alexametrics
31.7 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

Cerita Relawan Perempuan Pemulasaran Jenazah, Satu Jenazah Satu Baju Hazmat

Bagi Yulyasih menjadi relawan sudah biasa. Namun, menjadi relawan pemulasaran jenazah Covid-19 merupakan pengalaman baru. Terasa berbeda dan mendebarkan. Dan, ia harus mengikuti protokol kesehatan secara ketat agar tak terpapar virus tersebut.

Ramses Tobing, Pontianak

“Dag, dig, dug! Berdebar rasanya. Khawatir juga,” ungkap Yulyasih atau biasa disapa Asih saat pertama kali mengurusi pemakaman jenazah Covid-19.

Asih juga mengaku sempat tak tenang ketika awal mengurus pemakaman jenazah. “Tapi karena niatnya membantu, ya sudah. Apapun yang terjadi yang penting niatnya sudah benar,” cerita Asih kepada Pontianak Post, Kamis (27/1) malam.

Keterlibatan Asih dalam pemulasaran jenazah Covid-19 berawal ketika bergabung menjadi relawan. Mulanya dia adalah relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Saat Covid-19 melanda, Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Pontianak membuka relawan untuk pemulasaran jenazah.

Jiwa sosialnya terpanggil. Keinginan membantu menjadi alasan kuat baginya untuk bergabung. Apalagi semenjak pandemi Covid-19 melanda, ia sudah aktif terlibat. Seperti mengantarkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak Covid-19.

“Ini adalah panggilan jiwa,” tegasnya.

Menurutnya, menjadi bagian dari relawan pemulasaran jenazah membuatnya lebih dekat dengan Covid-19. Ia menjadi lebih tahu tentang Covid-19. Melihat lebih dalam orang-orang yang terdampak Covid-19. Virus yang merenggut nyawa manusia dalam dua tahun terakhir ini.

Asih membulatkan tekadnya. Tepat di Desember 2020 ia bergabung. Ada 12 orang yang menjadi relawan pemulasaran jenazah. Dua diantaranya perempuan. Dan, Asih salah satunya.

Ketika jumlah orang yang meninggal dunia karena Covid-19 belum mengalami lonjakan, Asih dan para relawan lainnya mengurus lima hingga sepuluh jenazah dalam sebulan. Namun, saat kasus melonjak pada pertengahan 2021, hampir setiap hari terdengar kabar orang meninggal dunia. Pernah dalam satu hari, Asih bersama para relawan lainnya menangani hingga belasan jenazah.

Situasi itu sempat membuatnya syok. Tak pernah dibayangkannya, jumlah orang yang meninggal dunia bertambah banyak.

“Saat jenazah semakin banyak, saat itu juga perasaan terus dag dig dug. Karena tetap khawatir terpapar,” kata wanita berusia 27 tahun ini.

Dalam kondisi seperti itu, lanjutnya, kepatuhan terhadap protokol kesehatan adalah kata kuncinya. Patuh terhadap prokes menjadi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi para relawan Covid-19.

Sebab yang ditangani, mulai proses pemulasaraan hingga pemakaman adalah jenazah pasien yang terinfeksi virus corona tipe SARS-CoV-2. Prosesnya yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pemulasaraan dan pemakaman biasa.

Contohnya, saat memakamkan jenazah. Waktunya bisa sampai satu setengah jam. Selama itu dilakukan Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju hazmat tidak boleh lepas. Belum lagi satu baju hazmat untuk mengurusi pemulasaran satu jenazah.

“Terkecuali waktu pemakaman jenazah satu dan yang lain berdekatan. Kemudian lokasi pemakaman juga sama. Maka tim yang memakamkan tidak mesti mengganti baju hazmat,” jelas Asih.

Pergantian baju itu hanya dilakukan oleh relawan yang menjemput jenazah di rumah sakit dan membawanya ke lokasi pemakaman.

