alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

JKN-KIS Bantu Pulihkan Rasa Sakit

Setiap orang ingin sehat. Namun, jika musibah datang dan harus sakit, pastinya segala upaya agar pulih kembali. Tenaga dan biaya harus dikeluarkan. Kartu JKN-KIS menjadi solusi untuk biaya pengobatan.

Ramses Tobing, Pontianak

NURHAYATI sedang bersiap-siap. Ia berdiri di depan pintu sembari menunggu ambulan yang datang ke rumah untuk membawa ibunya menjalani fisioterapi. Hari ini, jadwal rutin terapi ibunya di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura. Hampir dua tahun, ibunya menjalani pengobatan pasca diserang stroke.

Masih melekat kuat di ingatan Nurhayati. Senin, Maret 2021, ia menerima kabar dari ayah, ibunya lemah tak berdaya. Usai dari kamar kecil saat bangun tidur di subuh hari. Ibunya, Salmiah, terduduk lemas di depan tangga. Tak bisa menggerakkan tangan dan kaki sebelah kanannya.

“Kejadiannya Minggu, cuma ayah baru berkirim kabar di hari Senin, kalau emak lemah dan tak bisa menggerakkan bagian tubuhnya,” cerita Nurhayati.

Jadwal kerja masuk pagi hari digeser. Ia meminta izin tidak datang tepat waktu. Bersama suami, Nurhayati bergegas ke rumah orangtuanya di bilangan Jalan Prasetya, Korpri, Desa Sungai Raya Dalam.

Sampai di sana, Salmiah terbaring lemah di ruangan tengah rumah. Keluarga pun sepakat membawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, jadwal rawat jalannya dibuka sore hari. Masih ada waktu untuk mendaftar. Kartu BPJS Kesehatan, dan KTP disiapkan.

Karena sama sekali tak mampu menggerakkan tubuhnya, Salmiah akhirnya dibawa menggunakan brankar. “Dokter meminta emak rawat inap,” kata Nurhayati.

Serangkaian pemeriksaan dilakukan sebelum masuk ke ruangan inap. Pemeriksaan darah, dan CT Scan. Hasil baru diketahui satu hari berselang. Setelah dokter berkunjung ke ruangan pasien. Dari situlah, baru diketahui Salmiah terkena serangan stroke. Terjadi penyumbatan di otak sebelah kiri.

“Awalnya memang menduga seperti itu, tapi menunggu keterangan dokter untuk meyakinkan,” ujar Nurhayati.

Sebagai penerima manfaat dari JKN-KIS, Nurhayati sempat khawatir juga biaya berobat di rumah sakit. Sebab, ia kerap mendengar kabar, pihak keluarga masih mengeluarkan biaya untuk membeli obat di luar. Lantaran rumah sakit terkadang kekosongan obat yang dibutuhkan pasien. Padahal pasien adalah peserta BPJS Kesehatan. “Alhamdulillahnya tidak, semuanya ditanggung. Kecuali kebutuhan harian selama rawat inap,” kata Nurhayati.

Ia sempat menghitung biaya yang harus dikeluarkan, jika bukan sebagai penerima manfaat JKN-KIS. Misalnya, untuk CT Scan, biayanya berkisar Rp3 juta. Belum lagi biaya rontgen. Sekali pemeriksaannya sekitar Rp500 ribu. Sementara di awal-awal pengobatan, Salmiah di rontgen sebanyak tiga kali. Belum lagi biaya konsul dan obat-obatan.

Nurhayati sendiri merupakan pekerja swasta. Begitu juga suaminya. Saat pandemi Covid-19, perekonomian keluarga juga terdampak. Apalagi penghasilan suaminya mendapat efisiensi dari perusahaan tempatnya bekerja. “Kalau tidak menjadi peserta BPJS Kesehatan, terasa berat biayanya,” kata Nurhayati.

Sementara Salmiah merupakan peserta dengan kategori Pekerja bukan penerima upah. Suaminya, Achmadji adalah pensiunan pegawai di sekolah dasar milik pemerintah.

Baca Juga :  Korban Berharap Bantuan Rumah, Tak Ingin Menumpang Lebih lama

Nurhayati bersyukur selama proses pengobatan orangtuanya tidak berbelit. Bahkan, pihak rumah sakit membuka layanan pendaftaran online untuk rawat jalan. Pasien tidak harus ke rumah sakit terlebih dahulu. Begitu kelar pendaftaran dan jadwal ketemu dokter sudah tiba, pasien baru dibawa ke rumah sakit.

