum lama ini kami berhasil menyita 52 kg sisik. Bayangkan saja, satu ekor trenggiling, sisiknya hanya seberat 2 ons. Kalau 52 kg, kira-kira berapa trenggiling yang sudah dibunuh?” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Harnes Abrini, dari Yayasan Titian Lestari. Sejak awal Yayasan Titian Lestari lebih fokus terhadap investigasi perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar baik secara konvensional maupun perdagangan secara online.

Bahkan, ia telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah daerah yang terindikasi kerap melakukan perburuan dan perdagangan satwa liar. Seperti daerah Ketapang, Serawai dan beberapa daerah lainnya.

“Saat ini pola perdagangan satwa liar cenderung ketat. Tidak bisa langsung menyasar pada target karena sudah banyak perantara. Untuk itu perlu dukungan dari masyarakat dan aparat penegak hukum,” katanya dalam diskusi itu.

Namun demikian, kata Harnes, yang perlu ditekankan adalah bagimana pemberian efek jera pada pelaku. Menurutnya, vonis yang diterima pelaku tidak berbanding lurus dengan kerugian ekologi maupun kerugian Negara yang ditimbulkan.

 

Strategi dan Rencana Aksi

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama mitra masih terus melakukan monitoring terhadap serabaran populasi enggang gading di alam liar. Hingga saat ini memang belum ada data populasi enggang gading di Kalbar.

“Kami, maupun petugas di lapangan bersama mitra masih melakukan monitoring di sejumlah kawasan yang ditengarai masih ditemukan enggang gading. Karena ini memang tidak gampang untuk mendeteksi enggang gading,” kata Langgeng Kayoman dari BKSDA Kalbar yang juga hadir dalam diskusi dan pemutaran film “Mencari Enggang Gading”.

Menurutnya, ada beberapa kawasan hutan yang diduga kuat ditemukan populasi enggang gading, di antaranya TWA Gunung Melintang, Gunung Nyiut dan beberapa kawasan lainnya. “Kalau jenis rangkong lainnya hampir semua kawasan dijumpai, tapi kalau enggang gading sangat sulit,” lanjutnya.

Dikatakan Langgeng, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah menyusun Strategi dan Rencana Aksi (SRAK) Rangkong Gading.  Pada 2 Mei 2018, SRAK Rangkong Gading secara resmi ditetapkan sebagai pedoman bagi para pihak untuk mengimplementasikan strategi konservasi Rangkong Gading sebagaimana dinyatakan dalam Kepmen LHK No: SK.215/ MENLHK/ KSDAE/ KSA..2/5/2018.

SRAK Rangkong Gading yang berlaku selama 10 tahun (2018-2028) mencakup lima strategi utama, yaitu: (1) penelitian dan monitoring; (2) kebijakan dan penegakkan hukum; (3) kerja sama dan kemitraan; (4) komunikasi dan penyadartahuan; dan (5) pendanaan. Diharapkan SRAK berfungsi sebagai payung pengaturan nasional terhadap lima aspek tersebut sehingga memungkinkan kolaborasi dan kerja nyata dengan berbagai pihak.

Langgeng tidak memungkiri jika kerusakan hutan secara masif dan perburuan serta perdagangan ilegal menjadi faktor utama turunnya populasi enggang gading di Kalbar.

“Saat ini yang perlu dilakukan adalah penyadartahuan kepada masyarakat tentang fungsi pentingnya satwa itu. Selain itu, perlu juga didorong untuk penetapan kawasan dan ekowisata,” pungkasnya. (**)

Most Read

Amankan 37 Preman

Merasa Gagal karena Diabaikan

Tabrak Minibus, Pemotor Tewas

Salat Id dengan Prokes

Artikel Terbaru

/