“Pernah dalam satu hari itu full menggunakan baju hazmat. Jadi kalau delapan jenazah yang dimakamkan, delapan kali juga ganti baju hazmat,” kata Asih.

Baca Juga :  Ketua Satgas Terpapar Virus Corona, Tertular Saat Makan Bersama

Sebagai relawan, ia harus siap kapanpun ketika dibutuhkan. Pernah satu ketika, PSC 119 mendapat laporan dari masyarakat ada meninggal dunia di rumah. Kejadiannya malam hari. Karena takut melakukan evakuasi, pihak keluarga meminta bantuan tim relawan. Oleh tim, jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit.

Jenazah itu tidak langsung dimakamkan saat itu juga. Sampai di rumah sakit, jenazah kemudian dimandikan, dikafani hingga disalatkan. Baru keesokan harinya dimakamkan.

“Begitu sudah siap dimakamkan, kami (relawan) yang jemput dan dibawa ke lokasi pemakaman yang sudah disiapkan keluarga,” cerita warga Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur ini.

Menurut Asih, ia dan para relawan lainnya tidak hanya membantu pemakaman saja. Terkadang juga ikut memandikan hingga mengkafani jenazah. Namun, itu dilakukan jika tidak ada orang yang bisa mengerjakannya.

Menurutnya, perlakuan jenazah sesuai dengan syariat agama yang dianutnya dan permintaan keluarga. Pihak keluarga juga diberi kesempatan melihat jenazah, namun dalam jarak tertentu.

“Jadi perlakuannya sama dengan sebelum Covid-19. Bedanya hanya jenazah dimasukkan ke peti dan petinya yang dibungkus plastik,” jelas Asih.

Sebagai relawan pemulasaran jenazah, Asih sadar risiko tertular penyakit yang menyerang paru-paru ini sangat besar. Baginya tidak hanya ketat dalam menerapkan protokol kesehatan tapi juga mesti menjadi daya tahan tubuh.

Protokol kesehatan, menurutnya, tidak hanya baginya tapi juga orangtua di rumah. Setiap pulang ke rumah, ia harus memastikan dirinya sudah benar-benar bersih setelah bertugas. Setiap berangkat tugas ia membawa pakaian lebih dari satu stel pakaian. Satu yang dipakainya. Satu lagi disimpannya. Pakaian itu khusus dipakainya untuk pulang ke rumah.

Usai proses pemulasaran jenazah, ia bebersih diri. Berganti pakaian yang sudah disiapkan di rumah. Begitu sampai di rumah ia bebersih diri lagi dan mengganti pakaian.

“Dari awal saya memang sudah kabari ibu, untuk tetap menjaga jarak. Kamar juga dipisah dan di rumah pun hanya kami berdua,” jelas Asih.

Namun, rasa khawatir tetap saja ada. Apalagi ketika kasus Covid-19 sedang melonjak. Tak sedikit orang-orang meninggal dunia karena Covid-19. Pada situasi itu, ia benar-benar membatasi diri. Ibunya diantar ke rumah sanak saudaranya. Ia juga memilih tak bertemu, jika ada keluarga yang sakit.

“Jadi hanya mengantarkan ibu saja karena saya sendiri takut bertemu keluarga. Bahkan, saya sampai tidak berinteraksi dengan anak kecil karena mereka masuk kelompok rentan,” tuturnya.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah menjadi relawan. Baginya membantu orang lain adalah kepuasan diri yang tak ternilai.

“Saya belum kepikiran untuk menyerah karena niat awalnya membantu orang-orang yang berduka hingga kebingungan di tengah pandemi Covid-19. Ada kesan tersendiri dan itu yang menguatkan tetap menjadi relawan,” ungkap Asih.

Perlindungan Jaminan Sosial untuk Relawan

Ketua Tim Pemulasaran Jenazah Dinas Kesehatan Kota Pontianak Andrian Fajar Maulana mengatakan tim bekerja setelah mendapat laporan baik dari rumah sakit maupun puskesmas.