“Tidak harus lagi bolak balik sana sini. Sekarang jauh lebih baik. Meskipun sebagai peserta JKN-KIS, tidak terkesan nomor dua bila dibandingkan layanan umum di rumah sakit,” ungkap Nurhayati.

Kini, ia bersyukur kondisi ibunya jauh lebih baik. Sang ibu sudah bisa berjalan, meskipun tak seratus persen sempurna. Beberapa aktivitas pribadi pun sudah bisa dilakukannya. Seperti makan, dan berwudhu. Namun, pengobatan masih terus berjalan. Begitu juga fisioterapi. JKN-KIS masih menjadi andalan untuk kesembuhan ibunya.

Penerima Manfaat JKN-KIS lainnya, Sandi Monaro juga bercerita hal yang sama. JKN-KIS membantu pemulihan orang tuanya dari penyakit TBC. “Mama dan bapak saya terkena TBC,” kata Sandi, pria yang sehari-hari bekerja di perusahan retail ini.

Menurutnya, kualitas layanan program JKN-KIS semakin baik. Ia mencontohkan pada surat rujukan. Jika dulunya harus berbekal kertas rujukan untuk ke rumah sakit lanjutan. Sekarang tidak lagi.

Pasien hanya membawa kartu BPJS Kesehatan untuk pengobatan di faskes lanjutan. Sebagai warga yang tinggal di desa, pengobatan di perkotaan harus diperhitungkan dengan baik. Itu berkaitan dengan biaya. Meskipun pengobatan ditanggung penuh dalam program JKN-KIS, namun biaya akomodasi jangan sampai membengkak. Sehingga kebijakan rujukan online dari BPJS Kesehatan itu memudahkan pasien yang tinggal jauh dari pusat kota.

“Orangtua saya dari Meliau, jadi tidak harus lagi bawa kertas rujukan. Cuma bawa Kartu BPJS dan Kartu berobat ke rumah sakit. Daftar berobat ke poli mana, langsung menunggu kedatangan dokter saja,” cerita Sandy.

Sementara itu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) memasukkan stroke dalam kelompok penyakit katastropik. Penyakit yang menghabiskan biaya besar dan pelayanan terus menerus sehingga menimbulkan dampak ekonomi dan sosial pada pasien. Adapun penyakit lain yang masuk kategori katastropik, seperti cuci darah, dan jantung.

BPJS mencatat di tahun 2020 klaim untuk penyakit stroke sebesar Rp9.338.029.100. Tahun 2021 klaimnya sebesar Rp8.713.255.300. Sebagai contoh klaim penyakit katastropik lainnya seperti gagal ginjal Rp17.671.415.400. Lalu di tahun 2021 sebesar Rp15.330.745.000.

“Saat ini paling besar itu cuci darah dan jantung di wilayah kami,” kata Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Cabang Pontianak, dr Devi Dwi Yanti saat diwawancarai Pontianak Post, di ruangannya baru-baru ini.

Ia menjelaskan pasien stroke bisa ditangani langsung ketika mendapat serangan. Pasien tidak harus lagi ke faskes tingkat pertama, tapi masih langsung ke UGD rumah sakit. Penanganan awal untuk kasus penyakit stroke cukup berat jika kondisi bagian dalam kepala pasien mengalami pendarahan. “Artinya harus dilakukan pembedahan dan tentu biayanya memang mahal,” ujar Devi.

Baca Juga :  Utang BPJS Kesehatan Membengkak, Kini Menjadi Rp 21 T

Namun berbeda jika yang terjadi hanya penggumpalan saja. Pasien secara rutin mengkonsumsi obat-obatan. Jika indikasi stroke sudah hilang, maka penanganan medisnya menstabilkan hipertensi dan DM yang ada. Bila stroke sudah hilang tapi masih lemah lunglai maka pelayanan fisioterapi. Dokter yang menangani menyatakan indikasi medis telah usai maka bisa dilanjutkan dengan rawat jalan. Pasien akan mendapat obat secara terus menerus dan fisioterapi. Layanan ini tercover dalam JKN-KIS.

“Jika di tengah rawat jalan dan membutuh rawat inap, maka bisa masuk rumah sakit kembali dan dicover hingga indikasi medis habis,” kata Devi.