Pihak rumah sakit akan menghubungi jika ada pasien yang meninggal karena terkonfirmasi Covid-19 sehingga perlu dilakukan pemulasaran jenazah.

Baca Juga :  Pedagang Kawasan GOR Pindah ke Jalan Ampera

“Kalau puskesmas jika ada masyarakat yang meninggal di rumah. Karena masyarakat tidak berani mengevakuasi, maka kami yang melakukan. Kami datang ke rumah duka menjemput jenazah dan membawa ke rumah sakit. Baru kemudian dilakukan pemulasaran,” jelas Fajar.

Fajar menjelaskan bahwa penggunaan APD menjadi satu keharusan. Ini menjadi bagian dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja para relawan. Sedari awal pun sudah diedukasi bahwa yang dihadapi virus sehingga harus menggunakan APD yang memenuhi standar.

“Artinya dari sisi APD kami sudah siap karena dari awal sudah dilatih dan disampaikan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Bahwa APD harus memenuhi standar, di luar itu menyalahi aturan,” jelas Fajar.

Ia menjelaskan secara keseluruhan anggota tim pemulasaran jenazah berjumlah 12 orang. Dirinya membagi dua kelompok. Satu kelompok turun melakukan pemulasaran jenazah. Umumnya yang turun berjumlah tujuh orang. Sedangkan lima lainnya standby di posko.

“Jika sewaktu-waktu bersamaan dua jenazah yang perlu dilakukan pemulasaran tim baru langsung turun,” sebut Fajar.

Fajar memahami risiko pekerjaan bagi para relawan Covid-19. Ia dan rekannya yang lain masuk dalam kelompok rentan terpapar. Apalagi ketika kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya.

Mulai dari Juni, Juli hingga Agustus 2021. Saat itu para relawan hanya datang absen ke kantor. Kemudian lanjut melakukan pemulasaran jenazah begitu ada panggilan. Menjelang istirahat makan siang baru kembali ke dinas. Bahkan ada yang baru kembali pada malam hari.

“Sebelumnya belum ada, sekarang sedang diurus semua oleh dinas terkait karena relawan bekerja bertarung dengan virus,” timpalnya.

Dorong Kepesertaan Relawan

Kepala Bidang Kepesertaan Korporasi dan Institusi selaku PPs Kepala Kantor Cabang Pontianak Abdul Shoheh mengatakan pihaknya terus mendorong agar relawan tercover dalam program jaminan sosial BPJamsostek.

Ia menyebutkan relawan Covid-19 sebagai kelompok rentan. Oleh karena itu perlu perlindungan dalam menjalankan tugasnya. Para relawan dilanjutkannya bisa masuk dalam dua program BPJamsostek. Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Persoalan ini pun sudah disampaikannya ke dinas terkait.

“Sejauh ini, khusus relawan Covid-19 di Kalbar belum ada, tetapi kami akan dorong terus,” kata Abduh saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Ia menjelaskan bahwa perlindungan jaminan sosial memberikan kepastian bila relawan mengalami risiko saat melakukan aktivitas kerelawanan. Abduh mencontohkan pada perawat yang terpapar Covid-19. Kasus ini masuk dalam kategori kecelakaan kerja.

“Kasus ini pada perawat yang honorer. Relawan yang kerjanya insidentil juga bisa masuk. Artinya ketika mereka terpapar Covid-19 maka masuk dalam kecelakaan kerja,” terang Abduh.

Selain itu dilanjutkan Abduh, premi yang dibayarkan hanya selama aktivitas relawan itu berjalan. Sementara jika hanya mengikuti dua program. Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, maka premi yang dibayar sekitar Rp16.800 per bulan.

“Hitungannya selama mereka bertugas, selama itu juga preminya mesti dibayarkan. Kami akan dorong lagi melalui dinas terkait karena sebenarnya beberapa relawan itu memiliki anggaran khusus. Apalagi Disnaker juga konsen pada perlindungan bagi relawan. Minimal dua program,” pungkas Abduh. (*)

Bagi Yulyasih menjadi relawan sudah biasa. Namun, menjadi relawan pemulasaran jenazah Covid-19 merupakan pengalaman baru. Terasa berbeda dan mendebarkan. Dan, ia harus mengikuti protokol kesehatan secara ketat agar tak terpapar virus tersebut.

Ramses Tobing, Pontianak

“Dag, dig, dug! Berdebar rasanya. Khawatir juga,” ungkap Yulyasih atau biasa disapa Asih saat pertama kali mengurusi pemakaman jenazah Covid-19.

Asih juga mengaku sempat tak tenang ketika awal mengurus pemakaman jenazah. “Tapi karena niatnya membantu, ya sudah. Apapun yang terjadi yang penting niatnya sudah benar,” cerita Asih kepada Pontianak Post, Kamis (27/1) malam.

Keterlibatan Asih dalam pemulasaran jenazah Covid-19 berawal ketika bergabung menjadi relawan. Mulanya dia adalah relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Saat Covid-19 melanda, Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Pontianak membuka relawan untuk pemulasaran jenazah.

Jiwa sosialnya terpanggil. Keinginan membantu menjadi alasan kuat baginya untuk bergabung. Apalagi semenjak pandemi Covid-19 melanda, ia sudah aktif terlibat. Seperti mengantarkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak Covid-19.

“Ini adalah panggilan jiwa,” tegasnya.

Menurutnya, menjadi bagian dari relawan pemulasaran jenazah membuatnya lebih dekat dengan Covid-19. Ia menjadi lebih tahu tentang Covid-19. Melihat lebih dalam orang-orang yang terdampak Covid-19. Virus yang merenggut nyawa manusia dalam dua tahun terakhir ini.

Asih membulatkan tekadnya. Tepat di Desember 2020 ia bergabung. Ada 12 orang yang menjadi relawan pemulasaran jenazah. Dua diantaranya perempuan. Dan, Asih salah satunya.

Ketika jumlah orang yang meninggal dunia karena Covid-19 belum mengalami lonjakan, Asih dan para relawan lainnya mengurus lima hingga sepuluh jenazah dalam sebulan. Namun, saat kasus melonjak pada pertengahan 2021, hampir setiap hari terdengar kabar orang meninggal dunia. Pernah dalam satu hari, Asih bersama para relawan lainnya menangani hingga belasan jenazah.

Situasi itu sempat membuatnya syok. Tak pernah dibayangkannya, jumlah orang yang meninggal dunia bertambah banyak.

“Saat jenazah semakin banyak, saat itu juga perasaan terus dag dig dug. Karena tetap khawatir terpapar,” kata wanita berusia 27 tahun ini.

Dalam kondisi seperti itu, lanjutnya, kepatuhan terhadap protokol kesehatan adalah kata kuncinya. Patuh terhadap prokes menjadi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi para relawan Covid-19.

Sebab yang ditangani, mulai proses pemulasaraan hingga pemakaman adalah jenazah pasien yang terinfeksi virus corona tipe SARS-CoV-2. Prosesnya yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pemulasaraan dan pemakaman biasa.

Contohnya, saat memakamkan jenazah. Waktunya bisa sampai satu setengah jam. Selama itu dilakukan Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju hazmat tidak boleh lepas. Belum lagi satu baju hazmat untuk mengurusi pemulasaran satu jenazah.

“Terkecuali waktu pemakaman jenazah satu dan yang lain berdekatan. Kemudian lokasi pemakaman juga sama. Maka tim yang memakamkan tidak mesti mengganti baju hazmat,” jelas Asih.

Pergantian baju itu hanya dilakukan oleh relawan yang menjemput jenazah di rumah sakit dan membawanya ke lokasi pemakaman.

“Pernah dalam satu hari itu full menggunakan baju hazmat. Jadi kalau delapan jenazah yang dimakamkan, delapan kali juga ganti baju hazmat,” kata Asih.