Ia menyebutkan ada beberapa program yang memudahkan pasien stroke yakni Program Rujuk Balik (PRB). Jika pasien tidak sanggup ke rumah sakit karena harus mengantri maka bisa digantikan pihak keluarga. Melalui layanan ini keluarganya datang ke puskesmas dengan membawa buku PRB. Lalu bisa mendapatkan obat rutin untuk jangka waktu satu bulan. “Jadi obatnya didapatkan di apotek PRB dan tidak harus mengantri lagi,” kata Devi.

“Jika obatnya tidak ada di apotik PRB, maka bisa ke rumah sakit. Jadi keluarganya saja yang datang ke rumah sakit,” sambung Devi.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Hary Agung Tjahyadi mengatakan bahwa stroke tidak selamanya diderita oleh usia lanjut. Penderita stroke memiliki riwayat/ komorbid yang sudah dimiliki seperti penyakit hipertensi. Namun pola hidup yang tidak sehat atau gaya hidup yang tidak sehat serta pengendalian emosional menjadi paling besar penyumbang terjadinya stroke.

Agung menambahkan bahwa data dari Institute for Health Metric and Evaluation (IHME) Penyakit Cardio CerebroVascular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia termasuk Indonesia, yaitu sebesar 36,9 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Tahun 2014 yaitu sebesar 21,1 persen khusus untuk Penyakit Stroke (Data Menurut SRS tahun 2014).

Sementara berdasarkan kelompok umur, angka penderita tertinggi justru terjadi pada usia produktif, yakni 20-44 tahun. Jumlahnya 30,11 sepanjang tahun 2020-2022. Baru di usia 45-54 sebanyak 29 persen pada rentang tahun yang sama. Lalu usia 60-69 sebanyak 15,99 persen. Kemudian 55-59 sebanyak 15,24 persen. Lalu usia lebih dari 70 tahun sebanyak 8,92 persen.

“Ini dikarenakan gaya hidup yang lebih cenderung tidak menerapkan pola sehat. Salah satu faktornya merokok. Lalu faktor lainnya makanan yang tinggi kolesterol, kurangnya berolahraga dan tidak melakukan pemeriksaan rutin atau medical check up,” jelas Agung.

Agung mengingatkan perlu beragam upaya untuk pencegahan dini agar tidak terserang stroke. Pihaknya menyebut dengan strategi CERDIK yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik (olahraga), diet seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stress dengan baik. (*)

Setiap orang ingin sehat. Namun, jika musibah datang dan harus sakit, pastinya segala upaya agar pulih kembali. Tenaga dan biaya harus dikeluarkan. Kartu JKN-KIS menjadi solusi untuk biaya pengobatan.

Ramses Tobing, Pontianak

NURHAYATI sedang bersiap-siap. Ia berdiri di depan pintu sembari menunggu ambulan yang datang ke rumah untuk membawa ibunya menjalani fisioterapi. Hari ini, jadwal rutin terapi ibunya di Rumah Sakit Universitas Tanjungpura. Hampir dua tahun, ibunya menjalani pengobatan pasca diserang stroke.

Masih melekat kuat di ingatan Nurhayati. Senin, Maret 2021, ia menerima kabar dari ayah, ibunya lemah tak berdaya. Usai dari kamar kecil saat bangun tidur di subuh hari. Ibunya, Salmiah, terduduk lemas di depan tangga. Tak bisa menggerakkan tangan dan kaki sebelah kanannya.

“Kejadiannya Minggu, cuma ayah baru berkirim kabar di hari Senin, kalau emak lemah dan tak bisa menggerakkan bagian tubuhnya,” cerita Nurhayati.

Jadwal kerja masuk pagi hari digeser. Ia meminta izin tidak datang tepat waktu. Bersama suami, Nurhayati bergegas ke rumah orangtuanya di bilangan Jalan Prasetya, Korpri, Desa Sungai Raya Dalam.

Sampai di sana, Salmiah terbaring lemah di ruangan tengah rumah. Keluarga pun sepakat membawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, jadwal rawat jalannya dibuka sore hari. Masih ada waktu untuk mendaftar. Kartu BPJS Kesehatan, dan KTP disiapkan.

Karena sama sekali tak mampu menggerakkan tubuhnya, Salmiah akhirnya dibawa menggunakan brankar. “Dokter meminta emak rawat inap,” kata Nurhayati.

Serangkaian pemeriksaan dilakukan sebelum masuk ke ruangan inap. Pemeriksaan darah, dan CT Scan. Hasil baru diketahui satu hari berselang. Setelah dokter berkunjung ke ruangan pasien. Dari situlah, baru diketahui Salmiah terkena serangan stroke. Terjadi penyumbatan di otak sebelah kiri.

“Awalnya memang menduga seperti itu, tapi menunggu keterangan dokter untuk meyakinkan,” ujar Nurhayati.

Sebagai penerima manfaat dari JKN-KIS, Nurhayati sempat khawatir juga biaya berobat di rumah sakit. Sebab, ia kerap mendengar kabar, pihak keluarga masih mengeluarkan biaya untuk membeli obat di luar. Lantaran rumah sakit terkadang kekosongan obat yang dibutuhkan pasien. Padahal pasien adalah peserta BPJS Kesehatan. “Alhamdulillahnya tidak, semuanya ditanggung. Kecuali kebutuhan harian selama rawat inap,” kata Nurhayati.

Ia sempat menghitung biaya yang harus dikeluarkan, jika bukan sebagai penerima manfaat JKN-KIS. Misalnya, untuk CT Scan, biayanya berkisar Rp3 juta. Belum lagi biaya rontgen. Sekali pemeriksaannya sekitar Rp500 ribu. Sementara di awal-awal pengobatan, Salmiah di rontgen sebanyak tiga kali. Belum lagi biaya konsul dan obat-obatan.

Nurhayati sendiri merupakan pekerja swasta. Begitu juga suaminya. Saat pandemi Covid-19, perekonomian keluarga juga terdampak. Apalagi penghasilan suaminya mendapat efisiensi dari perusahaan tempatnya bekerja. “Kalau tidak menjadi peserta BPJS Kesehatan, terasa berat biayanya,” kata Nurhayati.

Sementara Salmiah merupakan peserta dengan kategori Pekerja bukan penerima upah. Suaminya, Achmadji adalah pensiunan pegawai di sekolah dasar milik pemerintah.

Baca Juga :  Utang BPJS Kesehatan Membengkak, Kini Menjadi Rp 21 T

Nurhayati bersyukur selama proses pengobatan orangtuanya tidak berbelit. Bahkan, pihak rumah sakit membuka layanan pendaftaran online untuk rawat jalan. Pasien tidak harus ke rumah sakit terlebih dahulu. Begitu kelar pendaftaran dan jadwal ketemu dokter sudah tiba, pasien baru dibawa ke rumah sakit.

“Tidak harus lagi bolak balik sana sini. Sekarang jauh lebih baik. Meskipun sebagai peserta JKN-KIS, tidak terkesan nomor dua bila dibandingkan layanan umum di rumah sakit,” ungkap Nurhayati.

Kini, ia bersyukur kondisi ibunya jauh lebih baik. Sang ibu sudah bisa berjalan, meskipun tak seratus persen sempurna. Beberapa aktivitas pribadi pun sudah bisa dilakukannya. Seperti makan, dan berwudhu. Namun, pengobatan masih terus berjalan. Begitu juga fisioterapi. JKN-KIS masih menjadi andalan untuk kesembuhan ibunya.

Penerima Manfaat JKN-KIS lainnya, Sandi Monaro juga bercerita hal yang sama. JKN-KIS membantu pemulihan orang tuanya dari penyakit TBC. “Mama dan bapak saya terkena TBC,” kata Sandi, pria yang sehari-hari bekerja di perusahan retail ini.

Menurutnya, kualitas layanan program JKN-KIS semakin baik. Ia mencontohkan pada surat rujukan. Jika dulunya harus berbekal kertas rujukan untuk ke rumah sakit lanjutan. Sekarang tidak lagi.

Pasien hanya membawa kartu BPJS Kesehatan untuk pengobatan di faskes lanjutan. Sebagai warga yang tinggal di desa, pengobatan di perkotaan harus diperhitungkan dengan baik. Itu berkaitan dengan biaya. Meskipun pengobatan ditanggung penuh dalam program JKN-KIS, namun biaya akomodasi jangan sampai membengkak. Sehingga kebijakan rujukan online dari BPJS Kesehatan itu memudahkan pasien yang tinggal jauh dari pusat kota.

“Orangtua saya dari Meliau, jadi tidak harus lagi bawa kertas rujukan. Cuma bawa Kartu BPJS dan Kartu berobat ke rumah sakit. Daftar berobat ke poli mana, langsung menunggu kedatangan dokter saja,” cerita Sandy.

Sementara itu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) memasukkan stroke dalam kelompok penyakit katastropik. Penyakit yang menghabiskan biaya besar dan pelayanan terus menerus sehingga menimbulkan dampak ekonomi dan sosial pada pasien. Adapun penyakit lain yang masuk kategori katastropik, seperti cuci darah, dan jantung.