Baca Juga :  Mencegah Kluster Iduladha Kapolres Landak Pimpin Rakor

Sebagai relawan, ia harus siap kapanpun ketika dibutuhkan. Pernah satu ketika, PSC 119 mendapat laporan dari masyarakat ada meninggal dunia di rumah. Kejadiannya malam hari. Karena takut melakukan evakuasi, pihak keluarga meminta bantuan tim relawan. Oleh tim, jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit.

Jenazah itu tidak langsung dimakamkan saat itu juga. Sampai di rumah sakit, jenazah kemudian dimandikan, dikafani hingga disalatkan. Baru keesokan harinya dimakamkan.

“Begitu sudah siap dimakamkan, kami (relawan) yang jemput dan dibawa ke lokasi pemakaman yang sudah disiapkan keluarga,” cerita warga Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur ini.

Menurut Asih, ia dan para relawan lainnya tidak hanya membantu pemakaman saja. Terkadang juga ikut memandikan hingga mengkafani jenazah. Namun, itu dilakukan jika tidak ada orang yang bisa mengerjakannya.

Menurutnya, perlakuan jenazah sesuai dengan syariat agama yang dianutnya dan permintaan keluarga. Pihak keluarga juga diberi kesempatan melihat jenazah, namun dalam jarak tertentu.

“Jadi perlakuannya sama dengan sebelum Covid-19. Bedanya hanya jenazah dimasukkan ke peti dan petinya yang dibungkus plastik,” jelas Asih.

Sebagai relawan pemulasaran jenazah, Asih sadar risiko tertular penyakit yang menyerang paru-paru ini sangat besar. Baginya tidak hanya ketat dalam menerapkan protokol kesehatan tapi juga mesti menjadi daya tahan tubuh.

Protokol kesehatan, menurutnya, tidak hanya baginya tapi juga orangtua di rumah. Setiap pulang ke rumah, ia harus memastikan dirinya sudah benar-benar bersih setelah bertugas. Setiap berangkat tugas ia membawa pakaian lebih dari satu stel pakaian. Satu yang dipakainya. Satu lagi disimpannya. Pakaian itu khusus dipakainya untuk pulang ke rumah.

Usai proses pemulasaran jenazah, ia bebersih diri. Berganti pakaian yang sudah disiapkan di rumah. Begitu sampai di rumah ia bebersih diri lagi dan mengganti pakaian.

“Dari awal saya memang sudah kabari ibu, untuk tetap menjaga jarak. Kamar juga dipisah dan di rumah pun hanya kami berdua,” jelas Asih.

Namun, rasa khawatir tetap saja ada. Apalagi ketika kasus Covid-19 sedang melonjak. Tak sedikit orang-orang meninggal dunia karena Covid-19. Pada situasi itu, ia benar-benar membatasi diri. Ibunya diantar ke rumah sanak saudaranya. Ia juga memilih tak bertemu, jika ada keluarga yang sakit.

“Jadi hanya mengantarkan ibu saja karena saya sendiri takut bertemu keluarga. Bahkan, saya sampai tidak berinteraksi dengan anak kecil karena mereka masuk kelompok rentan,” tuturnya.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah menjadi relawan. Baginya membantu orang lain adalah kepuasan diri yang tak ternilai.

“Saya belum kepikiran untuk menyerah karena niat awalnya membantu orang-orang yang berduka hingga kebingungan di tengah pandemi Covid-19. Ada kesan tersendiri dan itu yang menguatkan tetap menjadi relawan,” ungkap Asih.

Perlindungan Jaminan Sosial untuk Relawan

Ketua Tim Pemulasaran Jenazah Dinas Kesehatan Kota Pontianak Andrian Fajar Maulana mengatakan tim bekerja setelah mendapat laporan baik dari rumah sakit maupun puskesmas.