BPJS mencatat di tahun 2020 klaim untuk penyakit stroke sebesar Rp9.338.029.100. Tahun 2021 klaimnya sebesar Rp8.713.255.300. Sebagai contoh klaim penyakit katastropik lainnya seperti gagal ginjal Rp17.671.415.400. Lalu di tahun 2021 sebesar Rp15.330.745.000.

“Saat ini paling besar itu cuci darah dan jantung di wilayah kami,” kata Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Cabang Pontianak, dr Devi Dwi Yanti saat diwawancarai Pontianak Post, di ruangannya baru-baru ini.

Ia menjelaskan pasien stroke bisa ditangani langsung ketika mendapat serangan. Pasien tidak harus lagi ke faskes tingkat pertama, tapi masih langsung ke UGD rumah sakit. Penanganan awal untuk kasus penyakit stroke cukup berat jika kondisi bagian dalam kepala pasien mengalami pendarahan. “Artinya harus dilakukan pembedahan dan tentu biayanya memang mahal,” ujar Devi.

Baca Juga :  Korban Berharap Bantuan Rumah, Tak Ingin Menumpang Lebih lama

Namun berbeda jika yang terjadi hanya penggumpalan saja. Pasien secara rutin mengkonsumsi obat-obatan. Jika indikasi stroke sudah hilang, maka penanganan medisnya menstabilkan hipertensi dan DM yang ada. Bila stroke sudah hilang tapi masih lemah lunglai maka pelayanan fisioterapi. Dokter yang menangani menyatakan indikasi medis telah usai maka bisa dilanjutkan dengan rawat jalan. Pasien akan mendapat obat secara terus menerus dan fisioterapi. Layanan ini tercover dalam JKN-KIS.

“Jika di tengah rawat jalan dan membutuh rawat inap, maka bisa masuk rumah sakit kembali dan dicover hingga indikasi medis habis,” kata Devi.

Ia menyebutkan ada beberapa program yang memudahkan pasien stroke yakni Program Rujuk Balik (PRB). Jika pasien tidak sanggup ke rumah sakit karena harus mengantri maka bisa digantikan pihak keluarga. Melalui layanan ini keluarganya datang ke puskesmas dengan membawa buku PRB. Lalu bisa mendapatkan obat rutin untuk jangka waktu satu bulan. “Jadi obatnya didapatkan di apotek PRB dan tidak harus mengantri lagi,” kata Devi.

“Jika obatnya tidak ada di apotik PRB, maka bisa ke rumah sakit. Jadi keluarganya saja yang datang ke rumah sakit,” sambung Devi.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Hary Agung Tjahyadi mengatakan bahwa stroke tidak selamanya diderita oleh usia lanjut. Penderita stroke memiliki riwayat/ komorbid yang sudah dimiliki seperti penyakit hipertensi. Namun pola hidup yang tidak sehat atau gaya hidup yang tidak sehat serta pengendalian emosional menjadi paling besar penyumbang terjadinya stroke.

Agung menambahkan bahwa data dari Institute for Health Metric and Evaluation (IHME) Penyakit Cardio CerebroVascular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia termasuk Indonesia, yaitu sebesar 36,9 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Tahun 2014 yaitu sebesar 21,1 persen khusus untuk Penyakit Stroke (Data Menurut SRS tahun 2014).

Sementara berdasarkan kelompok umur, angka penderita tertinggi justru terjadi pada usia produktif, yakni 20-44 tahun. Jumlahnya 30,11 sepanjang tahun 2020-2022. Baru di usia 45-54 sebanyak 29 persen pada rentang tahun yang sama. Lalu usia 60-69 sebanyak 15,99 persen. Kemudian 55-59 sebanyak 15,24 persen. Lalu usia lebih dari 70 tahun sebanyak 8,92 persen.

“Ini dikarenakan gaya hidup yang lebih cenderung tidak menerapkan pola sehat. Salah satu faktornya merokok. Lalu faktor lainnya makanan yang tinggi kolesterol, kurangnya berolahraga dan tidak melakukan pemeriksaan rutin atau medical check up,” jelas Agung.

Agung mengingatkan perlu beragam upaya untuk pencegahan dini agar tidak terserang stroke. Pihaknya menyebut dengan strategi CERDIK yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik (olahraga), diet seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stress dengan baik. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/