Pihak rumah sakit akan menghubungi jika ada pasien yang meninggal karena terkonfirmasi Covid-19 sehingga perlu dilakukan pemulasaran jenazah.

Baca Juga :  Pedagang Kawasan GOR Pindah ke Jalan Ampera

“Kalau puskesmas jika ada masyarakat yang meninggal di rumah. Karena masyarakat tidak berani mengevakuasi, maka kami yang melakukan. Kami datang ke rumah duka menjemput jenazah dan membawa ke rumah sakit. Baru kemudian dilakukan pemulasaran,” jelas Fajar.

Fajar menjelaskan bahwa penggunaan APD menjadi satu keharusan. Ini menjadi bagian dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja para relawan. Sedari awal pun sudah diedukasi bahwa yang dihadapi virus sehingga harus menggunakan APD yang memenuhi standar.

“Artinya dari sisi APD kami sudah siap karena dari awal sudah dilatih dan disampaikan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Bahwa APD harus memenuhi standar, di luar itu menyalahi aturan,” jelas Fajar.

Ia menjelaskan secara keseluruhan anggota tim pemulasaran jenazah berjumlah 12 orang. Dirinya membagi dua kelompok. Satu kelompok turun melakukan pemulasaran jenazah. Umumnya yang turun berjumlah tujuh orang. Sedangkan lima lainnya standby di posko.

“Jika sewaktu-waktu bersamaan dua jenazah yang perlu dilakukan pemulasaran tim baru langsung turun,” sebut Fajar.

Fajar memahami risiko pekerjaan bagi para relawan Covid-19. Ia dan rekannya yang lain masuk dalam kelompok rentan terpapar. Apalagi ketika kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya.

Mulai dari Juni, Juli hingga Agustus 2021. Saat itu para relawan hanya datang absen ke kantor. Kemudian lanjut melakukan pemulasaran jenazah begitu ada panggilan. Menjelang istirahat makan siang baru kembali ke dinas. Bahkan ada yang baru kembali pada malam hari.

“Sebelumnya belum ada, sekarang sedang diurus semua oleh dinas terkait karena relawan bekerja bertarung dengan virus,” timpalnya.

Dorong Kepesertaan Relawan

Kepala Bidang Kepesertaan Korporasi dan Institusi selaku PPs Kepala Kantor Cabang Pontianak Abdul Shoheh mengatakan pihaknya terus mendorong agar relawan tercover dalam program jaminan sosial BPJamsostek.

Ia menyebutkan relawan Covid-19 sebagai kelompok rentan. Oleh karena itu perlu perlindungan dalam menjalankan tugasnya. Para relawan dilanjutkannya bisa masuk dalam dua program BPJamsostek. Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Persoalan ini pun sudah disampaikannya ke dinas terkait.

“Sejauh ini, khusus relawan Covid-19 di Kalbar belum ada, tetapi kami akan dorong terus,” kata Abduh saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Ia menjelaskan bahwa perlindungan jaminan sosial memberikan kepastian bila relawan mengalami risiko saat melakukan aktivitas kerelawanan. Abduh mencontohkan pada perawat yang terpapar Covid-19. Kasus ini masuk dalam kategori kecelakaan kerja.

“Kasus ini pada perawat yang honorer. Relawan yang kerjanya insidentil juga bisa masuk. Artinya ketika mereka terpapar Covid-19 maka masuk dalam kecelakaan kerja,” terang Abduh.

Selain itu dilanjutkan Abduh, premi yang dibayarkan hanya selama aktivitas relawan itu berjalan. Sementara jika hanya mengikuti dua program. Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, maka premi yang dibayar sekitar Rp16.800 per bulan.

“Hitungannya selama mereka bertugas, selama itu juga preminya mesti dibayarkan. Kami akan dorong lagi melalui dinas terkait karena sebenarnya beberapa relawan itu memiliki anggaran khusus. Apalagi Disnaker juga konsen pada perlindungan bagi relawan. Minimal dua program,” pungkas Abduh. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/